Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
27. Kepulangan



♥♥♥


Menatap setiap mobil berhalu lintang membuat Luna sedikit mengantuk, karena perjalanan menuju Bandara cukup menyita waktunya.


Hal paling dia benci adalah saat dirinya harus siap merelakan Ayah dan Adiknya pergi kembali ke Jerman.


Reza yang berada disampingnya sedang mengemudi meraih tangan perempuan itu, kemudian menggenggamnya dengan tangan kirinya dan tangan lainnya ia letakkan di kemudinya. 


"Kamu mengantuk? Tidur saja dulu nanti aku bangunkan kalau sudah sampai" tanya Reza memandang penuh perhatian.


Luna menggeleng pelan "Aku tidak mengantuk" balasnya menatap kembali sosok pria di samping yang terlihat sangat mencemaskannya. 


"Baiklah, makanlah sesuatu di depanmu itu ada cokelat, dan makanlah sedikit kamu terlihat pucat dan tidak bersemangat", pinta Reza sambil menunjuk keberadaan coklat itu. 


"Iya, tapi aku kurang suka cokelat. Tapi aku akan makan sedikit", seru Luna mengambil cokelat yang berada didepannya dengan bungkus berwarna keunguan ia buka sedikit karena ia hanya mengambilnya karena permintaan Reza. 


Memakan satu potong cokelat membuat Luna masam karena cokelatnya begitu manis dan lumer dilidahnya, "Apa kamu mau juga, Mas?" sahut Luna menawarkan dan Reza mengangguk setuju, disuapin cokelat itu pada mulut kekasihnya, "Mau lagi tidak?" tanyanya lagi dan Reza pun menggelengkan pelan karena sudah cukup.


Sementara Barrack sedang anteng bermain games di kursi penumpang. Sedangkan Ayahnya ikut dengan mobil Galang yang keberadaan mobilnya berada tepat di depan mobil yang dikemudi Reza.


Luna menoleh kebelakang kursi dan melihat ke arah Barrack, "Barrack, der punkt ist oft Indonesia", sahut Luna. (Pokoknya kamu harus sering ke Indonesia) 


"Ich kann bankrott gehen, wie ich dich oft sehe" balasnya sedikit melebarkan matanya yang sudah bulat itu ke arah Luna. "Ich habe nicht gearbeitet" katanya lagi yang masih fokus dengan games diponselnya. (Aku bisa bangkrut kalau sering menemuimu kakak), (Aku belum bekerja) 


Luna menoleh sekilas kearah pria disamping yang sedang mengemudi, dan Reza menatap curiga ke arah kekasihnya, "What?" tanya penasaran dan Luna hanya cengengesan dan menoleh balik Barrack. 


"Dumm, wir vergeben nur deinen reichen schwager" seru Luna dengan raut muka liciknya mengembang di wajah cantiknya dan Reza yang melihat semakin penasaran dibuat karena dia tidak mengerti bahasa yang mereka pakai. (Bodah, kita maafaatkan saya kakak iparmu yang kaya)


Luna tertawa pelan, dan begitu juga dengan Barrack. 


"Du hast recht das ist eine gute idee" ucap Barrack dengan candaannya dan menepuk bahu Reza didepannya, "Danke" ucapnya lagi membuat Reza bingung dengan kakak-adik ini. (Kau benar itu ide bagus), (Terima kasih)


"Hei, kalian ngomongin aku ya? Beritahu kalian ngomongin apa, hah?" protes Reza pada keduanya yang terlihat mencurigakan. 


"Bukan apa-apa" Luna pura-pura dan membenarkan kembali posisi duduknya mengarah lurus ke depan dan mengalihkan pembicaraan.


"Kamu pasti bohong". Protesnya lagi. 


"Beneran, sayang. Kamu nggak percaya sama aku". 


Reza sengaja diam. Agar Luna merasa bersalah karena kekasihnya tidak suka kalau Reza mendiamkan dirinya, dan fokus menyetir. Dan benar setelah beberapa menit Reza tidak bersuara wanita di samping terlihat gusar dan terus menoleh ke arahnya. 


"Mas, marah sama aku?" cemas Luna tidak tenang.


"Hmm"


"Ngomong dong, aku minta maaf deh, aku tadi ngomongin kamu tapi yang baik-baik kok, iya kan Barrack?" kata Luna bersalah dan menoleh kembali ke arah adiknya sekilas. 


"Iya" singkat Barrack dan kembali fokus dengan gamenya. 


Luna kembali memandang Reza, "Kamu dengarkan?" renggek nya dan menyentuh lengan Reza dan bersandar di bahunya dan tetap fokus pada kemudinya.


"Iya, aku cuma ngetes kamu aja kok", Reza tertawa renyah melihat Luna merasa sangat bersalah.


"Ih, aku kira beneran", ia melepas lengan pria itu dan malah mencubit lengan kekarnya kencang dan membuat Reza kesakitan.


"Aww sakit tahu". Sahut Reza memegang bekas cubitan Luna. 


"Rasain" cetus Luna dan menopang kedua tangan disepan dadanya merajut kesal.


Dan Reza merasa gemas dengan sikap Luna yang membuat ia selalu senang dan melupakan semua masalah yang ada dipikirannya. 


Setelah cukup lama, mereka akhirnya sampai juga di Bandara. Bandar udara ini dirancang oleh arsitek Prancis Paul Andreu, yang juga merancang Bandar Udara Charles de Gaulle di Paris, Prancis.


Salah satu karakteristik besar bandara ini adalah gaya arsitektur lokalnya, dan kebun tropis di antara lounge tempat tunggu.


Soekarno-Hatta memiliki luas 18 km², memiliki 2 landasan paralel yang dipisahkan oleh 2 taxiway sepanjang 2,4 km.


Sesaat mengagumi sebuah bangunan, mereka pun masuk kedalam. Dan koper bawaan Ayah dan Adiknya dibawa oleh Pak Suardi sopir dari Galang yang sudah puluhan tahun bekerja dengan keluarga Winajaya.


"Sampai sini saja, pesawat kami akan berangkat sekitar 30 menit lagi" ucap Gerraldy seraya mendekati Luna yang sejak tadi kelihatan murung."Hei, jangan sedih kami akan kembali lagi, sebelum acara lamaran kami sudah berada disini" jelasnya dan memeluk putrinya yang sudah menjadi dewasa.


Luna mengangguk pelan di dalam dekapan Ayahnya.


Sedangkan Reza dan orangtuanya hanya bisa melihat keduanya saling melepas kerinduan saat tibanya mereka harus berpisah sementara waktu. 


"Curut dan kamu Reza jagain Luna jangan buat dia menangis atau pun terluka, kalian harus tanggung jawab. Aku titip Luna sama kalian". Pinta Gerraldy menoleh ke arah keduanya secara bergiliran. 


"Reza sama Ayah akan jagain putri Om, jadi tidak usah khawatirkan Luna" tegas Reza dengan sikap gentle-nya dan menarik tangan Luna dan mencium bahu tangannya lembut.


"Iya, Gege anak kamu sudah kami anggap putri kita sendiri jadi bisa kembali pulang dengan hati tenang, karena kami tidak akan buat Luna merasa kesepian", tukas Yunita dan mengelus pundak pria yang sudah dianggap adik nya itu. 


"Dasar kodok, nggak percaya sama kita". Pungkas Galang memukul pelan dada Gerraldy tak membuatnya sakit. 


"Terima kasih" ucap Gerraldy merasa tenang karena mereka mau menjaga putrinya. 


Barrack menghampiri Luna, "Ich werde dich so sehr vermisse" ucapnya dan memeluk erat kakaknya ini. (Aku akan sangat merindukanmu) 


"Iya, aku juga" balas Luna dan mengelus pundak lebar pria bule kesayangannya. "Sag hallo zu Jessy und Deleena" katanya lagi dan melepaskan kembali pelukannya. (Titip salam pada Jessy dan Deleena)


"Natürlich Freuen sie sich, beruhigen sie sich, wir kommen auf jeden fall zu Ihrer Angebots Veranstaltung" seru Barrack dan orang di sekitar mereka seperti Reza dan kedua orangtuanya hanya menyaksikan pembicaraan keduanya yang tidak mereka mengerti. (Tentu saja mereka pasti senang. Tenang saja kami akan datang ke acara lamaran kalian) 


"Danke", singkat Luna tidak bisa berbicara lagi karena matanya sudah menangis begitu saja. (Terima kasih)


Reza dengan sigap merangkul Luna dan menenangkan hatinya, memang ini pertama kali ia melihat Luna menangis begitu terisak


"Weine nicht, dass du so hässlich bist" Gerraldy merasa tak tega melihat putrinya, tapi dia tidak bisa menunda kembali kepulangannya ke Jerman. (Jangan menangis, kamu sangat jelek) 


Kepergian ayah dan adiknya, membuat Luna masih sangat sedih padahal mereka akan kembali lagi nanti. Keluarga Reza sangat menyayanginya dan ia sangat senang memiliki keluarga baru. 


Dalam perjalanan dan belum jauh dari arah bandara, Luna melihat ke samping jendela dan memandang ke arah pesawat yang baru saja terbang kelangit dengan tatapan melekat ia terus memandangian kepergian pesawat itu jauh dan tak terlihat olehnya pandangannya lagi.


Cepat kembali, aku menunggu kalian. Batin Luna memandang menempelkan jari telunjuknya di kaca jendela. 


Reza menoleh pada wanita disampingnya dan mengelus puncak rambut Luna pelan, "Jangan sedih lagi, kan ada aku" katanya. 


Luna menarik napas, "Terima kasih, Mas" katanya dan merasa perhatian Reza sangat membuatnya jadi tenang kembali. 


"Begitu dong senyum, karena senyum kamu mengalihkan duniaku". goda Reza agar kekasihnya itu merasa malu. 


"Gombal" seru Luna merona merah di wajahnya, karena hanya ucapan gombal kekasihnya dia bisa tersenyum dan melupakan kesedihannya.


"Nggak apa-apa dong, gombalin pacar sendiri. Setiap melihat senyummu aku dapat merasakan hangatnya matahari, Dan saat melihat kamu tertawa aku seperti melihat indahnya bintang". Gombal Reza. 


Luna kembali tersenyum, " Sejak kapan kamu belajar gombalin aku begini?" tanyanya.


"Sejak mengenalmu, setiap belajar bawaannya pengen gombalin kamu, dan belajar untuk menjadi yang terbaik buat kamu" sahutnya mengedipkan mata sekilas kearah Luna.


Luna balas menatap Reza sambil tersenyum lebar, "Gombal lagi". keluhnya senang. 


Reza memandang lagi sekilas ke arah kekasihnya "Kamu tahu nggak aku cuma mau bersama kamu dengan dua waktu" ungkapnya. 


"Kok dua waktu?". ucapnya penasaran. 


Reza menoleh ke arah Luna yang ada duduk di sampingnya, "SEKARANG DAN SELAMANYA" kata Reza tersenyum sendiri dengan kata-katanya. 


Luna tidak bisa berhenti tersenyum dengan ucapan Reza yang membuatnya semakin merah merona seperti tomat.


"Sudah jangan gombalin aku terus kamu mau, senyum aku berubah jadi nenek sihir, kamu mau ngemil nggak?" ucap Luna mengambil snack disamping jokenya. 


Reza menggoda "Nggak, aku pengennya ngemilikin kamu seutuhnya".


"Jangan kamu yang gila, biar aku saja yang gila, gila karena ingin kamu jadi istriku", ucap Reza merasa gila sendiri dengan gombalanya. 


Luna terus menggelengkan pelan wajahnya, dengan gombalan yang dilontarkan Reza selama perjalanan pulang. Dan tidak ada hentinya menggombal dirinya dengan kata-kata yang cukup membuatnya baper. Sementara kedua orang tua Reza kembali ke penthouse nya.


•••


Sesampainya di unit apartemen Reza, mereka berdua masuk  dan untuk beberapa detik cukup menegangkan mereka berdua bertatapan dengan sosok pria yang membuka pintu yaitu Aldo. Dia memakai celemek merah dan tangannya kanannya memegang spatula. 


Sedang apa Aldo disini. Luna dalam hati. 


Terlalu kaget dan bingung untuk bersuara, "Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanyanya. 


"Menemui―" Aldo sejenak menoleh pada Luna sekilas, "Tentu saja menemui keponakan kecilku, Mas". ucapnya santai seolah tidak terjadi apa-apa pada mereka sebelumnya.


Reza menarik erat tangan wanita di samping dan berjalan membawa masuk meninggalkan Aldo yang terus menatap Luna kekasihnya.


Dan saat keduanya memasuki ruang tamu sudah ada Abdul dan Sarah duduk santai didepan televisi bersama anaknya Biboy yang sedang bermain dengan mobil-mobilan mininya. 


"Kalian sudah pulang?" tanya Abdul menoleh pada kedua pasangan yang masih bergandengan tangan seakan tidak mau lepas. 


"Iya" singkat keduanya bicara. 


Kedatangan Aldo di belakang mereka membuat Luna dan Reza menoleh ke arah suara, "Ayo kita makan, aku sudah selesai masak" katanya sembari membuka celemek yang terpasang di badannya.


Sarah dan Abdul berdiri melangkahkan kaki ke meja makan namun saat keduanya berhenti sejenak memandang ke arah pasangan dihadapannya yang masih belum bergegas dari tempatnya, "Kalian berdua kok malah diam ayo makan, Aldo capek-capek masak loh, kalian juga belum makan semenjak ke bandara kan?" sahut Abdul.


"Ayo cepat" Sarah mengaitkan lengan Luna pada tangannya dan membawa ke arah meja makan. Dan susul Reza, Abdul dan Aldo yang senantiasa mengulurkan tangan melayang mempersilahkan. Dan Biboy bermain ditemani baby sister yang selalu menjaganya. 


Suasana makan hening tanpa percakapan yang berarti, melihat keadaan yang kurang menyenangkan antara ketiganya yang terlihat kaku dan canggung.


Akhirnya Sarah membuka suara untuk memecahkan keheningan, "Jadi acara lamarannya dua minggu lagi?" tanyanya sebagai topik pembicaraan mereka di meja makan.


"Iya, biar Luna jadi milik aku seutuhnya biar nggak diambil orang" cerutu Reza menekankan ucapannya dan melemparkan pandangan sinis pada Aldo di depannya. Tapi Aldo menampiknya dengan santai dan tidak ada raut wajah kaget saat mendengarkan kata 'Lamaran'.


Luna terdiam menoleh pada Reza singkat, dan kembali fokus pada makanannya. 


"Bagus itu, emang siapa yang mau ambil Luna?" tanya Abdul disaat tangannya sedang memotong steak dan memasukkan kedalam mulutnya dengan dibuat penasaran oleh adiknya. 


"Ada, seseorang" sahut Reza datar.


Sarah yang peka dengan atmosfer di ruangan ini, seakan kata yang diucapkan oleh Reza menyinggung tatapan sinisnya pada Aldo di depannya. Terlihat jelas dari gelagat ketiga terlihat canggung.


"Ah! Begitu. Oh iya bibir kamu kenapa Aldo bisa luka begitu?" seru Sarah ingin tahu dan berpikir apa ada hubungannya dengan ketiganya.


"Oh ini aku dipukul sama seorang wanita yang balas dendam, karena aku sudah memukul wajah pacarnya". cerita Aldo dan menatap kearah wanita di depannya.


Uhuk! Uhuk! 


Sontak membuat Luna tersedak, dan tanpa sadar dua gelas air putih disodorkan ke arahnya dari arah samping dan depannya. Ya, kalian tahu Reza dan Aldo sigap memberikan gelas minum pada Luna.


Luna dibuat kaget apalagi Aldo terang-terangan menyodorkan minum padanya, dan membuat pria disampingnya geram menatap emosi. 


Ia pun tidak mengambil gelas minum yang mereka sodorkan, dan mengambil gelas punyanya sendiri dan memberikan tatapan bergilir bahwa mereka tak perlu repot-repot. Kedua pria itu pun merasa kecewa dan meletakkan kembali gelasnya ditempat semula. 


Melihat tingkah ketiganya, membuat Abdul dan Sarah saling tukar pandang dan mengerutkan alis curiga dan berpikir bahwa Reza dan Aldo berseteru untuk mendapatkan Luna.


Abdul berdehem "Hmm… " 


Ketiganya menjadi pendiam dan tidak membuat suara kembali seperti ditelan bumi.


Reza meletakkan alat makannya dan mengelap ujung bibir memakai tisu untuk membersihkan sisa makanan dan meminum air putih dengan sekali tegukkan, "Aku sudah selesai dan aku mau kekamar, terima kasih hidangan nya". ucap Reza tidak menoleh pada Luna dan bergegas meninggalkan mereka ke lantai atas. 


Luna menatap kepergian kekasihnya penuh khawatir, dan tak lama dia pun menyusul, "Aku juga sudah selesai, terima kasih hidangan nya" ucapnya dan mengejar Reza ke kamarnya.


Merasa keanehan situasi ini, Sarah dan Abdul hanya diam tanpa ingin ikut campur urusan ketiganya. 


Dan sama hal nya dengan Reza dan Luna, Aldo pun bergegas dan berpamitan pulang setelah membereskan dapur yang sudah dipakainya.


Disisi lain Luna berjalan naik tangga menyusul kekasihnya ke kamar dan sudah berada di depan kamar Luna mengetuk pintu namun tak ada jawaban, ia pun menarik knop pintu itu pelan dan masuk kedalam kamar dan menutup kembali.


Sementara saat melihat keadaan Reza sedang membaringkan tubuhnya diranjang.


"Mas―" Panggil Luna masih dekat dengan pintu. 


Mendengar arah suara Reza bangkit dalam posisi duduk, sontak membuat Luna terkejut saat melihat Reza dalam keadaan bagian atasnya telanjang, dengan dada yang kokoh, bahu yang kekar, perut dan tangan nya berotot begitu sexy ia melihatnya. 


Luna memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan menahan debaran dadanya, menggelengkan kepalanya yang sudah berpikir mesum. 


"Kamu kenapa?" suara Reza membuyarkan pikiran wanita dihadapannya, dan sontak Luna berbalik mengarah pintu kamar, karena merasa malu sudah mengagumi tubuh Reza sejak tadi. 


Reza pun melangkah menghampiri Luna yang sedang posisi membelakangi dirinya, mungkin dia terkejut karena ia tidak memakai baju. Karena kejadian di meja makan membuat Reza panas dan gerah sehingga ia membuka bajunya. 


"Mas, pake bajunya?" ucap Luna masih memejam mata membelakangi Reza, namun tanpa disadari pria itu sudah berada tepat dibelakang dan memeluk erat dan menyandarkan dagunya di bahu Luna. 


"Aku kepanasan tahu nggak?" bisik dekat letuk leher kekasihnya. Dan pelan membalikkan tubuh Luna saling berhadapan dan mendorong Luna bersandar di pintu.


"Oh… " seru Luna berjinggit dan memalingkan wajahnya berusaha tidak melihat tubuh sexy pria itu.


Reza menatap dalam dan tajam kearah Luna, dan tersenyum terbesit di bibir seksinya. 


"Kamu kaget melihat aku telanjang dada begini?" tanya Reza. 


"Tidak!" sanggah Luna cepat seraya menatap kearah Reza. Lalu tak sengaja melihat tubuh kekar Reza yang begitu menghipnotisnya.


Aku ingin memeluk tubuh Mas Reza yang lagi bertelanjang dada seperti ini, terlihat sexy dan hangat, dan aduh kok aku jadi mesum begini. Dalam pikiran Luna. 


"Hei, aku tahu kamu mengagumi tubuhku, sampai tidak berkedip begitu". Bisik Reza.


"Siapa? Aku? Tidak sama sekali, Mas kamu kepedean banget sih". Luna sontak mendorong badan Reza agar menjauhkan darinya. 


Tapi Reza dengan cepat mengurung tubuh Luna menggunakan kedua tangannya sebagai penopang agar Luna tidak bisa keluar dari areanya.


"Mas Reza" Teriak Luna dengan wajah merah merona, " Aku― mau pulang", lanjutnya merasa jantungnya berdebar kencang. Dengan berat Luna menelan salivanya dan membuat Reza semakin terpancing hasratnya.


Sial ! belum apa-apa aku sudah bergairah. Batin Reza. 


"Kenapa buru-buru? Aku mau melanjutkan yang kemarin tertunda". bisik Reza semakin memajukan tubuhnya dan menyentuh dagu Luna.


"Dasar mesum" sahut Luna.


Saat Reza semakin mendekati bibir Luna, tiba-tiba suara ketukan pintu mengurungkan niatnya.


Tok! Tok!


Suara kembali terdengar bersamaan dengan suara wanita, "Luna, Reza" panggil Sarah


Reza berlari ke kamar mandi dan Luna dengan cepat membuka pintu dan menangkan jantungnya yang berseteru di dadanya dan tersenyum datar.


"Ada apa Mbak?" tanya Luna.


Sarah memandang Luna tajam dan melihat ke arah dalam mencari sosok orang, " Reza kemana?" Sarah membidikan pertanyaan pada Luna yang masih diambang pintu. 


"Ada, di kamar mandi" Luna menunjukkan arah ke sebuah pintu dan tak lama Reza keluar sudah memakai baju lengkap dan menghampiri dua wanita yang sudah diambang pintu kamar. 


"Ayo cepat kebawah Mbak sudah buat makanan penutup, dan Aldo sudah pulang tadi". Ujar Sarah mencuri pandang pada Luna dan Reza yang terlihat kikuk. 


Reza, Luna dan Sarah berbarengan turun dari lantai dua menuju ruang tamu yang sudah ada hidangan puding mangga diatas meja dan mereka duduk mengobrol sebagai kegiatan mereka dan tanpa membahas ataupun menyinggung obrolan tadi meja makan. Karena Abdul dan Sarah tak mau ikut campur dalam masalah mereka karena ketiga sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan persoalannya. 


♥♥♥