Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
11. Tukar Pikiran



♥♥♥


Langit sore terlihat mendung setetes hujan perlahan turun lalu dalam beberapa menit hujan deras membahasi seluruh permukaan. Hujan tak hentinya mengalir deras namun menghangatkan sore hari ini. Seorang pria yang hendak turun dari mobil bersiap melangkah sebelum pria lainnya dengan seragam hitam datang memayungi pria itu turun masuk menuju restoran Italy dengan papan nama Losso.


"Kamu nggak perlu menjemput seperti ini", kata Reza sambil merapihkan dan mengelap sisa air hujan dipakaian jasnya.


"Ayolah. Mas adalah Boss SJC tamu kehormatan direstoran aku", balas Aldo menyimpan payung dibagian pinggir pintu masuk.


"Terlalu berlebihan, bagaimana bisa seorang Chef meninggalkan perkerjaanya dan malah memayungkan tamunya sendiri?".


"Kamu lupa Mas, aku ini pemilik restoran ini juga. Siapa juga yang akan melarangku". Aldo tersenyum renyah. "Duduklah aku akan siapkan makanan special untukmu".


"Baik aku tunggu".


Disaat-saat seperti ini Reza malah kepikiran dengan Luna, dia berniat mengajaknya kemari nanti hanya berdua tanpa Biboy agar dia punya peluang untuk bisa mengenal lebih jauh lagi. Ia harus bisa bergerak dari rasa bersalah terhadap kekasihnya, Ibu dari anaknya yang selama ini membuatnya terus berpikir bahwa dirinya tidak layak untuk dicintai dan mencintai setelah ia menyakiti dan meninggalkan Lisa begitu saja. Mungkin orang mengatakan dirinya brengsek meninggalkan kekasihnya yang sedang hamil dan tidak mengakui anaknya, tapi semua itu dia memiliki alasan yaitu untuk melindungi Lisa dari ancaman Ayahnya sekaligus pendiri perusahaan SJC.


Flash Back


"Kamu tahu Ayahmu ini membangun perusahaan dari nol. Dan menjadi besar karena kerja kerasku selama ini dengan tangan dinginku aku mendirikan gedung menjulang tinggi seperti sekarang. Kau lihat?", pria tua itu membanggakan dirinya sendiri dengan suara lantang yang membuat Reza muak dan kesal.


"Terus aku harus Apa?", tanya Reza yang terduduk diruangan besar dengan pemandang diluar jendela terlihat gedung lainya berdiri mejulang tinggi.


"Duduk disini dan gantikan Ayahmu ini yang sudah tua", balasnya.


"Tapi_ Mas Abdul bagaimana? Aku ngga bisa, anak tertua yang harusnya menggantikan posisi ini."


"Hah! Abdul itu tidak bisa apa-apa, tidak bisa memegang perusahaan ini apalagi dia sekarang sudah menjadi dosen sesuai keinginannya".


"Itu karena Ayah tidak memberikan dia kesempatan".


"Memberi kesempatan untuknya, sama saja menghancurkan perusahaaan, kamu tahu_".


"Cukup, dia anakmu juga. Bukan hanya Reza tapi ada Abel juga. Kenapa harus aku yah? kenapa?".


"Karena Ayah tahu kamu yang pantas gantikan posisi ini. Karena sifat keras kepalamu sangat mirip dengan Ayah".


"Bukan alasan".


Mereka terdiam sesaat, untuk menghilangkan penat obrolan dan taklama Ayahnya datang menghampiri Reza yang duduk ditengan ruangan dan melemparkan map berisikan foto dirinya dengan Lisa.


"Apa dia kekasihmu", tanya pria tua menyebalkan itu.


"Iya dia kekasihku", ucapnya dengan nada tenang namun menaruh curiga pada Ayahnya.


"Tinggalkan dia".


"APA".


"Aku bilang tinggalkan dia, kamu akan menjadi pemimpin SJC perempuan itu tidak pantas buat kamu".


"Nggak, aku nggak akan tinggalin dia. Dan satu lagi aku nggak mau jadi pengganti dan pimpin SJC ini", tegas Reza berdiri bersiap akan meninggalkan ruang, namun terhenti begitu saja saat pria itu mengatakan dengan lantang maksud tujuannya.


"Apa Ayah harus memberikan pelajaran untuk perempuan yang sedang hamil itu", Ancam Ayahnya membuat hati Reza bimbang dibuatnya.


Bagaimana pria tua itu tahu Lisa Hamil? Apa selama ini Ayah memantau gerak-geriknya secara diam-diam.


Mengerikan.


"Jangan sampai ayah menyentuhnya".


"Ayah nggak akan setuh dia kalau kamu mau mengambil posisi ini, bagaimana?".


"Jangan Sentuh dia satu ujung kaki pun. Aku setuju."


Menyerah.


Flash Back End


Serpihan cerita dipikiran terus berputar-putar, suara panggilan seseorang membuyarkan semuanya begitu saja. Dan sekarang dia melihat makanan sudah tersaji dimeja makan dengan menu makanan khas restoran ini.


"Apa tadi Mas melamun?".


"Sedikit".


"Baiklah, menu adalanku Pasta Cheese Egg. Mas tahu menu ini tidak dijual. Dan Mas orang kedua yang merasakan Pasta ini".


"Kenapa kedua? siapa yang pertama?".


"Seseorang yang sangat aku cintai".


"Maksud kamu, perempuan yang sudah kamu sakiti itu".


"Iya".


Mungkin banyak orang berpendapat cinta masa-masa SMA cinta sementara, cinta suka-sukaan, berlalu begitu saja tapi bagi Aldo rasa semantara dan suka itu berubah menjadi cinta yang melekat dan tak bisa dilupakan begitu saja seperti kebanyakan orang. Toh benar itu sampai sekarang dirinya masih mencintai perempuan itu.


"Kok sekarang kamu yang melamun".


Suara Reza melintas dipikiran Aldo tiba-tiba.


"Ah, maaf".


"Apa kamu begitu mencintainya?".


"Sangat, tapi dia begitu membenciku dan menatap saja dia nggak mau".


"Jadi kamu sudah ketemu sama dia".


"Sudah, sepertinya dia bekerja disekitar sini".


"Benarkah? Kamu udah cari tahu dia kerja dimana? mau Mas bantu cari perempuan itu".


"Nggak usah Mas, aku mau dengan usahaku sendiri".


"Begitu dong. Kejar terus sampai dia luluh".


Aldo hanya mengangguk pelan tanpa bicara. Karena pikiranya begitu kalang kabut sampai-sampai ia tidak begitu fokus memasak. Pelanggan berlalu lintang direstoran terlihat semakin ramai sekedar selfi atau duduk manis dengan pesananya. Karena konsep restoran ini selain View  yang bagus, dan juga memberikan kehangatan dengan Lagu-lagu yang diputar diruangan.Kedua pria itu yang memiliki latar pencintaan yang sama, membuat mereka saling bertukar pikiran untuk setiap hubungan atau orang yang mereka kasihi. Saat Reza mengumamkan lagu yang diputar diruangan sehingga membuat dirinya merasa senang, bukan karena musik ataupun lirik lagu itu, tapi suasana hati Reza yang sedang berbunga-bunga.


"Siapa wanita itu Mas? Yang buat kamu jadi melow begini".


"Lagian kamu kepo banget".


"Lihat Mas senyum-senyum kayak gini, bikin Aldo merinding". Aldo sambil mengusap-usap kedua tangannya.


"Semenjak dia datang tiba-tiba dihidup Mas sama Biboy, dia buat Mas hidup kembali seperti Reza yang baru".


"Jadi penasaran siapa itu perempuan?".


"Nanti Mas kenalin deh".


"Oke".


Setelah setengah hari berada direstoran Aldo, dia berpamitan untuk kembali kekantor karena ada meering untuknya nanti. Didepan sopir sudah menunggu kedatanganya. Hujan sudah berhenti sinar matahari kembali dengan terang, dan memasuki mobil. Tidak menunggu lama untuk sampai Reza sudah keluar dari mobil, melihat kedatangannya mereka memberi sedikit senyum dan anggukan kepala sebagai hormat mereka pada Reza yang tak lain Boss mereka. Diusia muda seperti ini benar-benar membuat mentalnya terbesit. Banyak yang suka dirinya karena ketampanan dan tubuh profesionalnya dibanding sebagai pemimpin dirinya lebih cocok menjadi super model semua karyawannya terutama perempuan begitu mengharapkan cinta dari Reza yang seorang single daddy yang tak membuat perempuan menjauhinya tapi malah mendekatinya terang-terangan tapi tidak dia hiraukan. Dan yang tidak suka adalah para pemegang saham yang masih belum terima dirinya menjadi pemimpin mereka, karena usianya masih muda.


Suara pintu lift khusus eksekutif terbuka, dia pun melangkah masuk. Lift eksekutif ini berbeda dengan lift biasa, lift ini begitu elegant dengan karpet bernuansa Turkey dan dinding lift dilapisi cermin yang mempermudah untuk sekedar merapihkan penampilan mereka.


Sesampai diruangan, Reza duduk bersandar dikursinya yang empuk dan sejenak memajamkan kedua matanya untuk melepas lelah dan pikirannya. Seorang pria menghampiri sambil memberikan dokumen yang diletakkan dimeja, dan dia memandang seketarisnya yang sudah lama menemani dirinya.


"Berapa minggu lagi karyawan magang berakhir", kata Reza sambil melihat isi dokumen yang diberikan soni seketarisnya.


"Sekitar dua minggu lagi, apa ada masalah pak?", tanya Soni penasaran.


"Tidak, apa mereka bekerja dengan baik?".


"Mereka mengerjakan tugasnya dengan sangat baik".


"Bagus kalau begitu, setelah selesai magang panggil mereka kembali".


"Baik Pak saya mengerti".


"Dan satu lagi berikan bonus. Sebagai kopensasi atas kinerja mereka selama disini".


"Baik Pak".


Selesai dengan semua dokumen-dokumen dia mengambil ponsel dari jasnya dan menekan tombol memanggil.


Abel Calling


Reza


Hallo Bel


Abel


Tumben telpon, ada apa kak?


Reza


Anu_


Reza merasa gugup meski dengan adiknya bila membicarakan soal Luna.


Abel


Anu? Anu apa sih gazebo banget, aku lagi sibuk nih.


Kesal dengan Reza menelpon tapi tak jelas.


Reza


Sabar dong, aku juga mau ngomong ini.


Abel


Iya apa kakakku ganteng, apa yang bisa Abel bantu.


Reza


Ehmm, Apa makanan kesukaan Luna.


Reza mendengar diujung suara Abel tertawa meledek dirinya


Abel


Hahhahaa Aku kira ada apa, Mas pengen tahu makanan kesukaan Luna?


Reza


Iya cepat jawab.


Reza tidak sabar


Abel


Luna itu suka banget sama Bakso Setan.


Reza


Bakso Setan? Apa itu.


Apa aku harus searching digoogle


Abel


Bakso ukuran gede terus dalemnya daging cincang yang dipakein cabe didalemnya.


Reza


Kamu nggak bohongkan sama kakak.


Abel


Benaran itu makanan kesukaan dia, lagian bukan tanyain aja keorangnya langsung.


Reza


Maunya begitu. Cuma masih belum berani, nanti disangkanya sok dekat.


Abel


Makanya tembak dong, takut keburu diambil orang baru nyaho.


Reza


Siapa yang mau ambil dia? Berani banget itu orang.


Abel


Kepo. Aku cuma mau saranin sama kakakku tercinta. cepat nyatain perasaan kak Reza, sebelun Luna kembali goyah lagi.


Reza


Maksud kamu?


Abel


Pokoknya kak Reza cepat-cepat tembak Luna, oke Bye


Calling End


Mendengarkan ucapan Abel agar ia secepatnya menyatakan cinta pada Luna, mulai terpikir kembali. Memang selama ini dia sudah menaruh hati pada Luna namun masih ia pendam karena merasa takut bahwa dirinya akan menyakiti Luna seperi ia menyakiti Lisa dulu. Tapi ia juga tidak ingin perempuan itu dimiliki oleh pria lain.


Aku harus bertindak lebih cepat lagi. Gumamnya.


♥♥♥