Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
50. Kantor Polisi



♥♥♥


Luna dan Reza cepat melangkah ke dalam mobil setelah selesai makan siang. Luna memandang pria yang duduk disampingnya terlihat begitu serius semenjak dia mendapatkan telepon ke dua dar anak buah kepercayaanya yaitu Raka.


Anehnya setelah itu Reza menelpon Yuda dan entah apa yang dibicarakannya. Membuat Luna bingung dan penasaran. Hatinya mulai tidak tenangkan diri.


Begitu selesai menelpon Luna mengeratkan jari tangannya dijari tangan Reza dan menyatukan jari tangannya diselanya seolah bergenggaman.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Luna cemas.


"Nggak ada sayangku." bohong Reza dan tetap masih belum bisa memberi tahu Luna hingga dia melihatnya sendiri.


"Bohong." Luna berdecak dan cemberut. "Kamu sendiri yang bilang mau bilang ke aku tentang sesuatu, janji kamu palsu." keluhnya buang muka ke luar jendela. 


Reza tersenyum."Aku nggak bohong. Aku masih akan tepati janji. Tapi nggak sekarang. Tunggu sampai kita sampai ketempat tujuan kita sayang, jangan marah. Makin jelek kalau marah. Senyum dong."


Luna menoleh dan tersenyum masam. "Aku nggak mau ngomong sama kamu." sewotnya.


Luna terus bertanya-tanya dengan diri sendiri karena suaminya masih belum memberitahu apapun padanya hingga sekarang. Perasaan dia mulai tidak enak. Seperti akan ada sesuatu hal yang akan terjadi tapi tidak tau apa itu.


Berdoa. Luna terus memanjatkan doanya disela perjalanan. Hati mulai tenang. Saat mobil sudah berhenti ditempat disebuah gedung yang tidak asing. Bukan tidak asing tapi juga berdecak aneh dan menoleh Reza sudah akan siap turun. 


Namun saat itu. Luna menarik tangan Reza cepat hingga dia menoleh kearahnya. "Tunggu sayang. Kamu ajak aku kekantor polisi untuk apa? Ada apa?" tanya benar-benar penasaran. Terkejut. Kaget. Cemas. Bercampur aduk. 


Ada apa ya? 


"Tenang sayang. Setelah kita masuk kamu akan tahu semuanya. Aku kan sudah janji sama kamu. Jadi siapkan hati kamu. Percaya sama aku." Reza menangkupkan wajah Luna dan mengelus sekilas perut hamilnya. Agar tenang. "Ayo kita masuk." ajaknya.


"Iya." 


Mereka keluar dari mobil. Saat bersamaan pula Luna melihat Yuda dan Rani turun dari mobil.


Langkah mereka saling berpandangan. "Mas Yuda sama Mbak Rani ada disini juga?" Luna bertanya sembari mencium punggung tangan keduanya. 


"Iya kita ada urusan. Ayo kita masuk kamu juga penasarankan?" ajaknya tanpa pikir panjang dan melangkah masuk kedalam.


Sementara dada Luna terus saja berdebar-debar begitu kencang saat dia sudah berada didalam. 


Para pria berseragam sedang hilir mudik berada diruang yang lumayan besar. Kesibukan terlihat di mana mana. Keberadaan mereka di sambut para polisi tersebut dengan rasa hormat atas kedatangan Reza yang dianggap begitu special. Tidak ada yang aneh kalau memang para polisi itu kenal dekat dengan Reza. 


Setibanya didalam ruang tunggu. Rani maupun Luna duduk sedangkan pandangannya masih melihat kesana kemari. Sementara Reza dan Yuda ikut pergi dengan para polisi tersebut. 


"Mbak kamu tahu sesuatu, kenapa kita ada disini sekarang?! Mas Reza nggak bilang apa-apa sama aku." Luna memelas pada Rani yang sepertinya tahu akan sesuatu di kantor polisi ini.


Rani tidak menjawab. Hanya memberi senyuman tak pasti tentang jawaban pertanyaannya. "Luna, sebenarnya mbak nggak mau bohong. Tapi kamu juga harus tahu. Kita kesini karena pelaku tabrak lari Anggita sudah ketemu." ucap Rani menatap reaksi Luna saat ini yang terbilang terkejut. "Tapi kamu harus tenang. Karena kamu sedang hamil. Mungkin saja alasan pak Reza nggak bilang sama kamu dia takut akan mempengaruhi si kembar."


Luna kaget itu pasti. Entah apa yang dia rasakan sekarang. Senang atau sedih. Begitu runtuk pilu. 


Senang. 


Akhirnya pelakunya tertangkap, setelah empat tahun lamanya mencari. Hingga dia dan keluarga putus asa belum bisa menemukan pelaku yang sudah membuat Anggita dan dua keponakannya meninggal dengan tragis.


"Siapa pelakunya Mbak?"


"Mbak juga nggak tahu. Makanya mbak ikut sama Mas Yuda penasaran."


Luna berdiri melihat keluar pintu berdiri melihat kesegala arah dan tidak menemukan sosok Reza dimana pun. 


Kemana sih Mas Reza. 


Seorang pria berseragam berhenti didepannya dengan menyapa sopan. "Apa ibu sedang mencari bapak Reza?" tanya seakan pria berseragam tahu isi pikirannya. 


"Iya, benar. Apa pak polisi melihat suami saya?" Luna mencoba bertanya. 


"Beliau sedang diruang atas dengan atasan saya. Mungkin ibu bisa menunggu sebentar lagi tidak akan lama."


"Oh begitu. Terima kasih."


"Baik. Saya permisi."


Pria tinggi tampan berseragam itu pergi Setelah memberitahu tentang keberadaan suaminya itu.


Luna melihat Rani sedang menyandarkan tubuh nya di sofa putih memejamkan mata. Luna tidak tenang dia keluar dari ruangan tanpa Rani tahu. Ia melangkah kaki menuju ke bagian informasi dan menayakan sesuatu. 


Seorang polisi wanita tersenyum ramah. "Ada yang bisa saya bantu nyonya Reza?" tanyanya. 


Luna menyipitkan matanya.


Bagaimana dia tahu? Ah mungkin dia tahu saat aku berjalan masuk dengan Mas Reza kali ya. Tanyanya dalam hati.


"Ah. Nggak ada apa-apa. Saya cuma menyapa saja merasa bosan didalam ruangan." jawabnya tidak jadi menanyakan sesuatu.


"Anda sangat beruntung menjadi istri dari pak Reza, beliau begitu bekerja keras mengungkap kasus empat tahun lalu. Saya dengar ini semua untuk anda, karena korban tabrak lari itu kakak  dari ibu." ceritanya. Dan membuat Luna terharu akan sikap suaminya itu. 


Sepertinya dia harus berbangga akan suaminya karena dia sosok suami idaman. Kenapa tidak dia adalah pria yang sempurna dimatanya. Bahkan banyak wanita yang terpesona dan menggagumi Reza. Luna memang wanita yang beruntung bisa mendapatkan pria itu. 


"Saya sangat beruntung sekali." dan sangat sangat mencintainya. 


•••


"Pak Reza? Sedang apa anda disini?" Fredi kaget melihat sosok pria duduk diantara para aparat polisi begitu akrab mengobrol. Fredi melangkah maju. Berdiri didepan meja.


Reza duduk sedangkan kakinya dilipat silang dan wajah dinginnya. "Menurutmu?" Reza malah balik menekan ucapan yang membuat Fredi bingung sekaligus bertanya-tanya.


Jangan-jangan…batin Fredi.


Fredi dipersilahkan duduk oleh pria berseragam, dan memberikan berkas bukti-bukti penabrakan empat tahun lalu. Matanya tak lepas dari atasan nya sendiri yaitu Reza yang menatap sinis. Reza masih diam. Melihat reaksi Fredi melebarkan matanya. 


"Kenapa? Kenapa diam Fredi Parwaditara?"


Reza memojokkan pria itu dengan kata-katanya. 


"Apa maksud pak Reza, Apa hubungan kasus ini dengan anda? Apa ini semua perbuatan anda?"


Fredi tak getar membalas semua perkataan Reza seakan dia menatang orang nomor satu dikantor.


Reza melipatkan tangan didada. Masih dengan posisi duduk. Sementara dua polisi yang duduk menemainya diam memberikan sedikit ruang obrolan untuk Reza dan Fredi.


"Tentu saja ada hubungannya denganku." cetus Reza sejenak. Fredi penasaran. Diam dan masih  ingin memdengarkan ucapan bosnya yang belum selesai. "Kamu tahu, orang yang ditabrak oleh Alisha adalah kakak Luna. Kakak iparku Fredi. Ini semua saya lakukan untuk keluargaku yang tidak menyerah untuk mencari pelaku tabrak lari empat tahun lalu."


Fredi keringat dingin. Tangannya bergetar hebat. Jantungnya terus berdetak kencang. Jeritan hati terus berteriak.


"Kamu tidak bisa mengelak lagi Fredi. Alisha, dia sudah mengakui semuanya. Jadi kamu tidak usah capek-capek memberikan hasutan busuk kepada putrimu itu."


"Anda pikir saya taku. Saya akan membebaskan Alisha bagaimana pun caranya. Dia tidak salah."


"Kamu benar. Kamu nggak harus takut dengan saya, karena saya hanya manusia biasa. Saya juga berdecak kagum dengan kamu pak Fredi, begitu menyayangi putrimu, Alisha. Saya hanya ingin mengetahui siapa pelaku itu yang bersembunyi selama empat tahun. Yang tidak bertanggung jawab dengan kematian kakak ipar saya. Tanpa tahu bagaimana menderita suami, adik dan ayah keluarga korban selama ini."


Reza berdiri. Fredi menunduk diam mendengar ucapan bosnya yang panjang lebar. Tidak ingin menatap wajah Reza.


Dia berjabat tangan dengan dua polisi itu. "Saya tidak nguluk-nguluk. Lakukan hukuman sesuai prosedur dan pasal yang berlaku. Saya permisi."


"Baik pak. Serahkan pada kami."


Keluar dari ruangan Reza melihat sosok Yuda dan Raka yang duduk menunggu. Menghampiri Reza seakan ingin mengetahui hasil dari runding didalam. 


"Kita harus menemui Luna dahulu."


Mereka mengikuti Reza dari belakang turun dari lantai dua. Sudah merasa siap untuk memberi tahu Luna dan mempertemukannya dengan Alisha. 


•••


"Mas Reza kemana sih lama banget." runtuknya sembari mengelus perutnya. Anak-anak sabar ya daddy kalian pasti cepat kembali. 


Rani mengelus pundak Luna. "Sabar! Nggak usah emosi begitu. Nanti si kembar kaget loh. Nggak baik marah-marah dalam keadaan hamil." ucap Rani menenangkan wanita disisinya sejak tadi tak sabaran. 


"Iya tapi ini udah dua jam loh."


"Itu mereka!!"  kata Rani melihat kedatangan tiga pria tampan masuk. 


Reza menghampiri Luna yang tampak kesal lihat dari wajahnya dengan bibir sedikit dimanyunkan karena Reza lama meninggalkan istrinya.


"Sayang, maaf." Seru Reza. Tidak lupa menyapa si kembar. "Hei, anak-anak daddy maaf bikin kalian menunggu lama." Lalu mengecup kening istrinya.


"Aku maafin. Tapi kamu harus ceritain semuanya sama aku. Kamu ingatkan janji kamu?" pintanya.


"Tentu saja sayang aku akan ceritakan semua."


Sebelum itu Reza menghampiri Raka berdiri di ambang pintu. "Terima kasih buat semuanya, tugas terakhir kita. Aku ingin kamu cepat selesai kan semuanya. Minggu ini juga harus ada hasil. Kamu tahu kan. Mereka pasti akan bertindak lebih jauh lagi. Aku nggak mau keluargaku jadi korban. Bereskan semuanya." kata Reza sedikit pelan agar tidak terdengar.


"Baik saya mengerti." balasnya. Lalu pergi.


Seperti janjinya dia menjelaskan semuanya pada Luna tentang bagaimana mereka mencari semua bukti dan menemukan pelakunya. Padahal yang Luna tahu sudah hampir empat tahun lamanya mereka mencari tapi nihil. Seperti ditelan bumi. 


Reza juga sudah memberitahu mertuanya di Jerman. Dan minggu ini mereka akan datang ke Indonesia.


"Apa kamu sudah siap melihat pelakunya?" tanya Reza pada Luna. 


Luna berdiri. "Siap kok. Aku ingin melihat wajah orang yang sudah menabrak kakakku." balasnya mantap menatap Reza dengan penuh keyakinan. 


"Apa kamu akan memaafkan dia?" tanya Yuda, dia tahu adik iparnya sangat baik. Apapun kesalahan orang itu pasti dia akan memaafkannya. Entahlah dengan yang satu ini. Pasti akan berat untuknya.


Luna diam.


Memaafkannya, mungkin?! Apa aku harus.


Mengingatkan kembali moment dimana dulu ibu mendiangnya selalu berkata agar dia harus jadi manusia yang memaafkan sesama umatnya dan apapun itu kesalahannya.


"Insya Allah, aku akan memaafkan dia. Mungkin dengan pelakunya tertangkap aku harap kakak dan anak-anaknya bisa tenang disana." ucapnya.


Mendengar ucapan Luna mereka merasa sedikit lega. Karena intinya Luna siap bertemu dengan Alisha yang notabennya teman SMA nya.


"Ayo kita temui." Ajak Reza.


Reza, Luna dan yang lainnya bergegas masuk ke sebuah ruang khusus jenguk untuk para pelaku yang ingin bertemu dengan keluarganya meski di jegat oleh kaca sebagai pembatas.


Luna menarik nafas panjang saat dia sudah duduk, dan Reza senantiasa berada disisinya. 


"Kok aku jadi deg-degan." Luna menoleh ke arah Reza sedikit mengangkat kepalanya ke atas.


"Itu gugup namanya."


Yuda mengelus pundak Luna ikut menenangkan hatinya. Perasaan bercampur aduk. Saat seorang dua wanita berseragam keluar. Bersama wanita berbaju seragam orange, baju khusus tahanan menunduk saat kedatangannya. 


Jadi seorang wanita, pelakunya. Batin Luna. 


Luna terkejut bukan main saat pelaku tabrakan mengangkat wajahnya memperlihatkan seluruh wajah dan keduanya saling berpandangan. 


Alisha.


Masih diam. Saat Alisha duduk berhadapan dua wanita ini masih syok. Dan banyak pertanyaan di hati mereka yang entah harus bereaksi apa saat ini juga.


"Alisha... " cetusnya. Luna menoleh kembali pada Reza. "Mas, dia... " Luna tidak melanjutkan lagi ucapannya. 


Reza yang berdiri sedikit menunduk. "Iya, Alisha yang sudah tabrak kakak kamu." jelasnya.


"Alisha." 


"Jadi yang aku tabrak itu kakak kamu, yah??" kata Alisha. Melipatkan kedua tangannya. Santai. Lalu menatap tajam ke arah Reza, sedangkan pria itu mengangkat alisnya keatas.


Luna mengangguk. "Iya, dia kakakku." balas Luna memandang wanita dihadapannya  terlihat biasa seperti tidak ada rasa penyesalan.


"Dunia memang sempit." ocehnya. "Kenapa aku harus selalu berhubungan dengan kamu. Kamu itu wanita penghambat, buat semua orang yang aku suka kamu ambil. Pertama Aldo. Sekarang Reza. Kamu senang buatku menderita."


Luna dan yang lain saling bertukar pandang. Dia terus mencerna ucapan Alisha. Tidak nyambung. Dan melihat wajahnya yang datar tanpa ekspresi susah diartikan. 


"Kamu ngomong sih, Alisha. Apa hubungannya semua sama aku. Aku juga nggak pernah ambil   siapapun dan bikin kamu menderita. Ini sudah diatur oleh-Nya. Jadi kamu nggak usah berpikir hal sejauh itu. Aku kesini cuma mau lihat siapa pelakunya. Bukan mau bertengkar sama kamu dan mendengar keluhan kamu tentang semua yang kamu lontarkan tadi." 


"Ya, Hahaha...Luna kamu itu orang ketiga hubungan aku sama Mas Reza…" Ucap Alisha melantur dan membuat mereka dalam ruang kebingungan.


"Kamu jangan denger dia." bisik Reza.


"Iya Mas." balasnya. 


"Kayaknya dia gila deh." Kata Rani pelan. 


"Emang dia gila." timpal Yuda. 


Di dalam ruangan sudah tidak terkendali dengan ucapan dan obrolan Alisha yang menurutnya di luar pembicaraan.


"Kalau begitu, maaf kalau memang jadi orang ketiga kamu. Tapi asal kamu tahu. Mas Reza sudah pilih aku bukan kamu." tegas Luna.


Alisha berdiri. Dengan tatapan tajam. Memukul kaca pembatas dengan keras membuat Luna dan yang lain kaget.


BRUK


"SIALAN WANITA JALANG." teriak Alisha. Mereka diam tidak ingin menambah masalah. Karena sekarang Alisha sedang masa emosi. Luna kaget dan bergetar. Reza terus mengelus bahu lembut menenangkan istrinya. Meskipun, Reza tidak terima dengan ucapan Alisha tapi dia tidak mau terpengaruhi oleh wanita itu. Yang ada nanti dia ikut-ikutan emosi dan gila.  


Kedua polisi yang menemaninya berdiri menjaga Alisha agar tidak melakukan hal itu lagi.


Menahan bahunya kencang. Meski tangannya sudah diborgol. 


"Ibu Alisha, tenang." kata wanita berseragam.


"Kayaknya cukup sampai disini. Aku mau pulang Mas." pinta Luna mulai tak nyaman.


"Ok. Kita pulang."


Saat mereka beranjak dari ruangan suara Alisha terdengar jelas. Menghantam pembatas kaca dan berteriak-teriak. Mereka berhenti sejenak. 


"MAS REZA JANGAN TINGGALIN AKU, MAS LUPA SAMA AKU. AKU WANITA DI JEMBATAN ITU. MAS INGATKAN."


"KENAPA KAMU PILIH WANITA JALANG ITU. BUKAN AKU."


"AKU CINTA SAMA KAMU. DULU DAN SEKARANG.


Reza mengerut alis. Menatap Alisha yang tambah kacau. Belum bisa berpikir.


"CUKUP ALISHA. TAHU BEGITU AKU BIARKAN SAJA KAMU MELAKUKANNYA." Reza bersuara keras. Emosi. Dia ingat tentang Alisha cuma dia diam tidak mau mengingat hal dulu. Toh itu bukan ingatan yang harus dikenang.


"Hahaha…BAN*SA*T" Teriak keras Alisha tidak terkendali. Meracau di dalam ruangan sehingga kedua polisi itu dibuat kesusahan.


Reza dan yang lain melanjutkan kembali langkah kakinya. Tidak memperdulikan teriakan wanita itu dan keluar dari ruangan. 


♥♥♥