Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
63. Pertingkaian



♥♥♥


Seperti janji Luna, dia akan membelikan barbie baru untuk Nabila dan Nadila. Karena Reza dan Bima tidak bisa menghantarkan ke mall. Karena Reza dan Bima harus pergi memancing dengan genk daddies (Reza, Yuda, Aldo, Soni dan Arga) yang sudah terjalin lama hingga sekarang. Para bapak-bapak jaman now.


Dengan terpaksa dia dan si kembar pergi dengan Yanto supir yang hampir bekerja sepuluh tahun dengan Reza semasa muda.


Sesampainya di mall. Seperti biasa mereka tidak hanya membeli barbie saja. Berbelanja pakaian untuk Nabila dan Nadila, sekalian dia juga beli kebutuhannya lain. Mumpung mereka berada di mall. Karena Reza sering komplain kalau dirinya terlalu hemat akan pengeluaran tiap bulan.


Selama berbelanja, si kembar tidak henti-henti mengajak Luna keluar masuk toko hampir semua mereka masuki hingga Luna kewalahan dengan tingkah aktif si kembar.


Belanjaan sudah ada lima jinjing yang mereka bawa, begitu juga Nabila dan Nadila membawa dua jinjing belanjaan. Mereka benar-benar shopping ria hari ini.


Mereka berjalan di pinggir toko sambil melihat di luar kaca. Tepat di depannya sekarang toko sepatu dengan merk terkenal.


"Luna."


Tiba-tiba dari arah belakang dia mendengar ada seseorang memanggil namanya dengan lantang dan dingin. Luna menoleh, begitupun si kembar.


"Ternyata benar. Luna anak magang si jalang yang merayu atasanya." kata Novi menatap penuh kebencian. 


"Lama tidak bertemu, Luna." ucap Shella sedikit menekan. Berdecak pinggang.


"Banyak sekali yang berubah sama kamu." ucap Eria yang pasti mengejeknya.


Dia terkejut. Matanya melebar menatap ke arah seorang wanita dihadapannya. Bukan hanya satu tapi tiga orang wanita dengan penampilan cukup terbuka menggunakan mini dress tanpa lengan. Dengan membawa belanjaan pula seperti halnya Luna berbelanja.


Ketiga wanita itu, Novi, Shella dan Eria. Mereka adalah karyawan Reza dulu, kenangan terburuk Luna saat menjadi karyawan magang di sana, dia menjadi bully-nya gara-gara dia dekat dengan atasannya yang sekarang adalah suaminya. 


Menuduhnya menggoda Reza. 


Memori kembali terbuka dan teringat kembali. Ia padahal sudah lama melupakan kejadian mereka yang membuat Luna bersalah.


"Apa kabar? Mbak Novi. Mbak Shella dan Mbak Eria." hal pertama yang Luna ucapkan sebagai bentuk kesopanannya. Si kembar hanya terdiam melihat ke arah tiga wanita itu dengan tatapan tidak suka.


"Jujur saja kita tidak baik. Itu karena kamu Luna sayang." ucap Novi sinis, kebencian yang mereka simpan sampai sekarang. "Coba kamu bayangkan bagaimana rasanya menjadi kami, tidak pernah mendapatkan pekerjaan dimana-mana karena suamimu sudah mematikan akses kerja kita, Dia begitu kejam. Suamimu." tekannya.


Luna terhentak, Reza mematikan akses mereka. Itu sama saja kalau suaminya memutus rezeki seseorang. Luna menggeleng pelan, masih belum mengerti dan tidak mau mengerti juga. Ini sudah membuatnya pusing. 


"Maaf saya nggak tahu soal itu."


Memang dia tidak tahu.


Luna hanya tahu kalau waktu itu, dan ketiganya akan di laporkan polisi dan Luna meminta Reza untuk mencabut laporan tersebut.


Pantas saja mereka masih membencinya sampai sekarang. Wajar saja. 


"Masa Ny. Reza tidak tahu? Nggak usah munafik. Ini pasti kamu yang minta kan?"


"Sumpah. Saya nggak tahu. Yang aku tahu kalau kalian akan dilaporkan ke polisi. Tapi aku minta Reza mencabut itu. Setelahnya aku tidak tahu apa-apa."


"Well, itu sudah telat. Kami masih membencimu, Luna. Tidak ada yang berubah."


Novi melirik ke arah si kembar yang berada di samping Luna.


"Itu anak kamu?"


Luna merapatkan kedua anaknya. Ia tidak takut dengan mereka hanya khawatir kalau anak-anak Luna menjadi ancaman ketiganya. 


"Iya mbak. Nabila sama Nadila. Mereka kembar. Sayang salim sama mereka?" ucap Luna pada si kembar. Namun si kembar terlihat tidak suka. Mereka terpaksa saat Novi and Genk menyodor tangan melayang ke arah si kembar agar mereka memberi salam.


Nabila dan Nadila pun dengan paksa mengikuti apa yang di bilang mommy-nya.


"Anak kamu sama Reza, kan?" tanya Shella tak pikir panjang. 


Luna mengerut alis. Ia tidak suka dengan ucapan yang dilontarkan Shella tentang anaknya. Marah. Ia akan terima kalau mereka menghinanya tapi tidak dengan anak-anaknya mereka tidak tahu masalah mereka.


Dengan seenaknya mereka berbicara seakan dia adalah wanita jalang yang melahirkan anak dari pria lain. 


Si kembar mengangkat wajahnya memandang ke arah Luna terlihat merah padam.


"Tentu saja mereka anak suami saya. Saya harap kalian jangan pernah menghina anak-anak saya. Mau kalian apa, hah?" ketus Luna, jangan pikir dia mengalah karena mereka bertiga.


Ayolah sekarang tak ada lagi Luna yang sok baik dan mengalah demi diri sendiri. 


Itu dulu.


Sekarang berbeda.


Si kembar tampak ketakutan. Mereka menempel di samping Luna. Dia merasakan itu. "Mommy." lirih Nabila sedikit merengek-rengek. Berbeda dengan Nadila biasa saja tapi dia tahu Nadila juga takut. 


"It's okay honey."


Melihat drama keluarga. Novi semakin tidak suka kalau Luna bahagia. Karena kebahagian wanita itu adalah kesakitan untuk ketiganya.


"Wow, lihat guys si jalang sekarang berani. Sok banget kamu merasa berkuasa karena menjadi istri dari seorang Reza Aditya Winajaya. Nggak tahu malu." seru Eria buka suara menatap dingin ke arah Luna dan si kembar seakan mereka akan siap memangsa buruannya.


"Apa Kalian puas sudah menghina saya? Karena saya harus kembali pulang kalau memang tidak ada hal yang dibicarakan lagi." kata Luna cukup tenang dia tahu karena dia tidak boleh terbawa emosi dengan ucapan-ucapan ketiganya.


Tidak ingin membuat mall menjadi ramai dengan ulah mereka. Luna dan si kembar berada di mall milik ayah dan mertuanya yang satu tahun lalu sudah melakukan grand opening mall ini. Kalau Luna wanita kejam mereka bertiga sudah Luna depak dari mall ini tanpa pikir panjang menyeret mereka dengan kasar. Tapi dia tidak lakukan dia tidak ingin memperpanjang masalahnya.


Cukup sampai disini.


Tidak ada lain kali.


"Sayangnya belum. Urusan kita masih belum selesai sampai kapanpun." kata Novi.


"Tapi saya sudah selesai. Kami permisi." balas Luna lalu melindungi si kembar membawanya menjauh dari ketiganya.


Belum melangkah jauh. Novi berkata keras.


"JALANG TETAP JALANG. Kamu dengar itu Luna."


Luna tidak peduli dia dan si kembar melangkah cepat meninggalkan ketiganya terus mengoceh. Dia sedikit malu karena mendapat tatapan dari para pengunjung yang sejak tadi melihat kepada Luna karena pertingakian mereka. 


Yang terpenting adalah menjauh. Luna khawatir akan pikiran si kembar mendengarkan ucapan ia dengan ketiga wanita itu berbicara kasar.


Tanpa Luna sadari ada seseorang melihat serius ke arah mereka sejak pertama pertingkaian Luna dan ketiga wanita itu. Lalu menelpon seseorang untuk memberi tahu apa yang terjadi.


"Mereka sudah pulang, Pak." ucap pria itu. 


•••


Luna gelisah.


Ia masih memikirkan kejadian tadi. 


Sudah berada didalam mobil. Ia terus memeluk si kembar. Dia pura-pura tidak terjadi apa-apa dan tersenyum pada si kembar. 


"Mommy, are you okay?" tanya Nabila khawatir. Meski dia masih kecil tapi Luna yakin si kembar bisa merasakan apa yang sekarang Luna rasakan. 


"Tentu saja, mommy baik." ucap Luna mendekap si kembar mencium kening keduanya.


"Tadi siapa sih mom, Nadila nggak suka sama mereka. Mereka jahat ke mommy. Nanti aku bilang ke daddy biar mereka di marahin." seru Nadila peduli.


Luna begitu senang. Putri-putrinya begitu care padanya meski masih kecil dan tidak tahu apa permasalahannya. Ia begitu gemas.


Terus menghujani ciumana pada si kembar di samping.


"Kalian harus janji. Kejadian ini tidak boleh diketahui daddy kalian? Apa kalian setuju?" kata Luna.


Nabila dan Nadila saling bertukar pandang. Lalu kedua nya menoleh ke arah Luna yang sedikit penuh harapan agar si putri kembar memenuhi janjinya.


Luna hanya tidak ingin membuat Reza khawatir. Apalagi ini kejadian sudah lama jadi dia tidak mau memperpanjang masalah itu.


"Kenapa sih mommy? Mereka sudah buat mommy marah. Mereka jahat." Nadila protes tak setuju.


Nabila mengangguk setuju pada Nadila.


"Mommy berterima kasih sama kalian berdua karena kalian begitu khawatir sama mommy. Tapi mommy tidak apa-apa. Dengar kan kata mommy, mereka memang jahat. Orang jahat juga manusia. Mereka hanya orang khilaf. Dan kejahatan dibalas dengan kebaikan. Bukan di balas dengan kejahatan juga. Kalian paham maksud mommy?" Luna dengan wejangannya.


"Sebenarnya Nadila nggak ngerti. Tapi kalau emang mommy mau-nya begitu Nadila nggak akan bilang daddy deh. Nadila bakal nurutin mommy. Karena Nadila sayang mommy." kata Nadila memeluk erat pinggang Luna. Melirik ke arah Nabila masih diam. Ya, Nabila memang paling susah kalau diajak merahasiakan akan sesuatu karena Nabila orangnya jujur begitu dekat dengan Reza. Manja pada daddynya.


"So, Nabila? Kamu mau menjaga rahasia ini?"


Nabila bimbang. 


Luna mengerti. Paham.


"Uhm__" Nabila masih berpikir. 


"Nabila, mana bisa bohong. Penakut. Lemah." ledek Nadila. Ia tahu kembarannya bukan anak yang pintar berbohong.


Nadila tidak suka dengan Nabila yang cengeng dan manja. Meski dirinya juga begitu tapi dia tidak berlebihan. Ia kuat. Ceria.


"Aku bukan penakut dan lemah." ketus Nabila merasa tidak terima. Nabila merasa matanya sudah berkaca-kaca. Memandang tajam pada Nadila yang terus meledeknya. 


"Lihat mommy. Nabila mau nangis. Cengeng." 


Luna melihat ke arah Nabila yang terlihat akan menangis. "Nabila jangan nangis, yah. Nadila cuma bercanda kok. Iya kan Nadila?" Ucapnya lalu memandang pada Nadila agar mengiyakan ucapannya.


Nadila cemberut. "Iya, aku bercanda." 


"Kamu bohong." sahut Nabila cepat.


"Aku nggak bohong." timpah Nadila.


"Kamu kan tukang bohong." sewot Nabila tidak mau kalah. 


"Ck. Bohong demi kebaikan itu nggak dosa."


"Tapi tetap saja bohong."


"Ih nyebelin."


Lalu keduanya saling melempar wajah ke sisi arah berlawanan dan bersedakep seakan tidak ingin melihat wajah satu sama lain. Membuat Luna yang tadinya masih kesal, marah, sedih dan juga gelisah karena kejadian tadi sekarang ditambah pertingkaian si putri kembar.


Sedangkan Pak Yanto hanya bisa mendengarkan obrolan atau pertingkaian mereka di belakang, meski jujur pasti merasa terganggu.


Giliran Luna yang bersuara. 


"Aduh_____mommy pusing sama kalian berdua nggak pernah akur. Ingat kalian itu bersaudara, harus saling menjaga, memahami, menyayangi satu sama lain. Heran mommy. Ada yah, kembar berantem terus kayak musuh." Luna tidak henti menasehati kedua putrinya. 


"Nabila kamu kan seorang kakak harus bisa jadi kakak yang kuat bisa membimbing Nadila yang cerewet kayak bebek. Dan kamu juga Nadila, jangan meledek kakak kamu terus, harus jadi adik yang menghormati kakaknya. Seperti kamu hormat sama kakak Bima. Mommy mau kalian baikan. Nggak mau tahu. Sampai di rumah nanti mommy mau kalian sudah bermain lagi. Akur."


Si kembar diam sesaat. 


Wajar saja memang bila anak seusia masih belum mengerti apa yang mereka lakukan atau ucapan.


"Nabila, aku minta maaf."


"Aku juga minta maaf, Nadila."


Mereka saling berjabat tangan, kemudian saling memberikan pelukan.


Luna senang.


"Nah begitu dong. Mommy jadi senang melihat kalian akur begini."


Dan sedikit melupakan kejadian tadi. 


•••


Sepulang dari mall mereka masih belum juga melihat keberadaan Reza dan Bima masih asyik memancing hingga lupa waktu, membuat Luna kesal setengah hati. Mereka berdua kalau sudah asyik dengan kegiatannya menonton atau memancing pasti melupakan orang di sekitarnya.


Luna memaklumi. Itu hak mereka dan tak ambil pusing. Lalu langsung memasuki kamarnya dan si kembar ditemani Susi bermain di ruang TV. 


Sudah lama Luna tak merasa kegelisahan seperti ini. Ia merentangkan badannya di atas kasur dan melihat ke langit-langit kamarnya. Memejamkan mata sebentar. Merasakan ada seseorang masuk ke kamarnya membuka pintu.


Ternyata suaminya. 


Reza. 


Luna masih tiduran di kamarnya sekilas melihat kedatangan Reza tanpa mengucapkan apa-apa lalu pria itu langsung pergi ke kamar mandi, ya suaminya memang orang paling aneh bin ajaib. Sikapnya selalu berubah-ubah seperti bunglon yang berganti warna setiap menyentuh barang atau sesuatu di sekitarnya.


Sudah 30 menit lamanya Reza masih berkutik di kamar mandi. Luna tak peduli. Ia terus berusaha untuk memejamkan matanya untuk tidur siang menjelang sore karena ingin melupakan kejadian tadi di mall.


Ia tersentak saat seseorang memeluk badannya dari arah belakang siapa lagi kalau bukan Reza, tercium wangi segar dari tubuhnya wangi sabun dengan aroma lavender. Menenangkan pikiran Luna sejenak. 


Masih tidak beranjak dari posisinya. Reza masih saja memeluknya sekali mengecup lehernya dan menggigitnya membuat Luna sedikit bergetar tak karuan, namun dia menahannya. Dia sedang tidak ingin. Meski dia dosa kalau menolak Reza.


"Apa terjadi sesuatu hari ini?" tanya Reza masih memeluknya dari belakang. Dia masih menciumi leher Luna. 


"Tidak." balasnya singkat. Ia berbohong.


Reza berhenti menciumi leher istrinya kemudian menarik dan membalikkan tubuh Luna agar dia menghadapnya.


"Benarkah?" tanyanya lagi. Masih tidak percaya. Karena terlihat jelas kalau raut muka istrinya sangat berbeda sebelumnya. Luna tidak pandai berbohong.


"Iya." singkatnya. 


"Fine, kalau kamu nggak mau cerita. Aku nggak akan maksa kamu. Karena mungkin kamu belum siap menceritakannya." tegas Reza, tidak ingin memaksakan kehendak. 


Luna mengerutkan alis. Mungkinkah Reza tahu kalau dia bertemu dengan mereka? Pikirannya, dia tahu kalau Reza selalu diam-diam menyuruh orang untuk menjaga dan melaporkan kegiatan Luna selama ini. Membuat Luna merasa kalau pria itu berlebihan dan tidak mempercayainya. 


Ingat saat pertama kali dia membuat usaha coffe shop di daerah sudirman, Reza menyuruh orang untuk melaporkan kegiatannya.


Banyak kesalah pahaman terjadi. Bodohnya pria yang di memata-matainya tidak berpikir panjang memotret seenak jidat, saat ia sedang bercanda gurau dengan seorang pria yang menjadi pelayan di coffee shop. Menuduh berselingkuh dengan pria yang masih sekolah, pria kerja partime-nya.


Posesif terhadapnya.


Luna tidak terima dan meminta Reza memecat pria bodoh itu. Mereka bertengkar seperti anak ABG itu adalah pertengkaran pertama mereka hampir 3 hari tidak bertegur sapa, apalagi saat itu si kembar baru berusia dua tahun, rewelnya minta ampun.


Sejak kejadian itu Reza sudah tidak menyuruh orang untuk memata-matainya lagi. Mungkin.. 


"Mas, sudah tahukan? Untuk apalagi bertanya lagi." ucap Luna menatap tajam suaminya, ya dia masih saja belum percaya dengan kegiatan sehari-harinya. 


"Tapi mas ingin tahu dari kamu langsung, sayang. Bukan dari orang lain." balasnya menatap Luna sembari mengelus pipi istrinya yang masih muda dan terlihat masih cantik. Reza juga belajar dari kejadian dulu, tidak ingin terulang kembali, dia amat tersiksa bila harus bertengkar dengan Luna dan merasa rugi. 


"Aku sedang tidak ingin membahasnya saat ini." kata Luna.


Kemudian bangkit dari kasurnya meninggalkan Reza sendiri. Lalu beranjak ke balkon melihat pemandang di luar kamarnya ya tepat ke arah tamannya yang luas dan indah dengan hamparan bunga dan pohon-pohon yang tertata rapi.


Menghirup udara cukup segar. 


Reza menghampiri, dia masih belum menyerah lalu memeluk Luna dari belakang. Pria itu selalu merajuk manja pada Luna, entahlah padahal dia sudah tidak muda lagi. Kelakuan seperti remaja pada umumnya. Cemburuan dan posesif


Pria itu juga selalu terang-terangan bicara kalau dirinya takut kalau Luna pergi ke lain hati atau meninggalkannya. Konyol memang.


Kenapa harus dia yang takut, malah Luna yang harusnya takut suaminya dengan wanita lain. 


Ketakutan selalu ada saat teman bisnis maupun karyawan di kantor Reza, banyak wanita cantik yang selalu ada di sekelilingnya.


Luna membalikkan badannya berhadapan dengan Reza lalu melingkari tangannya di leher pria itu, sementara Reza menarik pinggang Luna merapat ke badannya. Mereka saling bertatapan. Badan Luna sedikit bersandar kusen balkon. 


"Apa?" tanya Luna, karena suaminya sejak tadi memandangi wajahnya tanpa bicara dia gatal lalu membuka suara terlebih dahulu. Meski ia sudah lama menikah dengan Reza, jantungnya masih saja berdebar-debar saat suaminya selalu menatap Luna lekat. Seperti bunga bermekaran di dalam perutnya.


Reza tersenyum. Luna membalas senyumnya,dan Senyum istrinya membuat Reza mabuk kepayang dan menginginkan lebih.


"Apa kita mau menambah satu lagi?"  ucapnya ambigu membuat Luna bingung.


"Maksudnya?" tanyanya tak mengerti.


"Bikin adik untuk Nabila dan Nadila."


Bikin? Dia kira kue, tinggal bikin beli bahannya di supermarket. Pria cuma enaknya sakitnya wanita yang nanggung.


"Ih, aku kira apaan. Dasar mesum."


"Mesum sama istrikan diperbolehkan."


"Bagaimana kalau kita ke jerman tengokin ayah sama mom kamu. Itung-itung kita honeymoon."


"Anak-anak?" seru Luna. 


"Mereka juga ikut. Biboy bentar lagi liburan sekolah. Sementara mereka berlibur dengan omah dan opahnya kita honeymoon berdua, bagaimana?" goda Reza.


"Aku ikut kata Mas Reza aja."


Reza senang. Luna tertolong wanita yang selalu menuruti ucapan suami dan tapi dia juga tidak ingin kalau, apapun yang dia mau harus selalu dituruti seperti timbal balik. Jaman sekarang tidak ada yang gretongan. Reza menunduk dan menempelkan bibirnya pada bibir Luna ciuman yang terasa lembut lambat laun terasa kasar dan menuntut saling membalas ciuman mereka lalu memperdalam ciumannya hingga lidah mereka saling bertautan hingga ke dalam rongga mulut. 


Kemesraan mereka berlanjut di kasur king size hingga beberapa jam lamanya. Hanya mereka berdua saja.


♥♥♥