Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
61. Cemburu Buta



♥♥♥


REZA merasakan lelah malam ini. Seharian waktu penuh untuk urusan perusahaa, apalagi dia harus bolak-balik keluar kota dalam seminggu tidak ada waktu bersama istri dan anaknya. Setelah Reza membasmi para tikus atau penghianat di kantornya, sekarang dia di sibukkan prihal project baru di Bogor menyita waktunya.


Pukul sepuluh malam lewat Reza baru sampai rumahnya. Hampir semua sudut rumah gelap. Luna dan Biboy sudah tidur.


Saat memasuki kamar, hal pertama yang dilihatnya yaitu istrinya yang sudah berbaring di kasur king size-nya tidak berselimut, padahal AC di ruangan cukup dingin. Dengan cepat dia menurunkan volume AC-nya. Melihat istrinya saja dia sudah bisa menghilangkan rasa lelahnya. Wanita yang selalu dia rindukan setiap saat.


Reza meletakkan tasnya di atas sofa. Melepaskan dasi, sepatu dan kaos kaki yang dikenakannya. Reza mendekat dan membaringkan tubuhnya pelan di samping istrinya. Tangannya mengelus perut dan memeluk Luna sesaat di arah samping. Lalu mengecup bibir Luna diam-diam agar tidak membangunkan istrinya.


"Mas, kamu baru pulang?"


Reza terkejut. Luna terbangun mungkin merasakan apa yang sudah Reza lakukan tadi.


"Maaf, Mas membangunkanmu sayang. Kamu tidur lagi saja. Aku tadi cuma rindu sama kamu. Maaf akhir-akhir ini jarang kumpul sama kalian." Reza menarik selimut menutupi badan Luna. 


"Nggak apa-apa, aku juga rindu sama kamu." kata Luna menatap wajah lelah suaminya. "Kamu sudah makan?" tanya Luna pelan bangun dari pembaringannya duduk tegak.


"Belum sih, nanti aku masak saja. Kamu tidur gih. Pasti kamu lelah juga kan?"


Luna menggeleng. "Aku temani kamu masak deh."


"benaran?"


"Iya, sayang. Kamu mau mandi atau ganti baju saja?"


"Aku mandi dulu deh, lengket banget badan."


"Aku siapin air hangatnya, ya?" Luna bergegas turun dari kasur, namun Reza langsung menahan lengannya. Luna menoleh.


"Nggak usah aku saja. Kamu disini dulu. Aku nggak mau kamu kecapean. Harus jaga kondisi kamu. bentar lagi kamu lahiran." Protes Reza. Dia ingin melakukan sendiri tidak ingin membuat repot istrinya yang sedang hamil tua. 


"Ya, sudah."


Reza melangkan kakinya ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lelah berendam. Butuh 15 menit ia melakukan ritual mandinya lalu keluar sudah berpakaian lengkap memakai piyama yang sudah disiapkan istrinya. 


Mereka turun dari lantai dua. Mengunankan lift sengaja di buat khusus Luna. Karena sedang hamil. Dia takut bila Luna harus turun naik tangga. Makanya dia membuat lift tersebut untuk jaga-jaga. Berlebihan? Tapi tidak untuk Reza dia melakukannya demi istrinya dan anaknya. Toh, tidak ada yang bisa melarang dirinya. Siapa yang berani. Hanya istrinya saja yang berani.


Setibanya di area dapur, lampu sengaja di terangkan di semua ruangan. Reza langsung mengambil bahan-bahan makanannya dan sedangkan Luna hanya diam menonton suaminya di depan pantry. 


"Mas, aku mau nonton TV aja, ya. Oh iya hampir saja aku lupa, nasi goreng buat aku agak pedes, jangan lupa pake sosis sama sayurannya. Terus aku juga mau jus mangga." Cerocos Luna hendak bergegas seakan dia memerintah namun sebelum itu, Reza berdecak pinggang. Melihat ke arah Luna. 


"Istri pinter. Suaminya disuruh masak sendiri. Katanya mau bantuin masak, kok sekarang malah nyuruh-nyuruh suaminya sih!" desis Reza.


"Aku kan bilangnya temani kamu. Bukan bantuin masak. Mas lupa, ya?"


"Oh begitu. Jadi suami kamu jadi asisten rumah tangga masak sendiri. Istri pinter."


"Tadi mas sendiri yang mau masak. Kok jadi kamu yang marah sama aku. Lagian, kenapa mau masak sendiri? buat apa punya asisten rumah tangga kalau mas juga yang masak. Salah siapa." Sahut Luna sedikit mengejek dan mengerjai Reza.


"Pinter. Istriku kalau ngomong. Sekarang ngelawan sama suami." kata Reza sedikit kesal. Mengeram wajahnya ke arah istrinya. 


Luna diam. Terlihat jelas kalau Reza kesal. Beberapa detik kemudian Luna menangis di tempat.


"Kamu kok nangis?"


"Gara-gara kamu. Ya, sudah jangan dibuatin. Aku tidur lagi aja. Percuma makan masakan kamu nggak ikhlas buatnya. Kalau emang nggak mau buatin nasi goreng. Lagian bukan aku yang mau. Si kembar, pengen juga ngerasain masakan daddy-nya."


Reza mendekati istrinya yang masih menangis. Memeluk Luna. "Maaf bukannya marah. Mas buatin deh nasi goreng sosis pedas sama jus mangganya, special buat kamu deh, tapi jangan nangis lagi. Mas itu nggak suka kamu nangis." ucap Reza sambil mengusap air mata di pipi Luna lalu mencium keningnya.


Bukan marah pada Luna, tapi dia memang selalu terlibat emosi dan sensitif. Efek hamilnya Luna. Tiba-tiba saja mood-nya menjadi berubah-ubah.


Sangat menjengkelkan.


Luna tersenyum.


"Ada lagi?" tanya Reza sebelum dia memulai masak. 


"Jangan Lupa pake telor nasi gorengnya, soalnya tanpa telur, nggak nikmat."


"Siap nyonya. Tadi kamu nangis-nangis. Sekarang malah senyum. Nyebelin. Untung cinta."


Reza kembali memasak. Sedangkan Luna berjalan ke ruang TV.


•••


"Sayang, makanannya sudah jadi." 


Luna menghampiri Reza yang sudah beranjak kembali ke dapur dan dia mengikuti suaminya di belakang.


"Ini pesanan kamu, nyonya. Nasi goreng sosis pedas dan jus mangganya. Silahkan dinikmati." suguh Reza ala-ala pelayan restoran meletakkan pesanan di meja.


Luna senang mendapat perhatian begitu besar yang dilakukan suaminya selama ini. 


"Terima kasih, sayang." ucap Luna, lalu mencium pipi Reza sebagai bentuk terima kasihnya. 


"Sama-sama, sayang."


Reza duduk di samping Luna. Makan bersama. Melihat nafsu makan Luna yang tinggi membuat Reza semakin gemas.


"Makanlah pelan-pelan." kata Reza mengusap punggung Luna.


"Abis masakan kamu enak. Jarang-jarang kamu masak buat aku kalau bukan si kembar yang minta."


"Benar ya?"


"Iya, bawel."


Mereka menghabiskan makanannya. Lalu beranjak ke ruang tamu menemani Reza. Karena dia tidak mau cepat tidur saat dia baru makan karena akan menghambat lemak badannya semakin besar, ditambah dia hamil si kembar. Ia harus menerima badannya melebar dan naik hampir beberapa kilo. 


Menyiksa akan bentuk badannya. 


Meski Reza tidak mempermasalahkan hal itu. 


Luna takut Reza berpaling. Meski hanya pikirannya saja. 


Dan berupaya diet ketat saat dia sudah melahirkan nanti dan bentuk tubuhnya kembali ke awal.


Selama pernikahan mereka memang ada saja masalah tapi mereka bisa menghadapi semua itu dengan baik. Meski Reza masih cemburu kalau dia bersama dengan Aldo.


Ngomong soal Aldo, Luna hampir lupa memberitahu kalo Aldo sudah melamar Rara mungkin saja Reza tidak akan cemburu lagi kalau Aldo akan menikahi sahabatnya Rara.


"Mas, tadi siang Aldo melamar Rara."


Luna buka suara, dia menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia masih memerhatikan Reza masih berkutak dengan laptop di depannya. Sesekali dia mengelus perutnya. 


"Bagus dong. Berarti dia sudah benar-benar melupakan kamu." 


Reza hanya mengucapkannya dengan datar tidak melihat ke arah Luna, hingga membuat Luna kesal. Apalagi Reza membahas masa lalunya. Reza masih berpikir Aldo belum move on padanya. Reza cemburu. Masih saja curiga pada Aldo.


"Mas, kamu masih curiga sama Aldo. Dia itu sudah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama aku. Nyatanya sekarang Aldo sudah melamar Rara. Mereka akan menikah." Jelas Luna pajang lebar. Yakin.


"Bagaimana kalau pelarian saja?"


"Apa? Pelarian?"


"Iya pelarian."


"Kamu kenapa sih? Kok jadi bahas tentang Aldo yang tidak-tidak."


"Kamu belain dia?"


Luna tidak habis pikir dengan Reza yang tiba-tiba dingin, dan terlihat marah. Luna terus bertanya ada apa dengan Reza tadi saat pulang dan makan saja dia tidak apa-apa tapi saat membahas Aldo dia menjadi Reza yang berbeda bukan Reza yang dia kenal. 


"Kamu kenapa? Aku ada salah sama kamu? Jangan buat aku bingung sama sikap kamu yang berubah begini aku nggak suka. Kita omongin baik-baik." ucap Luna menatap pada Reza masih sibuk dengan pekerjaannya.


Begini nih kalau cowok cemburu buta. Batin Luna kesal.


"Aku lihat kamu sama dia di toko cincin. Mesra banget. Pegang-pegang tangan kamu segala." balas Reza masih ingin melihat wajah Luna.


"Kamu kenapa nggak samperin kita berdua." Luna sedikit merapatkan badannya pada Reza. 


"Takut ganggu." Reza acuh tak acuh. 


"Kalau bicara itu, lihat wajah aku dong Mas. Mending aku kembali ke kamar saja. Kalau kamu begini terus." disaat Luna akan siap berdiri, Reza menariknya duduk kembali lalu menyimpan laptop di atas meja.


"Maaf." kata Reza menyesal. Sekarang keduanya saling berhadapan.


Luna mengelus pelipis wajah Reza, memandangnya lekat menikmati setiap pria itu seperti pahatan patung yunani. 


Reza menikmatinya.


"Aku sama Aldo nggak ada apa-apa. Tadi siang itu, Aldo minta pilihkan cincin buat melamar Rara. Aldo pegang tangan aku juga karena ukuran jari Rara sama aku sama. Kamu jangan salah paham begitu. Aldo sudah melupakan semua. Hidup bahagia dengan Rara. Begitu juga dengan aku hidup bahagia sama kamu dan juga anak-anak kita. Jangan takut aku akan pergi dari kamu. Seharusnya aku yang takut kamu bakal ninggalin ____"


"Cukup, nggak mau mendengarkan hal begitu lagi. Ini terakhir kita membahas seperti itu."


"Kamu yang mulai duluan. Terlalu cemburu buta."


"Maaf deh. Aku cemburu buta karena kamu juga."


"Oke aku mengerti. Malam hari ini kamu banyak banget bilang maaf. Pria kalau banyak bilang minta maaf itu pasti banyak salahnya."


"Bukan banyak salah. Tapi selalu mengalah. Terutama untuk wanita yang dicintainya. Karena stok maaf aku tanpa batas."


"Cih. Gombal. Sok banget. Tanpa batas. Sekalian aja bikin pabrik nya."


"Ide bagus tuh."


Luna merasa lelah. Banyak menguap. Karena malam sudah menunjukan pukul 23:25 hingga mereka lupa waktu.


"Aku ngantuk. Kita tidur yuk."


"Kalau begitu kita tidur. Aku nggak mau kamu kurang tidur. Nggak baik untuk si kembar. Aku nggak sabar menunggu kelahiran kedua putri kita."


"Sama aku juga."


"Eehh____Mas biarin aku jalan sendiri. Aku berat loh."


"Aku kuat. Kamu jangan banyak gerak. Kamu memang berat."


"Nyebelin banget sih."


Reza mengangkat tubuh Luna dengan hati-hati menuju kamar mereka. Hingga mereka tidak melewatkan malam yang indah.


♥♥♥