Married With Single Daddy

Married With Single Daddy
54. Penangkapan dan kesepakatan



♥♥♥


Suasana pagi menjadi suasana paling Luna suka karena dengan sarapan pagi bersama dia bisa saling mengeratkan keharmonisan di atas meja makan. Mengobrol. Bercerita seperti saat ini.


"Opah. Biboy dapet oleh-oleh jugakan dari omah, bukan cuma mommy kan?" tanya Biboy menatap Gege yang sedang menikmati sarapannya lalu terhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan cucunya.


"Tentu saja. Masih ada dikoper opah. Nanti kita buka sama-sama, ya." 


"Asyik, makasih opah."


"Sama-sama."


Reza dan Luna bertukar pandang dan tersenyum melihat kegirangan Biboy. Sebentar lagi putranya akan masuk sekolah TK. Sebelum masuk sekolah dasar. Reza dan Luna sengaja mengajarkan anak sulungnya untuk sekolah pada umumnya. Bukan homeschooling. Agar dia bisa berbaur dengan teman seusianya.


Sarapan pagi mereka pun menyenangkan karena Biboy terus saja menceritakan teman baru, anak tetangganya tak jauh dari rumah hanya melewati dua rumah saja. Namanya Clara gadis seumuran dengan Biboy dengan paras cantik dan imut. Dia tidak tahu habis-habisnya menceritakan teman wanitanya.


"Apa kamu suka Clara?" tanya Gege menggoda Biboy yang belum tahu apa-apa tentang cinta.


"Suka. Clara cantik. Pacar Biboy. Opah." balas Biboy polos.


Luna dan Gege berdecak kaget. Masa seusia dia bisa tahu pacar-pacaran kalau tidak ada yang mengajarkan. Nggak mungkin Mirna mengajari hal seperti itu. 


"Hush. Masih kecil. Jangan bilang pacar-pacaran." protes Luna memberikan nasehat. Dengan jari telunjuk ditempel di mulutnya. Pertanda tidak di bolehkan hal macam itu untuk Biboy masih di bawah umur.


"Kamu diajarin siapa?" tanya Gege. Mencondong badannya pada cucunya yang berada disamping. 


Biboy menoleh kearah Reza. Namun sikap Reza sedikit mengusik Biboy agar tidak bicara apa-apa agar dia tidak dapat amukan dari Luna.


"Daddy yang bilang. Kata daddy anak cewek harus dipacarin." kata Biboy polos mengarah tangan menunjuk Reza yang terlihat so tidak tahu. 


Reza menelan salivanya. Mendapat tatapan dari istri dan mertuanya. 


"Hmm, aku nggak bilang begitu kok." bela Reza sendiri. Dan pura-pura makan padahal sudah selesai sejak tadi dan mengambil minum dan membuang wajah ke segala arah.


Mendapat tatapan dari keduanya membuat Reza takut. Malah lebih takut saat dia melihat setan di villa dulu.


"Mas Reza. Kamu kok ajarin anak sendiri begitu sih. Dia masih kecil. Beda sama kamu."


"Belajar dari sekarang biar nggak kaget."


Gege menggeleng. Tidak memberi suara.


"Jangan ajarin Biboy Jadi playboy kayak kamu." 


"Sayang, aku bukan playboy. Aku itu orang yang setia sama wanita.


"Katanya Abel. Kamu waktu sekolah sering sekali mainin cewek. Ugal-ugalan. Ganti-ganti cewek. Dan suka nyakitin cewek sampai mereka menangis."  Cerita Luna pada Reza. 


Reza memang suka mainin perasaan wanita tapi itu dulu sekali. Dia hanya mencari yang wanita yang cocok. Tapi selama pacaran dengan wanita tidak ada yang bisa membuat hatinya bergetar seperti pada Luna. Berbeda dengan Lisa saat bersamanya Reza merasa harus melindungi dan menyayanginya. Dia cinta dengan Lisa tapi tak seperti cintanya pada Luna.


Dia menghela nafas siap memberi jawaban agar Luna tidak salah paham akan dirinya di masa lalu.


Sementara Gege dan Biboy sudah selesai makan meninggalkan keduanya ke lantai dua. Tidak mau mendengar urusan rumah tangga anaknya dan membiarkan mereka menyelesaikan sendiri.


"Sayang. Itu dulu. Sekarangkan sudah beda. Aku cuma milik kamu. Tubuh, cinta, dan harta cuma milik kamu. Nggak ada yang lain kok." kata Reza mengangkat tangan Luna dan menciumnya lama hingga tatapan keduanya saling bertukar. 


Luna tertawa kecil. Melihat tingkah Reza begitu serius. Padahal dirinya hanya menanyakan saja, tidak serius. Itu masa lalu. Lagian dia juga tidak peduli dengan masa lalunya seperti apa yang penting sekarang masa depannya bersama dengan keluarga kecilnya. 


"Kamu kok ketawa? Ada yang lucu?"


"Kamu lucu banget, mas."


"Maksudnya?"


"Lagian kamu serius banget."


"Sayang. Aku begini karena aku nggak mau kamu berpikir negarif. Aku takut kamu tinggalin aku."


Luna merasa terharu dengan ucapan Reza yang begitu mencintainya. Begitu besar. Ia mengelus pipi Reza. Saling bertatapan.


"Jangan bilang begitu. Seperti yang kamu bilang. Aku milik kamu. Kamu milik aku. Nggak akan pernah berubah." Luna menyentuh bibir Reza dengan jari telunjuknya. 


"Jadi melow begini."


"Kamu aja yang sensitif."


"Bawaan babies kayaknya."


Tawa mereka begitu lepas. Setelah selesai makan Reza memutuskan untuk pergi ke kantor karena akan sesuatu yang akan terjadi. Reza mencium kening Luna. Lalu bergegas menaiki mobil. Siap dengan apa yang terjadi.


Reza mengambil ponsel. "Apa semuanya siap?"


•••


Lobby kantor, suasana sedang ramai-ramainya karena jam masuk kantor masih ada sekitar 40 menit lagi. Reza turun dari mobil setelah Soni membuka pintu. Dia merapikan jasnya sebelum masuk kantor. Memandang gedung di hadapan Reza. Tersenyum sumringah.


"Aku sudah tidak sabar." Reza sekilas menoleh pada Soni.


"Sebentar lagi pak." balas Soni dengan senyum.


Mereka masuk dengan langkah percaya diri. Dan dipandang oleh karyawan yang sejak tadi sudah memandangnya dengan rasa kagum. Terutama wanita. Ia sudah biasa. 


"Pak Reza makin ganteng saja, ya."


"Iya ganteng. Sexy pula."


"Bu Luna benar-benar beruntung dapetin pak Reza yang sempurna."


"Betul tuh."


"Hush… Jangan harap kalian jadi pelakor. Ngimpi boleh."


"Iya, iya tahu."


Bisikan para karyawan wanita setiap kedatangan Bosnya. Reza dan Soni hanya mendengarkan saja bisikan-bisikan karyawannya itu. Asal tidak ada yang membicarakan Luna, istrinya. Apalagi dia mendengar karyawannya menghina Luna. Dia akan berusaha dengan Reza langsung.


Masuk ruangan Reza langsung melepaskan jas, melonggarkan dasi dan mengambil semua berkas di meja, mengecek langsung dan menandatangani yang menurutnya penting.


Soni datang. Menghampiri. "Pak, dia menelpon. Apa bapak mau bicara dengannya." ucap Soni hendak menyodorkan ponsel miliknya.


"Kenapa dia tidak menelpon ke ponselku?"


"Entahlah, jadi bagaimana, pak?"


"Berikan padaku."


Soni memberikan ponsel miliknya pada Reza yang duduk santai di kursinya. Berbicara serius dengan seseorang di ujung telpon.


Telepon ditutup dia memberikan pada Soni. Lalu dia memerintahkan sekretarisnya. "Lakukan saja sekarang."


"Baik pak."


Reza berkutik dengan laptopnya hingga tidak terganggu oleh siapapun. Untuk menyelesaikan berkas yang sempat tertunda. 


Sementara itu di lobby bawah, para karyawan berhamburan saat mendapati ada beberapa polisi masuk ke dalam. Dengan langkah tegas menekan lift.


Polisi memasuki sebuah ruangan cukup besar, dan memasuki langsung ruangan tanpa pikir panjang karena dia sudah dapat izin dari atasan perusahaan yang tidak lain adalah Reza.


"Apa-apaan ini?" kedua pria itu kaget, melihat kedatangan beberapa polisi. Secara tiba-tiba.


Polisi berdiri tegak. Memberi surat pada pria itu.


"Ini surat penangkapan, atas nama Hardiantara Putra dan Satya Pradityata."


"Atas dasar apa?"


"Kami akan jelaskan dikantor. Saya harap bapak bisa bekerja sama dan tidak membuat keributan di dalam kantor."


Hardian dan Satya berdiri. Mengikuti instruksi. Tangan keduanya diborgol terbuat dari besi keras. Hingga terasa dingin dikulit keduanya.


"Tapi kenapa harus diborgol?" kata Hardian terus mengoceh. Melihat kedua tangan sudah diborgol. Merasa tidak nyaman. Dia bukan penjahat. 


"Turuti saja pak." balas polisi. Dan memberikan kode pada anak buah yang lain untuk siap untuk keluar ruangan. 


"Tapi nanti para karyawan akan salah paham." Satya risih. Malu bila dia keluar dengan tangan yang borgol. Apa yang akan mereka bicarakan nanti. 


Keduanya masih belum menyadari apa masalah mereka. Karena menurutnya semua itu sudah di atur dengan baik oleh mereka bertahun-tahun lamanya. Kalau bukan salah satu dari mereka yang memberikan keterangan dan bukti berkas yang mereka simpan rapat selama ini. 


"Cepat lepas." keduanya terus mengoceh tidak terima.


"Ayo cepat bawa mereka berdua."


"Tunggu. Kalian juga harus membawa satu orang lagi."


"Menurut anda pak Fredi? "


"Iya." singkat Hardian. Terkejut. Bagaimana bisa polisi tahu bahwa maksudnya adalah Fredi. Dan menatap dengan wajah bertanya-tanya. Apakah yang sedang terjadi.


"Tenang saja, beliau sudah ada di sana menunggu kalian berdua. 


"Apa?" giliran Satya terkejut.


"Ayo jalan. Kita selesaikan di sana saja."


Keduanya terus memasang muka tidak bisa di siratkan. Terus bertanya pada diri mereka. Saat karyawan melihat keadaannya kedua pria yang diborgol yang ternyata adalah Hardian dan Satya. Mereka mulai menggosip keduanya. Menunduk malu. 


"Gila, jadi selama ini Pak Hardian sama Pak Satya korupsi?"


"Nggak nyangka."


"Tampang alim. Hati bejat."


"Rasain."


Lontaran para karyawan yang terus menggosip. Mereka dengan lontaran buruk. Dan tatapan tak suka. Kecewa. 


Sampai di lobby mereka dipaksa masuk ke dalam mobil. Menjaga ketat agar tidak bisa kabur. Ada beberapa wartawan yang terus menjepretkan gambar keduanya dan pertanyaan-pertanyaan untuk mereka. Mereka menutup wajah karena malu.  Lalu mobil melaju meninggalkan kantor perusahaan SJC.


"Mereka sudah meninggalkan tepat, pak." ucap Soni pada Reza yang sejak tadi melihat hal itu di layar laptopnya.


"Syukurlah." Reza tersenyum bangga.


"Iya pak."


•••


Malam sebelumnya… 


Dalam sebuah apartemen, empat pria sedang duduk dan bicara serius. Iya, kelima pria itu adalah Reza, Soni, Raka, Yuda dan satunya lagi Fredi.


"Jadi kamu setuju dengan kesepakatan kita, fredi?" tanya Reza. Menatap penuh. Agar pria itu sanggup dengan apa yang sudah disepakati. 


"*Saya setuju. Tapi, istri saya... *"


"Jangan khawatirkan itu." kata Reza. Lalu menoleh pada Yuda yang sekarang menjadi pengacara di perusahaanya. Menjadi salah satu orang yang Reza percaya. "Mas Yuda berikan berkas kesepakatan kita padanya." perintah Reza lalu Yuda memberi berkas itu pada Yuda.


"Ini apa?"


"Kamu baca saja, itu adalah apa yang akan aku berikan padamu. Dalam kesepakatan ini. Asal kamu bisa mengungkapkan semuanya di kantor polisi."


"Kamu tidak berbohongkan?"


"Tentu saja. Disini ada pengacara. Aku tidak akan mengikari janji."


"Baiklah. Aku setuju."


Mereka pun melakukan kesepakatan yang sudah ditandatangani kedua pihak dan saksi. Reza percaya dengan melakukan itu kedua orang itu akan cepat disingkirkan. 


Dalam kesepakatan ini, sebagai balasannya, dia akan memberikan perlindungan istrinya dan memberikan rumah di luar kota selama Fredi mendekam di penjara.


Dan memberikan keringanan hukuman yang didapat Fredi dan Alisha. Asal saat mereka keluar suatu hari nanti mereka harus meninggalkan jauh Jakarta.


Meski cukup beresiko.


"Baiklah ada yang mau kamu sampaikan sebelum kita menutup obrolan ini?"


Fredi diam. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lakukan sekarang. Menyerahkan diri pada Reza. Ini demi keluarganya. Selama ini dia memakan uang haram yang tidak membuat hidup nya bahagia. 


Dia sudah membuat Alisha menderita. Begitu juga istrinya. Ia merasa egois dengan keserakahanya. Fredi menangis. Menyesal. 


Sementara Reza, Soni, Raka dan Yuda terdiam tidak ingin merusak suasana sekarang. Melihat Fredi menangis yang dikeluarkan Fredi membuat ke- 4 pria merasa kasihan. Iba.


Ini adalah tangisan tulus seorang ayah yang ingin melindungi keluarganya. 


"Saya benar-benar minta maaf sama kamu Reza. Saya memang salah. Saya hanya bisa bilang maaf. Dan juga anak saya Alisha. Saya benar-benar sangat menyesal."


Reza mengelus pundak pria paruh baya yang lirih. Dan memberikan ketenangan. "Kata istri saya, Aku harus bisa memaafkan orang sebesar apapun atas kesalahannya. Karena Allah saja maha pemaaf apalagi saya hanya seorang manusia biasa. Saya akan memaafkan semua kesalahan yang anda perbuat untuk perusahaan. Saya juga yakin sebenarnya anda juga orang yang baik. Hanya saja anda terjerumus oleh hal buruk."


Fredi berdiri. Reza merasa canggung saat pria itu berlutut di kakinya. Reza mencoba mengangkat tubuh pria itu. 


"Apa yang anda lakukan? Berdirilah."


"Terima kasih, saya sangat sangat berterima kasih. Anda benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti beliau." 


Fredi membenarkan posisinya. Karena dorongan Reza. Merasa tidak enak. 


"Harusnya saya yang bilang begitu karena anda mau ikut dalam kesepakatan ini."


"Ini sudah pilihan saya."


"Terima kasih."


Mereka saling berjabat tangan sebelum akhirnya mereka siap untuk keesokan harinya.


♥♥♥