
♥♥♥
Dalam pesawat Luna hanya bisa tiduran di ranjang yang sudah disediakan di pesawat jet. Perasaannya sebelum sedikit khawatir karena akan menempuh jarak jauh, dan dokter Regina memberi peringatan untuknya agar istirahat yang cukup di dalam pesawat, makan dan minum yang tidak membuatnya mual.
Reza selalu ada disisinya, dia begitu siaga menjaganya. Saat tidur pun Reza tetap terjaga.
Bima, Nabila dan Nadila juga begitu andil menjaga Luna.
Berada dalam pesawat
Setelah menempuh perjalanan hampir 18 jam lamanya, sampailah mereka di Munich International Airport.
I'm home… !
Meski dia lahir dan cinta Indonesia, Jerman adalah rumah kedua bagi Luna. Negara ini juga tidak kalah indah dengan negaranya. Alasan lainnya, memang orangtua dan adik-adiknya tinggal di sini.
Take off, mereka menunggu di restoran yang ada di bandara sambil menunggu jemputan. Gege dan Jessy akan menjemput mereka dan tinggal di kediamannya.
Luna rindu sekali dengan mereka dan suasana rumah. Rasanya seperti mimpi bisa ke sini kembali.
Menunggu hampir setengah jam, Gege datang dengan Jessy tampak begitu gembira menyambut kedatangan kami.
"Luna, sayang"
"Cucuku."
"Mantuku."
"Welcome to Germany."
Seru Gege begitu antusias begitu juga dengan Jessy. Bagaimana tidak gembira sudah lama tidak datang ke Jerman, karena selama ini merekalah yang datang ke Indonesia.
"Luna kangen banget, sama kalian."
"Kami juga, Mom nggak nyangka bakal dapet cucu lagi."
"Barrack dan Deelena mana?"
"Barrack sibuk pemotretan di Berlin, Deelena sedang sekolah. Bentar lagi mereka pulang. Mom sudah kasih kabar mereka untuk pulang."
Gege langsung menghampiri cucunya, Bima, meski bukan anak dari Luna, tapi Bima tetap kesayangan Gege, karena memang ia bersama Bima selalu nyambung kalau ngobrol apalagi tentang bola apalagi Tim DeFanser, dia sampai-sampai dia kursus bahasa Jerman, tiap minggu, agar bisa fasih bahasa Jerman seperti Luna.
"Wie geht es meinen Enkeln?" (Apa kabar cucuku?)
Gege memeluk erat cucunya yang sudah besar, Bima membalas pelukan kakeknya.
"Sehr gut. Großvater, wie geht es dir?" (Sangat baik. Opah apa kabar?)
"Großvater ist gesund, weil du gekommen bist, Großvater wird gesünder." (Opah sehat karena kalian datang, opah tambah sehat)
Bima hanya tersenyum tersipu mendapatkan pujian dari Gege.
"Schon schlau. Ihre Aussprache ist gut." (Sangat pintar. Cara pengucapan mu sudah bagus)
"Danke, Großvater." (terima kasih, opah)
Gege tidak lupa menyapa cucu kembarnya yang menggemaskan. Diantara cucunya ini, Nabila dan Nadila memasang wajah serius sebelum kakeknya menyapa.
"Opah, tebak siapa aku?" Gege mengerutkan alisnya, ternyata si kembar ingin bermain dengannya. Sedangkan yang mengajukan pertanyaan sedang menggunakan celana jeans dan kemeja panel coklat, menggunakan Beani berwarna sama, sedangkan rambutnya digerai sebahu, kalau orang Indonesia sering sekali menyebutnya Beani dengan kupluk, merupakan penutup kepala yang biasanya dibuat dari wol atau kasmir.
Sedangkan yang satunya lagi, sedang memakai dress biru pastel selutut dan rambut diikat setengah, tampil dengan lebih feminin dan satunya lebih boyish.
Sementara yang lain hanya menyaksikan ketiganya, karena Gege adalah orang yang paling susah mengenal si kembar di antara yang keluarga yang lain. Kadang karena susah membedakan sahabatnya Galang sering meledeknya, tidak bisa membedakan si kembar.
"Tentu saja, kakek bisa membedakan kalian." Gege penuh percaya diri kemudian berjongkok di antara keduanya. Memandang penuh ketelitian. Karena tidak mau salah lagi, mereka berdua mempunyai wajah identik, 100% senorita. Susah dibedakan, hanya sifat, sikap dan cara busana mereka saja yang berbeda.
"Benarkah, yakin? Seriously?" ledek si kembar satunya lagi, yang memakai dress berwarna biru pastel.
"Baiklah karena kalian tidak percaya, opah tebak sekarang saja." Gege tidak sabar ingin membuktikannya. Gege menyentuh bahu gadis yang memakai kemeja panel. "Kamu Nabila." kemudian dia menatap ke arah satunya lagi. "Dan kamu Nadila."
"Bagaimana Opah tahu?" Tanya Nabila. Nadila hanya mengangguk.
"Tentu saja Opah tahu, jangan di kira, kalian tukaran baju buat Opah kecoh, tapi dari sikap kalian Opah bisa tebak."
Si kembar hanya bisa bergunam 'Wow' saking kagum dengan Gege. Mereka memang sengaja bertukar baju agar mengerjai kakeknya. Karena kakeknya selalu salah memanggilnya.
"Opah, daebak. Akhirnya bisa membedakan kita berdua. Sekian lama." Seru Nadila dengan nada ejekan, kemudian mencium pipi Gege.
"Opah, yang terbaik." timpal Nabila. Melakukan hal yang sama dengan Nadila.
"Kalian baru sadar ya! Nabila paling kalem dan feminim, sedangkan Nadila paling bawel dan tomboy. Opah sekarang sudah bisa bedain kalian berdua."
Mereka semua yang menyaksikan pun tersenyum.
Galang merasa tersisihkan ikut angkat bicara. "Somse kamu, baru bisa bedain, kemana aja, kodok."
Gege mengabaikan sahabatnya, memandang penuh pada cucunya. Paling kesal kalau Galang sudah berulah, mereka ngajak ribut terus gak inget umur.
Galang kesal. Sejak tadi diabaikan. "Eh, Kodok kamu nggak sapa aku hah? Jauh-jauh kesini kita berdua di anggurin begitu saja."
Yunita mengulum senyum, melihat Galang ke kanak-kanakan, padahal baru dua bulan lalu mereka berdua ke Jerman.
"Sudah aki-aki saja lebay, dua bulan lalu kita ketemu. Lagian aku bosen lihat muka tua kamu, pengen lihat yang seger-seger kaya Bima, Nabila dan Nadila." balas Gege tidak peduli.
"Sialan! Nggak setia kawan."
"Bodo ah!" balas Gege. "Ayo ke mobil sudah siap antar kalian ke rumah opah." Gege mengiring ketiga cucunya.
"Lama jemput doang." gerutu Galang.
"Banyak ngomong, bukannya kamu orang kaya, kenapa nggak sewa mobil aja." jawab Gege kesal.
"Tadinya mau, tapi kamu keburu datang."
"Alesan." Gege acuh. "Ayo guys kita berangkat. Opah sudah siapkan makanan enak buat kalian semua, terkhusus cucu-cucu Opah yang ganteng dan cantik."
"Hore! Asyik!" Para cucu bersorak.
"Moduslah, cuma makanan doang. Nanti kakek Galang ajakin kalian shopping sepuasnya, nanti. Kalian tinggal tunjuk. Kakek yang bayar semuanya."
"Wah! Punya Opah sama kakek enak di manjain terus." Kata Nadila, kegirangan. "Iya, seru." tambah Nabila.
Sedangkan Bima dan yang lain hanya menggelengkan akan tingkah kedua aki-aki yang sering bersaing.
Sedangkan si kembar yang polos tidak tahu apa-apa.
"Orang kaya sombong!" cetus Gege.
"Namanya juga orang kaya." tidak mau kalah.
"Kalian berdua berantem terus, kapan akur?" Jessy menjadi kesal.
"Akurnya pas tidur doang. Kalem." tukas Yunita-istri Galang ikut menyeletuk.
Beginilah kalau orangtua macam Galang dan Gege ketemu bagai kucing dan anjing, berantem terus.
Perdebatan mereka hanya bisa disaksikan keluarga mereka tanpa ingin ikut campur.
Maklum mereka memang harus di abaikan atau di diamkan agar berhenti sendiri. Nanti mereka akan menjadi akur kembali.
•••
Sampai di kediaman Gege, Luna dan keluarga memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Memang mereka semua terserang jetlag sehingga membuat mereka cepat lelah.
Luna begitu suka sekali dengan suasana rumah ayahnya karena disana suasananya sangat indah, meski rumah tidak sebesar miliknya dan mertuanya, tapi rumah ini adalah tempat favoritnya.
Yang lain beristirahat termasuk suaminya, Luna memutuskan untuk berkeliling rumah.
Di setiap koridor kamar, masih belum berubah ada foto keluarga Luna dulu saat masih ada mendiang ayah dan kakaknya, Jessy sangat baik dia tidak sama sekali keberatan dengan foto tersebut. Dan sisi lainnya ada foto Luna dan keluarga kecilnya, foto kedua keluarga juga terpampang jelas. Koridor ini sangat banyak foto yang dipajang, bagai museum. Luna sangat menyukainya.
Setelah melihat koridor, dia berjalan turun ke lantai bawah, ada Jessy dan Gege-orangtuanya sedang duduk santai menonton televisi. Sedangkan adik-adiknya belum datang jua. Duduk diantara keduanya, tepatnya di tengah. Luna ingin di manja oleh Jessy maupun Gege. Ia merindukan suasana seperti ini.
Kedua orangtuanya merasakan kehadiran Luna, memandang penuh arti.
"Luna, kamu tidak istirahat?" tanya Jessy, sembari menyentuh rambut Luna, di elus penuh kasih sayang.
"Di pesawat sudah cukup, malah kalau di tidurin Lagi Luna makin mual dan pusing." balas Luna, kemudian dia memeluk Jessy agak manja. Gege terkikik geli pada anaknya.
"It's okay, kamu mau makan sesuatu?"
"Nggak mau."
"Ayah, kapan Barrack datang? Deelena juga kemana sih, nggak kangen sama kakaknya yang cantik dan imut ini. Heran. Kemaren-kemaren nyuruh cepat ke sini, giliran udah di sini mereka pada nggak ada." ketus Luna kesal, melirik ayahnya sedang menyimak TV.
Gege menoleh. Tertawa pelan mendengar ucapan Luna. "Barrack malam ini baru selesai, tapi dia bakalan datang kok, dia bilang pesanan dia di bawa nggak? Kalau Dee, bentar lagi pulang. Masih dalam perjalanan, ayah sudah minta Muller untuk jemput." jelasnya. Bicara soal Muller jangan bayangkan dia pria setengah baya, kalian salah, Muller itu masih muda, umurnya saja masih 25 tahun, ia sudah dianggap anak dan adik di sini. Dia sosok pria yang rajin. Makanya keluarga Luna menyukai Muller.
"Inget mulu kalau soal pesanan, rese tuh anak." balasnya ngasal.
"Emang dia pesan apa sih, kayaknya dia nanyain terus sama Mom?" Jessy penasaran, karena sejak Luna akan ke Jerman, Barrack tidak pernah henti membicarakan tentang pesanannya yang harus dibawa, seperti halnya yang penting.
"Biasa, yang bulat-bulat, nanti mau aku panasin dulu, masih ada dalam koper."
"Apaan sih, ayah penasaran?" Gege juga ikut penasaran. "Barang atau makanan?"
"Menurut ayah? Kalau di panasin apa, bulat-bulat?"
"Makanan?"
"Baso setan?"
Luna mengangguk, mengiyakan.
"Yaelah kirain apa. Ayah tahu. Dia juga sering minta belikan sama ayah kalau pulang ke Indonesia. Jadi, hobby baru dia, kayaknya." tungkas Gege.
"Begitulah anak ayah, padahal udah jadi model terkenal. Harusnya jaga body malah pantang." Gerutu Luna. Adik tirinya ini sekarang menjadi model terkenal di Jerman, dan di eropa juga, bukan hanya itu dia juga didapuk menjadi model ambassador merek terkenal asal Italia. Pokoknya Barrack banyak berubah, yang tidak berubah sikap manjanya terhadap Luna.
"Dia suka nge-gym, makan banyak juga nggak apa-apa, asal tahu porsinya." ujar Jessy, yang memang sangat mendukung Barrack menjadi model seperti Jessy dulu.
Mungkin juga Barrack akan ditarik oleh Gege-ayahnya, karena selain menjadi model Barrack kuliah manajemen bisnis, agar bisa menggantikan Gege di perusahaan, dia juga sudah menyiapkan Barrack menjadi CEO GM Corp di Munich maupun di Berlin, perusahaan Gege cukup besar di Jerman, tidak kalah dengan SJC milik sahabat rivalnya Galang.
Padahal Gege berharap akan memberikan perusahaan pada Luna, tapi tahu sendiri Luna sudah menjadi istri dan ibu tidak dapat melakukan keinginan Gege, hanya Barrack harapan Gege, dia percaya meskipun Barrack bukan anak kandungnya. Gege tidak punya keturunan laki-laki, semuanya perempuan. Mungkin Deelena bisa menjadi bagian di perusahaannya kelak sudah dewasa nanti, karena Deelena sangat cerdas.
"Oh iya, Luna pengen jalan-jalan? Luna pengen lihat taman belakang rumah, tapi sama kalian berdua. Mau ya?" Luna sedikit agak memaksa, tapi di angguki Gege dan Jessy. Rasanya dia begitu bahagia, kehamilannya sekarang dia ingin sekali dekat dengan kedua orang tuanya.
"Ayo."
Mereka pun menelusuri tanaman yang di taman oleh Jessy selama ini, Jessy sangat menyukai bunga hingga dia punya kios bunga dan punya perkebunan bunga milik sendiri. Ternyata selain mantan model, coach, dia juga pintar berbisnis.
Setelah cukup bersenang-senang, mereka kembali ke dalam rumah, dan terlihat Reza dan Si kembar duduk menonton TV. Sedangkan Bima sedang duduk di mini bar, menikmati teh hijau. Dan mertuanya masih jetleg mungkin karena usia mereka yang sudah memasuki kepala enam, bawaannya capek. Luna memakluminya.
Sosok yang dinanti nanti akhirnya datang juga, siapa lagi kalau bukan Deelena, gadis ini semakin cantik, tinggi, dan juga sudah remaja. Padahal dulu dia masih sangat kecil.
"Kak Luna, a-apa kabar?" ucap Deelena kegirangan, ia bisa berbicara bahasa namun masih belum lancar dan logatnya masih sangat kenal. Kalau dia ingat Deelena, dia seperti melihat Cinta Laura, karena cara bicaranya masih agak bulepotan.
"Fine, Dee. Kamu semakin cantik kakak kalah saing nih!" seru Luna, mengagumi perubahan adiknya sedemikian banyak.
"Bisa saja, kakaknya masih cantik nggak berubah. I miss you." Deelena memeluk erat Luna begitu mendekap, dia juga membalas pelukan adiknya. "I miss you too." balas Luna.
"Sudah punya pacar belum?"
"Belumlah, belajar dulu. Nanti sama Dad di marahin, terus uang jajan dikurangi. Gawat kan."
"Bagus deh, belajar dulu aja. Nggak usah pacaran dulu."
"Iya, siap."
Deelena menghampiri Reza dan Bima memberikan pelukan yang baru saja bergabung di ruang keluarga, dan begitu juga-dengan Si kembar, Nabila maupun Nadila. Keponakan kesayangannya kemudian dia duduk di sisi menghampiri keduanya semangat.
"Hey, Double N, how are you?"
"Comeon, Aunty, jangan panggil kami seperti itu, tidak enak di dengar." Nadila tidak suka, dengan panggilan aneh dari Deelena.
"Aku juga tidak suka dipanggil Aunty, terlalu kolot aku masih muda Nad."
"Terserah, dan satu lagi namaku Nadila bukan Nad."
"Terlalu panjang, aku panggil Nad, tidak masalah, aku saja memanggil Nabila dengan sebutan Nab, she's fine, and you call me Dee, jangan Aunty."
"Terserah." ketus Nadila. "Mana hadiah yang akan Aunty kasih ke kita? Kita tagih loh."
Deelena menepuk jidatnya. "Sorry, aku lupa." dia tidak boleh karena memang lupa karena sibuk dengan ujian sekolahnya.
"Nabila, Aunty bohong sama kita." Nadila bersedekap menoleh pada Nabila masih dengan wajah santainya.
"No problem, masih ada waktu, lagian Aunty pasti sibuk karena lupa. Bukan disengaja." Bela Nabila. Bagaimana pun juga Deelena senang mendapat keponakan seperti mereka hanya saja sifat mereka berdua sangat berbeda jauh.
"Oh sweetheart, Nab memang yang terbaik."
Nabila tersenyum. Sedangkan Nadila cemberut. Heran dengan sikap Nabila selalu saja menentang Nadila tidak pernah sejalan padahal mereka kembar identik, bukan mendukung malah menikung.
"Bodo, terserah kalian."
Nadila melenggang meninggalkan Deelena dan Nabila yang memandang Nadila keheranan. Luna dan Reza, mertuanya pun heran melihat tingkah Nadila yang terlalu dibawa emosi.
"Nad kenapa?" Jessy penasaran.
"Entahlah.." Jawab Deelena, bohong.
♥♥♥
Hi, semuanya maaf udah jarang update, satu episode lagi aku tamatin ya, tapi nanti ada extra partnya kok...
terima kasih buat dukungannya selama ini...