
Tidak jadi bercerai bukan berarti masalah selesai begitu saja. Yang ada, Anara malah dibuat pusing tujuh keliling karena Olin terus saja meneror dengan berondongan pesan bernada ancaman. Katanya mau bunuh diri, lah. Katanya mau muncul di depan Bunda dan mengaku hamil anak Arsenio, lah. Dan masih banyak lagi. Beda hari, beda juga ancaman yang Olin berikan. Berharap dengan itu Anara mau menceraikan Arsenio agar lelaki itu kembali ke tempatnya yang semula.
Tetapi masalahnya, ini bukan kemauan Anara. Dia juga sudah sampai berbusa mengatakan kepada Arsenio agar mereka sebaiknya bercerai saja. Mumpung keadaan masih terbilang kondusif dan mereka bisa bercerai secara baik-baik. Tapi dasarnya cara berpikir Arsenio Galandra itu memang rumit, ajakan cerai masih tetap tidak digubris meski Anara sudah sampai memohon-mohon.
“Anak papi mau makan apa hari ini?” munculnya pertanyaan itu seketika membuat Anara memutar bola mata malas. Ini sudah yang ke-sekian kali dalam sehari. Sejak usia kandungannya mulai masuk bulan keempat dan perutnya kelihatan buncit, Arsenio jadi gemar sekali mengajak baby bump-nya bicara.
“Kamu kalau punya banyak waktu luang mending urusin Olin deh. Aku pusing banget ngadepin dia yang tiap hari ngirim pesan enggak jelas.” Seakan antipati, Anara menarik dirinya menjauh.
Ditolak untuk berbicara dengan calon bayinya, Arsenio berdecak malas. Tubuhnya kembali ditegakkan. Matanya memicing menatap Anara dengan penuh penghakiman. “Cuekin aja. Olin emang kayak gitu anaknya. Dari dulu emang suka drama.” Jawab lelaki itu acuh tak acuh. Seolah tingkah Olin yang sedemikian mengganggu sama sekali tidak penting untuk diurusi.
“Ya kamu enak ngomong begitu, kan yang tiap hari nerima chat dia tuh aku!” seru Anara dengan nada sewot. Perempuan itu sampai berkacak pinggang, makin-makin menunjukkan perut buncitnya kepada Arsenio.
Sekali lagi, Arsenio berdecak. “Nanti gue yang urus. Sekarang sini, gue mau ngobrol sama anak gue.” Pinta Arsenio seraya menggerakkan tangannya agar Anara bergerak mendekat.
Namun, alih-alih dituruti, Arsenio malah dibuat semakin kesal karena Anara tetap geming. Kedua tangan perempuan itu juga masih betah berada di pinggang, bak sedang menantang untuk memulai sebuah perang.
“Gue cuma mau ngobrol sama anak gue, Anara.” Arsenio bicara dengan gigi yang saling bersentuhan. Kalau saja dia tidak ingat Anara sedang hamil, mungkin sudah dia tarik paksa perempuan itu agar mendekat.
“Anak aku.”
“Dih,” Arsenio mendecih. “Anak itu nggak akan ada di perut lo kalau bukan karena gue!”
“Nggak mau tahu, ini anak aku.” Usai berkata begitu, Anara balik kanan. Kondisi perut yang belum terlalu buncit membuatnya masih mudah melarikan diri. Kakinya melangkah lebar, buru-buru kabur sebelum si menyebalkan datang menyusul.
“ANAK KITA!!!”
Tak Anara hiraukan teriakan Arsenio. Tidak penting. Lelaki itu hanya sedang kesambet setan manja saja, makanya tingkahnya aneh begitu. Biarkan saja. Besok juga akan kembali normal. Kembali menjadi Arsenio yang menyebalkan dan bucin total pada kekasihnya.
Tempat yang menjadi tujuan Anara kabur adalah halaman belakang. Sudah lama dia tidak duduk di bangku kayu di sana, menikmati senja warna-warni ditemani semilir angin sore yang sejuk. Dia menjadi lebih sibuk sejak kehamilannya semakin besar, jadi mumpung ada waktu luang, dia pikir tidak ada salahnya untuk dimanfaatkan.
“Apa pun hal buruk yang kamu dengar hari ini, anggap nggak pernah ada. Dengarkan cuma yang baik-baik aja. You get me, Mochi?” ucapnya pada sosok kecil yang tumbuh di dalam perut. Omong-omong soal Mochi, itu adalah nama baby bump yang diberikan oleh Aksara ketika mereka berjumpa pekan lalu. Anara pikir nama itu cukup lucu, jadi dia memutuskan untuk memakainya mulai sekarang.
“Ke depannya, kita mungkin betulan akan hidup cuma berdua. Jadi, Mochi, kamu jangan terlalu baper sama perlakuan cowok yang manggil dirinya sebagai papi kamu itu. Biasalah, laki-laki memang suka ngomong yang manis-manis kayak gitu. Kamu nggak boleh tergoda. Nggak boleh.” Masih seperti orang gila, ia bicara sendiri dengan perutnya.
Mengobrol dengan sang jabang bayi menjadi terapi yang belakangan ini Anara sukai. Efeknya lumayan terasa. Dia jadi lebih rileks dan tidak terlalu memusingkan akan jadi bagaimana rumah tangganya dengan Arsenio nantinya.
“Nanti kita enaknya tinggal di mana ya, Mochi? Bali? Bandung? Jogjakarta? Atau kamu punya referensi kota lain yang layak buat kita tinggali dengan aman dan nyaman?”
“Paris.”
Anara menoleh cepat ke arah pintu, sudah pasti sambil memicing ke arah Arsenio yang menyambar omongannya tanpa permisi.
“Aku lagi ngomong sama anak aku!” serunya.
Lelaki di sisi pintu itu mengedikkan bahu, bibir bawahnya juga maju seperti hendak menegaskan bahwa ia benar-benar tidak peduli dengan protes itu.
“Jangan Paris, deh, terlalu ramai. Mending cari rumah di daerah Jawa Tengah, yang dekat-dekat pegunungan biar hawanya adem terus.” Komentar Arsenio sambil berjalan mendekat.
“Sumpah ya, aku nggak nanya pendapat kamu.” Sahut Anara tanpa minat. Akhir-akhir ini, dia memang merasa level menyebalkan Arsenio naik beberapa tingkat.
“Cuma ngasih saran pun nggak boleh?’
“Enggak.” Tukas Anara.
Meninggalkan Arsenio dan tingkah anehnya, Anara kembali khidmat menikmati senja. Meskipun pada awalnya ia tak terlalu menyukai momen pergantian dari siang ke malam itu, Anara pada akhirnya tetap jatuh cinta juga. Sebab dia baru menyadari bahwa apa yang Aksara katakan soal senja dulu adalah benar adanya. Bahwa senja justru menjadi berharga karena kehadirannya yang singkat dan warna-warnanya yang tidak akan sama dari satu hari ke hari lain.
“An,”
Anara hanya berdeham pelan. Masih betah memandangi semburat keemasan di langit. Berusaha tidak terlalu peduli pada eksistensi Arsenio di samping.
“Lo nggak mau mulai belanja baju-baju bayi?”
Entah kenapa, tetapi pertanyaan itu membuat Anara tergelitik. Ia seperti baru saja menemukan Arsenio mendadak jadi begitu antusias soal kehamilannya. Melupakan fakta bahwa lelaki itu pernah menolak kehadiran anak ini pada awalnya.
“Umurnya baru 4 bulan, belum ketahuan juga jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan.” Jawab Anara dengan tatapan lurus ke depan.
“Beli warna yang netral kan bisa. Paling nggak nyicil dikit-dikit belanjanya biar nanti nggak kewalahan.”
Anara mendengus, lalu menoleh. “New born nggak butuh terlalu banyak baju. Beli beberapa setel pas udah mau dekat waktu perkiraan lahir juga nggak masalah. Lagian...” ada jeda yang Anara buat hanya agar ia bisa berdiri menyejajarkan tubuhnya dengan Arsenio. “Kamu kenapa jadi exited gini soal si bayi? Kayak nggak pernah nolak kehadiran dia aja dulu.” Sambungnya dengan nada menyindir.
Arsenio kicep. Seharusnya dia tahu bahwa Anara tetaplah perempuan. Mau sesabar apa pun, pasti akan ada momen kesalahannya di masa lalu diungkit-ungkit seperti sekarang.
...****************...
“Haiiiii, aku kangen banget sama Mochi!” seru Aksara girang dari seberang telepon. Wajahnya terlihat semringah. Senyumnya terbit begitu lebar hingga membuat kedua netranya hampir tenggelam.
“Kamu udah makan malam belum? Mochi ada pengin makan sesuatu nggak hari ini? Terus, dia rewel nggak? Umur 4 bulan tuh udah bisa nendang-nendang perut ibunya belum sih?” Aksara masih terus nyerocos tanpa henti. Orang-orang di sekitar lelaki itu sampai mengintip. Mencari tahu apa gerangan yang membuatnya begitu exited.
“Kamu hebohnya udah kayak ibu-ibu menang arisan tahu nggak?” seloroh Anara, dibubuhi tawa renyah yang mengudara sampai ke seberang.
“Ih, aku tuh seneng karena sebentar lagi mau ada bayi. Kamu nggak lupa kan, kalau aku suka banget sama makhluk kecil imut lucu gemas kayak gitu?” mengabaikan tamu tak diundang di sekitar, Aksara terus mengoceh dengan bebasnya.
“Aku ingat, Sa. Nggak mungkin aku lupa soal apa aja yang kamu suka.” Karena Anara hampir tidak pernah menemukan seseorang yang begitu menyukai anak kecil. Anak apa pun. Anak manusia, anak hewan, bahkan jika Aksara bisa melihat anak iblis sekalipun, Anara bisa pastikan lelaki itu juga akan suka.
Alasannya juga sederhana. Hanya karena mereka kecil dan menggemaskan. Karena mereka hanya tahu menangis dan tertawa karena hal-hal remeh saja. Belum ada beban, belum ada ego-ego sebagaimana yang makhluk dewasa rasakan.
“Keren! Kayaknya kamu diam-diam ngefans banget ya sama aku, makanya bisa masih ingat semua yang aku suka walaupun kita udah lama nggak ketemu?”
Anara terkekeh, namun tak urung tetap menganggukkan kepala. “Aku fans kamu yang nomer satu, kalau kamu mau tahu.”
“Nggak heran sih, aku emang semenarik itu soalnya.”
Celetukan penuh rasa percaya diri itu kembali membuat Anara tergelak. Bahkan kali ini, suara tawanya sampai mengundang satu tamu lain untuk bergabung ke dalam obrolan.
Arsenio, lelaki itu menerobos ke dalam kamar Anara tanpa permisi, lalu seenak hati naik ke atas kasur dan ikut memunculkan mukanya di layar ponsel.
Di seberang, Aksara praktis memekik heboh. Keriuhan yang ia ciptakan sampai membuat beberapa orang menatap skeptis. Barang kali sedang berpikir kalau jangan-jangan Aksara adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa yang dikabarkan kabur sejak tiga hari lalu.
“Saya yakin kamu nggak diundang ke obrolan ini!” seru lelaki itu, yang hanya ditanggapi Arsenio dengan mencebikkan bibir acuh tak acuh.
“Kamu ngapain sih?” tanya Anara. Berusaha menjauhkan layar ponsel agar wajah Arsenio tidak terlihat lagi di layar.
“Mau tidur.” Jawab Arsenio sekenanya. Dan benar saja, lelaki itu betulan membaringkan tubuhnya setelah itu. Selimut berwarna abu-abu yang membalut sebatas paha Anara pun dia tarik hingga menutupi sebatas dada.
“Tidur kok di sini? Di kamar kamu lah sana!” Anara mendorong tubuh Arsenio dengan gerakan ribut, tetapi lelaki itu tetap geming dan malah bersedekap sambil memejamkan mata.
“Arsenio!”
“Berisik.” Sembur Arsenio.
Anara berdecak sebal. Kalau sudah mode keras kepala begini, Arsenio akan sulit sekali untuk dilawan. Jadi berhubung dia adalah pihak yang lebih waras, Anara pun memilih mengalah. Ia biarkan Arsenio—pura-pura—tidur, sementara dirinya melanjutkan obrolan dengan Aksara.
“Kamu balik ke Jakarta kapan?” tanyanya. Tidak akan tahu bahwa di sampingnya, Arsenio sudah kembali membuka mata dan menajamkan indra pendengar.
“Lusa aku balik. Tenang aja, udah aku siapin oleh-oleh buat kamu sama Mochi.”
“Buat gue?” sela Arsenio, membuat Anara melirik sinis.
“Buat kamu nggak ada, kita nggak saling kenal.” Sahut Aksara.
Jawaban itu membuat Anara terkekeh senang, berbanding terbalik dengan Arsenio yang mulai berkomat-kamit tanpa suara sambil menampilkan raut wajah yang julid abis.
“Udah malam, besok lagi teleponnya. Gue sama istri gue mau tidur.” Usir Arsenio. Tidak hanya dengan ucapan, lelaki itu juga merebut ponsel Anara dan sepenuhnya mengambil alih panggilan.
“Nanti dulu! Gue belum sele—“
Ups! Ucapan Aksara tidak selesai karena Arsenio keburu menutup panggilan. Lalu dengan tanpa rasa bersalah sama sekali, ia mengembalikan ponsel kepada sang pemilik.
“Tingkahmu makin lama makin nggak masuk akal.” Gerutu Anara. Sungguh tidak habis pikir kenapa sikap Arsenio makin-makin aneh saja. Dibilang bawaan bayi juga seharusnya tidak. Kan, dia yang mengandung, bukan lelaki itu.
“Nggak denger, gue merem.” Celetuk Arsenio sambil memejamkan matanya lagi.
Kalau sudah begitu, Anara hanya bisa mengusap dadanya sendiri, membisikkan kata sabar sebanyak-banyaknya agar ia tidak bilang kendali. Ibu hamil kan tidak boleh emosi, jadi dia harus pandai-pandai menguasai diri.
“Kamu beneran mau tidur di sini?” tanyanya. Sambil menurunkan satu kaki. Bersiap mengambil langkah seribu setelah mendengar jawaban Arsenio.
Dan ketika Arsenio mengangguk dengan mata terpejam, Anara kabur. Buru-buru dia berlari keluar kamar, mengunci pintu dari luar. Malam ini dia ingin tidur nyenyak. Dia ingin kualitas tidurnya baik agar bayi di dalam kandungannya juga bisa tumbuh sehat dan bahagia. Tentu saja, semuanya tidak akan tercapai kalau dia berada satu kamar dengan Arsenio. Seluruh dunia juga mungkin tahu kalau sebetulnya memang lelaki itu lah yang menjadi sumber stres paling banyak untuk dirinya.
“Mochi, kalau besar nanti, kamu jangan kayak bapakmu ya. Kamu harus jadi anak baik, jangan labil kayak gitu.” Nasihatnya kepada sang jabang bayi sebelum ngeloyor masuk ke dalam kamar Arsenio. Mengabaikan pintu kamarnya yang digedor-gedor dari dalam karena Arsenio berontak ingin keluar.
Bersambung....