
Maaf ya, baru bisa update lagi sekian lama. Bukannya nggak mau update waktunya bener-benar bentrok sama kerjaan. Jadi nggak bebas. Kadang mau nulis keburu males karena selalu saja numpuk kerjaan. Jadi bad mood dan nggak ada inspirasi.
Pasti kalian kecewa padahal udah janji mau ada Ext. Part
maaf nggak bisa bales komentar kalian satu persatu
Terima kasih dukungannya selama ini.
♥♥♥
"MAS REZA AYO…"
Teriak Luna tidak sabaran karena Reza belum juga muncul batang hidungnya. Luna berdiri di ambang pintu memunggu dengan hati gelisah. Sedangkan anak-anaknya sudah duduk manis di kursi penumpang.
Jadwal hari ini adalah acara Sunatan anaknya Rara dan Aldo, anak pertama meraka si Bang Alby yang baru berusia tiga tahun sudah minta di Sunatin. Berbeda dengan Bima dulu dia berani di Sunat saat masuk kelas dua sekolah dasar.
Luna mengelus perut buncitnya yang sudah besar, tangan satunya dia bekaca pinggang menahan rasa pegal.
Dan kehamilan Luna di prediksi akan melahirkan sekitar dua minggu lagi oleh Dr. Regina, membuat Reza harus siap siaga bila sewaktu-waktu Luna akan melahirkan.
Akhirnya orang yang di tunggu tiba juga, Reza sudah rapih dengan mengunakan kemeja biru langit dengan jeans blue terlihat santai dan nyaman, sudah Luna sediakan tadi, karena memang tidak mau berlebihan hanya untuk menghadiri acara Sunatan.
"Lama banget sih, Mas. Kayak cewek aja, cuma ganti baju harus nunggu 30 menit baru kelar, kan sudah aku siapin di atas kasur."
"Sorry, tadi aku kebelet banget. Setor dulu tadi. Dari pada di jalan. Berabe."
"Ya, sudah, ayo."
Bima dan Si kembar hanya bisa menggeleng akan drama kedua orangtuanya terlalu lebay, katakanlah. Sudah tua tidak ingat umur.
Reza membuka pintu samping untuk Luna duduk. Kemudia Reza mengelilingi mobilnya ke pintu mobil sebelahnya. Kali ini Reza menyetir sendiri dan membebaskan supirnya istirahat.
Dalam perjalanan tidak henti-hentinya mereka mengobrol dan bercanda gurau.
perjalanan ke rumah Aldo memang membutuhkan waktu lima belas menit.
Hingga waktu tidak terasa, sudah sampai di depan sebuah rumah, dengan banyak sekali orang berdatangan.
"Mommy, rame banget sih cuma Sunatan doang juga… " gerutu Nadila, paling tidak suka bersedak-sedakan, meski anaknya aktif.
"Namanya juga Hajatan, Nad… " Bima membalas adiknya, sepulang dari jerman Bima mengikuti sepupunya Deelena memanggil nama Nadila dengan sebutan Nad, lebih pendek dan simple. Dan Nabila, dia memanggilnya dengan panggilan Nabil.
"Tau, Kak." singkat Nadila. Nabila hanya menggeleng tidak ingin merespon.
"Si Alby pasti banyak uangnya tuh. Banyak yang kasih."
"Hahaha… Dulu Kak Bi juga begitu. Uangnya banyak, Kakak tabungin."
"Kapan? Kok Nad gak tau, kalau Kak Bi di sunatin sih?"
"Udah lama. Kamu masih balita."
"Oh."
Luna menoleh kebelakang melihat ketiga anaknya, sedang asyik mengobrol. Padahal mobil mereka sudah berhenti di parkiran rumah Aldo. Beberapa menit yang lalu.
"Kak Bi kalah sama Alby… "
"Kalah?" si kembar penasaran mana bisa Kakak mereka kalah dengan Alby yang masih kecil begitu.
"Iya, Kakak kalian waktu di Sunatin waktu usia sembilan tahun loh, baru minta. Tapi dede Alby baru umur 3.5 tahun udah minta di Sunatin, hebatkan?" Jelas Luna, membuat Bima malu.
"Wahhh, Dede Alby hebat. Kak Bi payah. Kalah sama anak kecil." ejek Nadila.
"Mommy, jangan buka-buka rahasia deh, malu tahu." Bima cemberut.
"Aduh, anak Mommy ngambek, Biboy mah gitu sama Mommy nggak ceesan lagi ah... "
"Mommy, aku udah gede jangan panggil Biboy, itu masalalu loh."
"Ciye masalalu… " goda Luna.
Reza hanya bisa mendengarkan obrolan mereka, hingga tibanya dia bersuara.
"Sudah puas belum ngobrolnya guys, nggak mau masuk nih? Sudah sepuluh menit kita di mobil, kasian si Alby nungguin, apalagi sama kalau Nadila, paling di sayang." Sahut Reza, menimapal ucapan anak-anaknya.
"Ok daddy… " mereka serentak termasuk Luna, mencubit gemas pipi suaminya.
•••
"DEDE ALBY YANG GANTEEEEENNNNG…" teriak Nadila, orang di sekitarnya memperhatikan tingkah Nadila yang begitu semangat dan aktif. Alby hanya diam di tempat duduk, tersenyum sambil menahan sakit akibat efek Sunatannya. Rara dan Aldo hanya bisa tersenyum, soal kebiasaan keponakannya mereka sudah biasa dan tidak bisa di ubah.
"Aunty Di.." Panggil Alby, cuma Alby yang panggil 'Di' selain Alby minggir deh nggak boleh termasuk keluarga besarnya.
Memang lebay, tapi ini sudah perjanjian sama bocah sentoloyo yang ngebet banget sama Nadila.
"Nad, nggak usah teriak-teriak, malu sama orang." tegur Luna, saat mereka sudah masuk dan menyalami Rara dan Aldo. Sedangkan yang di tegur malah tidak peduli.
"Nggak apa-apa, Lun. Kalau sudah ada Nad acara tambah rame, nggak sepi, tadi sepi meski banyak orang juga." kata Aldo.
"Betul kata Mas Aldo." timpal Rara, setuju dengan suaminya. "Sejak tadi Alby nanyain terus Nadila nggak dateng-dateng, coba deh lihat sekarang Alby ketawa-ketawaan, padahal tadi nangis melulu, memang power of Nadila bikin Alby jinak." tambahnya memandang ke arah Nadila dan Alby yang sedang mengobrol antara bocah.
Sejarah terulang kembali. Di mana dulu Aldo mengejarnya. Sekarang Anaknya mengejar anak Luna. Mungkin kalau Alby ke Nadila hanya sekedar sayang sesama saudara jangan sampe lebih.
Bahaya.
Entah sejak kapan Nadila dan Alby akrab, mereka berbeda dua tahun. Alby begitu manja dengan Nadila tidak mau lepas kalau sudah berdekatan kadang Nadila risih juga kalau sering begini, takutnya sampai gede ngintilin terus macam stalker.
"Ra, katanya Nita mau kesini sama Bang Arga? Kok nggak keliatan sih?" kata Luna, mantan tentangganya itu sudah pindah ke luar kota tepatnya ke Malang, mereka sekeluarga pindah karena harus menjaga mertua Nita yang sudah sepuh hingga Clara juga ikut ke Malang, sampai-sampai Bima galau alias baper di tinggal teman kecilnya, maklumlah anak zaman now, bilang teman tapi demen ujung-ujungnya.
"Nggak tahu, belum ada kabar lagi."
"Kasian Nita."
"Semenjak pindah dia jarang banget bales chat kita di group."
"Mungkin dia sibuk mengurus Clara di tambah mertuanya, Ra. Kita harus suport dia bagaimana pun juga. Dia sahabat kita."
"Kapan dong kita ke Malang, main gitu."
"Nantilah kalau aku sudah berojol, ya kali aku lahiran di Malang, nggak lihat lagi hamil tua begini." Luna menujuk perutnya, Rara pun meletakkan tanganya di kening.
"Oh iya, aku sampai lupa kamu lagu badan dua gitu…" Rara tertawa cecengiran.
"Perut gede begini masa nggak kelihatan."
"Mulai rabun kayaknya mataku."
"Periksa ke THT aja... "
"THT kan untuk masalah pendengaran..apa hubungannya sama mata."
"Maksudnya sekalian kamu perikas mata dan kuping kamu juga jangan setengah-setengah."
"Kamvret.. "
"Ra! Laguange..."
"Ups sorry, kelepasan. Maaf dede bayi." Rara sambil mengelus perut buncit Luna.
Ngomong-ngomong soa Abel, dia nggak bisa datang, di maklum baru lahiran juga sekitar tiga bulan yang lalu, jadi harus menjaga anaknya yang rewel. Hingga Abel tidak bisa bergerak bebas kesana kemari.
Sedangkan Rara dan Aldo masih menunda next calon baby ingin membesarkan dulu Alby. Pemikiran setiap pasutri memang beda, tidak seperti Reza yang selalu ingin nambah anak lagi.
banyak anak banyak rezeki. Belum juga melahirkan sudah mau nambah. Segela Ganda-gandaan segela lagi.
Reza dan Aldo menemui teman mereka, si kembar menemani Alby duduk manis, sambil mengobrol.
Sedangkan Luna dan Rara berbincang-bicang dengan teman mereka yang hadir, acara sunatan Alby cukup ramai mengundang banyak orang dan kalangan.
Acarapun sampai detik ini belum selesai tapi tamu sudah mulai berkurang tidak seramai tadi dan membuat Luna bernafas lega, karena jujur sejak tadi dia merasa sesak, melihat kerumunan.
"Aku ke toilet dulu, Ra." kata Luna akan berpamitan. Luna merasa beser, sedikit mulas mungkin gara-gara dia makan keredok tadi dia makan.
"Nggak usah, nggak enak masih ada tamu juga."
"Ya, udah kalau begitu, hati-hati."
"Lebay loh, aku di anter Nad aja deh." tidak lama, Nadila datang menghampiri karena panggilan Luna. Dan setuju dengan ajakan menghantar Luna ke toilet.
"Kamu lagi hamil, aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Iya bawel."
Luna bergegas dengan Nadila-anaknya menemani.
--
"Mas Reza, kamu sudah siapin nama buat anak kamu?" tanya Aldo di sela obrolan mereka dengan para teman sejawannya.
Reza meletakkan coffee yang di minumnya di atas meja. Melirik ke arah Aldo yang sejak tadi menunggu jawabannya.
"Sudah. Dan itu rahasia." Reza membalas dengan santai.
"Main rahasia-rahasian segala."
"Lagian kamu kepo, aku sudah siapin nama cewek dan cowok. Kan, Mas belum tahu debay, cewek atau cowok. Aku sama Luna sepakat nggak ingin tahu jenis kelamin debay sampai debay lahir. Apapun jenis kelaminnya kita terima."
"Niat banget sih kalian berdua. Duo couple."
"Makanya tambah lagi dong, Mas aja sudah debay lahir mau bikin ganda campuran."
Aldo mengerut alisnya "Ganda campuran?" tanyanya bingung.
Sedangkan Reza manggut-manggut.
"Maksudnya apa Mas, nggak paham? Lebih spesifik lagi?"
"Maksudnya kembar, Al. Ganda campuran tapinya. Kan, udah punya ganda putri. Paham?"
"Oh! Aku kira apaan. Bisa aja kamu, Mas. Kayak bulutangkis aja. Sekalian nanti kasih nama anaknya dari pemain bulutangkis, Liliana Natsir sama Ahmad Tantowi. Kira aja jadi the next mereka." ucapnya ngawur membuat Reza mengerang pasrah.
"Aminin aja, biar cepet."
Aldo malah ketawa-ketiwi.
Tiba-tiba suara telpon berdering, Reza mengerut keningnya kemudian mengarahkan pandangannya ke segala arah sebelum menekan tombol.
"APA? dimana sekarang?" ucapnya khawatir, kemudian berge
***
"Aduh, Nad kayaknya Mommy nggak tahan deh, dede bayi mau berojol nih." keluh Luna merasa mulas tidak karuan di kamar mandi.
"Mom, bentar lagi Daddy dateng. Aku sudah telpon, tahan Mom."
"ADUH SAKIT." keluh Luna dengan suara keras, dia meringis kesakitan. Nadila tidak bisa berbuat apapun dia malah makin uring-uringan tidak menentu.
Tidak lama Reza, Aldo dan Rara datang menghampiri dengan raut wajah cemas.
"Sayang...kamu nggak apa-apa?" tanya Reza kalang kabut.
"Daddy, Mommy pipis..." ucapnya sambil menunjuk jarinya ke arah bawah lantai.
"Itu bukan pipis, Luna sudah pecah ketuban tuh, Mas Aldo kamu siapin mobil." Aldo bergegas menyiapkan mobil. Luna di tuntun Reza dan Rara menuju pintu depan. Untung tamu sudah pulang hanya beberapa saja.
Sementara Alby di jaga oleh, keluarga Rara.
Sampai di depan pintu mereka bergegas menuju rumah sakit, tempat Dr. Regina praktek. Jaraknya tidak jauh dari rumah Rara.
Sampai di rumah sakit, Luna langsung masuk dibawa ke ruang bersalin. Sampai menunggu Reza memberi kabar kepada Ayah dan Ibunya kalau menatunya melahirkan. Begitu juga Abdul kakaknya.
Semuanya berkumpul di depan ruangan tempat Luna akan melahirkan. Sampai sekarang masih belum juga terlihat Dr. Regina keluar. Membuat mereka khawatir.
"Daddy, kok lama Mommy nggak keluar-keluar. Mommy nggak apa-apa kan?" tanya Nadila, melihat Reza-Daddynya sejak tadi mondar-mandir saja di tempat.
Reza mengusap rambut Nadila dan Nabila kemudian medekap keduanya agar tidak perlu khawatir.
"Mommy sangat hebat, dia akan baik-baik saja sama Debay. Kalian doakan saja Mommy dan Debay tidak terjadi apa-apa."
"Iya..Daddy.. " keduanya menjawab dan berdoa dalam hati untuk keselamatan Mommy dan Debaynya.
"Bi, bantu Daddy bawa adik kamu ke kantin. Mereka pasti laper banget." Bima mengangguk kemudian membawa si kembar kekantin.
"Tunggu.. " kata Sarah, istri Abdul. "Bude ikut."
"Ayo Bude Sarah.. "
Ketiganya pun melenggang pergi ke kantin. Memang ketiganya memang belum sempat makan. Hanya menikmati kue-kue aja. Hingga Reza tau kalau anaknya merasa lapar.
Dr. Regina keluar dari ruang bersalin, raut mukanya terlihat biasa dan tidak bisa di baca. Reza dan orangtuanya khawatir bukan main karena hampir setengah jam belum ada tanda dari Dr. Regina tentang Luna istrinya.
"Pak Reza bisa ikut saya ke dalam, sepertinya istri anda membutuhkan anda di dalam."
Tanpa menjawab Reza ikut ke dalam. Dan benar saja Luna merasa kesakitan yang amat terlihat di wajah cantiknya. Ia mendekati dan mengelus rambut Luna yang basah akan keringat.
"Mas, sakit… "
"Kamu pasti bisa sayang. Inikan bukan yang pertama kalinya buat kamu. Malah sebelumnya kamu melahirkan dua loh ini cuma satu. Kamu kuat, aku tahu kamu wanita hebat."
Luna mengangguk. Ia tidak menjawab karena memang Luna sudah tidak tahan. Luna menggenggam tangan Reza kuat, dia berteriak.
"Ayo Bu Luna, kepalanya sudah terlihat... "
"Aaaarggggggg…"
"Sedikit lagi Bu…"
Reza tidak kuat melihat Luna begitu kesakitan, ia merasa mual dan juga sakit dengan cengkraman dari Luna. Tangannya juga merah seperti cakaran.
"Ayo sayang bentar lagi dede bayinya keluar… kamu pasti bisa." Reza memberikan semangat, masih setia di samping istrinya.
"Aaaaarggggg… "
Terdengar suara bayi keluar dan menangis, perjuangan istrinya harus di beri acungan jempol. Dia begitu hebat.
Sangat hebat.
Dr. Regina lega. "Selamat pak, Anaknya laki-laki sangat tampan."
Air matanya keluar begitu saja, dia mengais anak laki-lakinya. Kemudian mengadzankannya. Luna dan Reza senang anaknya telah lahir. Setelah selesai mengadzani dede bayi di bawa untuk di bersihkan
Tidak lama Dr. Regina dan Asistenya datang dengan dede bayi sudah bersih.
Luna pun dipindahkan ke ruang inap VVIP sudah menunggu sanak keluarga, sahabat, dan anak-anaknya di sana.
"Wah, debaynya ganteng loh… " Ucap Nadila kegirangan. "Iya ganteng kayak Daddy sama Kak Bi.. " tambah Nabila. Lalu menengok bayi yang sedang di pangku Luna.
Mereka semua senang dengan anggota baru mereka apalagi mendapatkan cucu laki-laki.
"Siapa namanya, Za?" tanya Abdul dan mereka di sana juga ingin tahu terutama Luna. Dia belum tahu nama apa yang akan diberikan Reza suaminya.
Reza mengambil anaknya dari gendongan Luna. "Namanya adalah KAIVANO REZA WINAJAYA." kemudian mencium kening Kaivano. "Selamat datang anakku… "
♥♥♥
Baru akan mulai awal Februari (publish) aku bikin di sini, jadi di tunggu ya, next novelku, moga kalian masih setia 😁
maaf kalau Author bikin kecewa melulu, mohon di maklumi ya.
Terima kasih reader-reader...