Losing Us

Losing Us
Abu-abu



Sebagai permintaan maaf, Arsenio menawarkan diri untuk menemani Anara tidur malam ini. Berbekal kasur lantai yang dia seret dari dalam kamarnya sendiri, lelaki itu duduk bersila di atasnya sambil mengawasi Anara yang sudah berbaring di atas kasur dengan selimut tebal berwarna putih membalut seluruh tubuh sampai ke batas leher dan sebagian wajahnya.


“Tidur.” Titah Arsenio ketika melihat Anara malah masih sibuk sekali dengan ponselnya.



“Nanti.” Suara Anara yang teramat kecil membuat Arsenio terpaksa membuka telinga lebih lebar agar bisa mendengar apa yang gadis itu katakan.


Kalau sedang tidak dalam mode merasa bersalah, Arsenio mungkin akan menyerah untuk membujuk Anara agar segera tidur. Ia lebih baik memejamkan matanya sendiri karena jujur saja, ia sudah sangat mengantuk.


“Lima belas menit lagi, tidur.” Final Arsenio pada akhirnya. Selesai tidak selesai Anara dengan urusannya di ponsel, Arsenio akan memastikan perempuan bertubuh kecil mungil seperti peri itu pergi tidur.


Suara decakan halus terdengar. Lalu tak lama setelahnya, Anara sedikit menyingkapkan selimut hingga kini benda tebal itu turun sampai ke batas dada. Ponsel yang dia agung-agungkan sedari tadi diletakkan di bawah bantal dalam posisi tengkurap—seolah dia khawatir Arsenio bisa mengintip apa isi di dalamnya.


“Kamu enggak perlu tidur di sini. Aku udah enggak apa-apa.” Kata Anara, hanya untuk membuat Arsenio kembali mendengus sebal.


Oh, jangan salah paham. Itu adalah reaksi kesal yang Arsenio tunjukkan karena Anara sudah berkata begitu sebanyak belasan kali sejak ia menggelar kasur lantai ini sekitar dua jam yang lalu. Aku enggak apa-apa. Kamu tidur di kamar kamu aja. Di kasur lantai pasti keras, kamu enggak akan nyaman. Dan segala bentuk penolakan secara halus yang lainnya sudah dia muntahkan semuanya. Tapi ujungnya jelas, Arsenio tidak akan beranjak sedikit pun dari tempatnya bertapa sekarang.


Karena, bagaimana jika asma Anara kambuh lagi nanti, saat tengah malam dan dia sedang sendirian? Jika ada Arsenio, setidaknya ada seseorang yang akan membantunya melakukan pertolongan pertama—Arsenio sudah mencari tahu langkah-langkah apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Anara, di internet tak lama setelah mereka berdua keluar dari gudang.


“Seberapa sering asma lo kambuh?” tanya Arsenio setelah selesai mengomel di dalam hati.


Anara terlihat tidak tertarik untuk membicarakan tentang penyakitnya, namun gadis itu tetap menjawab. “Enggak terlalu sering. Sejak sebulan terakhir, ini yang pertama.”


Sebulan terakhir. Itu artinya, setelah mereka tinggal bersama di rumah ini, Anara sudah sempat kambuh lagi—dan Arsenio tidak mengetahuinya sama sekali.


“Kenapa enggak kasih tahu gue dari awal?” tanya lelaki itu lagi.


“Buat apa? Kamu enggak kelihatan bakal peduli sama apa pun soal aku.”


Lagi-lagi, jawaban Anara membuat Arsenio terdiam. Anara ini jarang berbicara untuk mengungkapkan isi hatinya, tapi sekalinya dilakukan, Arsenio merasa apa yang gadis itu katakan selalu bisa membuat dadanya seperti terbelah-belah.


Namun, berpuluh detik Arsenio tunggu, Anara masih saja menggantungkan kalimatnya. Seakan gadis itu memang sengaja ingin mengulur waktu agar rasa penasaran Arsenio meningkat jauh lebih pesat.


“Lanjutin.” Tuntut Arsenio. Sudah tidak bisa menahan diri.


Hal yang pertama Anara lakukan justru menghela napas panjang, lalu kembali menarik selimut hingga menutupi bibirnya sehingga ketika dia berkata, “Bukan apa-apa,” Arsenio nyaris tidak bisa mendengarnya.


“Apanya yang bukan apa-apa?” yang laki-laki masih tidak puas.


“Ya bukan apa-apa.” Anara dengan keras kepalanya. “Bunda enggak tahu soal ini, jadi kamu enggak usah kasih tahu. Aku enggak mau Bunda khawatir.”


Bunda enggak tahu? Namun pertanyaan itu tidak Arsenio tanyakan secara langsung karena terlalu malas mengulangi pertanyaan yang jawabannya sudah jelas.


Meskipun begitu, Arsenio tetap kembali termenung. Baginya, Anara ini masih kelihatan abu-abu. Saat pertama kali melihat gadis itu, Arsenio pikir Anara adalah lembaran kertas putih bersih yang tidak sengaja terbang tertiup angin dan harus mendarat di tempatnya yang penuh warna-warni. Tapi makin ke sini, makin banyak juga warna-warna gelap yang muncul, seiring dengan lebih banyaknya Arsenio menemukan Anara dalam kondisi tidak baik.


Pernah di suatu malam, ketika hujan turun begitu deras dan aliran listrik di kompleks perumahan mereka diputus, Arsenio menemukan Anara sedang menangis sendirian di dapur. Isakannya yang tertahan justru membuat vibes sedih semakin terasa. Sementara dari balik tembok yang tak bertelinga, Arsenio hanya bisa menyaksikan air mata gadis itu dikuras habis-habisan.


Dan... Tahu apa yang Arsenio temukan keesokan harinya? Ia menemukan Anara tersenyum begitu cerianya ketika menyodorkan sepiring nasi goreng dengan telur gulung kepada dirinya. Dengan bangganya gadis itu bilang nasi goreng tersebut adalah resep baru yang dia kembangkan dari hasil menjelajah di internet, dan Arsenio adalah sasaran empuk untuk dijadikan bahan uji coba.


Senyum Anara pagi itu cerah sekali, hingga hampir membuat Arsenio lupa bahwa malam sebelumnya, ia pernah melihat gadis itu menangis dengan begitu nelangsanya.


“Kenapa harus disimpan sendiri kalau itu bikin lo kesusahan nantinya?” tanya Arsenio. Penasaran, jawaban seperti apa yang akan Anara berikan untuk pertanyaan seperti itu.


Dan jawaban itu ternyata membuat Arsenio semakin sulit lagi untuk menentukan warna apa yang lebih dominan dari seorang Aishalma Anara.


“Buat apa membaginya, kalau ujung-ujungnya, aku harus tetap bertahan sendirian?” jawabnya, yang sekaligus menjadi percakapan terakhir mereka karena setelah itu, Anara memutus segala kontak dan mulai memejamkan mata. Tanpa kalimat selamat malam seperti yang dia katakan dengan ramah di malam pertama mereka pulang ke rumah ini, hampir dua bulan yang lalu.


Bersambung