
SEMINGGU KEMUDIAN...
Kesehatan Kakek Wijaya Semakin Memburuk Saja,
Keluarga Jaya Kusuma Juga sudah memanggil Dokter terhebat Di sana.
Namun Kakek Wijaya Belum sembuh Juga, Dan Malah Bertambah Parah Saja.
Dewa juga Sudah melakukan Berbagai Cara untuk Kesembuhan Kakeknya, Namun Tak Kunjung Sembuh Juga,
Mitha yang di tugaskan Untuk merawat Kakek oleh Ibunya kini Sedang Merawat Kakek Wijaya,
" Kakek... Cepat Sembuh," Gumam Mitha Pelan dan Menangis Di samping Kakek Wijaya,
Ia Merasa Kehilangan Sosok Seperti Kakeknya..
" Aku Baik Baik saja Nak, Tidak Usah Menangis Seperti itu," Kata Kakek Wijaya Saat mendengar Gumaman Mitha Saat itu,
" Kakek Tidak Tidur," Tanya Mitha,
" Tidak, Kepala Kakek Rasanya Pusing Sekali," Kata Kakek Wijaya Lagi.
" Apa Kakek Butuh Sesuatu...Biar Saya Ambilkan," Kata Mitha Hawatir pada Kesehatan Kakek Wijaya.
" Tidak Nak, Kakek Tidak Membutuhkan Apa Pun," Kata Kakek Wijaya Tersenyum pada Mitha.
" Kakek Mau Saya Pijitin, Biar Gak Pusing Lagi Kepalanya," Saran Mitha Pada Kakek Wijaya,
" Boleh Nak," Kata Kakek Wijaya Mengiyakan.
Mitha Pun Memijit Kepala Kakek Wijaya pelan,
" Setelah Kakek Pergi,,, Kau bisa kan Menjaga Cucu Kakek Nak," Kata Kakek Wijaya Asal.
" Kakek Bicara Apa, Memangnya Kakek Mau pergi kemana, Kakek Akan Sembuh Kok," Kata Mitha Menahan Tangisnya.
" Kau Harus Janji pada Kakek, Apa pun Yang Terjadi Kau tidak Akan Meninggalkan Cucu Ku Dewa Kan Nak," Tanya Kakek Wijaya Lagi.
" Iya Kakek, Saya Janji tidak akan Meninggalkan Cucu Kakek Yang pemarah Itu, Apa pun Yang Terjadi," Gurau Mitha Pelan Dan Tersenyum manis pada Kakek Wijaya,
" Hahahahahah Cucu Kakek Yang Itu memang Pemarah, Tapi Anak Nakal itu Baik Hatinya," Kata Kakek Pelan.
" Dia menjadi anak pemarah Karen Kurang Kasih Sayang Dari Ayah dan Juga Ibunya Yang Sudah Lama Meninggal," Jelas Kakek Menceritakan kisah Cucunya Itu.
" Sampai Dewasa pun Dewa tak pernah Mendapat Kasih Sayang Ayah dan Juga Ibu Tirinya," Kata Kakek Lagi.
" Hanya Aku Yang Memberi nya Kasih Sayang," Kata Kakek Wijaya Lagi,
" Dan Sekarang Kakek Serahkan Padamu, untuk membahagiakan Cucuku itu," Kata Kakek Wijaya lagi.
" Kakek... Kakek Tidak Akan Kemana Mana, Jadi Kita Sama Sama Ya Untuk Membahagiakan Den Dewa," Kata Mitha Di sela air mata Yang Tak bisa Di tahannya Lagi.
" Kakek Tidak Bisa Menunggunya Lagi Nak," Kata Kakek Wijaya pelan.
" Kakek Jangan Berkata Seperti itu, Kakek Harus Yakin Kalo Kakek Bisa, dan Kakek Akan Sembuh," Kata Mitha Menyemangati Kakek Wijaya.
Tak lama Dewa pun Masuk Ke Kamar Kakek Wijaya dan Tak Sengaja Melihat Air mata Yang keluar dari mata Mitha, Dan Mitha pun Buru Buru menghapus Air mata saat Dewa tiba.
" Apa Kakek Baik Baik Saja," Tanya Dewa Pada Kakeknya.
" Apa Kau menangis Tha," Tanya Dewa pada Mitha,
entah Sejak kapan Dewa Selalu Memanggilnya Tha Seperti itu, Mitha Saja Tidak Tau.
" Aah Tidak Kok Den," Elak Mitha.
" Kau Pikir Aku tak Melihat Air Matamu Itu," Kata Dewa tak bisa Di Bohongi.
" Saya Hanya Merasa Kasihan Sama Kakek Wijaya kalo terbaring lemah Seperti ini," Kata Mitha pelan.
" Sudah Aku katakan Padanya, Aku Baik Baik saja, Tapi dia Malah MeNangis Seperti itu," Kata Kakek Wijaya pelan..
" Bagaimana Dia Tak Sedih Kek, Melihat Kakek Seperti ini saja Membuatku menangis Juga," Kata Dewa pelan.
" Makannya Kakek Cepat Sembuh, biar kami tak menghawatirkan Kakek seperti ini Lagi," Kata Dewa lagi.
" Kakek Ngomong Apa, Kakek pasti Sembuh," Kata Mitha Di sela Tangisnya,
" Nak..." Panggil Kakek Pada Dewa, Dan Dewa Pun Mendekati Kakeknya.
" Ada Apa Kek," Kata Dewa pelan.
" Setelah Kakek Meninggal Nanti, Tolong Jaga Anak Ini," Kata Kakek Menujuk Mitha Pada Dewa,
Dewa sedikit Bingung kenapa Kakeknya Berkata Dia Harus Menjaga Pelayannya.
" Maksud Kakek Apa," Tanya Dewa yang Penasaran, Jangankan Dewa, Mitha saja Penasaran Apa yang di katakan Kakek Wijaya Agar Menjaganya, bukan Sebaliknya.
" Kakek Berhutang Nyawa Pada Ayahnya, Dan Karena Kakek Nyawa Ayahnya Meninggal, Dan Kakek Berjanji Pada Ayahnya Untuk Menjaga Dan Membahagiakannya," Jelas Kakek Wijaya Pada Dewa.
" Kau Mau kan Berjanji Padaku Nak,Tolong Jaga Dan Bahagia kan Dia," Kata Kakek Wijaya pada Dewa Agar menjaga Mitha.
" Baik Kek, Saya Janji Akan Merawat dan Menjaganya dan Membuatnya Bahagia, Kakek Bisa Percaya kan Itu padaku," Kata Dewa yang Masih Belum Tau perihal Pernikahannya.
" Kau Akan Menyanggupi Semua Permintaan Terakhir Kakek Mu Ini Kan Nak," Kata Kakek Wijaya Pelan.
" Maksud Kakek, Membuat Nya Bahagia Begitu," Kata Dewa penasaran.
" Bukan Hanya Itu..." Kata Kakek Pelan.
" Kau Harus Menikahinya, Baru Aku Bisa Mati Dengan Tenang," Ucapan Kakek Bagai Petir di siang Bolong Bagi Mitha Dan Juga Dewa,
" Apa," Kata Mitha sedikit kaget.
" Apa," Kata Dewa Sedikit kaget juga dengan permintaan Kakeknya.
" Aa aku Ha harap, Ka kalian Be Berdua Me Menuruti Pe permintaan Ter akhirku Ini," Kata Kakek pelan terbata Bata dan mulai Lambat Lambat berbicaranya.
" AA aku Su sudah Mem membuat Su suratwasiat, Dan Ka kalian Ha harus Menuruti semua Ke Ke inginkan terakhhir ku ini," Kata Kakek Wijaya pelan.
Dewa Hanya Diam Tak Berbicara Ia Benar Benar Sibuk Dengan Pemikirannya sampai Sampai Mitha Berteriak Pun Ia Tak Mendengarkan,
" Den Dewa, Kakek Den," Panggil Mitha.
" Den Dewa," Panggil Mitha Semakin Kencang Saja Karena Yang Di Panggil Tak Kunjung Sadar.
Dewa Pun Sadar dengan Lamunan nya dan Melihat Kakeknya Sudah Lemas saja.
" Tolong Kakek Den, Tolong Kakek," Tangis Mitha Benar Benar Memilukan Bagi Dewa,
Dewa pun Memanggil Dokter... Dan Dokter pun Memeriksa Keadaan Kakek Wijaya Yang Sudah tak Bernyawa..
Dewa pun Malah Memeluk Mitha Yang bergetar Hebat dan Menangis Seperti itu dan Menenangkannya.
Tak Lama Semua Keluarga Jaya Kusuma pun Tau tentang Kabar duka Itu,
Mitha Yang Melihat ibunya pun Langsung Menghambur kepelukan Ibunya,
" Ibu.." Panggil Mitha Dan Memeluk Ibunya itu,
" Ya Ampun Nak, Pasti kau Ketakutan," Bisik Ibu Sri yang Memeluk Mitha Yang Bergetar hebat,
" Kakek Bu... Kakek," Kata Mitha Menangisi kepergian Kakek Wijaya.
Ibu Sri pun menenangkan Putrinya dan Membawanya Keluar dari Kamar Kakek Wijaya.
Dan Ibu Sri pun Membawa Mitha Ke Kamarnya dan Menenangkannya Di sana.
" Tunggu di sini," Kata Ibu Sri Pada Putrinya Agar Diam di kamar saja.
Mitha Hanya Diam dan Ibu Sri pun meninggalkannya Di dalam Sendirian,
ia Benar Benar terkejut Melihat Kematian Kakek Wijaya di depan Matanya Yang seperti itu, dan Mitha Pun Menangis...
" Huhuhuhu......" Mitha Pun Menangis Ia Benar Benar Teringat Kembali Bagaimana Ayahnya Pergi untuk meninggalkannya selama Lamanya.
Buat kalian yang Masih setia menunggu dan Membaca Kelanjutan kisah novel Ini semoga Suka Ya, Maaf Kalo Tulisan Dan Ceritanya Kurang Menarik😁