
Matahari yang bersinar tinggi tidak mengurungkan niat Anara untuk bergumul dengan ikan-ikan di dalam kolam di halaman belakang. Pelet ia tebarkan, membuat makhluk-makhluk kecil menggemaskan itu berenang serempak menuju area di mana pelet-pelet itu berada. Sesekali mereka akan bertubrukan demi mencaplok sebutir pelet. Sesekali gerakan mereka yang brutal akan membuat air kolam beriak dan menyiprat ke arah Anara. Membasahi kulit kakinya.
Mungkin sudah sekitar satu jam Anara di sini. Di mana sebelumnya, ia lebih asyik mengajak ngobrol beberapa tanaman bunga yang tadi pagi membuatnya basah kuyup.
Anara terkekeh geli kala mengingat kembali betapa konyolnya keadaan dirinya tadi pagi. Saat itu, ia hendak menyirami bunga-bunga cantik ini, namun malah berakhir tersemprot karena tekanan air di dalam selang terlalu besar sehingga selang berwarna biru yang licin itu terlepas dari genggaman. Alhasil, ia basah kuyup.
“Ceroboh.” Dan senyum Anara seketika sirna saat suara cemoohan Arsenio menggema.
Memang, Anara ini ceroboh. Bukan sekali dua kali ia terlibat masalah karena tangannya yang lemah seperti jeli itu tidak kuasa menahan sesuatu terlalu lama. Tapi tetap saja, dikatai begitu oleh Arsenio, apalagi ditambah raut wajahnya yang datar nan menyebalkan, Anara masih merasa kesal.
“Ceroboh-ceroboh gini, aku orangnya enggak egois, ya, Arsenio.” Monolog Anara, membanggakan diri sendiri.
Dan meskipun Anara mungkin tidak akan pernah menceritakannya kepada Arsenio nanti (jika dia tiak bertanya), namun ketidakhadiran Bunda ke rumah mereka hari ini adalah berkat langkah berani yang dia ambil.
Demi menghindari datangnya pertanyaan-pertanyaan yang tidak tahu harus dia jawab dengan apa, Anara memberanikan diri untuk menelepon Bunda, meminta dengan sopan agar ibu mertuanya itu tidak datang berkunjung karena ia dan Arsenio hendak menghabiskan waktu berdua dengan mencoba resep kue kering yang baru mereka lihat di internet malam sebelumnya.
Ck! Alasan yang sangat konyol, tetapi Anara tidak memiliki alasan lain yang lebih baik. Toh, Bunda tetap percaya dan malah memberikan semangat kepada mereka agar kue kering hasil uji coba itu berhasil.
Hahaha... berhasil apanya? Benar-benar mereka buat pun tidak.
“Ini demi Bunda.”
“Iya, tahu.” Anara refleks menjawab. Padahal suara itu jelas-jelas hanya datang di dalam kepalanya.
Di dalam bayangan Anara, ia dan Arsenio sedang mengobrol. Ia iseng bertanya kenapa Arsenio tiba-tiba saja bersikap baik kepadanya akhir-akhir ini, dan begitulah jawaban yang lelaki itu berikan; demi Bunda.
Well, tidak masalah. Itu sudah cukup baik, dan Anara akan menghargainya. Tidak mudah loh untuk bisa bersikap baik kepada seseorang yang sebenarnya kita benci setengah mati. Maka kepada kemampuan Arsenio untuk melakukannya, Anara akan memberikan empat jempol sebagai bentuk penghargaan.
“Lo lagi ngapain?”
“Ngasih makan ikan.” Anara menjawab lagi. Oh, tidak, sepertinya ia tidak boleh terlalu banyak bicara sendiri. Kecuali kalau ia ingin dianggap gila dan diseret ke rumah sakit jiwa.
“Mana peletnya? Enggak kelihatan.”
“Ya udah dimakan, lah, Arsenio.” Hehe. Maaf. Tetapi bicara sendiri itu asyik, jadi tidak mudah bagi Anara untuk berhenti.
“Biasa aja, dong. Kan gue cuma nanya.”
“Ya—astaga!” Anara terjingkat, refleks menarik diri ke belakang saat tiba-tiba saja sosok Arsenio sudah berjongkok persis di sebelahnya. Untung tangan Anara sigap menahan, kalau tidak, ia pasti sudah tercebur ke dalam kolam ikan. “Kamu ngapain?!”
“Dih,” Arsenio mengangkat sebelas alisnya. “Apaan, sih? Enggak usah sok kaget, gue dari tadi ngajak ngomong dan lo juga udah jawab terus.”
“Hah?” tapi malah itu yang keluar dari bibir Anara. Yah, benar-benar tidak sinkron.
“Hah heh hoh! Aneh, lo!” Anara sudah tidak heran lagi ketika melihat Arsenio malah bangkit berdiri, alih-alih membantu menenangkan dirinya dari keterkejutan.
Karena tidak ada yang membantu, Anara akhirnya bangkit dengan usahanya sendiri. Sambil menggerutu kecil, ia menepuk-nepuk celana pendek miliknya yang di bagian pantat karena sudah pasti di sana kotor terkena tanah.
“Kamu kok udah pulang? Udahan temu kangen sama Olin?” tanya Anara, sembari memungut botol berisi pelet ikan yang masih tergeletak di atas rerumputan.
“Tahu dari mana lo kalau gue habis dari Olin?” Anara menemukan Arsenio menatap dirinya dengan sorot menyelidik.
Hadehh... Pertanyaan macam apa, sih, itu? Kok ya bisa Arsenio kepikiran untuk bertanya seperti itu? Bukankah sudah jelas sekali jawabannya? Ke mana lagi memangnya dia akan pergi kalau bukan menemui kekasihnya?
Namun, Anara memutuskan untuk tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengangkat hal lain untuk mengalihkan topik. “Bunda enggak jadi ke sini.” Kata Anara. Walaupun kelihatannya tidak terlalu peduli, tapi siapa tahu saja Arsenio sebenarnya juga cukup penasaran, kan?
Oh, Anara mungkin akan membatalkan ucapannya yang tadi. Berhubung Arsenio cukup menyebalkan kali ini, ia akan bocorkan saja kepada lelaki itu alasan kenapa Bunda tidak jadi berkunjung. Hanya jika dia benar-benar bertanya 'kenapa'.
“Kenapa?” dan, lelaki betulan bertanya.
“Aku yang minta.”
Tidak puas dengan jawaban yang Anara berikan, Arsenio berdecak. “Ya kenapa? Apa alasannya?” tanyanya lagi dengan sedikit lebih ngegas.
“Biar enggak pusing mikirin jawaban kalau Bunda nanya kamu lagi ke mana. Lagian, aku malas diomelin sama kamu kalau nanti Bunda neleponin minta kamu buat pulang.” Selama seminggu, itu sepertinya adalah kalimat protes pertama yang berhasil Anara lontarkan kepada Arsenio. Dan melihat dari raut wajah Arsenio yang masam, Anara tahu sikapnya yang seperti ini membuat lelaki itu tidak senang. Tapi apa boleh buat? Sudah terlanjur.
“Kamu udah makan?” tanya Anara basa-basi karena Arsenio tidak kunjung bicara setelah beberapa lama.
Seperti biasa, kalimat andalannya muncul sebagai jawaban. Sebuah kalimat berbunyi, “Bukan urusan lo.” Dengan intonasi dan nada suara yang sama persis seperti sebelum-sebelumnya.
Sekali lagi, Anara tidak punya waktu untuk merasa sakit hati. Jadi, ia biarkan saja kalimat itu masuk ke telinga kanan kemudian keluar dari telinga kiri. Selepas itu, Anara beranjak. Teriknya matahari sudah mulai tidak ngotak. Kalau lebih lama di sini, ia hanya akan berakhir menyakiti diri sendiri.
Tapi sebelum kakinya sampai di pintu belakang, Anara memutuskan untuk berhenti sebentar. Sekadar untuk berbalik ke arah Arsenio yang masih diam di tempat dan mengatakan, “Kalau belum makan, aku tadi ada masak udang balado. Makan aja kalau kamu mau.” Lalu kembali berbalik dan melanjutkan langkah.
“Makan terserah, enggak makan juga terserah.” Itu yang terucap oleh bibir Anara dengan suara yang teramat pelan. Namun beda lagi dengan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Di mana dia berharap, setidaknya Arsenio tidak sebenci itu terhadap dirinya sampai tidak mau mencicipi apa yang sudah dia masak dengan susah payah.
Bagi Anara, tidak dicintai oleh Arsenio pun tidak apa-apa. Asal jangan dibenci, itu sudah cukup.
Bersambung