
" Yang Tadi Itu Siapa Den," Tanya Mitha Pelan saat sudah Berada Dalam Mobil.
" Dia Mantan Pacarku," Kata Dewa cuek.
" Oooh," Hanya itu yang Keluar Dari Mulut Mitha.
TERNYATA WANITA CANTIK ITU MANTAN PACAR DEN DEWA, CANTIK JUGA, batin Mitha.
" Apa Kau Cemburu," Goda Dewa,
" Saya... Cemburu... gak Lah Den, Untuk apa Coba Saya Harus Cemburu," Kata Mitha Malah Tertawa.
" Siapa Tau Kan Kau akan Cemburu Padanya," Jelas Dewa pelan.
" gak Lah Den,, Memangnya Siapa Saya Harus Cemburu sama Wanita Cantik Itu," Kata Mitha
" Kau Kan akan Menjadi Calon Istriku," Kata Dewa Lagi.
" Ya ampun Den, Ini tuh sudah Mau Satu Tahun, Masa Aden Masih mau Melakukan Perjodohan Ini Sih, Aku Kira Den Dewa Sudah melupakan nya," Kata Mitha Kesal.
" Memangnya Kenapa, Saya Tidak Mau Melanggar apa Yang Sudah Di tetapkan Oleh Kakek Wijaya,dan Saya Juga Tidak Bisa Melupakan Apa Yang Menjadi Keinginan Kakek," Kata Dewa Tegas.
" Setelah Saya Sembuh dan Bisa Berjalan Lagi Mau tak Mau kau Harus Menikah Denganku,itulah Yang Akan Terjadi nanti," Kata Dewa Lagi Lebih Tegas Lagi dan tak mau Di Bantah.
" Baiklah.. Terserah Apa Kata Den Dewa Saja," Kata Mitha Kesal.
Mitha Merasa Lelah Dengan Semua Ini, Ia Juga Tak bisa Menolak yang Sudah Kakek Wijaya Katakan dan Inginkan,.
Mitha pun Memejamkan Matanya Ia Ingin Sekali Melupakan Pernikahan Itu Walau Hanya Sebntar Saja,
Karena Mitha Merasa kelelahan Habis Dari Kampung Halaman Dan Langsung Menyusul Dewa Ke Tempat Terapi, Ia Pun Tertidur di sandaran Kursi Belakang,
Dewa Yang Melihat Mitha Malah Tertidur hanya Tersenyum, melihat Mitha Yang Tertidur Seperti itu, Dengan Pelan Dewa pun Memindahkan Kepala Mitha Di Pundaknya.
AKU YAKINKAN KAU YANG AKAN TETAP MENJADI ISTRIKU, dalam Hati Dewa yakin.
" Tha...Bangunlah, Kita Sudah Sampai," Kata Dewa Lembut.
" Maaf Den, Saya Malah ketiduran," Kata Mitha Pelan.
" Tidak Apa apa, Aku tau Kau Pasti lelah," Kata Dewa Pelan.
" Ayo den,, Biar Saya Bantu.." Kata Mitha Bermaksud Membantu Dewa Naik Kursi rodanya,
" Tidak Perlu, Kau Siapakan Saja Tempat tidur untuku, dan Air mandi, Aku Ingin Mandi Terlebih dahulu," Kata Dewa Pelan.
" Yang Menolong Ku biar Pak supir saja," Kata Dewa pelan.
Mitha Pun Menuruti apa kata dewa Dan Ia Langsung Menuju Kamar dewa Dan Menyiapkan Air Mandi Untuk Dewa...
Tak Lama Dewa Pun Masuk Kamar Dengan Di Bantu Supir Tadi.
" Terimakasih Pak," Kata Dewa.
" Sama Sama Tuan Muda Besar," Kata Supir itu, Dan Ia Pun pergi.
" Tolong Bantu aku Ke kamar Mandi Tha," Pinta Dewa.
" Iya Den," Mitha Pun Membantu Dewa Membukakan Bajunya,
" Cukup.. Kau Boleh Keluar," Pinta Dewa ia Tak Mau Mitha Menyentuhnya Saat Ia Sudah Bertelanjang Dada.
" Tapi Den.." Kata Mitha pelan.
" Saya Bisa," Kata Dewa Lembut.
" Den Dewa Yakin," Tanya Mitha Yang Benar Benar Hawatir.
" Aku baik baik saja.. " Kata Dewa pelan
" Kau Selalu Memaksa Agar Membantuku Mandi, Apa Kau Mau Melihat Kejantananku Hah," Goda Dewa.
" Ya ampun Den, Den Dewa mikirnya Jauh Amat Sih," Kata Mitha Kesal Pada pemikiran Dewa yang mulai tak Senonoh.
" Aku sudah Bilang Kan, Aku tidak apa apa, Kau Sendiri yang Membuatku Berpikir Seperti itu," Kata Dewa.
" Sekarang Kau Rapikan Saja Tempat Tidur kita," Kata Dewa menyebut nama Kita Namun Mitha malah Tak Mendengarnya, Dan Meninggalkan Dewa Di kamar mandi sendiriaN.
Mitha Pun Membereskan Tempat Tidur Dewa, di Rasa Sudah Selesai Semua... Mitha Pun Merasa Mengantuk dan Malah Tertidur di Ranjang Dewa, Karena Terlalu Lama Menunggu dewa selesai mandi.
30 MENIT KEMUDIAN...
Dewa pun Selesai Mandi,
ia begitu terkejut Saat melihat Siapa Yang Sedang Berbaring Di Atas Kasur Empuknya.
Dewa pun Pelan Pelan Turun Dari kursi Rodanya, Dan Mulai Berjalan Pelan Pelan,
Ia tersenyum Sendiri kala Berhasil Berjalan...
" Nyenyak Sekali Tidurnya, Jadi Tidak Tega Membangunkannya," Gumam Dewa..
Dewa pun Duduk Di Sisi Samping Pelayan Yang sedang Tertidur pulas Itu.
Dewa Terus Saja Memperhatikan Wajah Cantik Pelayannya Itu.
" Aku Harap Kau tidak akan menolakku lagi Tha," Gumam Dewa,
" Dan Mulai Hari Ini, Akan Mulai Menyukaimu," Kata Dewa Lagi.
Dewa tidak Tau Bahwa Di hatinya Dewa memang sudah Menyukai pelayannya Itu namun Dewa Belum menyadarinya.
30 menit pun Berlalu....
Mitha Terbangun dari Tidurnya...
Ia Sangat bingung kenapa Ia malah Tertidur Di Kasur Milik Majikannya.
KENAPA AKU MALAH TERTIDUR DI SINI, pikir Mitha Pelan.
DEN DEWA MANA, KENAPA TIDAK ADA DI SINI. dalam Hati Mitha Mencari Keberadaan Dewa.
AKU TIDUR LAMA JUGA, HAMPIR SETENGAH JAM AKU TERTIDUR DI SINI, Dalam Hati Mitha
KENAPA DEN DEWA TIDAK MEMBANGUNKANNKU, dalam Hati Mitha Heran pada Majikannya Itu.
" Kau Sudah Bangun," Suara Itu malah Membangunkan Lamunan Mitha.
Mitha Yang Mendengar Suara Majikannya Yang Berada Di ruangan Lain sedang Bekerja Langsung Menghampirinya.
" Kenapa Den Dewa tidak Membangunkan Ku," Tanya Mitha Setelah Di sisi Dewa.
" Membangunkan Kau Yang Sudah Ngorok Seperti itu, Mana tega Aku membangunkanmu," Kata Dewa bercanda.
" Aku Tidak Ngorok Den," Kata Mitha Kesal.
" Kau Kan Tertidur,Mana Tau Kau Ngorok apa Tidaknya," Jelas Dewa menggoda Pelayannya Itu.
APA IA AKU NGOROK,, batin Mitha Termenung
Dewa Yang Melihat Mitha Malah Termenung Hanya Menahan Tawa karena ia Bermaksud menggoda Pelayannya Itu.
" Hahhahaha Aku Hanya Bercanda," Kata Dewa.
" Gak Lucu Den," Kata Mitha Kesal Dan Cemberut.
Dewa Hanya Tersenyum Melihat Mitha Yang Cemberut Seperti itu.
" Tanda Tangan Di sini," Kata Dewa pada Mitha.
" Tanda Tangan, Tanda Tangan Apa Den," Tanya Mitha Bingung kenapa ia Harus Tanda Tangan.
" Ini Berkas Berkas Pernikahan Kita Nanti, Dan Kau Harus Tanda Tangan Di sini... Di sini... dan Di Sini," Kata Dewa Memperlihatkan Berkas Berkas Pernikahan nya.
" Kata Den Dewa Kita Menikah Setelah Den Dewa Bisa Berjalan, Ini kan Den Dewa Belum Bisa Berjalan Den," Kata Mitha Tetap Kekeh Tak ingin Menikah Dengan Dewa.
" Aku Bisa Berjalan... Apa Kau Mau Lihat," Kata Dewa serius Namun Malah Dianggap Bercanda Oleh Pelayannya Itu.
" Den Dewa Itu tidak Lucu," Kata Mitha Kesal.
" Kau Tinggal Lihat Saja, Kalo Aku Benar Benar Bisa Berjalan Kau Harus Menandatangani Berkas Berkas Ini, Kau Mengerti," Kata Dewa Malah Mengancam Pelayannya.
MANA MUNGKIN DEN DEWA BISA LANGSUNG BERJALAN KAN, pikir Mitha. dan Ia Pun Menyanggupinya.
" Baiklah... terserah den Dewa Saja," Kata Mitha Mulai Lelah.
Dewa Pun Berusaha Berdiri Mitha yang Melihat Majikannya Susah Berdiri saja Mau Membantunya Namun Dilarang Oleh Majikannya.
Dewa Yang Pura pura menahan Sakit di kakinya Hanya ingin Melihat Reaksi Pelayannya Itu,
" Cukup Den Jangan Di Paksakan," Kata Mitha Tak Tahan Karena Melihat Raut Wajah Dewa Yang Menahan Sakit.
" Cukup Den Dewa, Berhentilah, Jangan Memaksakan Diri Den," Kata Mitha Hawatir,
Dokter Arga Mengatakan Kalo Dewa Sampai Memaksakan Diri Akan Berakibat Fatal. Itulah Kata Dokter Arga Pada Mitha Saat Itu, Dan Dokter Arga Juga Di Suruh Dewa Agar Berkata Seperti itu Pada Pelayannya.
Arga Sendiri Sangat Tidak Faham Kenapa Dewa melakukan Itu, Namun Ia Pun Mengikuti apa mau Temannya Itu.
" Baiklah... Baiklah... Aku Akan Menandatangani Berkasnya, Tapi Den Dewa Berhentilah Memaksakan Diri seperti itu," Kata Mitha Menyerah Dan Ia Pun mau Menandatangani Berkas Berkas Itu,
Dewa yang Sangat Senang Karena Mendengar Pelayannya Mau Menandatangani Berjalan Dengan Sempurna Ke arah Mitha, dan Menunjukan Pada Mitha Di Mana Ia Harus Menandatangani Berkasnya.
" Disini....Disini...dan Di sini," Jelas Dewa,
Mitha Yang Begitu Hawatir Pada Dewa tidak Sadar kalo Dewa Berjalan dengan Sempurna Ke Arahnya,
Mitha pun Menandatangani Berkas Berkas Itu,