Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
33. Rencana



♥♥♥


Luna terbangun dengan tubuhnya yang terasa pegal akibat aktivitas mereka semalam, kalian tahu mereka melakukanya bukan hanya sekali tapi berkali-kali tidak tahu berapa ronde yang mereka lakukan. Karena pria itu benar-benar punya stamina yang gila tidak ada rasa capek ataupun kelelahan dalam pergulatan. 


Berbeda dengan Luna tubuhnya terasa sakit seperti badanya mau remuk. Rasanya seperti sesuatu yang menghantam dirinya saat itu. Luna segera bangun dan masih melihat suaminya itu tertidur pulas seperti seorang bayi. 


Namun saat akan turun, Ia amat nyeri dibagian selakangannya. 


"Awww...sakit" ringis Luna merasa kesakitan. Dan saat kembali akan turun tubuhnya terjatuh ke lantai dan membuat suara terdengar.


BUKKK! 


"Aduh! Sial" ringisnya lagi. 


Membuat Reza mendengar ringkasannya, "Kamu baik-baik saja?".  tanya pria itu menghampiri Istrinya yang sudah jatuh duduk dilantai dan menutup tubuhnya dengan selimut, sementara Reza memakai boxer pendek.


Luna hanya meringis menekan bagian selakangannya agar mengurangi rasa sakitnya. 


"Pasti rasanya sakit?", tanyanya lagi saat Luna belum menjawabnya. 


Luna mengangguk pelan. 


Dan mengendong Luna ke ranjangnya kembali dan merebahkan tubuhnya, merasa khawatir saat wanita itu terpekik kesakitan.


"Iya, sakit. Gara-gara kamu". Keluhnya memukul pelan dada Reza dihadapanya. 


Reza hanya tersenyum melihat tingkah Luna, memang ini semua gara-gara dirinya yang belum puas akan gairahnya semalam dan melakukannya berkali-kali. Dan Luna oun tidak menolak ajakannya. 


"Rebahkan dulu tubuh kamu, aku mau ambil minum dan makanan kamu pasti haus dan lapar". Menyadarkan tubuh Luna dibantal.


"Aku mau mandi dulu, aku merasa tidak enak bangetku terasa lengket". ucapnya merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. 


"Kalau begitu kita mandi bersama??". Ucapnya sambil menggoda. 


"Ih mesum, mandi saja nggak lebih". Desis Lun menatap Reza yang terlihat mencurigakan dengan senyum terukir di bibir seksinya. Dan melihat bekas gigitan di lehernya dan cakaran di punggung dan bahu lengan yang terlihat jelas dan menyentuhnya. "Apa ini sakit?" 


"Tentu saja, kamu begitu Agresif semalam. Badan aku perih banget sama cakaran dan gigitan kamu. Sampai nggak mau lepas dari gigitannya".


Luna merona, "Dasar mesum. Itu juga karena kamu main nya cepat".


"Kalau begitu nanti mainya pelan saja, ya".


"Mulai. Mesumnya".


Reza tanpa banyak bicara langsung menggendong tubuh Luna membawanya ke kamar mandi. Ehm, saat memasuki kamar mandi apa saja yang mereka lakukan. Hanya mereka yang tahu. 


Selesai dengan ritual mandinya Reza terlebih dahulu menyelesaikannya dan bergegas turun ke bawah untuk menyiapkan sarapannya. Karena tau kalau Luna masih lelah karena Reza melakukannya lagi dikamar mandi. 


Terus ingin melakukannya.


Luna keluar dari kamar dan merasakan kesakitan tapi lumayan lebih baik dari sebelumnya. Dia turun dari tangga dan melihat Reza menyiapkan sarapannya. Melihat kedatangannya Reza menatap seraya tersenyum lebar. 


Senyum menggodanya membuat Luna malu karena mengingat kembali apa yang mereka sudah lakukan. Detik itu pula Reza menghampirinya melihat cara jalan Luna yang terlihat tidak nyaman. 


"Kenapa kamu turun?". Reza cemas dengan Istrinya melihat cara jalannya yang pasti sangat menyakitkan. 


"Aku sudah baikan, aku juga lapar". Keluhnya manja di memelas dengan nada sedikit merengek seperti anak kecil dan menyentuh perutnya. 


Reza menggendong Luna dan mendudukkannya di kursi depan meja makan yang sudah terhidang omelet buatan Suaminya dengan susu sebagai minumannya. 


"Makanlah kamu butuh tenaga". Ucap Reza mengelus kepala Luna pelan dan duduk disisinya. 


"Wah! selamat makan". Serunya senang mendapati masakan yang disediakan Reza menggugah selera.


"Pelan-pelan makannya".


Setelah melakukan sarapannya, Reza memutuskan untuk menggantikan pakaiannya untuk kembali ke kantor karena hari ini akan ada meeting yang cukup penting yang harus dihadirinya karena nyangkut kerjasamanya dengan Soho Group dari Jepang. Sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Luna sendiri tapi dia harus memilih untuk pekerjaanya dan itu sudah atas izin Luna yang mengerti dirinya seorang atasan. Reza sangat bangga karena Luna bisa mengerti kondisinya saat ini dan dia juga selalu mendukungnya disaat seperti ini


Dikantor, wajah Reza terus diselimuti kebahagiaan, saking bahagia meeting yang diadakan sama sekali dia tidak perhatikan. Dan kalian tahu orang yang berada di ruangan merasa ikut senang. Karena biasanya bila meeting seperti ini, Dia akan bersikap profesional tidak mau ada sedikit kesalahan dan menjadi Reza yang dingin dengan tatapan tajam menyelimuti mereka. Tapi hari ini? Semua tampak merasa aneh dan terkejut dengan menyelesaikan acara meetingnya dengan singkat tanpa omelan darinya. 


Semua orang yang ada di dalam ruangan bersyukur karena pernikahan atasanya bisa mengubahnya menjadi sosok yang lembut dan menyenangkan sekarang ini, kebahagian menyelimutinya. Dan Reza berpamitan meninggalkan ruangan terlebih dahulu dengan menebarkan senyuman manis di bibirnya yang jarang buka diperlihatkan pada orang-orang.


Hanya satu jam lebih kepergian Reza, Luna memutuskan untuk memejamkan matanya. Tanpa dia tahu suaminya sudah pulang dan berjalan menaiki tangga untuk berganti pakaiannya tak ingin mengganggu Luna yang sedang tidur di sofa, menyadari kedatangan Reza menghampirinya Luna bangun dengan posisi duduk, dan dia semakin penasaran saat Reza sudah berganti pakaiannya duduk disampingnya. 


"Mas, bukannya kamu bilang ada meeting, kenapa sudah kembali?". Tanya Luna penasaran.


Melihat wajah Luna yang penasaran, Reza berniat menggodanya karena sekarang dirinya sangat senang bila harus menggoda istrinya. 


"Sudah selesai dan aku cepat-cepat pulang karena rindu sama kamu. Dan tidak mau jauh-jauh dari kamu". Goda Reza seraya mendekati wajahnya ke arah Luna yang terlihat malu dan merona merah.


"Ih Mas Reza". Kata Luna sedikit malu dengan ucapan Suaminya yang terlihat manja.


"Sayang, Kita sepertinya harus packing baju dari sekarang. Lusa kita berangkat ke Jepang kan. Biar kita nggak gerutu pas hari H nya?".


"Ya sudah ayo kita ke atas?" ajak Luna menarik tangan Reza. 


"Ayo apa sayang? Kamu mau godain aku lagi. Masih belum puas?". Goda Reza menahan ajakan Luna. 


"Ih. Jangan mesum deh. Kita packing bajulah".


"Itu doang. Nggak ada lagi?".


"Iya, nggak ada lagi. Kenapa? Mau lagi?".


Reza senyum penuh harapan, "Iya, kalau kamu nggak keberatan".


"Ayo kita ke atas". Ajak Luna lagi menarik paksa Reza.


"Asyik". Rajutnya. 


•••


Sore itu, Abel dan Rara pulang dari kampus menuju restoran untuk makan karena sibuk dengan tugas kuliah mereka, keduanya hampir lupa untuk makan. Hari ini keduanya dilarang untuk mengganggu atau menelpon Luna oleh Reza katanya sih, tidak mau ada gangguan dari siapapun hanya ingin menikmati pengantin baru. 


Mendengar soal pernikahan, membuat keduanya ingin cepat-cepat menyusul tapi entah dengan siapa karena keduanya masih jomblo. Mereka berharap bisa menemukan pria seperti impian dan khayalan mereka yang terlalu sempurna.


Suara seorang wanita memanggil keduanya, dengan penuh kemanjaan dan sok akrab yang dilakukan wanita itu tanpa sungkan. Dengan raut wajah penuh rencana jahat yang terlihat saat wanita itu sudah terlihat. 


Alisha. 


Calon pelakor. 


Benar. 


Wanita itu duduk, "Hai, Abel. Rara. " sapanya. 


Keduanya hanya diam belum sempat mengeluarkan suara beberapa detik saat wanita itu menyapa. Melihat baju yang dikenakan membuat keduanya jijik, kenapa tidak dia melihat wanita itu mengenakan dress tanpa lengan dan mengumbar dadanya yang besar sebagai kelebihan dari tubuh wanita itu. 


"Sepertinya aku nggak suruh kamu buat duduk disini? Tidak sopan sekali kamu?". Seru Abel melipat tangan di dadanya menatap wajah Alisha dihadapannya. 


"Abel, kamu ini sinis banget sama aku. Oh iya Mas Reza apa kabar? Aku dengar dia sudah menikah? Apa itu benar? Aku berharap itu cuma gosip". Seru Alisha seraya mematik rokok di tangan dan menghembuskan asap di sembarang arah. 


Akibat asap tersebut membuat keduanya merasa sesak, sehingga membuat Rara dan Abel menjadi geram. Ya, keduanya tidak menyalahkan Alisha merokok. Toh mereka berada di area yang memperbolehkan untuk merokok hanya saja wanita itu keterlaluan.


"Itu bukan gosip. Itu benar. Jadi kamu nggak usah berharap sama Kak Reza. Dia itu sudah punya istri. Harus ingat itu". Balas Abel memperingati wanita dihadapannya. 


"Ayolah. Meskipun sudah menikah, tidak ada yang tahu pernikahan itu akan bertahan atau tidak". Alisha percaya diri. 


Rara dan Abel dibuat geram. 


Wanita jalang. 


"Nggak pernah berubah, masih suka sama pria yang sudah punya pemiliknya. Apa itu sudah jadi hobby kamu Alisha". Cetus Rara tanpa pikir panjang.


"Tentu saja, mungkin itu hobby dan menjadi kebiasaan aku sekarang. Karena kalian harus tahu. Pria sudah memiliki pasangan itu sangat menggoda dan punya tantangan tersendiri buat aku. Aku menyukainya". Ucapnya tak tahu malu. 


"Sinting". Ketus Abel. 


"Lagian kenapa harus Luna yang jadi pasangan Reza? Nggak ada bagusnya. Badan aku lebih bagus. Dan bisa memuaskan Reza diatas ranjang".


"BITCH. Otak kamu udah rusak". Rara Geram. 


Dan saat keduanya akan berdiri, Alisha menahannya dengan perkataannya membuat Abel dan Rara berhenti sejenak. 


"Apa kalian takut kalau kejadian dulu akan terulang sekarang?". Tanya Alisha membuat keduanya terdiam.


Dan dengan reflek Abel mengambil air putih di meja dan menggugurkan ke arah wanita itu tanpa sungkan dan malah senang dengan perbuatan nya. 


SYUUURR!


"Apa yang kamu lakukan Abel?" Alisha kesal seraya mengelap bekas air di wajahnya menggunakan tangan dan sementara rokoknya yang basah dia buang sembarangan tak tau kemana. 


"Kesal? Rasakan itu jalang. Aku peringatkan kalau kamu melakukan itu aku nggak segan-segan acak muka kamu sampai nggak berbentuk. Ingat aku nggak main-main Alisha Parwaditara". Ancam Abel. 


"Jadi kamu ngancem aku, hah?". Teriak Alisha. 


Melihat adegan ini membuat orang disekitarnya penasaran dan menonton ketiganya seperti melihat sinetron. Mungkin mereka juga berpikir ketiganya sedang syuting. Namun tanpa kamera. 


"Iya. Itu ancaman dan peringatan buat kamu".


Alisha tersenyum tipis, "Kamu kira aku takut" ucapnya tak merasa takut.


Abel benar-benar dibuat emosi oleh Alisha. Ingin rasanya mengacak rambut dan menampar muka wanita itu hingga babak belur. Kalau bisa hilang ditelan bumi. Jalang, itu kata yang sudah melekat pada wanita itu dan benar-benar otaknya kosong.


"Abel ayo kita pergi. Tidak ada gunanya kita ngomong sama wanita tidak tau malu kayak dia. Jadi nggak selera aku makan disini".


"Ayo. Aku juga muak".


Keduanya meninggalkan restoran tanpa ingin menoleh balik melihat keadaan Alisha yang terlihat kacau karena ulah Abel yang sudah membanjur mukanya dengan air. 


Alisha senyum sinis, "Lihat saja. Aku bakal kasih kejutan buat kalian semua. Permainan akan dimulai". Guneman.


•••


Penthouse Winajaya


Dua orang wanita dan dua orang pria sedang duduk di halaman luar dan indah dengan bunga dan pohon yang mengelilingi penthouse mewah ini. Kedua wanita itu sedang minum teh dengan santai dan ngobrol tentang fashion majalah yang sedang mereka lihat. 


"Lihat, Jessy ini tas keluaran terbaru dari Gucci, Gucci Nymphaea Snakeskin Top Handle Bag. Mahal juga ya. Kamu tahu aku lebih suka dengan merek brand ini dibandingkan yang lain". Ucap Yunita ada collector tas branded.


"Selera kamu sesuai dengan kepribadianmu. Kalau aku lebih suka dengan brand Chanel. Tapi aku sesalkan brand ini banyak sekali KW nya".


"Kamu benar, Jessy. Tas KW sudah membludak di pasaran. Kita harus hati-hati memilih".


Sementara kedua pria itu sedang sibuk dengan project baru mereka setelah akhirnya keluarga mereka bisa bersatu seperti keinginan mereka dulu.


"Jadi kita mau lanjutin project kita yang dulu pernah kita tunda nih?". Kata Galang seraya menikmati teh hijau dan menatap kearah Gerraldy yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Kita sudah tua bangka, Curut. Siapa yang mau handel ini project. Nggak mungkin Reza kan, dia kan sibuk sama SJC". Gerraldy masih berkutat dengan laptopnya. 


"Kodok. Kita masih bisa suruh orang lain yang handel kita cuma bisa ngurusin aja. Susah amat. Lagian aku ngomong lihatin. Bukannya mantengin itu laptop". Cetus Galang kesal melihat sahabatnya lebih sibuk dengan pekerjaannya. 


Gerraldy menoleh, "Ampuh dah ini Curut, Aku itu lagi cek berkas dari Jerman yang dikirim bawahanku selama aku nggak ada disana, aku juga kudu tahu perusahaanku bagaimana kabarnya". Balasnya tegas.


"Sorry. Aku lupa. Terus gimana ini project?".


"Terserah kamu atur aja, lagian kamu yakin mau bangun Mall dengan nama itu? Nggak malu? Nggak Aneh? Kayaknya harus kita cari nama lain deh".


Jessy dan Yunita mendengarkan percakapan suami mereka ikut nimbrung penasaran. Karena kedua pria itu akan membuat Mall dalam projectnya. 


"Yakinlah. Ngapain malu Kodok, itu kan planing kita dulu mumpung kita belum susah bergerak. Lagian ini juga untuk kesejahteraan anak, cucu dan cicit kita nanti".


"Atur sajalah. Tapi beneran yakin pake itu nama?".


"Yakin".


Yunita memandang penasaran suaminya, "Emang nama Mall-nya apa?" tanyanya.


"Giliran ngomongin Mall kalian berdua ikut nimbrung. Namanya 'GG Grand Mall' bagaimana menurut kalian bagus tidak?". Galang minta pendapat pada kedua wanita ini yang hobby belanja. 


"GG itu Galang and Gerraldy?". sahut Jessy. 


"Iya, sayang. Masa dari kata GiGolo". Balas Gerraldy sontak membuat mereka tertawa karena ucapannya. 


"Bagus sih, dan cuma aneh saja GG dalam pengucapan katanya". Seru Yunita memandang pada suaminya yang terlihat tak senang.


Gerraldy menepuk bahu Galang, "Benerkan kata aku, kedengaran aneh. mending ganti deh". jelasnya.


"Ya, sudah nanti kita pikirin lagi namanya. Tapi Mall ini jadikan kita buat?".


"Jadi, Curut. Atur aja".


"Ok".


♥♥♥