
Bukannya tidur, Arsenio dan Olin malah tidak henti-hentinya mendaratkan kecupan di bibir satu sama lain. Kadang-kadang, kecupan itu akan berakhir pada sebuah adegan ciuman yang berlangsung cukup lama. Tautan itu baru akan terputus ketika salah satu di antara mereka mulai kehabisan napas. Untuk kemudian mereka ulangi lagi setelah beberapa lama menghabiskan waktu untuk berbicara tentang banyak hal.
“Bunda di Bandung berapa hari?” tanya Olin. Tangan jahilnya kembali bergerak turun, hampir menyentuh aset berharga milik Arsenio dan lelaki itu dengan cepat mencegahnya.
“Tiga hari.” Jawab Arsenio. Lalu agar Olin tidak semakin banyak tingkah, ia membalikkan tubuh gadis itu yang semula berada di atasnya. Helaian rambut cokelatnya yang menyebar memenuhi bantal serupa hamparan bunga yang cantik, membuat Arsenio tak kuasa untuk membelainya hingga timbul senyum merekah di wajah sang empunya.
“Kalau gitu, aku nginep di sini selama tiga hari, ya?”
Arsenio menghentikan gerakan tangannya yang sudah beralih membelai pipi mulus Olin. Permintaan itu bukan sesuatu yang sulit untuk dia iyakan. Hanya saja, Arsenio tidak ingin Olin terlalu banyak menghabiskan waktu di dekat Anara. Tidak ingin gadis kecintaannya itu lebih terluka akan kehadiran Anara yang memang sejak awal tidak dikehendaki oleh mereka berdua.
“Enggak boleh?”
Arsenio menarik diri. Mengubah posisi menjadi duduk di atas ranjang. “Bukannya enggak boleh.” Kata lelaki itu. Dengan tatapan yang teralih ke arah lain.
“Terus?” Olin ikut-ikutan bangun.
“Aku enggak mau kamu terlalu lama ada di sini, sama Anara.” Ungkapnya, persis seperti apa yang ada di pikirannya.
Tapi sepertinya, hal itu diterima dengan cara yang lain oleh Olin. Karena tepat setelah Arsenio mengatupkan bibir, gadis itu langsung memasang wajah cemberut.
“Kenapa? Karena kamu takut aku gangguin dia? Atau kamu takut aku ganggu waktu kalian buat berduaan?” tuduhnya.
Arsenio paling tidak suka dituduh tanpa alasan yang jelas, tetapi Olin selalu menjadi pengecualian. Alih-alih berubah menjadi reog dan menjelaskan maksud yang sebenarnya dengan menggebu-gebu, lelaki itu lebih memilih untuk menarik tubuh Olin, membawanya mendekat ke arahnya untuk dia peluk dari belakang. Ia biarkan kepala Olin beristirahat di dadanya, sementara dagu Arsenio bertumpu pada puncak kepala sang gadis.
“Aku enggak mau dia gangguin kamu. Lagi pula, ada di sekitar dia enggak akan bikin mood kamu jadi baik, Lin. Aku enggak mau kamu merusak hari kamu, buang-buang energi buat orang kayak dia.” Arsenio menjelaskan.
“Yakin, alasannya karena itu?” Olin mendongak, membuat Arsenio mau tidak mau sedikit menjauhkan kepala.
“Yakin, lah.” Jawab Arsenio. Kemudian sebuah kecupan kembali ia daratkan ke bibir merah Olin. “Buat aku, kenyamanan kamu itu yang terpenting.”
“Kalau gitu, kamu bisa kasih tahu dia buat enggak gangguin aku selama aku nginep di sini.”
“Lin,”
“Aku tuh kangen sama kamu, Gala. Hampir seminggu kita enggak ketemu karena kamu sibuk kerja dan setiap weekend selalu ada Bunda.”
Kalau sudah begitu, Arsenio tidak bisa apa-apa. Seminggu ini, ia dan Olin memang sama sekali tidak bertemu. Pekerjaan yang banyak sekali di kantor membuat Arsenio tidak punya waktu untuk berleha-leha. Ia bahkan sering lembur, untuk kemudian datang lebih pagi pada keesokan harinya.
Dibilang rindu, ya sudah pasti Arsenio rindu pada Olin. Buktinya, ketika tahu Bunda akan pergi ke Bandung untuk urusan mendesak selama 3 hari, ia langsung mengabarkan hal tersebut kepada Olin. Aslinya, Arsenio yang hendak pergi ke apartemennya, tetapi Olin bersikeras datang ke sini.
Tentu saja, Arsenio tahu ada maksud lain ketika Olin bilang akan berkunjung. Yah, apa lagi kalau bukan sekalian ingin mengecek apakah Arsenio benar-benar tidur terpisah dengan Anara atau tidak. Tetapi, Arsenio tidak keberatan. Kalau memang itu bisa membuat Olin lebih tenang, ia tidak akan melarang.
Akan tetapi, kalau harus membiarkan Olin dan Anara berada di bawah naungan satu atap yang sama selama 72 jam.... itu sepertinya merupakan ide yang buruk.
“Aku aja yang nginep di apartemen kamu, gimana?” Ia mencoba memberikan penawaran. Namun lagi-lagi, Olin menggeleng dengan keras kepalanya. Bahkan, gadis itu juga menarik diri dari pelukan. Menciptakan jarak yang cukup jauh seraya melipat tangan di depan dada.
“Tapi kamu enggak bawa baju ganti, Olin.”
“Bisa pinjam punya perempuan itu.”
Arsenio mendengus pelan. “Yakin? Yang itu aja enggak kamu pakai, dan kamu malah pakai baju aku?” tanyanya seraya menunjuk satu set piama berwarna abu-abu tua yang Olin bawa dari kamar Anara—teronggok tak berdaya di ujung ranjang.
Olin mengikuti arah telunjuk Arsenio, lalu dia ikut-ikutan mendengus sebal. “Pokoknya aku mau nginep di sini, tiga hari. Titik.”
Titik, katanya. Maka itu berarti, apa pun yang akan keluar dari mulut Arsenio selanjutnya sama sekali tidak akan dia dengarkan.
Berhubung malam telah larut dan Arsenio harus bangun pagi-pagi untuk pergi bekerja besok, ia pun mengalah. Ia menganggukkan kepala pasrah, membuat Olin tersenyum cerah dan seketika bergerak heboh di atas ranjang.
“Gitu, dong.” Ucapnya, lalu satu kecupan mendarat di pipi kanan Arsenio sebagai hadiah.
“Ya udah, ayo kita tidur. Besok aku harus bangun pagi-pagi banget.” Ajaknya.
“Yakin mau tidur aja? Enggak mau—“
“Enggak.” Arsenio memotong. Membuat gerakan alis Olin yang naik turun seketika terhenti dan perempuan itu kembali merengut.
“Enggak asyik.”
“Tidur, Sayang. Pacarmu ini bukan bos yang bisa datang ke kantor sesuka hati. Bulan ini aku udah telat dua kali, kalau sekali lagi aku telat, bonus akhir tahun enggak akan turun. Kamu mau emangnya kalau pacar kamu ini jatuh miskin?”
Mendengar ucapan saya, Olin serta-merta mencibir. “Enggak dapat bonus satu kali enggak akan bikin kamu jadi kere, Gal. Lagian, kamu itu wakil direktur, ya. Mana ada yang berani enggak nurunin bonus buat kamu?”
“Baru wakil, bukan direktur utama.” Arsenio memberi alasan. “Udah, ah, ayo tidur.” Tak ingin mendengar Olin mendebat lebih lanjut, ia langsung membawa tubuh gadis itu untuk berbaring kembali di atas ranjang. Ia buat tubuh mereka saling berhadap-hadapan, lalu dipeluknya tubuh Olin erat sekali sementara kedua kakinya mengapit kedua kaki gadis itu agar tidak bisa lari ke mana-mana.
“Aku enggak bisa napas!” Olin memprotes, namun Arsenio tidak peduli. Tetap saja ia memeluk Olin dengan erat.
“Gala!”
“Galandra!”
“Aw! Gala!” pukulan demi pukulan Arsenio terima sebagai konsekuensi karena telah iseng menggigit hidung mancung Olin.
“Jangan berisik, udah malam.” Arsenio bicara dengan suara pelan dan mata yang terpejam. Ia memang tidak melihat seperti apa ekspresi Olin, namun Arsenio yakin gadis itu pasti sedang menatapnya dengan kesal sembari bibirnya sedikit manyun.
Dalam keheningan setelah kehebohan yang mereka buat, Arsenio kembali merasa sesak. Andai. Ini andai lagi. Andai dia benar-benar menikah dengan Olin dan bisa berbagi ranjang yang sama seperti ini setiap hari, akankah hidupnya berjalan dengan lebih baik?
Bersambung