Losing Us

Losing Us
Dijemput Paksa



Live location yang Anara bagikan membawa Arsenio ke sebuah hotel bintang lima yang tak jauh dari kediaman mereka berada. Lobi terlihat sepi karena dia datang juga bukan di jam-jam orang biasa check in.


“Kamar nomor berapa?” tanya Arsenio pada Anara yang kembali dia hubungi sesaat setelah dia tiba.


“316.”


“Oke.” Tak mau membuang waktu, Arsenio langsung bergerak menuju lift. Dewi Fortuna mungkin sedang berbaik hati, karena saat dia tiba di depan pintu lift, pas sekali lift itu terbuka. Ia pun segera masuk dan memencet tombol angka 3 untuk sampai di lantai di mana kamar Anara berada.


“Lo udah makan siang?” tanyanya lagi, telepon memang belum dia putus. Jaga-jaga kalau si Anara itu jadi susah lagi dihubungi, sedangkan dia tidak memegang acces key yang berarti dia tidak bisa masuk ke kamar Anara begitu saja. Dia malas menggedor, malas memencet bel, atau apa pun itu ketika sampai di depan kamar perempuan itu nanti.


“Belum. Aku bahkan belum sarapan.”


Mendengar pengakuan Anara, Arsenio berdecak sebal. “Kenapa belum? Enggak punya duit?” ketusnya, tak menghiraukan tatapan menghakimi yang diberikan oleh dua orang ibu-ibu berkerudung yang berada di dalam lift yang sama dengannya.


“Enggak punya, kamu kan enggak pernah nafkahin aku.”


“Kartu debit sama kartu kredit yang gue kasih ke lo itu apa namanya kalau bukan nafkah?” nada suara Arsenio naik sedikit. Untungnya, tidak lama setelah itu, pintu lift terbuka di lantai yang dia tuju sehingga dia bisa segera memisahkan diri dari dua ibu-ibu yang sudah menjulidinya habis-habisan. “Jangan suka akting kayak gue ini suami yang jahat dan enggak bertanggung jawab banget, deh.”


“Loh, emangnya sejak kapan kamu baik dan bertanggung jawab?”


Jawaban Anara itu membuat langkah kaki Arsenio praktis terhenti. Kesal, dia berusaha menarik dan membuang napas secara teratur demi menahan emosinya. Dia harus ingat, tujuannya ke sini adalah untuk mengantarkan inhaler sekaligus memastikan Anara baik-baik saja. Tidak boleh ada perkelahian, kecuali dia ingin kepalanya semakin terasa hendak pecah.


Merasa sudah agak tenang, barulah Arsenio kembali melanjutkan langkah. Masih dengan telepon yang tersambung, namun tidak ada percakapan yang terjadi. Sampai kemudian dia tiba di depan kamar unit yang Anara tempati.


“Gue udah di depan pintu kamar lo, bukain.” Pintanya.


Dari seberang telepon, Anara tidak menjawab. Tetapi tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan perempuan itu muncul di hadapannya dalam balutan baju tidur bergambar beruang segede gaban berwarna biru muda.


“Minggir, gue mau masuk.” Arsenio menyingkirkan tubuh Anara ke samping, lalu dia segera menerobos masuk bahkan tanpa menunggu dipersilakan oleh sang empunya kamar.


Anara hanya bisa berdecak pelan, kemudian mengikuti langkah Arsenio setelah menutup kembali pintu kamar.


“Kamu ngapain deh ke sini? Kurang kerjaan.” Tanya Anara. Dia berhenti di dekat pintu kamar mandi, bersedekap seraya memandang ke arah Arsenio yang sudah duduk di sofa.


“Lo yang ngapain. Punya rumah, tapi malah sok-sokan pergi ke hotel buat staycation. Buang-buang duit.” Arsenio balik mengomel. Raut galaknya kembali lagi ketika lelaki itu akhirnya menoleh ke arah Anara.


“Duit juga duit aku, kenapa kamu yang heboh?”


“Justru karena itu duit lo, makanya gue heboh.” Arsenio menyela. “Kalau mau foya-foya, pake duit yang ada di kartu debit sama kartu kredit yang gue kasih, jangan pakai duit lo sendiri.”


“Suka-suka aku, lah, kenapa kamu ngatur?”


“Gue suami lo kalau lo lupa.”


Anara menghela napas jengah. Selalu begini. Kalau mereka sedang berdebat dan sekiranya Arsenio tidak punya argumen valid untuk mengalahkan dirinya, lelaki itu memang akan menggunakan status pernikahan mereka sebagai senjata utama. Kalau tidak sedang berdebat? Boro-boro mau mengakui sebagai suaminya, yang ada lelaki itu kelihatan antipati sekali terhadap dirinya.


“Beresin barang-barang lo, kita pulang. Nanti di jalan kita cari makan.” Titah Arsenio.


Tentu, Anara tidak mau menurut begitu saja. Perempuan itu langsung menunjukkan penolakan dengan menggelengkan kepala kuat-kuat.


Sekali lagi, Anara sudah membayar sewa selama tiga hari, dan harganya lumayan mahal karena ini hotel bintang lima yang servisnya tidak kaleng-kaleng. Gila saja kalau dia harus out sebelum waktu sewanya habis. Oh, dia bahkan bukan miliarder yang bisa buang-buang uang sesuka hati.


“Aku enggak ceroboh!” elak Anara. “Seenggaknya, udah enggak seceroboh dulu.” Lanjutnya, namun dengan suara yang teramat pelan.


“Enggak ceroboh dari Hongkong?” Arsenio mengeluarkan inhaler dari saku celana, meletakkannya ke atas meja dengan gerakan sewot. “Barang sepenting ini aja enggak lo bawa. Kayak gitu masih mau ngelak dan bilang kalau lo udah enggak ceroboh lagi?”


Terpojok, Anara cuma bisa menatap inhaler miliknya dengan nelangsa. Ini semua gara-gara Olin. Gara-gara perempuan itu bertingkah menyebalkan, makanya dia sampai lupa membawa inhaler yang terpenting.


“Enggak udah banyak protes, buruan beresin sebelum kesabaran gue habis dan lo gue seret pulang secara paksa.” Titah Arsenio, mutlak no debate.


Membayangkan dirinya harus diseret di sepanjang koridor hingga menuju lobi hotel membuatnya merinding sebadan-badan. Masalahnya dia tahu kalau Arsenio itu gila bin nekat. Bukan hal yang mustahil kalau lelaki itu betulan akan menyeretnya jika dia tidak menurut.


Akhirnya, dengan terpaksa, Anara membereskan barang-barangnya. Tidak banyak, hanya set skincare yang sudah dia keluarkan dari dalam pouch saja. Selebihnya, masih tertata rapi di dalam tas jinjing yang memang tidak dia bongkar.


“Udah,” lapornya sambil merengut.


Arsenio yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan dan selalu mengikuti setiap pergerakan Anara pun mengangguk puas kemudian bangkit dari sofa. “Siniin tasnya.” Pintanya seraya mengulurkan tangan.


“Aku bisa bawa sendiri.” Tolak Anara.


“Gue mau kita jalan cepat-cepat. Kalau lo nekat bawa tas itu, jalan lo bakal jadi lemot.” Memaksa, Arsenio merebut tas dari tangan Anara. Tidak terlalu berat, ternyata. “Cek lagi, pastiin enggak ada yang ketinggalan.” Titahnya kemudian.


“Udah enggak ada.” Anara menjawab langsung.


“Yakin?”


“Iya.”


“Oke, ayo jalan.” Ajak Arsenio, tak lupa dia sambar lagi inhaler milik Anara yang dia tinggalkan di atas meja.


Mereka pun keluar dari kamar dengan Arsenio yang berjalan memimpin. Lorong disusuri, lift dinaiki hingga kemudian mereka sampai di lobi.


“Sana, check out.” Suruh Arsenio.


Antara menurut saja. Dia berjalan ke resepsionis dan melakukan proses check out. Sementara Arsenio menunggu di depan, di dekat body mobilnya.


Tak berselang lama, Anara berlarian menghampiri. Wajahnya masih saja cemberut. Oh, jelas, dia baru saja membiarkan uangnya hangus sia-sia.


“Enggak usah cemberut, nanti gue ganti duit lo yang buat bayar kamar.” Kata Arsenio, lalu lelaki itu membuka pintu mobil. “Buruan masuk, panas.”


Lagi-lagi Anara hanya bisa menurut. Dia masuk ke dalam mobil, duduk anteng di kursi penumpang selagi menunggu Arsenio menghuni kursi kemudi.


“Mau makan apa?” tanya Arsenio setelah memasang seatbelt ke tubuhnya.


“Aku enggak lapar, kita langsung pulang aja.” Jawab Anara. Boro-boro lapar, dia sama sekali tidak berselera memasukkan apa pun ke dalam mulutnya sekarang. Meskipun Arsenio sudah berjanji akan menggantikan uangnya, dia masih tetap tidak bisa berhenti merasa kesal.


Arsenio mendengus sebal, namun ujung-ujungnya dia tetap melajukan mobil ke arah jalan pulang. Setidaknya dia pulangkan dulu perempuan ini, masalah makan bisa mereka order delivery nanti.


Bersambung