
♥♥♥
Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 tapi Reza belum juga datang menjemputnya. Luna duduk di ruang tamu menonton acara gosip yang membuat suasananya menjadi semakin kesal. Karena artis sekarang melakukan hal konyol agar pamornya menjadi naik.
"Artis sekarang lebih mementingkan pencitraan. Untung bukan artis nggak usah capek-capek cari ketenaran dan uang." gunam Luna sambil fokus Mendengar dan melihat berita gosip itu dengan mulut yang mengunyah pocky snack favoritnya.
Langkah kaki seorang wanita paruh baya datang menghampiri dengan sebuah secangkir teh dan diletakkan di meja.
"Bu...Pak Reza belum datang menjemput?" ucap Surti begitu penasaran menatap majikannya.
"Belum nih, Luna sudah bete banget padahal mau periksa kandungan."
"Mungkin sedang dalam perjalanan kemari. Kalau begitu saya pamit ke dapur dulu." Pamit Surti dan pergi meninggalkan Luna yang gelisah menunggu suaminya.
"Iya."
Beberapa menit kemudian seorang pria datang dengan penampilan kacau. Kemeja kerja yang lengannya setengah digulung, dasi yang sedikit dikendorkan dan kancing atas sudah terbuka.
"Sayang maaf aku terlambat."
Reza mencium pipi istrinya yang sedang duduk menonton acara televisi dan menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Kamu berantakan banget darimana?" tanya Luna curiga.
Sedangkan Reza melihat keadaan nya tanpa sadar keadaannya memang tampak berantakan. Luna terus menatap tajam. Pasti istrinya berpikir yang aneh-aneh tentangnya.
"Jangan salah paham. Aku tadi survei tempat pembangunan apartemen yang sudah lama tak dilanjutkan lagi pembangunannya." balas Reza.
Luna menyodorkan teh yang belum sempat dia minum tadi. "Minum dulu nih. Kamu pasti capek. Aku kebidanannya sendiri saja." Reza meminum teh yang diberikan Luna. Belum menjawab. Dan meletakkan kembali cangkirnya.
"Nggak aku antar kamu. Sekarang kan aku sudah datang. Ayo kita berangkat." kata Reza berdiri seraya melayangkan tangannya ke arah Luna agar dia menyambutnya.
Luna menyambut tangan suaminya dan mengambil tas disisinya. "Beneran?!" tanya Luna memastikan karena sekarang dia tak tega melihat Reza tampak kecapean. Mesti tadi moodnya sempat kesal namun dia sekarang mengerti.
"Iya sayang. Aku juga ingin tau calon bayi kita sehat atau tidak. Masalah jenis kelamin aku tak ambil pusing. " ucap Reza.
Reza menarik tangan Luna lembut. "Dokter Regina pasti menunggu kita." ucapnya lagi seakan dirinya tak sabar melihat calon bayinya.
Luna hanya mengangguk. Dan mengikuti ucapan suaminya yang begitu perhatian terhadapnya. Rasa syukur dipanjatkan karena mendapat pria yang begitu sempurna.
Lima belas menit menuju bidan mereka sampai dan langsung menuju ruangan dan diantar oleh salah satu staff karena dia tak harus mengantri.
"Silahkan masuk." seorang wanita berjas snelli sudah menunggu dan mempersilahkan untuk duduk.
Mendapati kedatangan keduanya. "Terima kasih" dan duduk didepan meja saling berhadapan.
"Maaf terlambat."
"Tidak masalah. Jadi kalian sudah siap melihat calon bayinya?"
"Tentu saja."
Luna berbaring diranjang dan Reza yang berdiri disamping dengan memegang erat tangan satunya. Memandang ke arah layar monitor saat benda itu mendarat di perut Luna yang sudah terlihat buncit meski baru 5 minggu.
Melihat ada sebuah pergerakan di layar monitor membuat keduanya bungkam merasa sangat senang dan terharu. Melihat janin yang didalam perut Luna.
"Wah..selamat pak ternyata istri anda mengandung anak kembar." kata dokter menjelaskan tak lepas dari pandangan keduanya ke arah monitor.
"Kembar?! aku nggak percaya kalau bakalan dapet anak kembar. Berarti aku sudah memenuhi keinginan ayah kamu sayang." ucap Reza mencium kening Luna lama.
Luna hanya bisa tersenyum.
Tidak bisa mengatakan apa-apa saking bahagia, dia akan punya anak kembar keinginan ayahnya dan juga keinginannya. Karena sejak alm. kakaknya selalu pamer anak kembarnya. Hingga dirinya pun berkeinginan ingin punya anak kembar. Sekarang dia rasakan.
"Janin ibu Luna juga cukup sehat. Saya harap ibu bisa makan lebih teratur dan jangan banyak pikiran karena akan mempengaruhi kesehatan bayi anda." timpal dokter itu lagi.
"Iya dokter. Saya akan ingat itu."
Setelah cukup melakukan pemeriksaan. Mereka memutuskan untuk pulang.
Namun dalam perjalanan istrinya merengek ingin makan mangga yang ada di pinggir jalan terlihat menggiurkan seakan ilernya akan menetes.
"Pak Yanto berhenti disini. Luna mau beli mangga. Itu di depan situ…" perintahnya, menunjuk gerobak merah yang sudah ada mangga yang sudah dikupas dan dipotong menjadi mekar seperti bunga.
"Kamu yakin mau beli disitu?" tanya Reza seakan tidak suka karena buah dipinggir jalan itu tidak baik untuk Luna yang sedang hamil.
"Iya, kamu beli gih. Aku tunggu di mobil." Suruh Luna seperti bos.
Reza menatap tajam istrinya dan membuang napas panjang. Paling sebel kalau Luna sedang ngidam begini maunya harus selalu dikabulkan kalau tidak akan menangis seperti bocah.
"Kok diam saja? nggak mau?"
"Mau..kok buat istri tercinta masa sih nggak mau."
"Cepet turun aku udah ngiler nih. Si kembar yang mau loh."
Sebelum turun Reza mengelus perut Luna dan berbisik di perutnya. "Sabar anak-anak! Daddy akan belikan yah." lalu mengecup perus Luna sekilas dan membuat istrinya merona dan geli.
Reza keluar dan melihat sekeliling jalan takut ada mobil saat membuka pintu mobil meskipun sudah diparkirkan di sisi trotoar.
Lalu dia berjalan pada gerobak merah. Dan membeli lima buah mangga dan diberi sambal secara pisah. Membuat Reza juga semakin tergiur dengan buah mangga di tangannya seakan dirinya juga inginkan buah tersebut.
GLEK! Menelan ludahnya. Aku jadi menginginkan mangga ini.
Reza masuk kembali dan mobil. Dan memberikan buah mangga pada Luna. Mobil mulai dijalankan oleh sopir menuju kediamannya.
•••
Aldo dan Yuda duduk di ruangan lumayan besar dengan design modern sambil menikmati coffee dan cake yang sudah disediakan oleh Aldo untuk pertemuan mereka membicarakan soal kejadian empat tahun lalu yang masih misteri itu.
TOK! TOK!
Suara pintu terdengar dan masuk seorang pria yang mereka kenal dan satunya tidak kenal. Dan duduk disamping saling memandang.
"Sorry telat. Bawa istri dulu periksa kandungan." seru Reza menoleh pada kedua orang yang sejak tadi menunggunya.
"Santai saja, Mas. Terus bagaimana pemeriksaan kandungannya?" tanya Aldo peduli bukan berarti dia masih memendam perasaannya karena untuk sekarang Luna sudah dianggap sebagai saudaranya.
"Sehat dan baik. Luna mengandung anak kembar. Padahal di keluarga nggak ada gen anak kembar."
"Keluarga Luna ada. Dan dulu alm Istri aku juga mengandung anak kembar." Sahut Yuda.
"Benarkah?"
"Iya benar. Ibunya Luna kan juga punya kembaran tapi sama sudah meninggal juga."
Mereka saling berjabat tangan saling mengenalkan nama mereka. Raka adalah orang kepercayaannya selama ini. Selain menjadi asisten dia juga seorang yang cerdas dan bisa menyelidiki semuanya sesuai perintah karena dulu pria yang tampangnya seperti preman ini, seorang detektif swasta.
Keempat pria itu terus berdiskusi dan menonton rekaman di laptop. Rekaman itu cukup jelas meski sedikit redup pencahayaanya.
Melihatnya saja tak tega, wanita hamil terlempar oleh mobil merah hingga jauh terkapar.
"Aku nggak kuat lihatnya." Reza menyerah begitu saja tak ingin melihat hal itu. Perasaan marah pada pelaku yang telah melakukan hal bejat seperti itu dan kabur begitu saja.
"Sama Aldo juga."
Keduanya kembali pada posisi duduk tegak dan tak melihat kearah laptop. Karena sementara keduanya masih betah melihat kejadian itu sampai selesai.
Setelah cukup menyaksikan itu. Mereka memberi pendapat satu sama lainnya.
"Bagaimana?" tanya Reza pada Raka yang masih diam tak bersuara.
"Ini benar tabrak lari." Raka memperbesar gambar mobil merah dan melihat plat nomor pelaku. "Apa kalian sudah cek plat nomor B 1810 APA." tanya Raka ingin tahu menoleh pada Yuda.
"Sudah tapi tidak ada catatannya. Apa ini sengaja dihilangkan atau mobil ini memang belum daftar kepemilikannya." Yuda penasaran. Belum sempat menjawab ucapannya Raka berpikir sejenak.
Tanpa sadar Aldo menggerakkan matanya pada gambar tersebut di layar dan seperti mengetahui sesuatu atau mungkin mengenali mobil itu.
"Ini… ?"
"Kenapa Al?"
Raka ikut penasaran melihat reaksi Aldo. Dan begitu pula Reza dan Yuda sama penasarannya.
Aldo memperbesar gambar mobil dan menggeser ke arah stiker di jendela badan belakang tepatnya dengan huruf AA…
"Ada apa dengan stiker putih inisial AA itu. Kamu ingat sesuatu atau kamu tahu maksudnya?" Sahut Reza tanya dengan seksama.
"Alisha Aldo!!" ucapnya tanpa sadar.
Membuat kedua pria lainnya bingung. Tapi tidak untuk Reza dia paham maksud yang ucapkan Aldo.
Flashback
Empat tahun kebelakang…
"Sayang sini aku punya kejutan sama kamu loh?" gadis itu menarik tangan pria itu di samping posesif berjalan ke sebuah parkiran sekolah.
Mobil merah terlihat jelas di parkiran saat gadis itu menunjukkannya pada pria disamping.
"Bagaimana sayang. bagus nggak mobil aku? papah yang belikan loh." gadis itu bersemangat.
"Bagus."
Pria itu mengucapkan dengan nada datar dan tak begitu pedulikan.
"Aldo, kok reaksi kamu begitu doang."
"Iya sayangku Alisha mobil kamu bagus banget. Tapi kamu itu baru kelas sepuluh belum punya SIM loh."
"Nggak usah khawatir sayang. Ada papah kok. Dia bisa atur semuanya."
Tiba-tiba saja Alisha mengecup bibir Aldo dan terkejut dengan wanita dihadapannya yang begitu agresif.
"Ini sekolah Alisha." Aldo mendorong tubuh Alisha pelan sehingga tidak menyakiti wanita itu.
"Okay." Alisha mengambil sesuatu dalam tasnya. Dan memberikannya pada Aldo. "Kamu tempelkan."
"Apa ini?"
"Stiker huruf nama kita berdua AA."
Aldo pun meletakkan stiker putih itu di tengah jendela badan belakang cukup besar.
"Jadi lebih baguskan?" seru Alisha kegirangan.
"Iya."
"Kita foto yuk."
Mereka berfoto dengan bantuan seorang satpam sekolah. Berfoto dari badan mobil arah depan dan juga sebaliknya.
Dan terakhir mereka berfoto dibadan belakang mobil dan memperlihatkan inisial AA itu jelas.
Flashback End
Aldo cukup lama melamun dalam pikirannya. Dan terus saja menggelengkan kepala seakan tak begitu percaya apa yang sebenarnya terjadi.
Ini sebuah kebetulan atau memang ini sudah takdir kehidupan yang begitu terikat akan benang merah antara Luna, Aldo, Alisha dan yang lainnya.
"Aldo…?"
Reza terus memanggil beberapa kali tapi tidak juga dijawab.
"Aldo... ?" Reza teriak sehingga Aldo cukup kaget dan menoleh ke arahnya.
"Sorry…" Aldo tersadarkan dari lamunannya.
"Kamu tahu sesuatu?"
Aldo mengangguk. Dia kembali berpikir kembali dan mengingat kembali masa pacaran dulu dengan Alisha sebelum akhirnya berpacaran dengan teman sekelasnya Luna.
"Apa itu…?" Raka juga dibuat penasaran.
"Aldo cerita dong." timpal Yuda greget melihat Aldo masih bungkam.
"Tapi aku nggak mau menuduh dulu sebelum ada bukti." balas Aldo dan melihat ke arah Raka. "Mas, kamu bisa selidiki dulu plat nomor itu lagi?" tanya Aldo membuat ketiga pria diruntukkan dengan rasa penasaran.
"Bisa."
"Aldo mau cari sesuatu. Mungkin ini bisa menjadi bukti lainnya. Tapi aku nggak bilang kalau dia itu pelakunya."
"Apa itu...Al"
Ketiganya sudah diambang penasaran karena Aldo terus saja maju mundur bila berkata. Tapi mereka ikut bersabar dan tak gegabah menyikapinya.
Aldo tersenyum misterius. "Buku tahunan!!"
♥♥♥