
Hari demi hari berganti. Kejadian demi kejadian telah Arsenio lewati, bersama dengan Anara yang kehadirannya sudah tidak lagi terlalu membuatnya antipati. Namun, bukan berarti ia sudah menerima Anara sepenuhnya sebagai istri. Arsenio hanya menganggap gadis itu sebagai teman serumah, yang akan ia cari untuk membantu membereskan beberapa masalah.
Seperti hari ini, misalnya. Arsenio berencana memanfaatkan waktu liburnya untuk membereskan gudang yang ada di lantai 3. Dan karena ada Anara, ia tentu tidak ingin gadis itu hanya ongkang-ongkang kaki menyaksikan dirinya bergulat dengan barang-barang bekas yang berdebu.
Selepas makan siang, Arsenio berderap mendekati Anara yang sedang santai di ruang tengah. Asyik menonton serial drama sambil nyemil kuaci yang entah dia dapat dari mana.
“Ikut gue.” Titahnya.
Anara mendongakkan kepala. Kerutan muncul jelas di dahinya yang tertutup beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatan. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali, memancarkan kepolosan yang membuat Arsenio ingin sekali mencongkelnya lalu memasukkannya ke dalam toples kaca sebagai koleksi. Yeah, jangan pikir ia akan merasa gemas pada tatapan itu. Jangan mimpi. Itu tidak akan terjadi.
“Buruan.” Arsenio mengulangi karena Anara masih tidak beranjak dari posisinya. Jangankan bergerak, menyahut pun tidak. Gadis itu masih terus memandangi Arsenio dengan sorot mata yang sama.
“Lo budek, ya?”
“Ke mana?” tanya Anara kemudian. Bungkus kuaci—yang entah masih ada isinya atau tidak—dia letakkan ke atas meja kaca, lalu dia berdiri dari duduknya.
“Lantai 3.” Jawab Arsenio singkat. Ogah mendengar lebih banyak pertanyaan dari mulut Anara, ia pun beranjak lebih dulu. Dia tapaki satu persatu anak tangga demi bisa mencapai lantai 3, sambil sesekali mengintip untuk memastikan bahwa Anara mengikuti langkahnya.
Sesampainya di lantai 3, Arsenio langsung bergerak menuju gudang. Pintu berwarna cokelat terang itu dia dorong hingga terbuka lebar. Memperlihatkan penampakan yang—berantakan. Beberapa perabot yang sudah usang namun terlalu sayang untuk dibuang (Bunda bilang karena terlalu banyak kenangan) disimpan di gudang ini. Selain itu, ada juga beberapa barang-barang milik Arsenio ketika ia masih anak-anak.
Ini bukan rumah yang Arsenio dan Bunda tempati selama ini. Rumah ini baru dibeli 2 tahun lalu, memang rencananya untuk dia tinggali ketika menikah nanti. Dan barang-barang yang tidak terpakai lagi sengaja disimpan di rumah ini karena rumah yang mereka tempati sudah sangat penuh. Sebelum Arsenio dan Anara akhirnya tinggal di sini, ia dan Bunda akan bergantian datang berkunjung. Untuk sekadar mengecek kondisi rumah dan membereskan apa yang sekiranya perlu dibereskan.
“Kita mau ngapain?” suara Anara terdengar persis dari belakang tubuh Arsenio.
Tanpa menoleh, lelaki itu menjawab, “Beres-beres.” Lalu segera masuk ke dalam gudang dan mulai mengamati satu persatu perabot yang saling tumpang tindih.
Tidak ada satu pun di antara benda-benda itu yang ingin Arsenio keluarkan atau gunakan lagi. Hanya saja, ia ingin menata ulang agar jika kelak Bunda memerlukan salah satu dari mereka, benda-benda itu akan lebih mudah untuk dicari. Lagi pula, tumpukan debu di sini sudah terlalu banyak setelah setahun lebih tidak dijamah.
“Aku harus bantuin?” mendengar pertanyaan bodoh itu, Arsenio praktis berbalik.
Wajah polos Anara terpampang beberapa meter di depannya. Rupanya, gadis itu enggan menapakkan kaki ke dalam gudang dan lebih memilih untuk berdiri jauh di depan pintu.
“Menurut lo, gue ngajakin lo ke sini itu buat apa? Jadi penonton doang?” sarkas Arsenio. Konyol saja kalau Anara betulan berpikir demikian.
“Tapi, Arsen—“
“Enggak ada tapi-tapian.” Potong Arsenio. “Bantuin gue, buruan.” Lalu karena tidak sabar, ia berjalan cepat menghampiri Anara dan menyeret perempuan itu untuk masuk ke dalam gudang.
Baru tiga langkah saja gadis itu masuk, Anara sudah menutup hidungnya menggunakan tangan. Diam-diam, Arsenio mengulaskan senyum miring. Anak manja rupanya? Yang tidak pernah disuruh beres-beres gudang dan segala hal yang berdebu? Baiklah. Kalau begitu, Arsenio akan mengajari gadis itu untuk beres-beres hari ini.
“Ar, aku di luar aja, ya.” Suara Anara kedengaran sengau karena dia kini memencet hidungnya menggunakan dua jari.
Sudah jelas, jawaban Arsenio adalah tidak. Untuk apa dia membiarkan Anara pergi padahal sudah susah payah menyeretnya ke sini?
Satu hal yang Arsenio pelajari dari gerak-gerik Anara belakangan ini adalah, gadis itu akan cenderung lebih menurut jika ia membawa-bawa nama Bunda. Jadi dalam beberapa kali kesempatan—jika itu mendesak—Arsenio akan mulai membawa nama ibunya untuk membuat Anara menurut.
Dan, terbukti ampuh untuk hari ini juga. Tanpa banyak protes, Anara menyambut kemoceng yang Arsenio ulurkan. Benda berbulu itu kemudian digunakan untuk menyapu debu yang menebal di beberapa perabotan terdekat yang bisa dia temukan.
“Pakai dua tangan, dan jangan sambil cemberut.” Arsenio menegur karena Anara terlihat tidak ikhlas. Gadis itu juga masih terus meng-cover hidung dan mulutnya menggunakan satu tangan.
Tidak ada protes yang terdengar, namun Anara masih saja tidak menjauhkan tangannya dari hidung dan mulut.
Tak ingin ambil pusing, Arsenio biarkan saja Anara begitu. Ia kemudian beralih ke pekerjaannya sendiri. Satu persatu barang dia tata ulang, dikelompokkan berdasarkan jenis dan tingkat kepentingannya untuk memudahkan nanti ketika mengambilnya.
Dalam sekejap, kegiatan bersih-bersih ini telah membuat pikiran Arsenio fokus hanya pada bagaimana caranya menata barang-barang dengan sedemikian rupa agar tidak menyusahkan kemudian harinya. Saking fokusnya, dia tidak tahu waktu telah berjalan berapa lama dan apakah Anara di belakang tubuhnya melakukan pekerjaannya dengan baik atau tidak.
“Yang bersih, biar nanti kalau Bunda ke sini, lo bisa flexing dan bangga-banggain diri lo sebagai istri dan mantu idaman.” Arsenio menyindir. Namun, sama sekali tidak ada tanggapan.
Penasaran, ia pun membalikkan badan. Dan alangkah terkejutnya ia ketika menemukan Anara sudah dalam posisi terduduk lemas di atas lantai sembari memegangi dadanya. Mulutnya terbuka dan napasnya terlihat kepayahan. Sementara satu tangannya yang lain tampak bergerak serabutan merogoh saku rok yang sedang dia gunakan.
“An, lo kenapa?!” panik, Arsenio berlarian menghampiri gadis itu. Tubuh kecilnya yang lemas Arsenio raih, dia biarkan kepala Anara tergolek di dadanya selagi satu tangan gadis itu masih berusaha mengeluarkan sesuatu dari saku roknya.
Tak lama kemudian, benda yang diraih-raih oleh Anara akhirnya berhasil dikeluarkan. Sebuah benda berukuran satu genggaman tangan berwarna biru yang bagian bawahnya terlihat seperti pipa pipih. Benda itu asing untuk Arsenio, jadi ia hanya bisa diam memperhatikan ketika Anara mulai membawa benda itu ke depan mulutnya.
Dan ketika benda itu bersentuhan dengan bibir Anara, Arsenio baru menyadari bahwa benda itu adalah semacam alat bantu pernapasan.
Selama beberapa saat, Arsenio hanya mampu menyaksikan Anara berjuang untuk dirinya sendiri. Yang bisa ia tawarkan sebagai bantuan hanyalah kedua tangan yang memegang erat bahunya agar Anara tidak tumbang dan dada yang lapang menopang kepalanya yang setengah mendongak. Hingga akhirnya, napas Anara terlihat kembali normal dan gadis itu mulai menjauhkan alat tadi dari mulutnya.
“You okay?” tanya Arsenio. Padahal sudah jelas-jelas Anara tidak terlihat baik. Wajahnya pucat, bibirnya membiru dan bulir keringat membasahi seluruh bagian wajah dan area leher. Setelah Arsenio rasakan lagi, kulit Anara juga terasa dingin. “Lo kenapa?”
“Asma.” Anara menjawab singkat sembari berusaha menjauhkan diri dari Arsenio. “Aku punya asma.” Ucapnya mempertegas.
“Kenapa enggak bilang?” tanya Arsenio dengan suara teramat pelan. Tiba-tiba saja, dia merasa bersalah.
“Kamu enggak kasih aku kesempatan buat ngomong.”
Dan jawaban itu berhasil membuat Arsenio terdiam. Ia tertohok oleh barisan kalimat yang bahkan dikatakan dengan intonasi yang biasa saja, tidak terkesan seperti sedang menyudutkan.
“Aku mau banget bantuin kamu, Arsenio. Tapi yang lain aja, ya, asal jangan beres-beres yang berdebu kayak gini.” Setelah hampir mati karena Arsenio, Anara bisa-bisanya masih berkata begitu. Sialnya, hal itu justru membuat Arsenio semakin merasa bersalah.
“Sorry.” Dan untuk pertama kalinya, permintaan maaf itu keluar dari bibir Arsenio. “Sorry, An. Gue enggak tahu kalau lo punya asma.”
Bersambung