
Tidak ada yang membaik. Hubungan Anara dengan Arsenio masih berjalan layaknya love-hate—most hate—relationship di mana mereka masih akan berdebat untuk hal-hal kecil. Lalu mereka akan berbaikan setelah obrolan random yang terjadi membawa mereka pada satu titik yang sama; fotografi.
Ini benar-benar seperti mereka hendak mendeklarasikan kepada dunia bahwa hubungan yang mereka miliki memang hanya sebatas teman, bukan sepasang suami istri yang dinikahkan paksa, apalagi sampai punya kesempatan untuk saling jatuh cinta.
“Geser dikit.” Untuk yang ke-sekian kali, Arsenio meminta Anara menggeser posisi tubuhnya di atas kasur. Kalau Anara mau rajin menghitung, ini mungkin sudah lebih dari sepuluh kali sejak mereka menghentikan perdebatan tidak jelas soal ada berapa lubang dalam sebuah sedotan dan memutuskan untuk pergi tidur.
“Look at this.” Anara menunjuk bagian pinggir kasur dengan sewot. “Badan aku udah nyentuh bagian kayunya. So, you know what? Kalau aku geser sedikit lagi kayak yang kamu minta, aku bakal jatuh.” Dan lagi pula, Arsenio yang meminta dirinya untuk tidur di kasur dengan alasan tidak ingin Anara masuk angin karena sudah empat hari berturut-turut tidur di kasur lantai yang tipis.
“Masih bisa geser sedikit lagi, badan lo kan kecil.” Arsenio masih saja kekeuh.
Kesal, sekaligus sudah tidak punya tenaga untuk berdebat, Anara pun bangun. Bukan untuk menggeser posisi tidur seperti yang Arsenio minta, melainkan untuk kembali menggelar kasur lantai yang telah menjadi teman sejati sejak empat malam terakhir—lima, jika digabung dengan hari pertama Bunda menginap.
“Gue minta lo buat geser, Aishalma Anara, bukannya malah gelar kasur lantai lagi.” Sungutnya.
Kalian tahu lagunya Raisa yang berjudul Serba Salah? Nah, ya begitulah posisi Anara saat ini.
“Kamunya rewel, minta aku geser-geser terus. Udahlah, aku tidur aja di sini, enggak akan masuk angin juga.” Anara tetap menggelar kasur lantai, lalu cepat-cepat berbaring sebelum Arsenio mengomel lagi.
“Cuma minta geser dikit, enggak rewel sama sekali.”
“Iya, terserah, deh.” Masa bodo, Anara tetap menarik selimut hingga ke batas perut, lalu lekas memejamkan mata.
Baru juga Anara hendak mengucap doa di dalam hati, Arsenio sudah kembali membuat ulah. Dengan tidak tahu adab, dia tiba-tiba saja menggotong tubuh Anara lalu merebahkan tubuh kecil itu kembali di atas kasur sebelum sang empunya bahkan punya waktu untuk berontak.
“ARSENIO!” teriak Anara setelah Arsenio menjauhkan diri. Masih dengan tidak ada adabnya, dia mendorong dahi Anara ke belakang, memaksa untuk tetap berbaring.
“Diam, udah malam. Suara lo tuh cempreng, kayak kaleng rombeng, jadi enggak usah kebanyakan teriak-teriak.” Kurang ajarnya lagi, Arsenio juga melemparkan selimut tebal milik Anara yang tertinggal di atas kasur lantai. Membuatnya mendarat mengenai wajah sang istri. “Tidur. Enggak usah geser-geser lagi, gue udah nempatin lo di posisi yang paling pas.”
Dengan kesal, Anara menyingkirkan selimut dari wajah, lalu menilik pinggiran kasur untuk memeriksa sejauh mana Arsenio sudah meletakkan dirinya di kasur.
Namun, Anara malah dibuat termangu karena nyatanya posisi tubuh yang sekarang malah lebih jauh dari pinggiran kasur. Ibaratnya, bergerak sedikit saja, Anara bisa langsung menyentuh tubuh Arsenio di sebelahnya.
“Ini enggak—“
“Cerewet banget, astaga. Udah, tinggal tidur aja, enggak usah repot!” Anara kicep. Akhirnya, pasrah saja memasang selimut, lalu memejamkan mata dan melanjutkan doa di dalam hati sebelum Arsenio betulan berubah menjadi macan.
Detik demi detik yang terlewat dan Anara harap bisa segera terlelap, malah nyatanya membawa dirinya pada kondisi di mana jiwanya enggan beristirahat. Mengatur napas pun sudah dia lakukan demi membuat tubuh menjadi lebih rileks agar lebih mudah terlelap, namun sia-sia saja karena dia tetap terjaga hingga detik yang berlalu semakin banyak.
Ujung-ujungnya, Anara menyerah lagi. Matanya terbuka perlahan, lalu dengan gerakan hati-hati, dia menoleh ke arah samping, di mana ternyata Arsenio sudah memejamkan mata dengan posisi telentang dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada. Napasnya terlihat teratur, dan bagi Anara, itu adalah indikasi bahwa Arsenio sudah benar-benar tertidur.
Mencoba adrenalin, Anara kini tidak hanya menoleh, namun juga memiringkan tubuh ke kanan agar bisa memandang Arsenio dengan lebih jelas. Di matanya, penampakan Arsenio yang sekarang sama sekali tidak kelihatan menyebalkan. Gurat-gurat tegang di sekitar wajah dan lehernya ketika dia sedang ngotot tidak tampak sama sekali. Pun dengan sorot mata tajam yang lebih sering dia layangkan seperti makanan sehari-hari.
“Gute nacht, Arsenio.” Dan ucapan selamat malam itu menjadi pemutus kegiatan Anara dalam memandangi Arsenio diam-diam. Setelahnya, dia turut memejamkan mata, mengulangi doa dengan menyelipkan beberapa doa lain untuk hubungan mereka ke depannya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
“Gute nacht, Arsenio.”
Membiarkan Anara tidur di ranjang yang sama sepertinya memang keputusan yang salah. Seharusnya, Arsenio biarkan saja gadis itu tetap tidur di atas kasur lantai. Tanpa peduli bahwa pagi tadi dia sempat melihat Anara sedang meregangkan otot-otot di sekitar punggung dan lehernya dengan begitu menyedihkan. Kasur lantai yang Anara tiduri selama empat hari berturut-turut ini memang keras, maka wajar jika gadis itu merasa seluruh tubuhnya seperti habis digebuki. Dan, hati nurani Arsenio adalah biang kerok utama mengapa dia akhirnya rela berbagi kasur.
Beberapa menit setelah ucapan selamat malam yang Anara ucapkan dalam bahasa Jerman itu, Arsenio kembali membuka mata. Wajah polos Anara yang seperti bayi menjadi pemandangan pertama yang tersuguh ketika dia menoleh sedikit. Arsenio tidak yakin apakah Anara betulan sudah tidur atau belum, dan dia tidak mau kalau sampai harus tertangkap basah sedang memandangi, makanya dia tidak banyak bergerak dan hanya menolehkan kepala saja.
“Cerewet, ceroboh, cengeng.” Di sela kegiatan memandangi wajah tidur Anara, Arsenio masih sempat-sempatnya mencerca di dalam hati. Cerewet dan ceroboh sudah menjadi nama lain yang sering dia gunakan untuk memanggil gadis itu. Sedangkan cengeng tidak pernah dia gunakan karena Anara hanya selalu menangis diam-diam. Di depan orang lain, Anara hanya akan selalu menjadi Si Cerewet dan Si Ceroboh saja. Sementara Si Cengeng itu sepertinya memang sengaja disimpan hanya untuk dirinya sendiri.
Arsenio juga tidak tahu kalau dibalik sikapnya yang menyebalkan, ternyata Anara juga banyak menangis. Dia tidak akan tahu jika Bunda tidak ide menginap di sini selama seminggu, sehingga mereka harus berbagi kamar—mau tidak mau.
Tepatnya di hari ke-tiga Bunda menginap, Arsenio terbangun pukul 2 dini hari karena mendengar suara isakan nanar dari seorang perempuan. Dan karena dia bukan tipikal yang percaya pada hantu, otak logisnya langsung berpikir cepat bahwa suara tangis itu berasal dari Anara, yang notabene sedang menumpang di kamarnya.
Arsenio yang masih setengah mengantuk malam itu bergerak turun dari ranjang. Berjalan menuju kamar mandi karena menurut pendengarannya, suara tangis Anara berasal dari sana.
Tangan Arsenio hendak mengetuk, ingin bertanya apa gerangan yang terjadi dan apakah Anara membutuhkan bantuan. Namun, sisi egoisnya tumbuh lebih besar sehingga dia berakhir hanya berdiri mematung di depan pintu kamar mandi—menjadi saksi betapa sedihnya tangis Anara malam itu.
Entah apa yang membuat Anara begitu bersedih, sebab tidak ada ratapan yang keluar dari bibir gadis itu yang biasa digunakan untuk membantah apa pun yang Arsenio katakan. Benar-benar hanya suara tangis yang semakin lama terdengar semakin lirih.
Meskipun urung mengetuk untuk bertanya ada apa, Arsenio tetap berdiri di sana selama hampir sepuluh menit lamanya. Dia baru berlarian kalang kabut kembali ke kasur dan pura-pura tidur ketika suara tangis Anara mereda dan handle pintu kamar mandi tampak bergerak beberapa saat setelahnya.
Malam itu, Arsenio tidak bisa kembali tidur. Dia lewati sepanjang malam dengan pertanyaan kenapa? yang sampai detik ini pun tidak berhasil dia tanyakan langsung kepada Anara.
Tahu apa yang lebih membuat Arsenio tercengang setelahnya? Pagi ketika dia turun untuk ikut sarapa sebelum berangkat kerja, dia menemukan Anara sudah lebih dulu duduk bersama Bunda di meja makan. Raut wajahnya berseri-seri, senyumnya terkembang lebar sekali—cerah, secerah masa depan yang Arsenio susun bersama Olin. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa padanya di malam sebelum itu. Seolah tangis nanas yang gadis itu loloskan sampai dini hari itu bukanlah apa-apa. Seolah Anara yang menangis di malam hari dan Anara yang tersenyum cerah di pagi hari itu memang adalah dua orang yang berbeda.
Arsenio tidak suka merasa iba terhadap orang lain, jadi dia berusaha untuk melupakan kejadian malam itu dan menganggap bahwa semua wanita memang begitu adanya; sering menangis untuk hal-hal yang tidak jelas apa sebabnya.
Namun, usaha Arsenio itu berujung buntu ketika dia kembali menemukan Anara menangis dengan cara yang sama, persis subuh hari ini. Yang akhirnya menyadarkan dirinya bahwa Anara memang tidak sedang baik-baik saja, namun gadis itu tidak memiliki tempat untuk bercerita.
Arsenio dan Olin saling memiliki, tapi Anara benar-benar hanya memiliki dirinya sendiri.
“Gute nacht, cengeng.” Seperti pengecut, Arsenio membalas ucapan selamat malam itu di dalam hati. Walaupun begitu, dia tetap berdoa dengan tulus: semoga suatu hari nanti, Anara akan menemukan seseorang yang bisa dia jadikan tempat berkeluh-kesah. Sebab dunia ini terlalu kejam untuk diarungi hanya seorang diri.
Bersambung