Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
77. Ext. Part 2



Lima tahun kemudian… 


Luna dan Reza duduk santai di depan TV, hari ini adalah hari libur tepatnya family time. Keluarga Luna menjadi harmonis. Kata orang keluarga sih keluarga tentram. Tapi tidak untuknya, apalagi kalau sedang weekend begini rumah serasa ada gempa bumi atau tsunami. Kalian jangan berpikir negatif, maksudnya adalah… 


"MOMMY…" teriak Bima, anak satu ini sudah masih teriak-teriak tidak jelas, dia pikir di sini hutan. Reza suaminya tidak menanggapi serius, sudah biasa di telinga pria itu.


"Apa Biboy, nggak usah teriak segala sih, Mommy dengar kok." ucap Luna menghela nafas, Bimantara mendekatinya dengan raut muka kesal seperti biasa pasti ada keluhan dari anak itu yang sudah berumur tujuh belas tahun tapi kelakuan kayak anak SD amat manja.


"Mom, aku nggak suka dipanggil Biboy, udah gede malu..masa anak ganteng begini masih di panggil Biboy bisa di ledekin sama member Gengkor nanti."


Keluhnya, kemudian duduk di sebelah Luna. Dan suaminya masih fokus dengan berita di TV yang amat disukainya. Tentang politik. 


"Kamu kenapa harus malu, malu sana pake helm." Luna mengacak-acak rambut Bima. "Ada apa cerita dong, galau ya?"


Bima masih cemberut. Lalu menggelengkan.


"Aku nggak galau."


"Apa dong kalau gitu? Kamu di kejar-kejar sama cewek yang ngintilin kamu itu?"


"Apaan sih, aku nggak mau bahas itu cewek."


"Mommy tahu, pasti kamu nggak diajakin main sama Gengkor?" 


Siapa yang berani nggak ngajakin main Bima, yang ada dia leadernya, macam RM BTS, tapi gantengnya kayak V BTS. Iyain aja YA! 


Gengkor yang membernya ada Bima, Fando, Arsen dan Reihan. Anak golongan tajir berduit, populer dan juga cerdas akan kepintarannya.


"Bukan."


"Terus apa? "


Bima menghembus nafas pendek.


"Si Kai, bikin ulah lagi tuh." Reza mendengar nama Kaivano disebut mengerut alisnya dan Luna hanya bisa diam. Mendengarkan kelanjutan Bima. 


"Ngapain lagi itu bocah?" tanya Reza buka suara. Penasaran ulah apalagi yang buat Kaivano anak bungsunya. Dan sering membuat Bima naik darah. 


"Motor Bima di lumpurin pake tanah, terus lebih parah lagi ban motor di pukul-pukul pake kayu, main bedug-bedugan. Bener-benar deh si Kai bikin Bima sewot aja." Luna dan Reza terkikir tertawa geli mendengarnya. Benar. Anak satu itu entah kenapa kelakuannya begitu ajaib. 


Bukan pertama kali untuk Kakak-kakaknya di jahili Kaivano tapi keseringan. Bukan hanya Bima tapi si kembar juga pernah di jahili. Nabila dan Nadila pernah uring-uringan mencari tas sekolahnya yang diletakkan di sof tamu, tapi tiba-tiba hilang begitu saja. Dan kalian tahu apa yang dilakukan Kaivano pada tas keduanya? Kalian percaya kalau Kaivano mengubur tas si kembar di tanah yang sudah di gali Kaivano buat sebelumnya. 


Tingkah anak bungsu Reza memang aneh kelewat kurang kerjaan dengan kejahilannya. Reza dan Luna saja di buat pusing.


"Sumpah ya, si Kai kreatif banget. Sayang kamu dulu ngidam apaan coba bisa begitu si Kai.. " kata Reza masih tertawa akan tingkah anaknya. 


"Nggak tahu, Mommy juga heran sama itu anak."


"Kalian berdua yang buat masa nggak tahu.." celetuk Bima.


"Hush, kamu kalau ngomong. Masih di bawah umur jangan sok sok an." kata nasehat Luna. Reza malah menyenggol tangan Luna. Dan menatap tajam ke arah suaminya.


"Hehehe...maaf, lagian Bima sudah sweet seventeen loh.. "


Reza mendelit. "Gayalah, sweet seventeen. Tetap aja masih pelajar. Nggak boleh mesum belum waktunya."


"Jadi Daddy yang boleh mesum?"


"Tentu aja, Daddy udah dewasa."


"Bukan dewasa tapi kelewat dewasa."


"Maksud kamu, Daddy tua?"


Bima mengangkat bahu. "Aku nggak bilang itu." Bima menyangkal. Luna memijat keningnya yang tidak pusing.


"Tadi kamu bilang kelewat dewasa."


"Iya aku bilang gitu, kelewat dewasa nggak bilang Daddy tua."


"Tapi sama aja kamu bilang kalau Daddy itu tua."


"Bedalah, kata-katanya aja udah beda."


"Tapi artinya sama."


"Serahlah, iyain aja biar cepat."


"Dasar bocah."


"Bodo."


"Tengil."


"Tapi cerdas."


"PD."


"Orang ganteng mah bebas."


"Ngaku-ngaku."


"Fakta lebih tepatnya."


"Belagu.. "


"Tu-"


"STOP"


Belum sempat membalas ucapan Reza, Keduanya terkejut dengan suara lantang Luna.


"Udah adu ngomongnya?"


Bima dan Reza mengangguk. Keduanya langsung tunduk oleh Luna.


•••


"Kai, ayo cepat masuk di luar bentar lagi ujan loh." seru Luna, melihat Kaivano masih main di luar dengan mobil-mobilan yang membawa banyak tanah.


"Bentar  Mommy, tanggung." ucap Kaivano lalu memasukkan tanah ke dalam bak mobilnya.


"Cepatan jangan main tanah melulu, badan kamu nanti gatal-gatal loh."


"Kata guru Kai, berani kotor itu sehat. Jadi nggak apa-apa dong. "


"Iya tahu, tapi kalau badan kamu kotor begitu kuman banyak yang nempel."


"Kuman? Itu apa Mom, Kai kok nggak tahu." lalu Kaivano melihat ke arah badannya, dia menyimak Luna kalau kuman menempel di badannya, tapi Kaivano tidak melihat kuman. Malah banyak tanah yang menempel. "Lihat nggak ada kuman, adanya tanah..."


Luna menepuk keningnya dengan tangan, Kaivano polos sekali. Luna paling nggak suka menjelaskan sesuatu terlebih kepada Kaivano si bungsu biang rusuh.


"Lagian kamu kepo banget. Kuman itu temannya bakteri. Harus dibersihkan biar kita nggak kena penyakit." Malasnya. "Ayo kita mandi, sudah mandi kamu makan. Mommy sudah siapkan telor ceplok pake kecap kesukaan kamu."


Kaivano bangkit, dia pun meletakkan mobilnya sembarangan. Menghampiri Luna. Kaosnya kotor penuh tanah yang bercampur air.


"Asyik, Kai mau telor ceploknya dua, pake nasi anget nggak mau yang dingin." girang Kaivano. Bocah satu ini berbeda dari kakak-kakaknya.


Hanya Kaivano yang kalau makan tidak pernah milih-milih apalagi kalau hanya disediakan telor ceplok dan kecap, bagaikan makanan mewah yang menggugah selera.


"Oke siap… "


Sebelum Luna dan Kaivano memasuki rumah, lebih dahulu Luna melepaskan pakaian anaknya agar tidak mengotori lantai karena memang Kaivano penuh dengan tanah yang lengket. Dan hanya menyisakan pakaian dalamnya. Barulah mereka masuk ke lantai dua untuk membersihkan badan Kaivano.


Luna sangat cekatan kalau mengurus Kaivano tapi dengan kehandalannya, melebihi Bima, Nadila dan Nabila.


"Mommy, kata Akila, Kai ganteng, memang iya?" tanya Kaivano dengan kepolosannya, anak itu sedang berendam di bathtub. Dengan busah yang banyak. Luna menggosokan badan Kaivano dengan telaten agar sisa tanah menempel bersih dan hilang. 


Soal Akila, Dia anak dari Raka sahabat sekaligus orang paling mengabdi pada Reza. Masih ingatkan Raka? Yang membantu penyelidikan Alisha dulu. 


"Kai dibilang ganteng?"


Kaivano manggut-manggut.


"Fitnah." ucap Luna asal. Kalau di iyain bakalan panjang urusannya. Udah polos banyak bertanya. Anaknya memang ganteng nggak usah katanya lagi, sudah dari lahir.


Kaivano bingung, membuat Luna mengerut alisnya. 


"Kenapa?"


"Nggak."


"Jangan bohong."


Kaivano menggeleng.


"Kai…"


Kaivano menghembus nafas panjang. 


"Mommy?" membuat Luna kebingungan dengan tingkah anaknya.


"Apa?"


"Uhm, itu-fitnah apa ya, Mom?"


Astaga...Luna lupa kalau Kaivano memang kelewat polos, pastilah dia belum mengenal banyak ucapan atau kata yang menurutnya asing. Tadinya dia tidak mau kalau sampai anaknya banyak bertanya karena Luna paling anti menjelaskan.


"Fitnah itu bohong…" sebenarnya, artinya bukan itu tapi intinya mah sama aja. 


"Berarti Akila bohong, Kai jelek dong."


"Uhm, nggak lah anak Mommy ganteng, nggak jelek kata kamu."


"Mommy bohong dong, tadi katanya Kai nggak ganteng fitnah lagi. Jadi mana yang bener?"


Terjebaklah Luna dengan ucapan Kaivano yang memang pintar membalikkan kata. 


"Yang bener, kamu mandi, makan, terus tidur, diem, jadi anak yang kalem."


"Kok nggak nyambung.."


Sambungin olangan. 


•••


"Mommy…"


"Apa sayang?"


"Bima mau ziarah ke makam bunda Lisa boleh?"


Luna terdiam sejenak. 


"Boleh dong, mau Mommy temenin?"


"Mommy mau ikut sama Bima juga?"


"Iya."


"Danke, Mommy… "


Luna dan Bima, memutuskan untuk menaiki mobil. Bima mengendarai mobil miliknya. Rasanya dia sangat merindukan bundanya yang melahirkan Bima hingga merelakan nyawanya demi Bima. Dia juga sangat menyayangi Luna sebagai Mommynya yang sudah merawatnya sejak kecil hingga sekarang dan Bima sangat berterima kasih karena Luna begitu mencintainya seperti anaknya sendiri. Tapi Bima juga tidak mau durhaka pada mendiang bundanya. 


Berterima kasih dan mengenang Lisa Mahendra.


Sampai di pemakaman, Bima sebelumnya membeli sebuah bunga untuk ditaburi. Dia melangkah dan mendekati makam Lisa. Bima sangat sedih begitu dalam, belum pernah mengenal bundanya, tapi dia sangat beruntung bisa menemukan foto Lisa dan Reza dulu di ruang kerja Reza. Sedangkan Luna ingin melihat makam kakak dan keponakannya dulu dan memberikan waktu untuk Bima bercerita dan berdoa untuk bundanya, Lisa. 


"Bunda apa kabar?"


-


"Daddy, Bima mau pinjem buku dong."


"Buku apa?"


"Buku Bisnislah."


"Iya, silahkan kamu ambil di ruang kerja Daddy."


Bima dengan gesit melangkah kakinya ke ruang kerja milik Reza. Dia sangat menyukai buku terutama tentang Bisnis dan ekonomi. Bima ingin sekali nanti sewaktu dirinya lulus dia akan kuliah di jurusan itu dan membantu perusahaan Daddy-nya.


Sejak masuk SMA, Bima sudah sering di ajak Reza, kerja di kantor.


Bima menekan knop pintu ruangan dan di dalam banyak sekali buku-buku berjejeran. Kalian jangan harap berpikir akan ada majalah, novel ataupun komik di pastikan semua itu tidak ada. 


Di rak buku banyak buku bekas Daddy-nya kuliah dulu dan beberapa milik Kakeknya Galang. 


Karena penasaran Bima menelusuri rak buku dari semua judul. Ia tertarik dengan buku tebal bersampul biru, buku itu tampak lusuh dan sangat berdebu. Bima meniup debu dan mengelapnya dengan tangan. Saking penasaran dia buka. Dan memang dalamnya masih bagus dan bersih meski terlihat kusam di luar. Dia membalikan tiap lembar halaman. Namun sebuah foto terjatuh ke lantai, foto yang sangat lama. 


Daddy. 


"Ini kan foto Daddy. Tapi siapa wanita di sebelahnya? Bukan Mommy… "


Bima penasaran. Kemudian membalikkan fotonya. Dan ada kata tersirat begitu jelas namun dengan tinta yang sudah memudar. 


Aku akan menjaga, menyayangi, dan mencintai anak kita, Bimantara Reza Winjaya. 


Jadi?


"Aku bukan anak Mommy? lalu siapa wanita ini?"


Apa dia wanita yang melahirkanku?


Siapa?


Dia mana sekarang? 


Kenapa? Kenapa Daddy dan Mommy-nya merahasiakan semuanya dari Bima.


Segala pertanyaan terucap begitu saja di dalam hatinya. Ada rasa kecewa dan marah tapi dia tidak bisa yang dibutuhkan adalah penjelasan. 


Penjelasan yang sejujurnya.


Bima keluar ruangan sambil membawa foto usang itu dan buku dia geletakan di sofa dekat meja. 


Ia melihat Mommy dan Daddy sedang asyik menonton TV, dan untungnya si kembar tidak ada sedang main keluar dengan baby sitternya. 


"Ada yang bisa kalian jelaskan?"


Bima melempar foto tersebut ke atas meja. Reza begitu terkejut sedangkan Luna heran. Ada foto suaminya dengan seorang wanita, seperti foto sudah lama. Luna menatap Reza meminta penjelasan. Luna tidak tahu Bima akan membicarakan apa. Tapi di lihat dari raut wajahnya terlihat ada rasa kecewa.


"Maksud kamu apa?" kata Luna tidak paham. Bima tiba-tiba meminta penjelasan.


Bima menatap Luna dan Reza secara bersamaan, masih tetap diam.


"Jadi benar Bima bukan anak Mommy?"


Luna terkejut bukan main, Bima mengetahui itu dari mana. Saat kecil dulu Bima masih belum mengerti apa-apa dan menganggapnya Mommy, tapi sekarang dia menjadi Mommynya. Tapi kenapa dia tahu akan rahasia yang selalu mereka sembunyikan.


"Bi-Mommy bisa-" Luna begitu terbata-bata. Reza masih diam. Rasanya sangat menyakitkan untuk mereka bertiga saat ini.


Bima masih menunggu jawaban keduanya. 


"Bima, kamu duduk dulu. Daddy bakal jelaskan semuanya sama kamu. Tapi satu hal yang Daddy minta sama kamu. Daddy mohon jangan pernah berpikir kamu bukan anak Mommy. Kamu tetap anak mommy. Meski bukan dilahirkan dari rahimnya."


"Iya. Tapi tolong jelasin semuanya. Jangan membuat Bima benci dan marah sama Daddy dan Mommy."


Reza mengangguk.


 Luna harap-harap cemas. 


Tapi mereka bertiga duduk berhadapan. Kemudian Reza mematikan TV. Suasana menjadi sunyi. 


Reza menjelaskan semuanya, di awal dia bertemu Lisa dulu. Mereka berteman dan berpacaran. Menceritakan akan kehidupan Reza dan Lisa dulu sebelum bertemu Luna. Awalnya Reza ingin menceritakan dengan jujur, tapi ada bagian yang tidak dia ceritakan. 


Tentang Lisa yang sudah meninggal saat melahirkan Bima. Bima sedikit kaget dalam mendengarkan cerita Reza tapi dia yakin kalau Bima adalah anak yang cerdas, dia akan mencerna semua dengan baik. Tidak akan mengecewakan Reza terlebih Luna yang sudah merawatnya. 


Luna mendekati Bima.


"Meski kamu bukan lahir dari rahim Mommy tapi kamu sudah seperti anak kandung Mommy, Mommy nggak pernah membedakan kasih dan perhatian Mommy sama kamu dan adik-adik kamu. Segala tidak ada pembatas. Kamu anak Mommy. Begitu sebaliknya. Mommy sayang kamu. Sayang banget." Luna memeluk Bima erat dan anaknya membalas eratannya. Ada rasa bahagia begitu saat Bima mau mengerti semuanya. 


"Maafin Bima dan terima kasih Mommy." Bima kehilangan kata-katanya. Sedih sudah jelas. Bahagia tentu saja. Tapi satu yang mengganjal. Ia ingin kenal bundanya setidaknya dia harus menemuinya.


Mereka menangis. 


Reza merenung akan dirinya sendiri belum bisa menjadi Daddy yang baik  untuk Bima. 


"Bima mau ke makam bunda Lisa."


-


Luna berjalan melewati makam-makam, mendekati Bima yang begitu khusyuk mendoakan mendiang Lisa. Luna begitu iri akan Lisa yang melahirkan anak yang begitu baik seperti Bima. Kalau anak lain akan membencinya tapi Bima begitu dewasa meski umur masih jauh dengan kata dewasa. Tapi sikapnya Luna kagumi.


Bima menengok ke belakang Luna berdiri.


"Mommy sudah selesai berdoanya?"


"Sudah. Kamu?"


"Bima juga sudah kok."


Tanpa pikir panjang mereka pun meninggalkan area pemakaman, karena hari semakin sore. Keduanya pergi dari rumah tanpa pamit pada Sang penguasa rumah, Reza karena dia sedang tidur sampai tidak bisa di bangunkan karena memang kelelahan saat bergadang menonton bola semalam. 


Mobil melaju dan pulang.


•••


Bima turun dan mengenakan kaos hitam Adidas dan celana training hitam dan menuruni tangga dengan langkahnya perlahan namun pasti. Laki-laki itu tersenyum, memasuki ruangan makan di mana sudah ada kedua orang tuanya, kedua adik kembar yaitu Nabila dan Nadila dan si bungsu Kaivano yang masih mengedot atau menggepeng meski umurnya sudah lima tahun.


"Malam semuanya!" ucap Bima pada anggota keluarganya yang sudah duduk di kursi makan menunggu Luna menyiapkan makanannya.


"Wah, ada yang lagi happy nih! Senyumnya biasa aja kali. Gigi sampai kering begitu." celetuk Nadila yang hobi mengomentari Bima, kebiasaan adiknya selalu membuat mood-nya berubah padahal tadi Bima sudah good mood menjadi bad mood. Sialan.


"Hobi banget menjatuhkan mood orang... " balas Bima kesal kemudian ia duduk di samping Reza berhadapan dengan Luna, tempat biasanya di tempati.


"Begitu aja sewot, baperan." seru Nadila.


"Diam mulut bebek." 


"Mulut bebek dower kali, aku kan nggak dower."


"Tapi kamu nyerocos mulu kayak bebek, apa-apa komen, nggak bisa liat kakaknya happy sedikit ya."


"Lah, mulut memang dipergunakan buat ngomong, apa aku salah?"


"Nggak salah, kamu pinter. Pinternya kebangetan. Sampai-sampai kakak pengen ngeluarin otak kamu dibuat pepes一"


Belum sempat bicara panjang, malah Bima dapat teriakan nama aslinya dari kedua orangtuanya. 


"BIMANTARA!" cetus Reza. 


Kena lagi. Bima selalu salah. Nadila selalu benar.


Keduanya menunduk malu.


Sementara itu Nabila dan Kaivano hanya bisa diam mendengar perdebatan adik dan kakak,  yang tidak pernah terlewati setiap harinya karena hanya Nadila yang berani membalas omongan Bima, yap! saking dekatnya,  kadang mereka bisa seperti TOM & JERRY tidak dapat dipisahkan.


Luna dan Reza hanya menggeleng pada keduanya. 


"Kalian berdua nggak bosen ya, adu ngomong terus di meja makan setiap hari, kali-kali dong makan itu bisa tenang dikit. Kalem. Kebiasaan. Heran. Receh tau. Kita para penonton." ujar Reza, sang Daddy cool, kepala keluarga bersabda. Bukan marah tapi menasehati.


Semua di meja makan pun melihat ke arah empunya yang merasa terganggu dengan acara dinner. 


"Sudah, dan sudah waktunya makan. Debat nya nanti aja, jam sembilan." lerai Luna setelah meletakkan soto ayam buatannya kepada anggota keluarganya yang sudah siap santap.


"Emang ada apa?" mereka serentak, mengerutkan alis atas ucapan Luna, hanya Kaivano yang tidak ikut bersuara karena asyik menyantap soto ayam dan telor ceplok favoritnya, tidak tertarik akan pembicaraan orang dewasa.


"Kalian lupa?"


Mereka kembali penasaran, mengingatkan ada apa nanti malam. Sesaat mereka pikiran mereka terus menerawang arah pembicaraan Luna. Sedangkan Luna tersenyum geli.


Membuat mereka menghentikan acara makannya sejenak.


"Udah, makan dulu nanti Mommy kasih tahu. Payah kalian masa lupa."


Mereka mengangguk, mengiyakan. Padahal mereka masih saja memikirkan ucapan Luna. Ada apa nanti malam? Apa yang mereka lupakan? Apakah sesuatu yang penting?


Itulah pikiran mereka berempat.


Bima dan Nadila terlebih dahulu menghabiskan makanannya di susul Reza dan Nabila mereka pun menegakkan air minum hingga tandas.


Siap mendengarkan pemberitahuan sang nyonya.


"Jadi apa?" tanya Reza dibuat penasaran oleh sang istri hingga makanannya mengebut lebih cepat dari biasanya.


"Sabar dong, dan Mommy belum selesai makan." balas Luna, sedikit memelankan suapan nya agar mereka berempat tambah penasaran. Padahal isi mangkok soto nya, hanya tinggal beberapa suap saja tapi lamanya sampai seminggu baru habis.


"Cepat, Mommy." mereka tidak sabar. Memandang Luna lekat hingga mata mereka tidak ada satupun yang berkedip. Pandangan mereka berempat sekilas menoleh pada Kaivano si bungsu yang bersuara.


"Ada apa sih?" tanya Kaivano, sejak tadi hanya diam mendengarkan, hingga dia penasaran dengan para anggota keluarga lainnya yang begitu serius. 


"Kai, makannya habiskan. Jangan ikut-ikutan kita. Diam." sahut Nadila.


"Huh. Pada pelit." 


Kaivan pun diam. Mengikuti perintah kakaknya dan melanjutkan kembali makanannya yang belum habis sejak tadi.


Wanita cantik itu pun, selesai dengan makanannya, minum air segelas, lalu mengelap mulutnya dari sisa-sisa minyak makanan dengan tisu. Ia sengaja memperlambat hingga mereka berempat kesal dan gundah.


Luna diam sesaat. "Nanti… ada…" mereka berempat benar-benar memasang pendengaran mereka dengan serius. "Ada… pertandingan bulu tangkis."


"Sial..!!" umpat mereka serentak, berpacu dengan pikirannya. "Hampir lupa." sontak mereka hampir melupakan jadwal pertandingn bulu tangkis.


Keluarga mereka pecinta bulu tangkis, meskipun bola adalah nomor pertama, terutama Reza, Bima dan Nadila. Jangan ditanya. Mereka itu maniac bola terutama club kebesaran mereka yaitu Real madrid.


"Pokoknya, sudah dinner nggak boleh ada yang keluar. Ini final, guys. Setuju?"


Luna berikrar, kebiasaan acara nobar begini menjadi ajang berkumpul bagi keluarganya, kadang mereka juga bercerita atau sekedar mencurahkan isi hati bagi anak-anak mereka yang sudah beranjak remaja dan dewasa.


Hingga Luna dan Reza harus ekstra membimbing, menjaga dan mengawasi pergaulan anak-anaknya. 


"Setuju."


Kebahagian itu saat keluarga bisa menyatu dalam hal apapun dan dimanapun.


 


SELESAI


 


Terima kasih buat kalian yang sudah mendukung cerita ini, meski sedikit berantakan dan agak gaze tapi aku benar-benar sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya karena dukungan kalian aku jadi semangat buat menulis. 


Tunggu cerita sekuelnya 'Bima Lovers'


Sudah aku publish, baru prolog dan episode pertama akan update February, mohon di tunggu guys..


Tunggu 24 jam sampai kata kunci kalian dapatkan.