
♥♥♥
Semenjak keanehan yang Luna lalui beberapa hari ini membuat ia dan suaminya memutuskan untuk membeli test pack. Tapi Luna enggan, ia memilih untuk mendatangi bidan atau dokter kandungan agar lebih topcer. Kadang test pack suka ngibul, semahal apapun test pack.
Ia di temani sang suami tercinta. Cie tercinta, lupa kemarin marah-marah ngatain suami selingkuh, terus nangis-nangis nggak karuan, sampai-kabur ke rumah mantan, Aldo.
Menangis-menangis ria, namun sia-sia.
Malu rasanya kalau mengingatkan kejadian waktu itu, malu setengah mati.
Di sini-sekarang duduk berhadapan dengan dokter Regina, dokter kandungannya yang dulu pernah menangani si kembar.
"Apa kabar, Pak Reza, Bu Luna, sudah lama nggak bertemu." ucap dokter Regina, menjabat tangan kedua pasutri yang sudah lama tidak bertemu, dia terakhir saat membantu proses kelahiran kedua putrinya, lima tahun lalu.
"Baik dok." balas keduanya bersamaan, namanya juga pasutri, harus kompaklah, sedangkan dokter Regina hanya bisa **** senyum dan senang melihat keduanya begitu harmonis.
"Kalian memang pasutri favorit saya. Beda kalau pasutri lain yang mau mengecek, mereka terlalu bawel dan banyak komentar saat menjelaskan ataupun sekedar bertanya."
"Bisa aja, di maklumi dok, namanya juga cemas akan istri mereka yang hamil."
"Jadi, bu Luna, mau cek kehamilan, hamil atau nggak?"
"Iya dok, tadinya si mau test pack dulu, cuma aku nggak mau. Pengen langsung cek sama dokter aja biar jelas dan puas sama hasilnya." Jelas Luna, dia sudah tidak sabar ingin segera tahu kabar benar atau tidak dia hamil. Karena sudah dia sudah satu bulan ini tidak menstruasi, dan dia baru menyadari saat Reza diam-diam melihat kalender jadwal haid Luna.
"Akhir-akhir ini merasa mual atau pusing nggak?"
"Nggak ada, dok." Boro-boro pusing atau mual, tahu sendiri akhir-akhir ini dia kebawa emosian ulah suaminya. Jadi keingitan lagi kan, kejadian yang bikin malu.
"Tapi dia banyak maunya, nafsuan kalau makan, emosian, dan juga suka bertingkah aneh minta itulah apalah. Saya dok yang pusing dan mual, bukan dia. Kayaknya yang harus dokter cek itu saya deh bukan Luna." tambahnya, asal. Reza malah membuat Luna semakin kesal apalagi dia bilang kalau dia bertingkah aneh.
Mendengar keluhan Reza, Luna memukul dada suaminya pelan.
Dokter Regina merasa geli melihat tingkah Reza, ada-ada saja, pikirnya.
Ya, memang aneh, tiba-tiba tadi pagi Luna ingin Reza untuk bernyanyi sambil memakai celemek, melantunkan lagu peterpan-ada apa denganmu.
Tadinya Reza menolak habis-habisan, suaminya tidak tega saat Luna merengek menangis, tidak hanya itu juga, istrinya mendapat dukungan telak dari anak-anaknya.
Kejadian langka, tak akan Luna dan anak-anaknya sia-siakan. Yap betul sekali, Luna merekan semua kegiatan Reza saat bernyanyi. Ini menyenangkan, melihat suaminya begitu berusaha menghiburnya meski dengan rasa kesal di hatinya.
Dokter Regina membawa Luna untuk berbaring di ranjang yanh di sediakan, kemudian stetoskop dia letakkan di perut Luna yang masih rata. Terasa geli dan dingin saat stetoskop itu berada di area perutnya.
Selesai acara pemeriksaannya yang membutuhkan beberapa menit, akhirnya sudah di pastikan Luna hamil. Senang, keinginan anak-anaknya mendapat adik sudah terkabul.
"Selamat, Bu Luna benar-benar hamil. Kandungan sudah masuk minggu ke empat. Ini kehamilan ke dua pasti Bu Luna sudah paham. Dan untuk hasil kesehatan kandungan anda, baik. Jangan terlalu banyak pikiraan karena akan mempengaruhi si jabang bayi. Sekali lagi selamat Bu Luna, Pak Reza mendapat anggota baru."
"Syukurlah terima kasih dok, saya akan menjaga istri saya agar tidak banyak pikiran dan menjaga kandungannya." cetus Reza begitu gembira atas hamilnya Luna.
"Terima kasih, dok." tambah Luna, ikut gembira. Mengelus perutnya lembut.
"Sayang denger kata dokter Regina tadi, jangan banyak pikiranan, buang pikiran negatif kamu."
"Ish sadar diri dong, yang bikin banyak pikiran aku, siapa?!"
"Siapa?" pura-pura tidak tahu.
"Tau ah, gelap." jawabnya asal.
Karena tidak mau Luna banyak pikiran dan juga kecapean Reza langsung membawa Luna pulang dan memberikan kabar baik kepada anak-anak kedua orangtua nya, mertua nya di jerman dan saudara nya, antusias begitu Reza rasakan.
•••
Setelah mengantar Luna pulang Reza kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaannya yang tadi sempat ditunda.
Luna duduk di teras halaman belakang menikmati cilok mang asik yang tadi dia beli, meminta untuk dibelikan Bik Surti. Luna begitu nafsu makan, ini juga berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Tak merasakan mual atau pusing, begitu juga suami Luna. Padahal dulu sewaktu kehamilan si kembar, Reza menggantikannya mengalami morning sick.
Dede bayi sekarang sangat baik tidak membuat mommy-nya mengalami mual atau pusing yang berlebihan.
Hanya saja banyak maunya. Maunya yang aneh.
Masih menikmati cilok tidak lama suara teriakan dari dalam rumah terdengar nyaring keras siapa lagi kalau bukan Nabila dan Nadila.
Keduanya menghampiri Luna. Dengan wajah riang gembira.
"Mommy, jadi benar, Nabila dan Nadila mau punya dede bayi, kayak aunty Abel?" Nadila kegirangan dan tidak kalah Nabila. "Dede bayinya cewek apa cowok?" timpalnya.
"Iya, benar. Kalau soal jenis kelamin belum tahu sayang perut mommy masih kecil, jadi dede bayi belum kelihatan jenis kelaminnya." jawabnya, ia senang melihat putri kembarnya begitu antusias akan memiliki seorang adik.
Nabila dan Nadila mengangguk-angguk.
"Kalian tahu dari siapa?" tambahnya. Penasaran padahal saat Luna dan Reza ke rumah sakit, si kembar masih sekolah. Yah, padahal dia sekali ingin memberikan kejutan, gagal deh.
"Dari Uncle Raka."
"Raka-nya mana?"
"Udah pulang lagi, tadi cuma jemput aja, kata Uncle selamat buat dede bayinya."
"Dasar Raka." umpat ajak Luna, tidak lupa ia juga mengelus perutnya. Kata orang kalau lagu hamil jangan benci atau nggak suka sama orang nanti anaknya bakal mirip, mitosnya. Tapi Luna percaya nggak percaya sih.
"Kalian sudah makan?"
"Belum."
Keduanya menjawab. Luna pun mengiringi kedua putrinya masuk. "Kalian ganti baju dulu, nanti mommy buatin makan buat kalian. Mau makan apa?"
"Aku mau mie rebus, pake telor, pake sayur, terus jangan lupa pake taburan bawang goreng" cerocos Nadila banyak maunya.
"Kalau Nabila, mau mie goreng, pake sosis, nggak pake taburan bawang goreng. Tapi taburan abon sapi." kata Nabila tidak kalah, sama saja kalau urusan makan banyak maunya.
"Mommy siapin kalian, kalian ganti baju dulu."
"Aye-aye kapten."
Nabila dan Nadila bergegas ke kamar, sedangkan Luna menyiapkan keinginan kedua putrinya, yang sangat manja.
Tidak lama, si kembar turun dan duduk di meja makan sambil menunggu Luna menyiapkan mie pesanan mereka.
Luna menghampiri sambil membawa nampan, mie pesanan si kembar sudah siap saji. Mereka begitu senang karena kapan lagi bisa makan mie, biasanya mommy-nya selalu melarang mereka untuk makan mie, makan mie saja sebulan tiga kali. Dibatasi. Katanya nggak baik makan mie tiap hari.
"Habisin makannya."
"Siap, mommy."
•••
Sore hari memang waktu yang paling enak kalau jalan-jalan sore di kompleknya, tapi hal itu tidak bisa dia lakukan, karena kenapa? Saat dia hendak akan melakukan itu sang suami sudah wanti-wanti menelponnya agar dia tidak kecapean. Susah kalau sudah berurusan dengan sang suami, nggak bisa di bantah soalnya mata-mata di mana-mana.
Si kembar bermain dengan temannya, tidak jauh dari komplek rumahnya. Sedangkan Bima belum pulang, ada tugas kelompok dari sekolahan. Dia sekarang sendiri di rumah. Menyebalkan. Boring.
Luna mengambil ponselnya, lalu mengetik sesuatu di ponselnya.
Group Bajaj
Luna : Help me 😭
Beberapa detik kemudian Rara dan Abel sedang mengetik.
Abel : Why? kamu di sakitin sama kak Reza lagi?
Luna : Iya gara-gara kakak kamu, Bel. Jahat banget aku nggak boleh kemana-mana bete banget di rumah sendirian 😢
Rara : Posesif banget suami kamu, kasian ibu hamil 😂
Luna : Rara, jahat 😒
Abel : Katanya kamu berantem besar-besaran sama kak Reza kemarin? Kok nggak cerita sama aku? Malah aku tahu dari Mas Soni. Jahat nggak ngasih tahu ☹️
Luna menghela nafas panjang.
Luna : Maaf bukannya nggak mau ngasih tau, tapi nggak mau ngerepotin kamu. Nggak mau buat kamu khawatir, kamu lagi hamil Bel, inget nggak boleh capek atau banyak pikiran. Lagian sudah kelar kok cuma salah paham aja.
Abel : Aku ngerti, tapi Seenggaknya kamu harus ngasih tau apapun itu. Kamu bukan siapa-siapa, kamu sahabat sekaligus kakak iparku, aku nggak mau kamu sembunyikan apapun dari aku lagi aku bakal marah.
Luna : Iya maaf, nggak akan di ulangi lagi.
Rara : Terus Sarah itu siapa? Mantan Reza?
Luna : Bukan.
Rara : Terus siapa dong jangan buat penasaran deh. 🤔
Luna : Kamu kenal Bel? 😲
Rara : Siapa woi siapa? 😡
Abel : Kenal lah, siapa yang nggak kenal sama itu cewek apem. Aku pernah berantem sama dia.
Rara : Siapa kampret si Sarah? Itu apem siapa lagi tuh? 😤
Luna : Kok bisa sih? cerita dong. Jangan buat penasaran. @Rara kamu kepo banget baca aja chat kita, nggak usah komen.
Rara : Ya, sudah buru cekidot 😎
Luna dan Rara sedang menunggu, Abel mengetik sudah hampir satu menit tapi itu chat belum kelar juga..pasti panjang
Abel : Aku pernah salah paham sama si apem, waktu itu aku nggak sengaja ketemu Soni sama Sarah ada di toko tas gitu, sudah gitu aku ikutin mereka sampai mereka makan. Saking keselnya, karena mereka malah asyik ngobrol gitu, saat aku udah nggak bisa nahan lagi, tiba-tiba aku reflek nyiram dia pake thai tea yang aku pegang. Pasti kalian merasa hal sama dong kayak aku kalau liat suami kamu jalan sama cewek beli tas dan anter dia kemana-mana.
Rara : Bukan kesel lagi, kalau aku ada di posisi kamu, itu cewek habis aku gampar, bejek-bejek, jambak, terus aku lempar dari gedung. 😡🤣🤣😋
Luna : Setuju sama Rara, pelakon memang kudu di hempas jauh-jauh. Maka nya kita harus jagain suami-suami kita biar nggak tergoda sama cewek di luaran. Terus bagaimana kelajutannya? 🤔😎
Abel : Benar kita kudu WASPADA, WASPADALAH.
Abel : Soni kaget pas aku ada di situ, muka suami aku kayak tai, pucet banget deh. Kayak dia kegep selingkuh. Tapi untung itu cewek nggak marah. Setelah di jelasin. Baru deh aku tahu kalau Soni nganter Sarah karena pengen beli kado buat pacar apem-nya. Karena Sarah teman Kak Reza sama Soni. Dia juga baru pulang lagi ke indonesia buat kerja sama SJC. Makanya dia minta bantuan Soni nyari kado. Pacarnya juga gila bohai. Dari situ aku kenal Sarah At-tari. Salah paham. Bikin emosi naik turun.
Luna : Sama kayak aku emosi yang bikin aku sia sia. Lupain deh masalah itu kalau ke ingetan aku jadi malu dan ngeri sendiri.
Abel : Pastilah ngeri, apem makan apem. Kita kan sukanya terong. 🤣🤣🤣
Rara : Makanya terong kita jagain jangan sampai diambil 🤣🤣🤣
Luna : Jangan sampe lepas juga 🤣🤣🤣
Rara : Terong oh terong 🍆🍆 😎
Luna : @Rara Mesum 😂
Abel : @Rara Maniak 😋
Luna tidak henti-hentinya tertawa dengan chat yang dilontarkan sahabat-sahabatnya di group.
Chat mereka pun tidak berakhir sampai disini, melanjutkan kembali chatnya dengan tema lain hingga waktu tidak terasa mulai gelap.
•••
Luna bersandar di bahu sang suami yang senantiasa menemaninya menonton acara konser dari idolanya, siapa lagi kalau bukan Ariel Noah. Beda banget dengan Reza, sebaliknya dia nggak suka dengannya gara-gara kejadian di bandung dulu.
Padahal Luna cuma ngefans bukan suka dalam arti cinta, tapi suaminya beranggapan lain, orang cemburuan memang suka berlebihan.
"Mas, kalau anaknya cowok boleh nggak namanya Ariel?" ucapannya hati-hati, suaminya sangat sensitif dengan nama tersebut.
"NO." singkatnya menolak.
"Kenapa, bagus loh mas namanya."
"Jelek, nggak cocok."
"Tapi aku pengen nama itu." Luna maksa.
"Nggak boleh, aku lihat dia aja sekarang nih, kita nonton itu cowok udah geudek, apalagi aku sebutin namanya. Ogah deh." terus Reza menolak, tidak suka. "Ngasih nama buat anak yang bagus, jangan asal-asalan."
"Ish, gitu aja marah. Cuma ngasih saran aja." Sewot Luna, memalingkan wajahnya ke arah lain saking kesal pada Reza.
"Sarannya, jelek. Yang lain."
Luna tidal menjawab ucapan Reza, fokus nonton idolanya. Bikin moodnya kesal kalau harus debat dengan suaminya.
"Kamu pengen sesuatu nggak." tanya Reza, sambil memainkan rambut Luna.
"Nggak." jawabnya cepat, ketus.
"Kalau aku minta sesuatu boleh?"
Luna memandang Reza curiga. "Jangan yang aneh dan macam-macam."
Rea tersenyum geli. "Pasti pikiran mommy kotor."
"Sok tahu, cepet apaan?"
"Mommy, daddy mau mie sayur pake telor, pake sosis, pake cabe dan jangan lupa taburan bawang gorengnya. Minumnya jus jeruk deh." perintahnya, Luna berdecak melihat suaminya, dia kira Luna Bik Surti apa. Keinginannya Reza sama dengan yang si kembar lakukan tadi.
Tumben banget pada makan mie, menu makan hari ini pada mau mie, kesambet kali ya. Batinnya.
"Kok, mommy sih? Bik Surti dong." Luna kembali fokus menikmati acara tontonannya. Tidak lama Bima dan si kembar turun dari kamar setelah mengerjakan tugas sekolah.
Mereka bergabung duduk, mendengar kedua orang tuanya saling berdebat.
"Aku maunya bikinan kamu, mommy."
"Nggak mau. Minta bikinin Bik Surti aja sih. Aku lagi males, Mas." jawabnya santai.
"Kok begitu, ini maunya dede bayi loh." memelas, Reza pun mengelus perut istrinya, Luna mengerit kedua alisnya.
"Apa hubungannya? Aku yang hamil loh? Masa kamu yang ngidam. Ngaco deh."
"Tapi beneran ini kemauan dede bayi lo. Tanya aja sendiri."
"Mana bisa dede bayi bicara. Alesan kamu."
"Insting seorang ayah, mommy. Tega nggak mau nurutin kemauan dede bayinya? Yakin? Nanti dede bayinya ngendus-ngendus loh."
Luna tidak menjawab, kenapa suaminya jadi rewel begitu. Segala pake alasan dede bayi. Kan nggak bisa nolak jadinya, pikirnya.
"Mommy kasian daddy, itu permintaan dede bayi." bela Nadila polos. Sebelas dua belas deh kalau si kembar sudah merajuk. "Kasian mom." timpalnya, Nabila ikut memelas.
"Bi juga mau dong mie-nya sekalian." Bima malah ikut-ikutan ingin di masakan mie.
Luna melotot tidak percaya, kok jadi dia yang merasa dikerjai oleh suami dan anak-anaknya.
Kemudian dia menghembus nafasnya panjang.
"Oke mommy buatin, sekalian kalian juga mau makan lagi? Mumpung mommy lagi nggak waras nih."
Tawar Luna kepada si kembar, sekali-kali deh makan malam pake mie.
"Mau." Sahut mereka.
"Makasih Mommy." Mereka serentak.
Disinilah Luna, berada di dapur menyiapkan mie, tumben mereka kompak demi makanan, lebih sadisnya dia yang membuat sendiri.
Hebat.
Bukan Luna saja yang mengidam ingin ini, ingin itu. Tapi juga suami dan anak-anaknya juga malah ikut-ikutan.
"Nggak di bantuin lagi, awas aja kalau sudah jadi minta macam-macam. Kujitak satu-satu. Baru nyaho." Gerutu Luna sambil memasukkan mie ke dalam panci.
Lima belas menit, Luna berkutat di dapur sendiri. Mie sudah jadi sesuai keinginan mereka, minuman sudah tersaji juga.
Luna malas menghampiri mereka. "Guys makanan sudah siap nih." teriak Luna nyaring, untung dapur dan ruang TV tidak jauh, sehingga suara teriakan Luna terdengar oleh mereka berempat.
Mereka datang dengan wajah senang dan riang karena sudah jadi makanan mereka inginkan.
"Wow.."
Mereka tampak kagum lalu duduk ke posisi tempat mereka biasa duduk.
"Enak banget kayaknya, wanginya juga mantap." seru Reza, melihat mie di hadapannya begitu menggiurkan.
"Buatan siapa lagi, mommy gitu loh." Luna bangga akan dirinya sendiri. "Jangan lupa berdoa, ayo kita makan."
"Selamat makan." Mereka sentak, sebelumnya berdoa terlebih dahulu dalam hati.
Mereka pun makan dengan hati senang, keluarga mereka kembali harmonis.
♥♥♥
Luna hamil guys, tebakan kalian benar? ku kasih Luna anak lagi nieh.. biar tambah ramai
keluarga paling kompak sekeluarga ngidam mie 🍜 🤣