Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
57. Posesif



♥♥♥


Akhrinya telah tiba, pernikahan Rani dan Yuda di adakan secara sederhana hanya keluarga dan juga teman dekat yang hadir. Dengan suasana indoor, seperti pesta kebun terlihat manis namun sakral untuk kedua mempelai. 


Selain itu, tempat ini aman untuk anak kecil juga. Biboy dan Clara contohnya mereka tidak berhenti lari-larian membuat para pengasup kewalahan.


Sementara para tamu menikmati hidangan yang di sediakan. Terlihat Rara, Abel, Soni dan Aldo saling bercanda dan mengobrol.


Luna dan Reza duduk di bangku tidak jauh dari tempat Biboy bermain. "Kamu masih pegal, ya?" tanya Reza cemas.


Sembari tadi Luna mengeluh kalau pinggangnya selalu nyeri. 


"Aku nggak apa-apa, nanti juga hilang pegalnya." Luna meyakini Reza tampak cemas di wajahnya. Tak ingin membuat Reza cemas, Luna memberi sebuah senyum ceria.


"Aku baik."


"Kamu jangan bohong sama aku? Kamu bukan artis yang pintar berakting, sayang." Reza sedikit menahan emosinya. Karena Luna masih berkata seakan dia baik-baik saja. Tapi nyatanya dia itu sedang tidak baik. 


"Mas, aku nggak一"


"LUNA." Reza sedikit tegas dan menekan saat dia menyebut nama istrinya. Luna terdiam seketika ia terkejut jantung terasa berdebar hebat suara Reza membuatnya terhentak. "Maaf aku begini karena kamu keras kepala sayang." Reza melunak dan mendekap Luna yang sempat terkejut dengan jelas bisa merasakan detak jantung Luna.


Matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya Reza menyentaknya meski hanya bersuara keras tapi itu membuat Luna tidak nyaman. 


Reza menangkup wajah Luna sedikit sedih di matanya karena ucapannya tadi, dan itu buat para tamu di sekitarnya melihat ke arah Luna maupun Reza yang masih berselisih.


Namun hal itu tidak lama. MC membuat para tamu beralih pada sang MC dan mendengar ucapan yang dilontarkan. Dan membuat Reza bernafas lega. 


"Tapi ini pernikahan Mbak Rani dan Mas Yuda. Luna nggak mau ngecewain mereka."


"Kamu jangan egois. Kamu lagi hamil. Dengerin kata-kata aku." Reza terdengar tegas suara pria itu sedikit bergetar. Menatap penuh kecemasan. Lalu memegang erat tangan Luna. "Please aku nggak mau kamu kenapa-kenapa sayang. Mereka pasti mengerti kamu yang sedang hamil." Reza teguh dengan ucapannya. Secara tidak langsung, dia tidak ingin ada penolakan. Luna harus turuti.


Luna mengangguk, mengiyakan. Tidak ingin buat Reza marah. 


Reza semakin posesif dan protektif kepada Luna, entah sejak mereka menikah atau sejak dia hamil.


Kadang dengan sikap Reza seperti itu membuat Luna takut.


"Ayo kita pamitan sama mereka."


Luna pun pasrah, padahal dia masih ingin ikut berkumpul dengan mereka tapi Reza memaksa untuk kembali ke rumah. Setelah berpamitan ia menyuruh Mirna menggendong Biboy kembali ke mobilnya. Reza duduk di kursi penumpang dan Biboy bersama Mirna duduk di depan kemudi di samping Yanto. Lalu melajukan mobil, Dan Reza sudah memberi tahu tempat tujuan pada Yanto sebelum pulang.


Reza tidak membawa Luna pulang dahulu tapi membawanya ke bidan terlebih dahulu untuk keadaan kehamilan Luna dan keluhan-keluhan sejak beberapa hari membuat Luna selalu pegal.


"Kita akan ke bidan dulu. Periksa."


"Tapi aku nggak apa-apa, pulang langsung saja ke rumah."


"Luna, jangan membantah."


"Aku tahu kamu cemas. Tapi kamu jangan marah terus dong. Kamu buat aku takut."


"Maaf sayang, aku cuma tegas sama kamu."


"Tapi aku nggak suka."


"Maaf deh, nggak akan di ulangi lagi."


Reza mencium kening Luna agar dia tenang. Dia merasa bersalah membuat Luna ketakutan akan dirinya. Dalam perjalanan mereka saling terdiam dalam kecanggungan.


•••


Sementara itu Rara sembari tadi mencari dimana Luna berada tapi tidak menemukan di mana pun. Dia kembali ke meja tempat Abel, Soni dan Aldo, masih setia mendengarkan ucapan seorang pria yang berstatus sebagai pembawa acara atau MC. 


"Abel, Luna kemana?" tanya Rara di sela makan. Mencicipi bakso yang sudah dihidangkan diatas meja. Melihat ke segala tempat tapi tidak melihat sahabatnya. Masih belum menyerah.


"Luna chat, di pulang duluan nggak enak badan katanya." balas Abel, memberitahu Rara isi chat Luna.


"Kasian Luna. Masa kehamilannya berat banget harus bawa dua bayi sekaligus kemana-mana."


"Namanya juga orang hamil, Ra."


"Aku mah, mending satu aja dah. Berat dua mah." Luna terus terkekeh sendiri. Tanpa melihat kalau ketiganya melihat tingkah Rara.


"Cari pacar dulu, baru mikirin soal kehamilan Ra, buatnya kan harus punya bebeb dulu baru bisa hamil." Sahut Aldo meledek omongan Rara soal kehamilan. 


Rara berdecak. Tidak ingin menjawab perkataan Aldo yang selalu menyayat hati. Pria itu sekarang adalah orang yang tidak disukainya atau dibenci. Gara-gara masalah ledekan yang Aldo membuat Rara semakin geram ditambah sekarang Aldo juga meledeknya terus.


Apa salah Rara?


"Ra, cemberut bae." tukas Abel melihat ke Rara, wajahnya selalu ditekuk dan memalingkan muka dari Aldo.


"Tau ah."


"Maaf deh, Ra. Marah sama aku. Aku bercanda doang. Jangan dimasukin hati." Ucap Aldo lalu tangannya mengusap lembut rambut Rara. Dan membuat Rara semakin canggung dan jantung terasa berhenti. Akan sikap Aldo. Pipinya terasa panas. 


"Muka kamu kenapa, Ra. Merah, sakit?" timpal Aldo lagi melihat wajah Rara menjadi merah padam.


"Apaan sih, Al. Nggak usah ngelus-ngelus rambut aku deh. Aku bukan kucing." Rara menyingkirkan tangan Aldo yang masih ada di atas kepala Rara.


"Aku juga nggak sakit."


Rara memutuskan untuk berpamitan ke kamar mandi dulu. Menenangkan hatinya yang sejak tadi tidak karuan berada di samping dekat Aldo.


Sampai di dalam toilet, Rara memegang dadanya. Seakan berderu kencang ada gejolak yang entah apa namanya.


"Aku kenapa sih? Kok jadi something gitu sama Aldo. Sialan." gerutu Rara lalu membasahi wajah dengan air. Untung make up nya waterfroop tak akan luntur meski hanya dibasahi air.


"Singkirkan dia dari pikiran kamu, Ra. Hempas."


Setelah hatinya cukup tenang Rara kembali ke mejanya  dan duduk. Sementara Abel dan Soni masih melihat ke arah pembawa acara yang masih memberikan lontaran-lontaran khusus untuk tamu. 


Aldo memandang Rara. "Kamu nggak apa-apa?" 


"I'm fine."


Rara menjawab tanpa melihat ke arah Aldo masih tetap duduk melihat ke arah MC. Menghindari itu tepatnya. Aldo menyadari bila ada sesuatu yang membuat Rara seperti itu. Dia tidak tahu apa. Dia pun lekas memperhatikan ke arah MC yang siap memberi doorprize untuk para tamu.


"Rara!" panggil Aldo. 


"Kenapa Aldo. Kamu kenapa sih. Aneh." balas Rara malas. 


"Kamu yang aneh." sahut Aldo cepat. 


"Aku?" Rara mengerutkan dahinya seakan dia tidak tahu apa-apa.


"Iya."


Sementara dua insan lainnya masih saja anteng dengan obrolan mereka tidak memperdulikan keadaan Aldo dan Rara yang masih berseteru hal yang tidak pasti.


"Kamu itu kayak menghindari aku."


•••


Kepulangan dari bidan Luna memutuskan untuk berbaring dikasurnya karena lumayan lelah efek aktivitas di luar sana tadi. Lalu Reza baru selesai mandi, berjalan menghampiri Luna yang sedang berbaring. Ia mendekati Luna berbaring di sisi, kemudian memeluk istrinya.


"Kamu dengar sendirikan, Aku nggak apa-apa. Ini wajar buat orang hamil." kata Luna kepada Reza agar pria itu tidak usah berpikir yang tidak-tidak akan kesehatan kehamilan Luna. Ia tahu Reza ingin menjaga Luna dan calon bayinya tapi harus tetap memberikan kenyaman juga untuk Luna.


"Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa. Aku kan suami siaga."


"Aku tahu itu, Mas. Terima kasih."


Tiba-tiba saja Reza terdiam, seperti memikirkan sesuatu yang Luna tidak tahu. Luna sudah hafal dengan sikap suaminya. Dan itu membuat Luna jadi gelisah. Reza membenarkan posisi tubuhnya yang tadinya miring ke samping menghadap Luna sekarang terlentang. Melihat ke arah langit-langit kamarnya. Luna bangun tergesa lalu duduk di sisi Reza.


"Kamu mikirin sesuatu... ?" tanya Luna, dia mulai tidak nyaman akan sikap Reza seperti ini. Pria itu menoleh lalu melakukan hal yang sama seperti Luna. Sekarang mereka saling berhadapan. Tapi posisi Luna duduk dengan kaki terlentang karena kakinya kebas.


Reza mengangguk. Lalu melihat Luna memijat kakinya sendiri.


"Sini mas yang pijitin kaki kamu." Kata Reza, dan menyingkirkan tangan Luna.


"Aku bisa sendiri." tolak Luna. 


"Nggak sayang, biar Mas aja. Kaki kamu semakin bengkak. Jadi kamu nggak usah banyak bergerak atau jalan-jalan."


"Iya, tapi Luna bete kalau harus duduk aja. Yang ada nanti aku dianggap manja. Kamu tahu kan kayak artis-artis disini. Masa hamil aja harus pake bangku kursi roda. Manja banget. Lebay."


"Orang kan beda-beda sayang. Biarin mereka melakukan hal yang menurut mereka baik untuk kehamilan mereka. Atau kamu mau juga kayak dia pake kursi roda?"


"Ogah deh. Malu tahu. Masa hamil begitu aja kemana-mana pake kursi roda. Aku masih bisa jalan. Dan berjalan sambil membawa beban calon bayi, itu lebih terasa menyenangkan buat aku sendiri."


"Ya, ampun. Aku nggak salah pilih cari istri."


Reza mengecup bibir Luna. Hanya menempel saja dan dia tahu kalau dia kelepasan, pasti dia sudah **** istrinya saat ini juga. Reza harus bisa mengurangi aktivitas bercintanya selama Luna hamil. Tak tidak mau mengambil resiko. Apalagi Luna sedang hamil kembar yang memang sangat beresiko untuk kehamilan anak kembarnya.


Setelah beberapa menit mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing tapi masih di atas kasur. Reza sibuk dengan pekerjaannya dan berkutat dengan laptopnya. Luna dengan ponselnya. 


Saat Luna sedang asyik melihat IG-nya sebuah chat masuk.


Group Geng Bajaj 


Rara   : Oi 🤗


Luna  : kenapa? 🤔


Abel   : Apa? 🙄


Rara  : Mau curcol 😝


Abel  : Gaya bener, mau curcol apa? 


Luna : Langsung aja to the point.


Luna : Pasti tentang cowok.


Rara : Kok tau sih.


Abel : Apalagi emangnya, yang jomblo kan Rara aja kita nggak. Hahahaha..  😁


Rara : Ledekin terooooooos sampai puas. 😠


Abel  : Luna yang hamil tapi kenapa kamu yang sensitif sih. Aldo aja bilang kamu itu aneh. Dan aku dengerin kalian ngobrol kayaknya kamu tuh nggak suka banget sih sama Aldo. Kenapa Rara?


Luna  : Tauh tuh, Rara. Kasian Aldo Rara jangan begitu.


Rara  : Kok bawa-bawa Aldo sih. Males kalau bahasa itu cowok. Nggak ada cowok lain apa yang mau dibahas. Aldo itu kalau ngomong pedes aku nggak suka.


Luna : Aldo nggak ada niat ngomong begitu Ra, dia cuma bercandain kamu. Nggak usah masukin hati. 


Abel : Bener Ra, jangan begitu. Nanti yang ada kamu jadi suka sama dia. Inget yang tadinya benci malah jadi cinta. Emang kamu nggak pernah baca gitu novel yang sering kamu baca. Macam CEO-CEO yang suka sama gadis biasa tapi gadisnya nggak suka. Eh lama-lama itu gadis suka juga sama itu cowok CEO.


Rara : Jangan sampe aku jatuh cintrong sama dia. Kayak nggak ada cowok lain aja. Dan aku juga nggak pernah baca tuh sama kisah yang kamu ceritakan itu. 🙄


Luna : Curcol apa ngomongin orang sih? Dosa tahu. Ra jangan bilang gitu tentang Aldo. Aku doain jodoh sama kamu. 🤔 Amin 🤲


Abel : Amin aja dah biar Rara dapet pasangan toh Aldo nggak jelek-jelek amat. Ganteng kok. Macam chef Juna. 😋😎


Rara : Amit-amit. 🤮


Luna : Rara nggak boleh bilang amit-amit. Nanti malah imut-imut. 😘


Abel : Iya Ra, nanti yang ada nggak ada yang mau sama kamu loh. 😁


Rara : Kalian jahaaaaaat.. 😭😭😭


Abel : Lah Rara kenapa nangis??? 


Luna : Hayo anak orang nangis… 


Rara : Gara-gara kalian berdua nieh 😭😭😭


Luna : Apakah salah kita berdua.. 


Abel : Tak taulah..


1 menit berlalu Rara keluar dari obrolan. 


Sementara Abel dan Luna masih berkecimpung di dalam group chat mereka..


Luna : Kayaknya Rara udin tidur.


Abel : Sepertinya begonoh. 


Luna : Good night Abel, Rara.


Abel : Night..


Luna menyimpan ponselnya di atas nakas dan melihat Reza pun sudah tertidur dengan laptop masih di atas badannya. Luna mengambil laptop Reza lalu di simpan di atas nakas dekat suaminya.


Mematikan lampu kamarnya sebelum itu dia juga mencium kening suaminya yang sudah tidur lelap dan berbisik di telinga Reza pelan. "I Love You." Luna pun tidur menyusul suaminya ke dalam dunia mimpi. 


♥♥♥