
♥♥♥
REZA bangun dari ranjang tidurnya dan masuk ke kamar mandi tergesa-gesa. Namun entah kenapa tiba-tiba rasa mual menyerangnya. Ingin dia memuntahkan semua isi perutnya tapi tak ada yang keluar satu pun. Reza merasa tersiksa dan mencuci mukanya sekilas dan rasa mual itu kembali datang.
"Mas Reza. Kamu kenapa?" suara Luna dan sudah berada berdiri di belakangnya. Mengusap punggung Reza agar sedikit melegakan mualnya.
"Tiba-tiba saja aku mual banget." keluh Reza.
"Morning sickness. Maybe?"
"Benarkah?"
"Kata Dokter Regina bilang, kalau bukan aku yang mual. Suami yang mual. Omongannya benar kamu yang kena morning sickness."
"Baguslah. Karena kalau kamu yang mual bakal tersiksa. Biar aku saja yang menggantikan kamu."
Reza kembali muntah. Dan ini benar-benar tersiksa. Tak bisa ditahan. Badan menjadi lemas. Ia sekarang merasakan apa yang dirasakan orang hamil. Seperti inikah? Tak tega bila ini terjadi pada Luna. Setelah lumayan membaik Reza dan Luna kembali ke kamar.
"Kamu istirahat dulu. Nggak usah masuk kerja dulu. Aku panggil Dokter." kata Luna memberikan perhatian pada suaminya yang mengalami morning sickness.
"Baiklah. Nanti aku telepon Soni saja."
Luna berjalan keluar setelah membersihkan tubuhnya dan turun. Karena mulai hari ini aktivitasnya dikurangi. Acara masak saja sekarang Bik Surti langsung. Itu memang tugas utamanya. Tapi kadang Luna sendiri suka memasak. Dan apalagi akhir-akhir ini membuat Bik Surti kewalahan karena ulahnya. Ngidam. Harus masak secara dadakan.
"Bik Surti. Masak apa?"
"Sup ayam. Seperti permintaan ibu kemarin."
"Sudah jadi?"
"Sudah."
Luna mengambil sarapan pagi untuk Reza yang masih berbaring di ranjang. Menelpon Dokter khusus keluarga besar Winajaya untuk memeriksa keadaan suaminya yang membuat Luna cemas. Karena tidak berhenti muntah.
Menunggu Dokter Algi datang Luna menyuapi suaminya makan. Merasa geli. Melihat Reza bertingkah seperti anak kecil seperti halnya Biboy. Sejak tadi bocah kecil ini terus menemani Daddy-nya yang sedang sakit.
"Mommy. Mau makan?" ronta Biboy minta disuapi.
"Kamu juga mau."
Luna menyuapi Biboy juga. Dan sekarang Luna harus menyuapi bayi kecil dan besar. Begitu manis keduanya merajut manja pada Luna.
Suara ketukan membuyarkan kesenangan mereka.
TOK TOK TOK
Bik Surti menghampiri dan membawa seorang pria berjas snelli putih terlihat tampan. Pria itu masih muda. Ia kira Dokter Algi adalah seorang pria paruh baya. Nyatanya bukan. Pria itu masuk setelah Luna mempersilahkannya. Dan mengecek keadaan suaminya.
"Bagaimana Dokter keadaan suami saya?" tanya Luna saat pria itu sudah selesai mengecek.
"Pak Reza butuh istirahat cukup. Obatnya jangan lupa diminum."
Luna tersenyum "Terima kasih, Dok."
Reza merasa ada yang salah dengan tingkah Luna. Terlalu menebar senyum manis pada pria berjas snelli itu. Reza berdeham. Membuyarkan obrolan kecil mereka.
Dan Luna menoleh "Ada apa? Aku mau anter Dokter Algi ke depan dulu."
"Nggak usah Bu Luna. Saya bisa sendiri." Algi menolak karena melihat ekspresi muka Reza yang tidak bersahabat.
"Baiklah. Hati-hati"
Dokter Algi pergi. Luna kembali menemani Reza yang sedang tidur tengkurap dan Biboy sedang asyik dengan menonton video kesukaan di tablet. Luna mengusapkan punggung Reza pelan. Membangunkannya untuk minum obat.
"Mas minum dulu obatnya? Biar kamu nggak mual lagi." Luna masih mengusap punggung Reza yang masih belum membalikan badanya.
"Mas kamu kenapa sih?" ucap Luna lagi.
Luna menaiki ranjang dan memeluk tubuh Reza di atas punggungnya pria itu. "Mas kamu marah sama aku tadi ngobrol sama Dokter Algi?"
Reza mengangguk masih dalam posisi tengkurap.
"Balikin badannya. Aku pengen lihat muka orang kalau lagi cemburu?"
Reza membalikan badannya saat Luna sudah beranjak dari punggungnya. Dan duduk bersila di depannya sama halnya dengan Reza sekarang mereka berhadapan. Dan Biboy masih asyik tiduran dengan tabletnya.
Luna mengecup bibir Reza sekilas. "Sudah jangan cemberut. Jelek banget tahu."
"Makanya jangan genit sama pria lain." Reza menangkup wajah Luna dengan kedua tanganya. Dan mengecup Luna berkali-kali.
"Iya nggak akan genit. Lagian masih lebih gantengan kamu daripada dia."
"Bener?"
"Iya bener. Nggak bohong."
Reza mencium bibir Luna lembut dan melumatnya pelan. Namun aktivitas mereka terganggu saat Biboy meringis ingin minum. Dengan hati tak rela Reza mengalah dan mengambilkan minum di atas nakas. Membantu Biboy untuk minum.
"Bukannya hari ini kita mau pindah?" Ucap Luna sambil menyentuh janggut tipis di area dagunya. Dan sangat suka saat memegangnya. Merasa geli.
"Lalu kenapa?"
"Aku harus membereskan semua pakaian kita."
"Nggak usah biar. Aku sudah menyuruh orang buat rapikan semuanya. Dan kita hanya akan terima beres. Kamu nggak boleh kecapean."
"Jadi hari ini kita ke rumah Ayah dan Ibu. Nanti pulang kita langsung ke rumah baru kita."
Luna mengangguk setuju.
Rencana pindahan rumah memang sudah jauh-jauh hari. Dan hari ini adalah tepatnya. Rumah baru? Pasti pikiran kalian harus memindahkan perabotan lama ke rumah baru tapi nyatanya untuk Reza pemilik SJC tidak pernah berpikiran seperti itu. Tahulah orang berduit memang begitu. Dan itu tidak dibuat masalah oleh Luna. Toh! Sekarang dia itu adalah istri seorang pemilik perusahaan terbaik dan terbesar di Indonesia.
Dan benar saja saat mereka hendak berangkat ke rumah orang tuanya suaminya ada beberapa orang berada di ruang tamu menunggu Reza datang. Dan orang-orang tersebut diperintahkan untuk membereskan semua pakaian yang akan dipindahkan ke rumah baru. Dan ada tiga orang wanita dan tiga orang pria.
Mobil sampai di perumahan elit di jakarta selatan. Pintu gerbang terbuka dan mobil perlahan memasuki pekarang rumah mewah yang sudah kesekian kalinya mengunjungi ke mansion family milik Winajaya.
Kedatangan mereka disambut langsung oleh empunya yang punya. Wanita itu berumur 50 tahun masih terlihat cantik siapa lagi kalau bukan ibu mertua paling baik hati. Begitu pula ayah mertua dan Abel menyambut mereka.
"Luna sayang. Ibu kangen sama kamu. Bagaimana sama calon baby kamu baik-baik juga kan?" Yunita memeluk Luna dan mengusap perutnya yang masih rata karena memang masih satu bulan.
"Dede bayi baik-baik saja, Bun."
"Sudahlah Bun, Luna suruh masuk dulu." sahut Galang mengajak untuk masuk.
Mereka memasuki ruang keluarga. Karena Biboy itu tidak suka diam. Ia pergi keluar pergi ke halaman bersama Abel yang menemaninya. Luna dan Reza hanya bisa melihat diluar Biboy diluar jendela. Sementara orang dewasanya mengobrol di dalam.
Reza mengambil cangkir teh dan meminumnya perlahan sebelum membuka suara. "Kita hari ini sudah bisa tinggal dirumah baru." ucapnya sembari meletakkan kembali ke atas meja dan menoleh pandangan kepada kedua orang tuanya.
Galang tersenyum. "Baguslah. Akhirnya kamu keluar juga dari apartemen sesak itu. Kasian Biboy butuh ruang gerak yang bebas."
"Iya. Karena aku juga ingin melihat perkembangan Luna masa hamilnya. Aku nggak tega kalau dia harus berada di apartemen nggak bagus untuk perkembangan janin di perutnya butuh udara segar." timpal Reza dan mengelus kepala Luna lembut. Saling bertukar pandang.
"Kalian akan buat syukuran rumah baru kan?"
"Iya tentu. Besok acaranya kalian harus datang. Aku juga undang anak panti asuhan."
"Tentu saja kami datang." jawab Yunita. Dan menoleh ke arah menantunya di seberang tempat duduknya. "Jadi anak perempuan apa laki-laki? Apa sudah kalian cek?"
"Belum tau, Bun. Karena masih belum ketahuan apa jenis kelaminnya. Tapi minggu depan kami akan cek kembali ke bidan."
"Apapun jenis kelaminnyan yang penting sehat."
Ngobrol perihal jenis kelamin anak. Rasanya akan menyenangkan bila mempunyai anak perempuan. Pikir Luna. Memberikan pakaian lucu dan mengepang rambut panjang anaknya. Seperti yang dilakukan Ibunya dulu terhadap Luna.
Bicara soal Ibu. Luna sangat merindukannya. Ia ingin bila Ibunya berada disini. Menemaninya saat hamil. Memberi nasehat perihal tentang kehamilan seperti orangtua pada umumnya.
Melihat raut muka Luna bersedih. Reza dengan sigap merangkul istrinya. "Sayang kamu kenapa?"
Luna menggerakkan rangkulan suaminya dan bersandar di dalam dada Reza. Menahan tangisnya. Namun tidak bisa. Yunita dan Galang yang melihat merasa khawatir. Karena memang orang hamil biasanya sensitif dengan sesuatu.
Yunita bangun dan duduk disebelah Luna yang masih berada dalam dekapan Reza. "Luna kenapa?"
Luna tiba-tiba berpindah dan memeluk Yunita. Mereka bertiga kebingungan dengan sikap Luna. Dengan tenang Yunita mengelus punggung Luna meski belum bicara.
"Luna kangen Ibu."
Ia membuka suara sedikit serak dalam pelukkan Yunita. Mereka bertiga mengerti dan paham dengan Luna yang merindukan Ibunya. Rasa sedih Luna membuat ketiganya ikut merasakan.
"Sudah sayang. Ibu kamu sudah bahagia disana. Pasti dia akan sedih kalau kamu menangis seperti ini. Disini ada bunda. Bunda akan selalu ada saat kamu membutuhkan."
"Terima kasih. Aku sayang Bunda."
"Bunda juga sayang kamu."
•••
Sekarang Luna sudah berada dirumah barunya. Rumah cukup besar, Ralat sangat besar untuk mereka tempati ada lima kamar dilantai atas dan dua kamar di lantai bawah khusus untuk mengurus rumah tangganya.
Karena Rumah cukup besar Reza menambahkan seorang pengurus untuk membantu Bik Surti. Yaitu suami dari Bi Surti yang akan mengurus urusan di luar rumah seperti membersihkan kolam, tanaman dan sebagainya sesuai porsi pria itu.
Setelah berkeliling melihat seisi rumah Reza mengajak Luna dan Biboy ke halaman rumah yang ditata rapi seperti kebun bunga. Dan ditengah ada tempat teduh dengan kursi kayu dengan meja yang berbentuk opal sehingga mereka bisa duduk melihat pemandangan di sekitarnya.
"Menurutku rumah ini terlalu besar untuk kita tempati, Mas?" Luna menatap Reza yang menikmati pemandangan halaman rumah.
"Tidak. Rumah ini lebih kecil dari pada rumah Ayah sama Ibu. Ukuran rumah ini sama seperti rumah Kak Abdul."
"Segini kecil? Aku heran sama orang kaya. Rumah besar segini dianggap kecil." Luna menggeleng. Mendengarkan tanggapan Reza.
"Aku bukannya sok kaya. Aku cuma merendahkan diri. Makanya aku bilang ini rumah kecil. Bukannya berbangga diri."
"Sama saja."
Reza hanya bisa tersenyum tak ingin melanjutkan kembali obrolan tentang rumah. Karena bakal panjang urusannya apalagi disaat Luna sedang sensitif seperti ini. Yang ada nanti mereka bertengkar.
Mungkin ini saatnya Reza harus memberitahu Luna soal Alisha yang ingin magang di perusahaan. Karena Ia tak mau kalau Luna mengetahui ini dari orang lain.
"Sayang… ada yang mau aku beritahu sama kamu?" ucap Reza hati-hati.
Luna mengangkat satu alisnya. "Tentang?" singkatnya penasaran.
Kemudian Reza menelan salivanya. "Ini tentang Alisha. Dia mengajukan program magang di kantor. Menurutmu apa aku terima atau aku tolak. Aku hanya minta pendapat saja. Aku hanya tidak enak tentang hubungan kalian dulu. Kurang bagus." Reza merasa lega bisa bicara tanpa gugup di hadapan istrinya.
"Kenapa minta pendapatku? Kamu kan Bosnya. Itu hak kamu mau terima atau tidak. Nggak ada urusan dengan masalalu kami." balas Luna tenang. Sebenarnya Ia merasa curiga dengan Alisha yang tiba-tiba ingin melakukan program magang di tempat suaminya. Tapi Luna berpikir positif tidak mau menuduh sembarangan.
"Karena memang aku harus. Aku nggak mau kamu salah paham. Aku cuma bersikap jujur sama kamu."
Luna menyentuh pipi Reza. "Terima kasih kamu mau jujur. Dan masa lalu itu sudah aku kubur dalam-dalam. Semua ada ditangan kamu. Terserah kamu mau terima atau tidak. Aku selalu dukung kamu. Dan aku percaya sama kamu."
Belum menjawab Reza memeluk Luna. Dan memberikan ciuman ringan di keningnya. "Aku bangga punya istri pengertian kayak kamu."
Dalam berhubungan memang harus saling percaya satu sama lain. Karena untuk menjalaninya keduanya harus siap dengan segala masalah yang akan datang nantinya. Karena modal kepercayaan dan saling terbuka akan segala sesuatu menjadi kunci terbaik menghadapi semuanya.
Tak terasa mereka berdua duduk santai dan mengobrol di halaman rumahnya. Waktu sudah mulai gelap. Dan Reza mengangkat Luna dengan gaya bridal. Lalu mengajaknya kembali masuk. Sementara Biboy sudah kembali masuk kedalam bersama Mirna.
"Turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri kok?" Ronta Luna minta diturunkan.
"Nanti kamu capek. Makanya aku gendong."
"Mas Reza. Turunin."
"Ssst...Ayo kita mandi." Bisik Reza membuat Luna menutup wajahnya merasa malu dengan ucapan intim suaminya.
"Dasar mesum."
♥♥♥