
♥♥♥
Hari ini sungguh menyebalkan, perasaan Luna tidak menentu karena beberapa hari lagi ia akan melakukan sidang.
Karena sering banyak main dan banyak masalah dia sampai sempat menghafal semuanya, meski begitu ia tetap yakin bisa lulus karena ia sudah punya surat keterangan magang sebagai syarat kelulusannya, dan sidang skripsi hanya nilai tambahan untuk IPK dan SKS nya.
Luna keluar dari ruangan dosen dan mengerjakan langsung sisanya diperpustakaan, dan hanya butuh empat jam lebih ia bisa tuntaskan semua kesalahannya dengan print, foto copy dan menjilid ulang tugasnya.
Setelah semuannya selesai ia memberikan kembali hasilnya, dan ya akhirnya benar semua tidak ada kesalahan dan menunggu sidang dilaksananya.
Cukup capai dia berada dikampus, dan berminat untuk makan, tiba-tiba Rara mengagetkan dirinya terhentak.
BRAK!!
"Konyol banget sih buat aku jantungan tahu nggak?" ucapnya kaget.
Rara mengangkat bahu, "Sorry nggak niat buat kamu jantungan kok".
Luna mendengus dan senyun kesal. "Dasar nyebelin, aku lapar kita makan diluar yuk".
Ia pun meringis, "Sama aku juga lapar, mau makan dimana?" tanya Rara.
Kening berkerut, "Dimana ya?" Luna sembari mencari referensi makan siangnya.
"Mau makan pasta?" saran Rara.
"Boleh, sudah lama kita tidak makan pasta. Dimana?".
"Dekat sini ada restoran italy lumayan viewnya bagus mau kesana?".
"Boleh" lalu suara Luna terdengar ragu, "Apa nama restorannya?"
"Gelando, namanya. Tenang bukan Lotto milik Aldo kok" serunya cepat.
Keduanya pun bergegas menuju parkiran mobil, dan melaju ketempat tujuan mereka. Karena hanya berdua Rara dan Luna merasa ada yang kurang, siapa lagi kalau bukan Abel dia sudah kembali lagi kuliah dibelanda.
Tapi niatnya kesana untuk segera mengurus kepindahannya dan memilih untuk melanjutkan kembali diindonesia tepatnya universitas yang sama dengan Rara dan Luna.
Cukup Lima belas menit mereka untuk sampai direstoran, mereka bergegas masuk kedalam dan restoran ini cukup keren dengan view berwarna putih susu sebagai ciri khas restoran ini.
Kami disambut satu pelayan pria cukup tampan dan mempersilahkan keduanya duduk dibagian sisi restoran dekat lukisan seoraang pria sedang memakai pakaian khas orang italy terlihat gagah.
"Ini menunya silahkan dipilih" Pelayan pria itu menyodorkan sebuah buku menu berwarna hijau dan sangat elegant.
"Kamu mau pesan apa, Lun?" tanya Rara melihat semua menu yang ada didaftar.
"Aku mau, Pasta Primavera, Lagsana dan minumnya Apricot Spritz itu saja mas" kata Luna memgembalikan darftar menu itu pada pelayan tersebut.
"Aku juga sama deh, makan dan minumnya, tapi bedanya aku mau Fettuccine" ucap Rara sedikit bingung dengan menu disini tidak seperti restoran Aldo cukup tahu menu disana.
"Baik, saya akan cek kembali menu yang sudah dipesan. Pasta primavera 2, Apricot spritz 2, Lagsana dan Fettuccine satu".
"Iya" balas Luna dan Rara bersamaan.
Setelah kepergian pelayan pria itu dengan pesanannya dan keduanya menuggu pesanan makanan datang sembari mengobrol, agar tidak bosan menunggu makanan dihidangkan.
"Jadi, tinggal sidang skripsi aja?" Rara bertanya dan menyakinkannya.
"Iya. Tinggal sidang saja. Memangnya kamu belum selesai sama skripsinya?". Kata Luna dan bertanya balik, karena temannya ini hanya mengambil passion TA Skripsi berbeda dengan Luna yang ingin cepat selesai dan cepat juga wisuda.
"Sudah. Tapi pesimis gak akan lulus". ucapnya Rara dengan nada sedikit sumbang.
"Belum juga dicoba, semangat dong". Luna memberi semangat temannya yang terlihat lesu.
"kamu sih semangat karena bentar lagi wisuda, dan cepat pula dilamar Mas Reza". Ejeknya menompang wajah dikedua tangan diatas meja.
"Apaan sih, aku cepat lulus buat wisuda nggak hubungannya sama lamaran dia". Sahut Luna, kalau dipikir kembali saat nanti lulus apa Mas Reza beneran akan melamarnya? Ada rasa sesal kenapa dulu Luna harus binggung menjawab lamaran Reza saat itu.
Bodoh!
"Kamu tahukan kalau dia itu udah kebelet pengen nikah, dia pria normal Luna. Pria yang siap lahir batin akan bisa melindungi dan menjaga kamu seutuhnya. Apa lagi yang kamu cari lagi sosok Reza yang menurut aku dia itu sempurna".
"Aku tahu. Aku juga mengerti dan aku juga sudah siap sebenarnya kalau Mas Reza kembali lamar aku lagi―"
Rara mengerutkan dahinya, "Tunggu? Lamar lagi? memangnya Mas Reza pernah melamar kamu sebelumnya?", tanyanya penasaran.
"Pernah! Aku belum jawab sih, dulu aku masih bimbang dan takut" balasnya.
"Kenapa Luna? Kamu masih ada rasa cemas dalam menjalin hubungan sama seseorang, aku tahu tapi semua pria itu tidak sama kayak Aldo. Nggak semua orang begitu".
"Iya, sekarang aku sudah buang pikiran itu dan siap buat terima itu semua. Aku juga nggak mau kalau Mas Reza tinggalin aku atau kelain hati".
"Gitu dong, buat Mas Reza jadi milik kamu seutuhnya. Kamu tahu sendiri banyak wanita yang siap gantiin posisi kamu. Dia itu punya wajah oke, body oke, jabatan oke, dari keluarga kaya pula. Lengkap semua itu nggak ada kekurangan dan satu lagi plus bocah kecil sebagai pelengkap kalian". Rara sumbringah dengan ucapannya sendiri.
"Kamu bisa saja"
Makanan pun terhidang dimeja mereka dengan semua pesanan keduanya, melihat makanan yang membuat mengiler Luna dan Rara menyantap makananya dengan lahap karena seharian ini sudah banyak tugas dia kerjakan.
Selesai menikmati makanannya, Luna melihat sosok Aldo sedang berjabat tangan dengan seseorang pria dengan pakaian chef disebrang meja Luna dan Rara tempati.
Melihat keberadaan Luna dan Rara, Aldo tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju meja keduanya dengan santai.
Luna menelan salivanya, "Mau ngapain kamu kesini, kita nggak suruh kamu duduk disini loh" ucapnya Luna sinis.
Aldo menatap heran dengan sikap Luna, yang selalu memperlihatkan sikap tidak sukanya terhadapnya dan memang Aldo tidak akan pernah pungkiri kalau Luna belum bisa memaafkanya.
"Judes banget sih. Masa aku harus abaikan seseorang yang aku kenal, itu bukan Aldo namanya" tungkasnya percaya diri.
"Memang kamu itu harus dibegitukan" ucapnya sejenak, "Lagian kamu ada perlu sama kita berdua?" kata Luna menekan.
Rara hanya diam menikmati minumnya dan menatap keduanya bergilir tak mau ikut campur. Karena Rara ingin masalah keduanya cepat selesai.
"Iya aku perlu ngomong sama kamu?" serunya yakin memandang Luna inten.
"Kalau begitu, aku dimeja lain saja ya. Kalau kalian mau bicara serius?" ucap Rara.
Sebelum Rara bergegas, Luna menahan tangannya, "Nggak usah lagian obrolan kita juga nggak penting".
Rara kembali duduk setelah Luna memintanya jangan pergi.
"Jadi mau bicara apa?" Luna menatap tajam dan menopang kedua tangannya didadanya.
Aldo menghela napas pelan, "Aku mau kamu maafkan aku?" ucapnya.
"Aku maafkan" seru Luna mantap masih dengan posisi yang sama.
"Kamu maafkan? Benar?".
"Iya" singkatnya tak mau berbelit-belit.
Rara mendengarnya pun heran, Luna dengan santai memaafkan Aldo. Dan ia tahu sekarang temannya ini sudah berubah menjadi lebih dewasa.
"Tapi kenapa sikap kamu masih sinis sama aku?" Aldo memperhatikan wajah Luna sejak tadi menatap tajam kearahnya.
"Memangnya nggak boleh, yang penting aku sudah maafkan kamu kan. Dan apa ada lagi yang mau kamu bicarakan sebelum aku mulai menanyakan sesuatu sama kamu"Jelasnya.
Aldo memberanikan diri, "Apa dihati kamu tidak ada sedikit perasaan padaku?" tanyanya.
Sementara Rara terkejut dengan ungkapan Aldo yang percaya diri.
Dasar Aldo bucin, dalam hati Rara.
Luna tersenyum dingin, "Nggak ada sama sekali, Aldo Mahendra. Hati aku buat kamu sudah aku buang saat hari itu" seru Luna santai.
Aldo merasa hatinya pecah berkeping-keping seperti kaca jendela yang jatuh kelantai, wanita dihadapanya sudah berubah bukan Luna yang dulu lagi. Dan semua itu karena ulahnya sendiri.
"Oke, aku akan buat hati kamu terisi kembali denganku Luna" yakin Aldo dengan ucapannya.
"Silahkan kalau kamu bisa".
Luna menantang Aldo, karena buatnya hal itu tidak akan terjadi dan tidak akan pernah sama sekali terjadi. Karena sekarang hanya Reza yang ada dihatinya selamanya hanya pria itu bukan kamu Aldo.
"Sekarang giliran aku berbicara, kenapa kamu sampai pukulin Mas Reza sampai memar begitu?". ucap Luna meski sudah tahu alasanya tapi dia ingin tahu langsung dimulut pria itu langsung.
"Apa dia mengandu sama kamu, manja sekali?" Ledek Aldo dan mungkin membuat wanita itu kesal.
Luna diam sejenak, "Aku yang minta dia jujur siapa yang buat dia terluka, karena kamu tahu aku mau membalas perbuatan orang itu, dan memukulnya balik". kata Luna dengan ambisinya.
Aldo senyum mendenagr ucapan wanita dihadapanya, "Kamu mau pukul balik atas perbuatan yang aku lakukan sama kekasih kamu? Wow sangat romantis sekali Luna, kamu memang tipeku dulu maupun sekarang karena sikap kamu ini yang buat aku cinta sama kamu". Aldo merasa iri dengan Reza yang selalu mendapat apa yang dimau.
"Gombalan kamu nggak mempan sama aku. Dan Kamu takut dengan pukulan aku? Jangan-jangan kamu sudah lupa kalau aku ini dulu anak karate disekolah".
"Tentu saja aku nggak takut dan ingat. Aku juga masih merasa kalau tamparan yang kamu kasih tempo dulu berbekas dihati aku sampai sekarang".
"Jadi?"
BUKK!
Rara menatap terkejut, tanpa aba-aba Luna sudah meninju Aldo dihadapannya hampir terjatuh dari kursinya untung pria itu bisa menahan dengan tangan sigapnya.
Kepalan tangan Luna terasa bergetar hebat tapi tidak merasa sakit, berbeda dengan Aldo yang merasa kesakitan sehingga membuat bibirnya sedit terluka.
Orang-orang disekitar sangat terkejut dengan sikap Luna diluar presepsi mereka, saat seorang pelayan menghampiri membantu Aldo, tapi ia menolaknya dan senyum kesakitan.
Rara membayar semua hidangan saat pelayan itu berada didekat meja ketiganya.
Sebelum Luna dan Rara bergegas keluar, Aldo berkata sesuatu, "Apa sekarang kamu merasa lega?" ringisnya.
"Sangat lega" ucapnya, "Ah! Satu lagi jangan pernah berpikir untuk memisahkan aku sama Mas Reza karena itu nggak terjadi. Inget itu" kata Luna pergi begitu saja dan merasa lega sudah meluapkan emosinya sekarang pada Aldo.
"Kamu wonder woman banget Lun". Rara takjub dengan temannya, memang bukan yang pertama kali ia melihat Luna memukul cowok.
Jauh sebelumnya saat SMA dia adalah preman disekolahnya karena penampilannya yang cukup tomboy, tapi pesonanya tak kalah dari cewek populer disana.
Dan berjalan terus tanpa melihat kebelakang, karena ia tahu kalau sekarang ia menjadi sorotan oleh orang direstoran.
Sementara Aldo yang masih diam dengan luka dibibirnya masih belum berajak dari tempatnya, sampai seorang teman yang sebelumnya bersamanya datang, membantu Aldo bangun dari kursinya.
•••
"Kamu kok senyum-senyum sendiri?" ucap Reza melihat Luna disisi kemudinya terlihat aneh.
"Aku lagi senang aja" balasnya sumbringah menoleh kearah Reza yang sedang menyetir mobilnya.
"Tentang apa?" tanyanya penasaran.
"Skripsi aku sudah diterima, dan tiga hari lagi aku sidang", kata Luna berbohong padal dirinya senang bisa membalas pukulan Aldo.
"Oh aku kira apa, semoga sidangnya lancar dan kamu cepat wisuda".
"Amin, terima kasih buat dukungannya selama ini".
"Kita kan memang harus saling mendukung satu sama lain".
"Oh iya kamu sudah hubungin ayah kamu? Dia sudah sampai belum". tanya Luna, bila ayahnya lebih dulu sampai tidak menutup kemungkinan akan bertemu ayahnya lebih cepat.
"Belum, dia masih dijalan kok" balasnya.
Setelah perjalanan menuju restoran hotel tempat dimana Ayahnya tinggal, Luna dan Reza bergegas masuk kerestoran western dan tampak seorang pria setengah baya menunggu kedatangan keduanya.
"Ayah, maaf menunggu lama" Luna mencium pipi ayahnya lembut dan duduk disebelah begitu pula Reza duduk disamping Luna.
"Ayah juga baru datang kok" balas pria itu terlihat sehat seperti sedia kala.
"Bagaimana sama Ayah kamu, kok belum datang?" tanya Gerraldy ingin tahu.
Sebelum menjawab Reza sudah melihat Ayah dan Ibunya berjalan menuju meja yang Reza tempati, dan tanpa tahu keberadaan Gerraldy yang posisinya ada tepat didepan belakang ayahnya.
"Itu mereka" tunjuknya.
Hanya Luna yang menoleh pada sosok pria tinggi besar dan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan gaun malam berwarna maroon melekat ditubunya.
Luna dan Gerraldy berdiri untuk menyambut kedatangan orang tua Reza, namun terkejutnya Galang saat melihat temannya berada dihadapannya sekarang.
"Kodok, ngapain kamu disini?" seru tanpa basa-basi dan spontan melihat keberadaan Gerraldy disini.
"Eh curut ada disini juga. Aku lagi nunggu kalian?" cetusnya menatap kearah Galang yang terlihat terkejut begitu pula Yunita istrinya.
"Jadi. kamu itu ayah dari pacarnya Reza, bagaimana bisa?". Galang masih terkejut.
Gerraldy mengangkat bahunya, "Aku juga nggak tahu, tanya anak-anak saja" ucapnya.
Mereka semua duduk berdampingan dan memutuskan untuk melanjutkan kembali obrolan yang sempat tertunda tadi sampai menunggu hidangan tersaji.
"So, Kalian bagaimana bisa berhubungan ayah masih nggak percaya loh?" kata Galang menatap intens keduannya.
Karena dulu Luna dan Reza sempat mereka Jodohkan namun keduanya menolak, terutama Reza.
"Luna itu mahasiswanya Mas Abdul yah. Terus dia juga magang dikantor Reza. Soal gimana kita bisa pacaran, itu mengalir begitu saja". Jelas Reza pada ayahnya terlihat antusias.
"Ini loh, yang dimaksud Biboy" ucap Galang menoleh pada Yunita dan kembali mengarahkan pandangannya kearah Luna.
"Oh! Jadi ini Mommy Biboy", sahutnya membuat Luna merona malu.
Gerraldy tidak mengerti dengan ucapan kedua orang tua Reza, "Hei curut maksudnya apa?", sahutnya binggung.
"Biboy manggil Luna anak kamu sebutan Mommy, aku gitu saja nggak paham, kodok-kodok" keluhnya merasa Gerraldy tidak cekatan memahami semuanya karena memang dia itu sedikit Lola.
Ayah Luna menatap tajam kearah Reza dan berbicara.
"Dan kamu Reza kenapa Biboy tidak kamu ajak kemari, bukannya mau kenalin dia sama Om?" keluh Gerraldy pada Reza tidak sempat memperkenalkan anaknya.
Reza menggaruk kepalanya, "Maaf aku lupa" ucapnya merasa bersalah.
"Ayah kan tahu, kemarin itu Mas Reza sedang sibuk sama kerjaanya, ditambah ayah masuk rumah sakit". Bela Luna pada kekasihnya.
Galang menggelengkan kepala pelan, "Salah kamu sendiri kenapa masuk rumah sakit, ditambah nggak kabarin aku kalau kamu kecelakaan. Kamu pikir aku ini siapa hah?" Galang kesal dengan mengepal Gerraldy yang selalu berdiam diri tidak mau merepotkan orang disekitarnya.
Galang dan Gerraldy memang teman baik sejak kuliah diparis, dan mereka mempunyai nama panggilan yang cukup ekstrim yaitu Curut dan Kodok panggilann itu begitu saja keluar dari mulut mereka sampai sekarang masih mereka lakukan, padahal keduanya sudah tua perbedaan umur mereka berbeda tiga tahun, Galang lebih tua dari Gerraldy tapi mereka tidak memandang usia saat berteman.
"Kamu kan tahu aku kayak apa. Lagian kita kesini buat bahas anak-anak kita, bukan bahas kita yang sudah tua bangka ini" protesnya dan mengingatkan kembali kedatangan mereka kesini.
Selama percakapan Gerraldy dan Galang berseturu dan hampir melupakan keberadaan Luna dan Reza yang sejak tadi hanya berdiam diri dan memperhatikan orangtua mereka yang begitu akrab.
"Maafkan dua pria ini ya, mereka kalau sudah ketemu begitu, lupa sama disekitarnya. Aku sih sudah biasa dibegituin" seru Yunita memandang kearah Reza dan Luna yang sedikit bingung denga acara malam ini tidak sesuai presepsinya.
Seorang pelayan datang meletakan semua hidangan yang sudah dipesan, dan pergi kembali saat semuanya sudah tersedia dimeja makan.
Menikmati hidangan dengan pembicaraan ringan untuk sekedar memberikan pertanyaan atau menjawab semua yang mereka ingin tahu.
Selesai dengan makannya, mereka mengelap ujung mulut mereka dengan tissu atau serbet putih dengan waktu yamg cukup bersamaan. Dan menikmati wine sebagai teman obrolan mereka, tapi Luna dan Yunita tidak meminum wine, hanya air putih yang mereka minum.
"Kalian serius sama hubungan kalian kedepannya?" tanya Galang kepada Luna maupun Reza dan memulai pembicaraan yang fokus pada anak-anak mereka.
"Kita serius", ucap Luna dan Reza bersamaan.
"Kalau kalian serius. Kapan kalian siap untuk kejenjang pernikahan? Jalan lama-lama menjalin hubungan nggak bagus untuk kalian, yang ada nanti menimbang kembali perasaan kalian, kalau memang mantap disegerakan saja, benar nggak curut?" Gerraldy menjelaskan semuanya pada Reza dan Luna.
"Benar banget, contoh mertua kamu Reza dulu waktu Gege ketemu Ibunya Luna, dia langsung ajak Lestari nikah padahal baru tiga hari ketemu", ucap Galang bernostalgia.
Reza dan Luna terkejut, "Tiga hari?" ucapnya hampir bersamaan.
"Iya, ayah liat ibu kamu pada pandangan pertama, dan ayah memutuskan untuk menikah dan melamar Lestari kerumah orangtuanya dan disambut baik oleh kedua orangtua Lestari". kata Gerraldy cerita tentang masa perkenalan dengan mendiang istrinya.
"Aku nunggu Luna wisuda, baru Reza niat untuk melamar Luna". Ujar Reza menghela napas pelan dan sedikit gugup.
Luna menoleh pada pria dihadapanya dan memegang erat tangan Reza yang terlihat gugup.
"Kenapa harus menunggu Luna wisuda, nak?" Sahut Yunita geram.
Reza menoleh kearah Luna sekilas, "Aku nggak mau ganggu kuliahnya Luna" tungkasnya.
"Luna kan sudah mau sidang dan tidak ada kegitan kuliahnya yang terganggu sekarang ini, iya kan Luna?" Gerraldy bertanya pada anaknya terlihat pucat.
Deg!
Jantung Luna pun bergetar hebat dan keringat dingin.
"Iya―Luna udah siap kok". Luna benar-benar gugup setengah mati.
Reza lumayan terkejut dengan ucapan kekasihnya yang sudah siap, bila Reza melamarnya sebelum wisuda.
"Dengarkan Luna sudah siap katanya" seru Galang menatap wajah Reza yang sedikit kaku. "Mumpung masih ada Gege disini" katanya.
"Aku besok pulang ke Jerman, curut". protesnya Gerraldy.
"Tunda dulu, anak aku mau lamar anak kamu, kodok", jelasnya Galang. "Tiket aku yang bayar, kalau nggak kamu pake pesawat Jet aku buat balik ke Jerman" tegasnya.
"Nggak bisa. Lagian acara lamaran nggak bisa mendadak begitu saja, Jessy dan adik kecil Luna juga harus ada saat acara lamaran. Bagaimana kalau dua minggu lagi acara lamarannya?" pungkas Gerraldy menatap penuh harapan pada Galang yang memang ingin segara melamar anaknya.
"Kalau Reza bagaimana kalian saja" ucap Reza tidak ingin ambil pusing toh yang terpenting dia dan Luna bisa cepat menikah.
"Luna juga bagaimana baiknya" kata Luna juga tidak.
Setelah perbicaraan ini kedua orang tua mereka sepakat untuk mengadakan acara lamarannya dua minggu lagi karena Gerraldy harus kembali ke Jerman untuk masalah pekerjaannya yang memang tidak bisa ditunda.
Betul memang kata orangtua mereka, bahwa tidak butuh lama untuk seseorang serius tentang sebuah pernikahan, kalau keduanya siap dan mantap untuk menikah kenapa harus menunggu berhubungan lama ataupun menunggu waktu yang pas, toh hubungan tidak mematok kelanggengan pernikahan dan waktu semuanya itu baik tidak ada yang buruk.
♥♥♥