Losing Us

Losing Us
Titik Balik



Menemukan potret dirinya di meja kerja Arsenio adalah sebuah kejutan bagi Anara. Karena tidak sekalipun dia pernah membayangkan bahwa lelaki itu akan melakukannya.


Ya coba ingat-ingat saja bagaimana perlakuan lelaki itu kepada Anara di awal-awal pernikahan mereka. Memangnya kalian juga pernah membayangkan Arsenio akan bertindak demikian? Tidak, kan?


Anara membawa selembar foto yang dia temukan ke sofa. Dia amati dengan baik setiap detailnya yang mengundang banyak kenangan dari segala sisi.


Foto yang dia temukan itu diambil beberapa bulan lalu. Ketika usia kandungannya baru empat bulan dan mereka sedang pergi makan malam bersama Bunda.


Selepas menyantap semua hidangan, mereka berdua melipir ke rooftop, berdiam diri di sana sembari memperhatikan bintang-bintang yang malam itu bersinar cukup terang.


Di momen itu, tak banyak yang mereka obrolkan. Sebab sampai di titik itu pun, mereka masih merasa canggung untuk bisa saling berjalan mendekat ke arah satu sama lain. Nama Olin masih membayang jelas, sesuatu yang membuat langkah mereka menjadi tersendat-sendat.


“Aku nggak terlalu ngerti astronomi, tapi setiap lihat bintang-bintang itu, aku selalu menganggap bahwa mereka adalah perwujudan dari kedua orang tua aku.” Tuturnya malam itu, seraya menunjuk sepasang bintang yang sinarnya paling terang di antara yang lainnya.


Arsenio tidak banyak menanggapi waktu itu. Anara kira, karena memang lelaki itu tidak memiliki minat untuk mendengarkan ceritanya. Lagi pula, dari awal kan hubungan mereka memang tidak sedekat itu untuk bisa menjadi teman bercerita dengan leluasa.


Anara tidak pernah menyangka kalau ternyata diam yang Arsenio berikan adalah karena lelaki itu sibuk mengabadikan momen itu di dalam sebuah foto. Lebih tidak menyangka lagi ketika dirinya tahu foto itu rupanya dibawa dan disimpan di meja kerjanya, bersanding dengan berkas-berkas penting lainnya.


“Lihat, Noel, papimu memang susah ditebak.” Ucapnya seraya mengusap perut buncit yang sedikit bergerak karena kaki kecil Noel menendang pelan. “Kadang dia jadi malaikat, kadang juga cosplay jadi anak dajjal. Yah, doain aja ya supaya papimu seterusnya jadi malaikat buat kita.”


Di ujung kalimat, Anara terkikik geli. Merasa sedikit berdosa juga karena sudah mendoktrin Noel dengan perkataan bahwa ayahnya memiliki kepribadian ganda. Tapi mau bagaimana lagi, cuma dengan Noel dia bisa membagi pikirannya dengan bebas. Cuma dengan bayi yang masih terus berkembang di dalam perutnya itu Anara bisa mencurahkan isi hati, tanpa takut akan dihakimi.


“Kalau nanti aku nyakitin kamu lagi, tolong hukum aku seberat apa pun. Tapi, tolong jangan pergi.” Sepenggal kalimat itu datang semalam. Ketika dia berada dalam ambang antara sadar dan tidak, samar-samar terdengar suara Arsenio memohon demikian.


Sebut saja dirinya terlalu lemah. Tetapi saat mendengar permintaan itu mengudara dari bibir lelaki yang dulu sering berteriak kepadanya, Anara merasa tidak punya daya untuk menolak. Jadi, sebelum benar-benar jatuh terlelap, dia sudah menjawab permintaan Arsenio itu di dalam hati.


“Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.” Monolognya. Teringat pada sebuah perkataan yang entah dari mana dia mendengarnya. Kali ini, dia ingin merealisasikan perkataan itu. Dia ingin memberikan Arsenio kesempatan kedua, seperti yang lelaki itu minta.


“I give you the chance, Ar. Be wise, cuz if you hurt me again, you probably won’t have any chance left.”


...🥀🥀🥀🥀🥀


...


Meeting berjalan lancar, meski harus menyita waktu lebih banyak karena tambahan diskusi untuk perubahan rencana awal. Tidak ada yang namanya adu otot, dan hal itu sudah cukup untuk membuat Arsenio tenang.


Arsenio meninggalkan ruangan meeting dengan langkah yang melambung. Sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Anara dan baby Noel yang dia tinggalkan sendirian di ruang kerja.


“Istri saya aman?” tanyanya kepada Cleo yang stand by di mejanya, persis di sisi ruang kerja Arsenio.


“Oke, terima kasih.” Seraya mengeluarkan dua jempol sebagai tanda apresiasi atas kerja Cleo kali ini.


Sang sekretaris turut mengeluarkan dua jempolnya. Yang mana itu adalah sebuah bentuk support atas sikap gentle sang bos terhadap sang istri. Melihat bosnya itu memperlakukan sang istri dengan sangat baik, Cleo juga jadi berkhayal untuk segera menikah. Walaupun kenyataannya, dia belum memiliki kekasih.


Ah, Cleo tidak tahu saja kalau pasangan yang dia kagumi itu harus melewati banyak sekali drama sebelum sampai pada titik ini. Sebab memang begitu, kan? Kita cenderung hanya melihat dari satu sisi, tanpa tahu bahwa orang lain sebenarnya juga melewati banyak sekali struggle sebelum akhirnya sampai ke titik nyaman.


Meninggalkan Cleo, Arsenio berjalan lebih cepat. Segera dibukanya pintu ruangan pelan-pelan. Melongokkan kepala lebih dulu sebelum membawa seluruh tubuhnya masuk.


Pemandangan pertama yang menyambut adalah sosok Anara yang tengah tertidur di atas sofa. Jas miliknya teronggok di atas kaki perempuan itu, menutupi bagian yang tidak tertutupi oleh dress ibu hamil berwarna biru tua di bawah lutut.


Arsenio berjalan pelan menghampiri sang istri. Pelan-pelan pula berjongkok di sisi sofa, hanya untuk dibuat senyum-senyum sendiri melihat wajah polos Anara.


“Cantik,” pujinya. Tanpa sadar, jemarinya terulur, menyentuh ujung hidung mancung Anara. Perlahan tapi pasti, jemari itu bergerak turun, bermuara ke belah bibir merah muda milik Anara.


Ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk mengecup bibir cantik itu, dan Arsenio merealisasikannya tanpa perlu berpikir panjang. Perlahan, kepalanya bergerak mendekat, lantas bibirnya menyentuh gumpalan daging berlumur liptint rasa peach itu dengan lembut.


Satu kali, tidak cukup. Dua kali, masih terasa kurang. Tiga kali, Arsenio malah merasa semakin ketagihan. Akhirnya, Arsenio mengecup bibir itu berkali-kali. Pelan dan lembut, tanpa berniat bergerak lebih jauh hingga mungkin dapat menginterupsi tidur nyenyak Anara.


“I’m sorry,” bisiknya setelah merasa puas mencecap rasa peach kesukaannya. Permintaan maaf itu merujuk pada apa yang telah terjadi di masa lalu, juga untuk hal-hal yang belum dia lakukan sebagai bentuk baktinya sebagai seorang suami.


“I promise I’ll do everything for you, An. Everything, to keep you safe, to make you happy.” Sore itu, tekadnya telah bulat. Bahwa sekarang dia hanya akan hidup untuk melakukan segalanya demi Anara. Demi membuat perempuan itu hidup dengan nyaman, demi membuatnya tetap aman.


.


.


.


.


.


“I promise I’ll do everything for you, An. Everything, to keep you safe, to make you happy.” Anara hanya bisa merayakan kalimat itu di dalam hati. Sekuat tenaga menjaga kedua matanya agar tidak terbuka demi menghindari kecanggungan tak mengenakkan di antara mereka.


Thank you. Batinnya. Cukup seperti itu. Cukup dia tahu bahwa Arsenio sudah benar-benar memiliki tekad untuk mendedikasikan hidupnya menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk menjadi suami dan ayah terbaik versi dirinya sendiri. Cukup seperti ini, Anara tidak akan serakah dengan meminta yang lebih banyak lagi.


Bersambung.....