LOVE ME PLIS

LOVE ME PLIS
BAG 08



Dewa Di Kamar Malah Senyum Senyum Sendiri...Ia merasa Lucu dengan Semua ini,


" Gadis Unik," Gumam Dewa..


Dewa pun Membaringkan Tubuhnya yang Merasa Lelah di Kasur Yang Empuk.


" Apa Perkataanku terlalu Menusuk Ya," Kata Dewa lagi mengingat Perkataan nya itu pada Pelayan Pribadinya itu.


" Tapi Memang Benar Dadanya Rata," Gumam Dewa Pelan


" Bukan Kah Di Usia Seperti itu Lagi Masa Subur suburnya," Gumam Dewa heran,


" Berbeda Sekali Dengan Zella yang Dadanya ...." Gumam Dewa Dan Malah Membandingkan Pelayan Itu dengan Kekasihnya dan Kini Ia Malah Merindui Kekasihnya Itu.


Dan Dewa Pun Malah Tersenyum sendiri mengingat Apa Yang Di Katakan pelayannya Saat Itu.


" Aku Benar Benar sudah Gila," Kata Dewa Lagi.


Ia Bingung Pada Perubahan Dirinya,


Mungkin Sudah Lama Sekali Dewa tak pernah Merasa Sesenang Ini,


DI TEMPAT LAIN....


" Dasar Dewa Gila..." Kata Mitha Kesal Saat Berada Di Kamarnya.


Ingin Rasanya Ia Melampiaskan Kekesalannya Itu pada Dewa Sekarang Juga, Namun Ia Tahan karena Ia tak mau Kakek Wijaya Kecewa Padanya Nanti.


" Nak..Apa Kau Sudah Tidur Sayank," Panggil Ibu Sri di Balik Pintu Kamarnya, Mitha Pun Menghampiri Ibunya itu Dan Membukakan Pintu kamarnya.


" Ibu... Belum Tidur," Tanya Mitha Lembut.


" Belum Sayank, Bagaimana... Apa Den Dewa Menyulitkan Mu Nak di Hari Pertamamu Kerja.," Tanya Ibu Sri Hawatir Pada Putrinya itu.


" Tidak Kok Bu," Kata Mitha Berbohong, Ia Tak Mau Membuat Ibunya Hawatir Dengan Perlakuan Dewa Padanya.


" Baguslah, Kalo Gitu," Kata Ibu Sri Lagi.


" Kalo Den Dewa Menyulitkan Mu Nak, Kamu Bilang Saja Pada Ibu, Kalo Tidak Pada Kakek Wijaya," Kata Ibu Sri Lagi.


" Bu... Apa Boleh Aku Memberi Pelajaran Pada Den Dewa Kalo Den Dewa Membuat hal Yang Tidak Tidak padaku," Kata Mitha Lagi.


" Maksudmu Nak, Apa Dia Membuat hal Yang Tak Pantas Padamu Nak," tanya Ibu Sri pada Putrinya Itu.


" Inikan Misalnya Bu," Kata Mitha Lagi.


" Terserah Padamu saja Nak, Yang Penting Dia Tak Melakukan Apa Pun Padamu," Kata Ibu Sri


" Kalo Seumpanya Den Dewa berbuat Hal Aneh, Katakan Pada Ibu, Ibu Pasti Akan Minta ijin pada Kakek Wijaya, untuk Memberinya Pelajaran" Kata Ibu Sri Lagi.


" apa Boleh Nanti Sama Kakek Wijaya Bu," Tanya Mitha Lagi.


" Pasti Boleh," Tebak Ibu Sri lagi.


" Bukankah Den Dewa Cucu Kesayangan Kakek Wijaya," Kata Mitha lagi.


" Walau pun Den Dewa Cucu Kesayangan Kakek Wijaya, Kalo Ia salah Memang Pantas Harus Di beri pelajaran," Kata Ibu Sri.


" Oooh... Oia Bu, Emangnya Kalo Jadi Pelayan Pribadi Itu Harus Selalu bersama Tuannya Ya Bu, misalkan Mandi Harus di temani, Baju Harus Di Pakaikan, Emang Seperti itu Bu," Tanya Mitha Lagi karena Ia Merasa penasaran.


" Tidak Kok Nak, tugas Pelayan Pribadi Cuma Hanya Menyiapkan Apa Saja untuk Majikannya," Kata Ibu Sri menjelaskan Pada pUtrinya.


BERARTI DEN DEWA TADI HANYA MENGGODAKU, batin Mitha Kesal.


" Apa Den Dewa tadi Menyuruhmu Menemaninya Mandi Nak," Tanya Ibu Sri Curiga.


" Iya... Cuma kan Tadi aku Tolak Bu, Karena Itu Bukan Pekerjaan" Kata Mitha Lagi.


" Mungkin Dia Hanya Menggodamu Nak," Kata Ibu Sri Tersenyum melihat Raut Wajah Mitha Yang Lagi kesal Karena Di Kerjai Den Dewa.


" Tadi Den Dewa Bilang Apa, Apa Saja yang Dia Suruh Nantinya," Tanya Ibu Sri lagi.


" Sudah Tau Kok Bu, Tadi Den Dewa Sudah Menjelaskannya Padaku Kok Bu," Kata Mitha Lagi.


" Oh Syukur Kalo Gitu, Istirahat Lah Nak, Ini Sudah Malam," Kata Ibu Sri Sayang.


" Iya Bu," Kata Mitha pelan.


Mitha Pun istirahat Dan Tidur Di Kasur Yang Empuk.


" haaaaaah... Aku Harus Bangun Pagi, Den Dewa Bilang Aku Harus Membangunkannya Besok Jam 4 pagi," Gumam Mitha pelan.


" Mau apa Dia Bangun Di Jam Segitu," Kata Mitha Lagi,


Mitha Memang Sudah Biasa Bangun Di Jam Segitu Jadi Tak Masalah Untuknya Kalo Harus bangun Di jam Segitu.


" Sudah lah Aku tidur Saja," Kata Mitha Lagi dan Ia Pun Memejamkan Matanya.


Mitha** pun sudah Bangun Di jam Segitu.


Pertama Tama Ia Melaksanakan Sholat Subuh Lebih Dulu,


Dan Barulah Ia Akan Ke Kamar Dewa untuk membangunkannya..


Mitha Langsung Masuk Begitu saja Ke kamar Dewa karena Itu adalah Permintaan Dewa Saat itu,


Mitha Pun Menghampiri Tempat Tidur Milik Dewa, Dan Mitha Pun melihat pemilik Tempat Tidur itu Masih Tertidur lelap.


" Den..." Panggil Mitha Pelan.


Namun Yang di panggil tak Menyautinya dan Tetap Tertidur.


Mitha Pun Membangunkan Dewa Dengan menyentuhnya pelan.


" Den... Bangun Den," Kata Mitha Sedikit Keras Dan Tetap Saja Dewa Tak Kunjung Bangun.


" Ya Ampun.... Aku Harus Bangunin Kaya Gimana Lagi," Gumam Mitha Pelan,


Mitha Tak Tau Kalo Dari Tadi Dewa Memang Sudah Bangun Dan Sengaja Mengerjai nya Lagi.


Mitha Tak Punya Cara Lain Ia pun memdekatkan Mulutnya di kuping Dewa, Baru Saja Mitha Mau berteriak, Tangan Besar dewa lebih Dulu membekap Mulutnya Agar Tak berteriak di telinganya dan Malah Menindih Tubuhnya.


" Mmmmmm," Gumam Mitha di Tangan Besar milik Dewa.


" Kau mau membangunkanku Dengan Teriakan mu," Kata DEWA pelan dan Ia Malah tersenyum melihat Mitha melotot Seperti itu padanya.


Yang membuat Mitha kesal yaitu Dewa Malah Menindih Serta memeluk Tubuhnya karena Mulutnya Masih Di bekap Tangan Besarnya.


Mitha pun Berontak dan menyikut Perut Den Dewa sedikit Keras.


" Aaaaarrgh..." Ringis Dewa kesakitan Saat Mitha Malah menyikut perut Dewa dan Mitha Pun Bangun Terbebas Dari Pelukan Dewa.


" Den Dewa Sudah Bangun," Tanya Mitha mencurigai Dewa.


" Tenaga Mu Kuat Juga, Gadis Kecil," Kata Dewa malah Tak menjawab pertanyaan Mitha Tadi.


" Badan Aja Kecil, tapi tenaganya Kuat Banget," Kata Dewa Lagi.


" Den Dewa Belum Jawab Pertanyaankul" Kata Mitha Kesal


" Yang Mana," Tanya Dewa.


" Den Dewa Sudah Bangun Dari Tadi Kan," Tebak Mitha.


" Tidak.. Saya Baru Bangun Saat kau Mulai Mendekatiku untuk Membangunkanku Seperti Itu," Kata Dewa


" Untung Saja Saya Bangun, Kalo Tidak Pasti Telinga Saya Sakit Mendengar Teriakan Mu itu," Kata Dewa Malah Ngomel Panjang Lebar.


KATANYA PENDIAM, MENURUT AKU DEN DEWA MALAH BAWEL MELEBIHI IBUKU, pikir Mitha tersenyum.


" Kenapa Kau Tersenyum," Tanya Dewa Saat melihat Senyum Manis Milik Mitha.


" Tidak ada... Sudah... Aden Kan Harus Bangun, Ini Udah Lewat jam Setengah Lima Loh Den," Kata Mitha Lagi.


" Apa... Jam Setengah lima," Kata Dewa Tak Percaya pada Ucapan Mitha Dan melihat Jam Yang Ada Di Tangannya.


Benar Saja Jam sudah Menunjuk Jam Setengah Lima Kurang


" Kenapa Kau tak Bilang Dari Tadi," Kata Dewa Sedikit Buru Buru.


" Dia Sendiri Gak Bisa Di Bangunin, Malah Menyalakan aku," Gumam Mitha Pelan dan Masih Di dengar Dewa.


" Kau Ini... Bukannya Bantuin Saya Malah Ngomel Ngomel Seperti Itu," Kata Dewa Lagi.


Mitha Pun Menyiapkan Air mandi untuk Dewa Mandi.


" Emangnya Aden Mau kemana Di Pagi Buta Seperti ini," Tanya Mitha Penasaran.


" Tentu Saja Bekerja, Apa Lagi," Kata Dewa, Entah Kenapa Kalo Berbicara Dengan gadis Kecilnya Ini Ia Merasa Bebas seperti dirinya Sendiri.


" Di Pagi buta begini," Gumam Mitha Pelan.


" Kenapa Memangnya, Toh Saya Kerja Juga Kan Buat Gajih Kamu Nantinya," Kata Dewa Lagi.


" Hahahha Bener juga Apa Kata Aden," Cekikik Mitha menggema Di Kamar Mandi dan Entah Kenapa Membuat Dewa Ingin Ikut Tertawa Juga.


" Kalo Den Dewa Gak Kerja, Yang Gajih Aku Siapa," Kata Mitha Lagi.


" Mana Mungkin Kakek Kan," Kata Mitha Lagi.


" Kakek Siapa Maksudmu," Tanya Dewa Bingung, Semua pelayan Memanggil Kakeknya Tuan, Hanya Gadis Kecil ini Yang Berani Memanggil Kakeknya Dengan Sebutan Kakek.


" Tentu Saja Kakek Wijaya," Kata Mitha Lagi.