Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
42. Kejadian Masa Lalu



Empat tahun yang lalu


Seorang wanita duduk di tepi jalan menunggu seseorang untuk menjemputnya. Karena waktu sudah sore dia terus mengelus-ngeluskan perut buncitnya.


Sabar sayang ayah kalian pasti cepat datang. 


Sambil tidak sabar menunggu suaminya datang untuk menjemput wanita itu berjalan di tepi jalan dan membeli kebab turki makanan favoritnya dan dia memesan yang paling besar. Maklum hamil tua membuatnya semakin rakus.


Telepon masuk.


"Halo sayang?! kamu kok belum sampai. Lama banget." Suara wanita itu terdengar risih dan sambil ketepian jalan yang mulai sepi.


Karena biasa suasana ramai tapi hari ini terlihat lentang. Ada beberapa orang sama sepertinya menunggu dan orang berhilir mudik. Mungkin karena waktu suda


"Maafkan aku. Tadi aku menunggu klienku dia telat datang. Tapi aku sudah dalam perjalanan jadi nggak usah cemas. Kamu jangan beranjak dari situ." Yuda sedikit merasa bersalah pada istrinya. Semakin gusar. Entah kenapa?! 


"Iya. Tapi kelamaan Mas. Tahu begitu aku minta jemput Luna saja. Dia pasti sudah pulang sekolah dari tadi." keluhnya dan kembali mengelus perut besarnya. Seakan berbicara pada anak-anaknya untuk bersabar.


"Iya maaf. Kamu jangan ganggu Luna. Dia baru beres UAN. Pasti lagi kompoy sama Geng Bajaj. Tunggu sebentar lagi, Anggi sayang." ucap Yuda semakin kalut. Semakin cemas. 


"Hati-hati jangan ngebut-ngebut. Si kembar dalam perut nggak bisa diem dari tadi." Anggi merasa 


"Bilangin sama Deva dan Devo ayah akan segera datang."


"Yes sir. We are waiting for you. I love you."


"I love you too."


Menunggu hampir 30 menit Anggi terlihat lelah suaminya belum juga datang. Untung saja Anggi bisa menahan emosinya. Dan mengecek layar di ponselnya.


Jam sudah pukul 16.30 kebosanan melandanya seakan waktu berhenti.


Ia mengetik chat pada Luna dan mengambil selfi dengan mengangkat kedua jarinya berbentuk V mengikuti kebiasaan adiknya. Dan memberikan caption di bawah fotonya. 


To : Luna


Luna jelek. Apa foto ini cantik? Ini foto jangan sampai dihapus kakak buatnya susah payah tau harus angkat ponsel tinggi-tinggi, soalnya si kembar juga pengen ikutan. Selamat atas UAN kamu. Gapailah semua cita-citamu. Dan jangan malas belajar dan belajar. Buat bangga ayah sama mendiang ibu. Kita sayang kamu. Jaga diri yang baik. Jangan manja. 


Setelah mengirim chat. Anggi tersenyum. Karena adiknya ini selalu banyak cengcong kalau dikirim gambar dan caption yang panjang.


From: Luna


Tumben selfie. Ini cantik dan si kembar juga jadi tak sabar menunggu mereka lahir. Caption apa curhat panjang bener. Kayak pesan terakhir saja. Lebay. Aku juga sayang sama kak Anggi juga Deva sama Devo.


Melihat balasan dari Luna. Ia menyimpan ponsel ke dalam tasnya. Dan melihat ke sekitar jalan agar tidak membuatnya bosan.


Anggi melihat seekor anak kucing sedang diam memandangnya. Dan merasa kasihan dia berjalan sedikit ke tengah melihat ke segala arah. Setelah segalanya aman dia mengambil kucing itu dan malah anak kucing itu melompat dari genggaman Anggi. Beberapa detik kemudian. 


Anggi mendengar suara seorang wanita berteriak 'Awas' Hingga dia menoleh. Sebuah mobil dari arah belakang berkecepatan tinggi mengarahnya. Karena tidak bisa menghindari.


BRUUK!


Anggi terpental hingga beberapa meter jauhnya. Tubuhnya tergeletak kaku darah keluar dari  hidung, kepala, dan kakinya. Penglihatan semakin kabur. Berusaha untuk membuka mata namun tak bisa seakan tubuhnya sudah tidak mengikuti keinginannya. 


Semua orang berkerumun melihat tubuh Anggi yang tergeletak bukan hanya melihat tapi merekam kejadian naas itu seakan itu adalah tontonan. Memang kejadian ini tak banyak orang sehingga pelaku itu bebas dari amukan masa. Dan mobil itu jauh menghilang.


"Panggil ambulan bukan dilihat begitu. Pada goblok kalian." seru seorang pria paruh baya. 


Tak lama sebuah mobil berhenti tepat ditempat kejadian. Yuda melihat kerumunan di sekitar tempat. Sebelum itu dia menelpon istrinya namun tak kunjung diangkat. 


Namun nada dering itu terdengar di antara para kerumunan orang. Penasaran dia melangkahkan kakinya dan menyelinap penasaran.


Yuda terkejut saat kaki semakin kaku. Tubuhnya seakan tidak mau bergerak saat melihat tubuh istrinya tergeletak di jalan. Sontak Yuda berjalan ke arah Anggi dan memeluk erat tubuh istrinya.


"Anggi sayang bangun. Anggi please jangan tinggalin aku. Anggi buka mata kamu. Anggi aku mohon. Ini salahku. Anggi aku mohon." rintihan suara Yuda membuat orang disekitarnya ikut sedih. Suara tangis pecah begitu saja. Rasa bersalah dia rasakan. 


Dengan cepat dia membawa tubuh Anggi dengan ditolong beberapa orang yang membantunya. Dan seseorang juga membantu menyetir karena Yuda berada di kursi penumpang bersama Anggi. Darah dimana-mana. Membuat Yuda hancur.


Saat tiba rumah sakit. Tubuh Anggi langsung dibawa ke sebuah ruangan dan diikuti beberapa suster yang membantu. Yuda cepat menghubungi keluarganya dan juga keluarga dari Anggi.


Suasana cukup menegangkan karena sejak tadi dokter belum keluar. 


Langkah suara kaki terdengar di ujung lorong. Seorang gadis berbaju putih abu-abu berlari ke arahnya dengan suara tangis dan memanggil nama 'Anggi' istrinya. Luna gadis itu datang menghampirinya.


"Kak Anggi. Mas bagaimana sama Kak Anggi. Kenapa bisa begini. Jawab Mas. Kak Anggi… " teriak lirih suara tangis Luna saat mendengar kakaknya kecelakaan padahal baru saja dia dan kakaknya saling balas chat. 


Luna menangis. Tak percaya. Sementara Yuda hanya bisa mengelus punggung gadis itu dan menenangkan hati Luna. Meski dirinya juga sama tapi dia percaya kalau Anggi dan anaknya akan selamat.


Suara tangis Luna terhenti sesaat. Seorang dokter keluar dari ruangan tempat Anggi. 


"Dok bagaimana istri saya dan bayinya?" Yuda beranjak dari tempatnya menghampiri dokter itu. Begitu juga dengan Luna. 


"Istri anda banyak mengeluarkan darah sehingga kami harus mengambil stok darah. Tapi―"


"Tapi kenapa dok?"


"Anak anda tidak bisa diselamatkan. Dua bayi dalam kandungan meninggal di dalam karena benturan keras. Saya turut berduka."


Luna menutup mulutnya dan jatuh duduk dilantai tak percaya. Karena si kembar keponakannya tak bisa diselamatkan. Menangis hanya itu yang bisa dia rasakan. Begitu juga Yuda tak bisa menahan tangisannya. 


Pria berjas snelli itu menghampiri seorang dokter lainnya bersama seorang pria bersetelan jas yang tampak kacau balau tidak jauh dari tempat Luna berada.


"Ini gara-gara aku." sesal Yuda pada dirinya dan memukul kepalanya keras-keras. Ia merangkul dan kembali mengelus Luna yang sedang duduk di lantai tidak kuasa menahan rasa kesedihannya dan tangisannya. 


Suara seorang suster menghampiri dua dokter dengan tergesa-gesa seakan ada yang darurat didalam ruangan tempat Anggi berada. 


"Dok. Detak jantung pasien berhenti." sontak semua dokter itu pun berlarian masuk. Melihat ekspresi cemas dimuka suster dan dua dokter semakin membuat Luna dirunduk ketakutan.


Takut akan kehilangan kakaknya. Doa terus dia panjatkan di sela tangisan.


Dua dokter itu keluar dari ruangan kamar. Wajah tampak ada kesedihan dan kegusaran. Luna cepat menghampiri dokter itu.


"Dok?" singkat Yuda tampak cemas saat dokter itu diam sejenak menatapnya seakan mereka tak mampu mengeluarkan suaranya.


"Mohon maaf. Kami tak dapat menyelamatkan Istri anda. Dia meninggal karena kehilangan banyak darah. Kami turut berduka cita."


Deg! 


Jantung Luna terasa berhenti sesaat. Apa yang dia takutkan terjadi. Dia kehilangan keponakannya. Dan sekarang kehilangan Anggi kakaknya. Dunia kejam seakan mempermainkan dirinya.


"Kak Anggi kenapa tinggalin Luna. Aku mau lihat wajah Kak Anggi."


Luna menerobos pintu dan masuk. Begitu juga Yuda tak berdaya melihat tubuh Anggi sudah kaku dan diselimuti kain putih menutup seluruh tubuhnya.


"Maafkan Aku Anggi. Ini semua kesalahan ku. Harusnya aku nggak membiarkanmu menunggu."


•••


Mobil terus melaju tak karuan dengan tangannya masih bergetar hebat. Matanya menatap tajam ke arah depan. Merasa seseorang mengikuti dirinya. Dengan rasa ngeri dia terus melajukan mobilnya tanpa jeda dan tak ingin menoleh ke belakang.


"Bagaimana ini aku sudah tabrak orang." ucapnya sedikit kaku dan tak percaya seakan mimpi. Dia terus gelisah menelpon seseorang tapi tidak ada yang diangkat-angkat.


Aku harus bilang ke papah. Aku nggak mau dipenjara. 


Karena tidak ada tanggapan. Lalu Ia membanting ponselnya ke arah bangku penumpang. Ketakutan menyelimuti dirinya.


Ada keberuntungan padanya, karena tidak banyak orang menyaksikan kecelakaan ini. Seakan Tuhan melindunginya. Kalau tidak dia sudah dikelilingi amukan masa. 


Mobil merah memasuki perumahan besar dan masuk berjalan cepat kedalam rumah. Sosok wanita setengah baya menatapnya khawatir karena melihat putrinya berjalan tergesa-gesa dengan baju putih abu-abu yang masih melekat di badannya dengan banyak coretan.


"Kamu kenapa?" wanita itu tanya. Namun tidak dapat jawaban. Gadis itu terus berjalan naik dan memasuki kamarnya. 


"Dasar anak tidak sopan." gerutu wanita itu lagi. 


Sementara gadis itu menyelimuti dirinya dengan selimut. Ketakutan dia rasakan. Getaran tangan tak bisa ditenangkan. Mulutnya terus saja komat kamit dari mulutnya 


Aku tidak menabraknya


Aku bukan pembunuh


Aku tidak bersalah


Orang itu yang salah


Orang itu yang bodoh


Sialan!! 


Orang itu tidak mati kan? 


Dia selamatkan? 


Gadis itu terus mengucapkan kata-kata di setiap ketakutanya. Hingga dia terlelap sesaat. Seakan dirinya sudah kehabisan tenaganya. 


Dia berjalan di suatu tempat sepi. Melihat sekeliling jalan tak seorang pun terlihat. Melihat seorang wanita menangis duduk membelakangi dirinya.


Karena penasaran dia menghampiri wanita itu. 


"Mbak kamu kenapa? Kenapa banyak darah? Mbak harus kerumah sakit?"


Wanita itu diam. Tak menoleh. Gadis itu menyentuh bahu wanita itu pelan. 


Dibuat terkejut wanita itu berkata "Dasar pembunuh"


Gadis itu bangun dari tidurnya. Keringat dingin keluar dari tubuh dan keningnya. Merasa kembali ketakutan. 


Hanya mimpi


Tapi ketakutan itu semakin menjadi saat suara wanita itu terus membuatnya terngiang-ngiang menyebutnya seorang pembunuh.


Ia menutup telinganya seakan suara wanita itu bersarang di otak dan pikiran membuatnya terus berteriak. 


Aku bukan pembunuh


Aku bukan pembunuh


Aku bukan pembunuh


Terdengar ketukan pintu keras dari suara barito seorang pria memasuki kamar dan melihat ke arah putrinya sedang ketakutan. Ia melangkah maju dan duduk disamping gadis itu.


"Pah. Aku bukan pembunuh?" ucap gadis itu dalam tangisan dan ketakutannya matanya melebar.


"Ada apa. Bilang sama Papah?" pria itu ikut cemas saat dia melihat ketakutan putrinya. 


"Aku menabrak seseorang."


"Apa?"


"Tapi untung jalan lagi sepi aku langsung kabur."


Pria bertubuh gendut itu terkejut. Putrinya sudah menabrak orang. Dan tak tahu bagaimana nasib orang yang telah ditabraknya. Pikiran kembali kalut dan kasihan melihat putrinya terlihat ketakutan. 


"Kita harus bagaimana? Aku tak mau dipenjara."


"Tenang sayang itu tak akan terjadi. Papah akan melakukan sesuatu."


Pria itu terus berpikir.


Apa yang harus dia lakukan. Dan dia menelpon seseorang untuk membantunya. Karena dia tak ingin anaknya mendapat masalah apalagi harus dipenjara. Itu akan membuatnya malu. Dengan kelakuan putrinya. 


Dia terus saja menelpon nomor tersebut setelah beberapa kali dia menghubungi. Akhirnya pria diujung telpon mengangkatnya.


"Aku butuh bantuan." pria itu terdengar gusar dan berbicara dengan seseorang di ujung telepon.


Menceritakan segala sesuatunya pada pria yang diminta bantuan. Dan pria gendut mengangguk seolah pria diujung telepon memberikan perintah akan sesuatu mengenai putrinya. 


"Aku akan membayar berapapun. Asal ini semua ditutupi. Tak boleh ada yang tahu selain kita."


Pria itu menutup teleponnya dan menghampiri putrinya yang masih ketakutan. Gadis itu terus menangis dalam pelukan pria itu. 


"Tenang sayang semuanya akan baik-baik saja. Kamu hanya menuruti apa yang Papah bilang dan jangan bilang pada siapapun." pria itu terus menasehati putrinya. Dan terus memberikan ketenangan.


"Kamu harus tinggal di luar negri sekolah disana lupakan semuanya. Jangan kembali kalau Papah tidak menyuruhmu. Mengerti?!" timpalnya lagi. 


Gadis itu mengangguk setuju. "Alisha mengerti."


♥♥♥