
♥♥♥
"Ayah makan yang banyak nanti ayah makin sakit?" Luna menyuapi ayahnya karena tidak mau makan, dan bersikap manja mengeluh dengan makananya.
"Luna, ayah nggak mau makanan rumah sakit nggak enak". keluhnya menolak suapan Luna.
"Memang mau makan apa? Nanti Luna belikan diluar". Luna kesal.
"Nggak usah calon mantu ayah bentar lagi sampai, bawa pesan ayah". Gerraldy membuang muka kearah pintu.
"Ayah, jangan suka ngerepotin Mas Reza deh". protesnya.
"Mumpung masih dijakarta, ayah manfaatin dia". Seru Gerraldy.
Dan keduanya tertawa.
Sambil menunggu kedatangan Reza, Luna memberikan ayahnya potongan buah apel sebagai ganjelan sampai Reza tiba dengan membawa makanan yang dimau oleh ayahnya.
Beberapa menit kemudian Reza dan Barrack datang dengan sebuah jinjingan tas, dan ternyata isinya minuman, makanan dan snack ringan.
"Ini soto mang oding yang Om mau" Reza menujuk kantong plastik putih berisi soto kesukaan ayahnya.
"Terima kasih. Calon mantu yang baik" Godanya
Calon mantu?
Reza hanya tersenyum senang karena dapet panggilan itu padanya.
Dan Luna memindahkan sotonya kedalam mangkuk dan nasi hangat sebagai tambahanya. Tapi ayahnya menolak untuk disuapi dan memilih makan sendiri.
Luna berjalan kearah Reza dan Barrack yang sudah menyiapkan sarapan pagi ini, ia tersenyum karena kedua pria ini sudah akrab dan menyiapkan semuanya bersama-sama.
"Aku belikan bubur tempat kesukaan kamu" Reza menyerahkan bubur yang sudah dihidangkan olehnya seperti dan siap dinikmati Luna.
"Terima kasih" singkatnya.
Barrack berpindah tempat untuk menemani ayahnya makan. Dan meninggalkan Luna dan Reza berdua saja.
"Habiskan makan yang banyak, hari ini kamu kuliahkan?" kata Reza perhatian dan melihat Luna menikmati makananya.
"Iya, cuma mau kasih laporan hasil magang aja" jawab Luna.
"Aku anterin kamu"
"Nggak usah aku bisa sendiri, kamu kan harus kekantor. Aku nggak mau ganggu kerjaan kamu".
"Aku nggak mau penolakan. Aku anterin kamu. Soal kerjaan aku kan Boss nya bebas mau masuk apa nggak. Ada Soni yang setiap saat kasih tahu aku. Ok?". Reza sedikit angkuh.
"Boss Sombong". Cetus Luna.
Reza merasa gemas melihat sikap Luna yang membuatnya selalu tertawa, "Apa kamu bilang? Sombong? Tapi kamu cintakan?" Reza menekan pipi Luna gemas.
"Iya, cinta banget". ucap Luna mengecup singat bibir kekasihnya dan Reza membalas ciuman dengan singkat juga karena ada ayahnya dan Barrack berada diruangan.
Sedangkan Gerraldy dan Barrack melihat kemesraan mereka berdua mereka sangat senang, karena Luna bisa menemukan sosok pria yang bisa melindunginya.
Mungkin setelah kepulangan keduanya, Gerraldy bisa tenang meninggalkan Luna bersama Reza karena ia sangat khawatir bila putrinya sendirian disini.
Tadinya setelah wisuda nanti ia mau membawa Luna ke Jerman untuk tinggal bersama disana. Tapi setelah melihat senyum itu ia mengurung niatnya lagi, semua ada ditangan putrinya.
Luna menghampiri ayahnya, "Ayah, aku berangkat dulu. Mau kekampus kalau ada apa-apa hubungin aku secepatnya". ucapnya.
"Iya, putri ayah. Kamu kapan wisuda?". Pria itu mengelus pelan pangkal rambut Luna yang duduk disamping ranjangnya.
"Dua bulan lagi sebelum sidang skripsi, kalian harus datang nggak boleh nggak datang?". Luna berharap karena kedatangan keluarga adalah hal yang paling berarti dibandingkan wisudanya.
"Kita semua akan datang, kamu jangan khawatir". pria itu mengelus lembut ujung rambut Luna.
"Ayah janji?". tanya Luna.
"Iya, janji". Mereka mengikat jari kelingking sebagai janjinya.
"Aku berangkat, yah. Barrack jagain ayah". Luna memeluk ayahnya sebelum pergi dan menoleh pada adiknya agar menjaga ayahnya.
"Ok". singkat Barrack tak banyak bicara karena dirinya masih mengunyah makanan dalam mulutnya.
Sepulangnya dari rumah sakit Luna dan Reza pulang terlebih dahulu keapartemenya untuk mengganti pakaian dan mengambil berkas laporan yang akan diserahkan ke dosen pembimbing.
Perjalanan menuju kampus cukup singkat hanya butuh 30 menit, dalam mobil Reza sedikit pendiam entah kenapa seperti ada yang ingin ia sampaikan tapi ia tidak utarakan.
Luna memandang sekilas kearah Reza, " Mas, kamu lagi mikirin sesuatu?" tanya penasaran.
"Kelihatan banget ya?" balasnya membenarkan.
"Tentang apa?" tanya Luna juga penasaran.
Reza mengerutkan dahinya, "Kamu nggak mau cerita atau sesuatu yang mau kamu sampaikan ke aku?" Reza membalikan pertanyaan.
"Kok balik nanya, aku binggung jadinya?" Luna semakin bingung dan tidak mengerti, apa maksud dari pria disampingnya "Aku nggak ada yang mau diomongin atau pun disampaikan". ucapnya sendiri tidak mengerti.
"Ya sudah lupakan saja" sahut Reza kembali fokus menyetir.
"Kok begitu? Kamu ini aneh deh, tadi perasaan nggak kenapa-kenapa. Aku buat salah sama kamu?" Luna sedikit kesal dengan obrolannya yang jelas ditambah kekasih malah bersikap aneh apa coba yang salah disini.
"Kamu nggak salah. Aku kan sudah bilang lupakan" tekannya merasa percuma toh Luna nggak ngerti maksudnya. Reza merasa salah kenapa pikirannya akhir-akhir ini selalu pada Luna dan Aldo. Apa hubungan mereka, apa mantan yang dimaksud Luna adalah Aldo dan sebaliknya juga.
Tatapan saat mereka bertemu seperti ada sesuatu yang ingin disembunyikan.
Lupakan. Toh mereka hanya mantan kalau memang pernah berhubungan.
"Kamu yang suruh aku lupain, aku lupain" sesalnya dengan sikap Reza yang membuatnya jadi kepikiran.
Sesampainya digerbang kampus Luna bergegas keluar mobil, namun sebelum itu dia mencium punggung Reza lembut dan berpamitan, meski sikapnya sedikit aneh tapi Luna tau Reza sedang memikirkan sesuatu karena kebiasaanya selalu mendiamkan dirinya tanpa sebab.
"Jangan genit sama mahasiswa lain". kata Reza takut bila kekasihnya ini dekat dengan pria lain.
"Aku nggak akan godain mereka, tapi mereka yang godain aku duluan". balas Luna dan bergegas keluar dari mobil dan meninggalkan Reza.
Dan karena kesal Luna malas bila harus menoleh lagi kebelakang dan terus berjalan masuk kearea kampusnya.
Reza masih memandang kepergian kekasihnya, sampai sosok itu hilang dari perantara.
Dan menutup jendelanya dan melajukan mobilnya ke kantornya.
•••
Siang itu, Reza masih terus berkutat dengan kerjaannya, dering ponsel menunjukkan panggilan masuk dan menjawab penggilan itu saat nama Aldo tertera dilayar ponselnya.
Aldo mengatakan, bahwa dirinya ingin bertemu dan membicarakan sesuatu direstorannya didekat kantor. Tanpa menunggu waktu lama, Reza mengenakan jas nya kembali yang sempat ia buka sebelumnya dikursi kerjanya.
"Ah sial―" ucapnya tak tahu kenapa.
Pria itu keluar dari perusahaan dan memutuskan untuk berjalan kaki, karena kebetulan restoran Reza tidak jauh dengan kantornya. Sepanjang jalan dia merasa banyak wanita yang memperhatikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya memang cukup mempesona, tapi dia tidak peduli.
Setelah sampai didepan sebuah restoran italy seseorang sudah menunggu didepan pintu dengan ekspresi tak bisa biasa ditebak.
Reza mengikuti Aldo memasuki sebuah ruangan kantor yang cukup besar, dan sudah disediakan secangkir kopi yang masih panas mengebul.
Keduanya duduk disofa, "Jadi apa yang mau kamu bicarakan sama?" ucap Reza sedikit dingin.
"Kita makan dulu, aku sudah siapkan buat kamu, Mas?" sela Aldo tidak mau langsung pada intinya saja. Dan melihat sosok Reza yang sangat penasaran maksud tujuannya bertemu hari ini.
"Ok" singkatnya.
Seseorang masuk kedalam ruangan dan berjalan menghampiri mereka dengan hidangan yang sering dia pesan dan dia sukai saat makan disini.
Keduanya menikmati dahulu makananya, "Jadi kapan Mas kenal sama Luna?" tanya Aldo penasaran.
Reza menoleh sesaat dan menjawab, " Belum lama, aku kenal dia saat dirumah sakit. Dia mahasiswa Mas Abdul dikampus. Dan Luna juga magang dikantor, Mas" ucapnya.
"Dia magang dikantor Mas, pantas saj dia makan siang disini waktu itu" kata Aldo sedikit mengingatkan.
Reza merasa geram, dan meletakan garfu dan pisau nya diatas piring dan mengelap mulutnya dengan tissu, dan minum agar tenggorokannya lebih nyaman saat mengobrol "Jadi bisa kita mulai pembicaraannya, aku lagi sibuk hari ini" gerutunya.
Sama seperti Reza, Aldo melakukan hal yang sama.
"Luna? Apa maksud kamu? langsung intinya saja nggak usah berbelit-belit" ucap Reza sedikit emosi karena pembicaraan ini berhubungan dengan Luna kekasihnya.
"Wanita yang selama ini aku bicarakan adalah Luna, wanita itu yang sangat aku cintai sampai sekarang". Jelasnya Aldo berani mengungkapkan semua pada Reza yang sekarang ia tahu adalah kekasihnya.
Reza tidak terkejut, karena tebaknya benar mereka memang pernah ada sesuatu. Tapi entah kenapa saat kebenaran ini terungkap hatinya begitu sakit dan tak tenang saat Reza sudah wanita yang selama ini dibicarakannya adalah kekasihnya.
"Apa maksud kamu bicara itu sama, Mas?". Reza geram rasanya ingin meninju wajah pria dihadapanya, namun ia masih bisa mengatur emosinya.
"Mas, pernah bilangkan sama aku kalau aku harus berjuang buat dapetin dia?" Aldo mentap tajam dengan mengingatkan kembali ucapan Reza dulu.
Entah kenapa diri Aldo begitu blak-blakkan dengan perasaannya dan ingin memiliki kembali Luna yang sangat ia cintai sampai saat ini.
Reza berdiri dan menarik kerah kemeja Aldo kuat, "Kamu mau ambil Luna dari aku, itu maksud kamu ajak aku bertemu disini?", Reza marah dengan sikap Aldo yang terang-terangan.
Aldo melepas tangan Reza dari kerahnya dengan kasar, "Itu yang mau aku lakukan, karena aku mau berjuang buat dapetin cintanya kembali. Karena aku yakin Luna masih ci―"
BUKKK!
Sebuah pukulan mendarat ditepat dipipi Aldo yang jatuh kelantai dengan luka memar yang cukup terlihat biru dan terasa sakit.
Emosi Reza, "Aku nggak akan biarin itu terjadi, meski kamu adalah orang aku sayang Aldo" cerutunya kesal sampai ia memukul Aldo seperti itu.
Aldo tersenyum sinis dan kembali bangun, dan membalas pukulan pria itu.
BUKKK!
Tiba-tiba Aldo membalas pukulannya dan Reza jatuh tersungkur dengan luka disisi bibirnya berdarah dan menyetuh cepat luka itu membersihkan darah dengan jari jempolnya.
Mereka terdiam tidak ingin bicara atau membalas semuanya, karena keadaan mereka saat ini sedang emosi.
Tak mau terus berlanjut Reza berjalan keluar dan sebelum itu dia terhenti diambang pintu dan menatap tajam pria tak jauh darinya.
"Kalau kamu, berani dekatin Luna aku nggak akan segan buat patahin semua tulang kamu. Ingat itu Aldo!!" peringatanya tak main-main.
Dan meninggalkan sosok Aldo begitu saja tanpa ingin melihat keadaanya sekarang.
Aku nggak akan mundur, sama seperti kamu Reza Aditya Winajaya. gumam Aldo.
•••
Suara ketukan pintu membuat Luna bangun dari tidurnya dikursi, ia tidur tepat disamping ranjang ayahnya yang sudah tidur lelap. Sementara adik bulenya Barrack kembali kehotel untuk istirahat.
Cepat Luna membuka pintu dan sosok pria dengan Luka dibibir samping terlihat ngilu yang ia lihatnya.
"Mas Reza, kamu kenapa?" Luna menyentuh luka dibibir kekasihnya dan menatap cemas, apa yang membuat kekasihnya begini tapi pria itu hanya diam dan terlihat lesu.
"Mas―"
Reza menatap penuh arti dan memeluk Luna erat, dan semakin erat ia tak mau kalau wanita ini dia ambil oleh siapapun termasuk Aldo yang sudah terang-terangan ingin mengambil apa yang pernah dia miliki.
"Kamu kenapa? Kamu terluka, kita obatin dulu" ucap Luna cemas seperti biasa ia hanya diam saja.
Masih beberapa menit kedua masih diam di ambang pintu, lalu Reza mengendurkan pelukannya dan menatap tajam pada Luna didepannya.
"Kamu nggak akan tinggalin aku kan?" ucap Reza meyakinkannya.
"Iya aku janji, nggak akan tinggalin kamu. Mas kenapa aneh banget, ini pasti sakit aku obatin luka kamu dulu ya?" ucap Luna yakin, merasa aneh dengan sikapnya.
"Luka ini nggak sakit kok, asal kamu selalu ada buat aku" Reza berucap, tapi ia bohong bahwa lukanya ini tidak sakit. Malah ini sangat sakit bicara saja dia menahan rasa sakitnya.
"Bohong" sahut Luna menekan luka dibibir Reza dihadapanya.
"Aaww" Reza merasa kesakitan.
"Bohongkan. Sini aku obatin dulu"
Reza mengikuti Luna masuk kekamar dan dilihatnya pria setengah baya itu tidur dengan tenang, ia duduk disofa sambil menunggu Luna kembali membawa P3K dilaci nakas samping ranjang.
Luna menghampiri kekasihnya dan duduk didekatnya, "Kamu bisa luka begini kenapa?" Luna khawatir.
"Ini gara-gara kamu" sindirnya.
Luna mengerut alis bingung, "Aku? aku nggak mengerti, maksud kamu? Hari ini kamu buat aku bingung", katanya masih heran dengan sikap Reza sekarang, "Siapa yang lakukan ini sama kamu biar aku hajar balik". tangkas Luna.
Reza sumbringah, "Kamu yakin, mau balas orang yang sudah buat aku begini" tegasnya menatap gemas Luna karena ia begitu khawatir terhadapnya.
"Tentu saja, siapa bilang sama aku?" serunya yakin untuk membalas orang yang membuat kekasihnya itu terluka begini, tapi pria dihadapannya masih terlihat tampan meski ada luka diwajahnya.
Luna menempel kapas yang sudah ia teteskan betadine merah pelan-pelan namun pasti, tapi saat Reza bicara tentang seseorang pria yang memukulnya.
"Aldo yang buat ini ke aku". ucap Reza dan tangan Luna terhenti saat sedang menempelkan kapas diatas luka kekasihnya.
Luna diam dan tak sengaja menekan luka bibir Reza, dan merasa kesakitan, "Aww, sakit" keluh Reza.
"Eh, maaf aku nggak sengaja" Luna tak sadar membuat Reza kesakitan.
"Pelan-pelan".
"Sorry sorry aku kan nggak sengaja".
"Kamu jadikan mau balas orang yang sudah buat aku begini" ucap Reza kembali pada topik pembicaraan.
Luna masih diam dan kembali menuntaskan acara mengobati lukanya. Setelah selesai Luna memajukan wajahnya dekat dan memandang Reza penuh dengan tatapan seperti menyelidiki.
"Kamu serius mau aku pukul balik Aldo?" kekeh Luna yakin dengan ucapanya.
Reza menelan salivanya pelan, merasa Luna terlalu dekat dengan wajahnya. Sial! Karena saat ini dia bibirnya begitu sakit kalau tidak sudah dirinya cium rakus bibir Luna, namun ia tahu mereka sekarang berada dirumah sakit, dan disini ada ayahnya sedang tidur.
"Kok diam, pasti mikir mesum". tebak Luna.
"Kamu kok tahu―nggak maksud aku kamu kok berpikir begitu".
"Aku sudah hafal sama sikap dan sifat kamu Mas Reza". Luna menepelkan kedua tanganya dikedua sisi pipi kekasihnya.
"Kamu jangan mengalihkan pembicaraan kita deh, kita sekarang lagi bahas Aldo" gerutu Reza merasa malu bisa ketahuan karena sikapnya terlalu kotor.
"Mas kali. Aku kan udah tanya tadi sebelumnya. Kamu serius mau aku pukul balik Aldo?" tungkasnya.
"Kamu serius? Kamu nggak nyesel pukul Aldo mantan kamu itu?" kata Reza sengaja berucap karena ia ingin tahu semuanya dari Luna langsung.
Diam.
"Kenapa? kamu masih suka sama Aldo".
"Kamu kok tahu, Aldo mantan aku?" Luna penasaran dan sedikit terkejut. "Aku sama dia udah lama putus dan nggak ada hubungan apa-apa lagi", tegasnya.
"Aku tahu nggak sengaja" kata Reza dan merasa puas dengan jawaban Luna kalau dirinya sudah tidak menyukai Aldo lagi.
"Memang Aldo itu mantan aku, tadinya aku juga mau kasih tahu kamu hari ini, tapi kamu udah tahu duluan". Pungkasnya Luna.
Reza menatap lekat wajah Luna, "Kalau suatu hari dia minta balikkan lagi sama kamu, kamu mau terima dia apa nggak?" tanyanya ingin tahu.
"Itu pertanyaan bodoh. Tentu saja aku nggak mau dan tidak pernah berpikir untuk kembali sama Aldo. Dan untuk apa aku kembali lagi sama dia, sementara kamu sudah mengisi hati aku ini". Jelas Luna membuat Reza senang dengan jawabanya.
"Aku memang bodoh sudah tanya hal itu sama kamu, karena aku takut kamu tinggalin aku dan pergi kepelukan Aldo".
Luna menyentuh bibir Reza dengan jari telunjuknya, "Sst, aku nggak akan pernah tinggakin kamu, kalau pun aku tinggalin kamu lebih baik aku cari pria lain dan bukan Aldo". Luna menatap penuh cinta pada pria dihadapanya.
"Jadi kamu mau cari pria lain kalau kamu tinggalin aku". Pikir Reza dan merengek manja.
"Ih itu cuma perumpamaan". Luna gemas.
"Aku pegang janji kamu" tegasnya.
"Iya, sayang"
Masalah masa lalu Luna pun terselesaikan, memang kejujuran itu baik untuk keduanya untuk saling memahami dan saling percaya satu sama lain.
Saat seseorang akan menghancurkan hubungan keduanya, Reza dan Luna harus bisa saling terbuka tentang sesuatu hal. Karena itu bisa membuat hubungan keduannya akan terjalin laggeng.
♥♥♥