
Hingga mereka kembali ke rumah pun, Arsenio belum kunjung memberikan jawaban. Lelaki itu tidak menyetujui ajakan Anara untuk bercerai, tetapi juga tidak memberikan penolakan sama sekali. Ia diam seribu bahasa, hanya mengatakan kepada Anara agar mereka segera pulang karena sudah menjelang malam.
Akan tetapi, dunia sepertinya sedang tidak berpihak kepada mereka hari ini. Seolah belum cukup dengan kabar kehamilan yang mengguncang jiwa dan raga, mereka juga harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ketika mereka sampai di rumah, sudah ada Bunda di sana. Wanita itu seharusnya masih ada dalam business trip yang dijadwalkan baru akan selesai lusa. Entah bagaimana ceritanya Bunda malah bisa ada di sana, duduk di sofa dan menyuguhkan tatapan penuh pertanyaan ketika melihat anak dan menantunya pulang setelah meninggalkan rumah dalam keadaan gerbang dan pintu depan yang terbuka lebar.
“Bun,” Arsenio menyapa panik. Gelagapan ia berjalan mendahului Anara, berusaha menjangkau ibunya yang perlahan bangkit dari duduknya. “Bunda kok ada di sini? Kok enggak bilang-bilang dulu sama Arsenio kalau mau datang?”
“Kalian dari mana?” tanya Bunda, alih-alih menjawab pertanyaan yang Arsenio berikan. Tatapan wanita itu lurus pada putranya, bertahan selama delapan detik penuh sebelum akhirnya mulai melunak ketika ia beralih menatap Anara.
“Rumah sakit.” Anara menjawab jujur.
Atas jawaban itu, Bunda seketika panik. “Rumah sakit? Siapa yang sakit? Kamu sakit?” wanita itu bergerak cepat menghampiri Anara, menyentuh wajah menantunya yang memang kelihatan pucat. “Sakit apa, Sayang?”
“Cuma kelelahan.” Itu suara Arsenio, sedangkan Anara menanggapi itu dengan tersenyum miris. Ternyata memang Arsenio setakut itu Bunda akan tahu soal kehamilan Anara.
“Kelelahan? Emangnya kamu habis ngapain aja, Sayang? Arsen nyuruh kamu beres-beres rumah?” tanya Bunda sambil melirik ke arah Arsenio. Jikalau benar putranya adalah penyebab menantu kesayangannya kelelahan, ia akan memberikan pelajaran langsung.
“Enggak, Bun. Emang lagi enggak terlalu fit aja badan An. Tapi enggak perlu khawatir, dokter udah kasih vitamin kok.” Jawab Anara. Kantong berisi vitamin dan suplemen untuk ibu hamil ia tunjukkan kepada Bunda, hanya sekilas sebagai tanda bukti untuk mendukung kebohongannya.
“Serius?”
Anara mengangguk meyakinkan. “Kalau gitu, An pamit ke kamar dulu, ya. Kata dokter harus banyak-banyak istirahat biar cepat pulih.” Pamitnya sambil tersenyum.
Bunda mengiyakan. Ia persilakan menantunya berlalu naik ke kamar, memastikan sosoknya telah hilang di ujung tangga sebelum kembali menghampiri Arsenio dan menarik putranya itu duduk di sofa ruang tengah.
“Bunda perlu bicara sama kamu.” Ujarnya.
Atmosfer yang tercipta sangat tidak nyaman, membuat perasaan Arsenio tidak enak. Tatapan ibunya yang langsung berubah 180 derajat dari cara perempuan itu menatap Anara juga semakin meyakinkan dirinya bahwa ada masalah serius yang akan ibunya obrolkan dengannya saat ini.
Untuk beberapa lama, Bunda masih belum bicara. Perempuan itu terus menatap Arsenio, nyaris tanpa berkedip. Berkali-kali pula Bunda menarik dan membuang napas dengan susah payah, seolah hendak menegaskan betapa parah dadanya dihantam sesak saat ini.
“Bunda mau ngobrolin tentang apa?” Arsenio memberanikan diri untuk bertanya. Terlalu lama menunda juga malah membuatnya ikutan tidak tenang. Sibuk menerka-nerka masalah apa gerangan yang hendak ibunya diskusikan.
“Ini soal Olin.” Kata Bunda.
Mendengar nama Olin dimention, perasaan Arsenio semakin tidak keruan. Pasalnya, beberapa hari sebelum Bunda pamit pergi untuk urusan bisnis, ia telah membuat janji palsu kepada perempuan itu. Arsenio telah berjanji untuk tidak lagi menemui Olin sesering dulu, dan akan berusaha untuk mulai menerima kehadiran Anara sebagai seutuhnya seorang istri. Janji palsu yang jelas sama sekali tidak dia tepati.
“Kenapa sama Olin?”
“Kamu udah ingkar janji.” Kata Bunda. Ada kilat amarah yang bercampur dengan rasa kecewa terpancar dari kedua bola matanya. “Kamu masih ketemu sama dia, bahkan di rumah ini. Di rumah kamu dan Anara. Rumah yang harusnya enggak boleh dimasuki sama perempuan lain selain istri kamu.”
Tak mampu memberikan pembelaan, Arsenio hanya diam, menatap sweater milik Olin lalu menarik napas panjang.
“Bukan cuma itu,” sweater Olin kemudian Bunda lemparkan lagi ke atas sofa yang lain. “Bunda juga cek ke lemari pakaian kamu, dan ya, di sana enggak ada bajunya Anara sama sekali. Bunda malah nemuin sepasang piyama punya Olin, yang itu artinya, perempuan itu sering nginep di sini.”
Arsenio semakin bungkam, kepalanya tertunduk dalam.
“Bunda tahu kamu masih suka ketemu sama Olin secara diam-diam di luar, itu masih Bunda maklumi karena Bunda tahu akan butuh waktu supaya kalian bisa menyelesaikan hubungan kalian sampai benar-benar tuntas. Tapi Bunda enggak pernah menyangka kamu bahkan bahwa Olin ke sini, Sen, yang itu artinya kamu juga biarin Anara tahu soal dia.”
“Kamu pernah enggak, sih, Sen, bayangin gimana rasanya kalau kamu ada di posisi Anara? Pasangan sah kamu malah bawa pacarnya ke rumah secara terang-terangan, dan anggap kamu malah seperti orang asing. Sakit, enggak, menurut kamu kalau kamu ada di posisi dia?” semakin Bunda mencecar, Arsenio semakin tidak mampu memberikan pembelaan. Meski rasanya dia ingin berteriak, mengatakan bahwa baik Bunda maupun Anara juga tidak pernah berusaha menempatkan diri pada posisi Arsenio sekarang, lelaki itu tetap diam.
Obrolan yang seharusnya menjadi komunikasi dua arah itu berakhir menjadi hanya Bunda yang bicara. Hanya Bunda yang menumpahkan kekecewaannya. Hanya Bunda yang melayangkan protes, tanpa sedikit pun Arsenio berani membela dirinya sendiri.
Sampai pada satu titik, Bunda berhenti bicara ketika dia sadar apa yang dia ucapkan hanya akan berakhir sia-sia. Arsenio yang tidak menjawab sama sekali itu mungkin tidak peduli pada seberapa banyak ia mengatakan betapa berartinya Anara, dan sekeras apa mereka harus menjaga perempuan itu. Sebab yang ada di kepala Arsenio mungkin saja hanya Olin, dan selamanya akan berjalan seperti itu.
Dalam kesesakan yang hampir membuatnya tak punya ruang untuk mengangkut oksigen ke paru-paru, Bunda kembali buka suara. “Maaf,” ucapnya, yang lantas membuat Arsenio berani mengangkat kepala. Pada manik kelam putranya yang tampak sayu, Bunda memaku tatap kemudian melanjutkan. “Ini semua salah Bunda, karena Bunda terlalu tinggi menaruh ekspektasi ke kamu. Bunda terlalu percaya kalau kamu bisa membantu menjaga Anara seperti apa yang telah Bunda janjikan kepada mendiang orang tuanya. Bunda yang terlalu percaya sama kamu, Sen. Bunda yang salah.”
“Bun,”
“Kembalikan Anara ke Bunda.” Tandas Bunda, membuat Arsenio kembali tidak tahu harus berkata apa. Kepalanya mendadak kosong, ia kehilangan banyak kosakata yang biasanya berjubel di otaknya. “Kalau kamu memang sesulit itu untuk memperlakukan Anara dengan baik, enggak apa-apa, kamu boleh mundur. Biar An tinggal sama Bunda, biar Bunda yang urus dia. Setelah itu, terserah kamu mau ngapain. Menikah, tinggal serumah, atau apa pun itu. Apa pun itu yang kamu mau lakuin sama Olin, kamu bisa lakuin, Bunda enggak akan ngelarang lagi.”
Seharusnya, itu adalah kabar baik yang tidak boleh Arsenio lewatkan begitu saja. Seharusnya dia mengiyakan permintaan Bunda, karena sekali dia tolak, permintaan itu sudah pasti tidak akan datang untuk kedua kalinya. Namun entah kenapa, Arsenio malah menggelengkan kepala.
“Jangan,” Arsenio mencicit.
“Kenapa jangan? Toh kamu enggak pernah bisa perlakuin dia sebagaimana mestinya, kan?”
Namun, Arsenio tidak mampu memberikan jawaban. Sebab yang dia tahu, jika Anara betul-betul dibawa pergi oleh Bunda, maka hubungan Arsenio dengan wanita yang telah melahirkannya itu sudah bisa dipastikan akan berantakan. Arsenio tidak mau itu terjadi, dia tinggal ingin bermusuhan dengan Bunda.
Lama tak mendapatkan sahutan, Bunda mengembuskan napas keras-keras. Dadanya semakin terasa sesak, napasnya kian tercekat dan menyiksa.
Akhirnya, Bunda memilih untuk mengakhiri obrolan mereka di sana. “Bunda kasih kamu satu kali lagi kesempatan. Tiga bulan. Dalam kurun waktu itu, kalau kamu masih enggak bisa menyelesaikan hubungan kamu sama Olin, Bunda benar-benar akan bawa Anara pergi.” Lantas setelah itu, Bunda berlalu pergi. Membawa serta sesak yang hampir-hampir membuatnya mati.
Arsenio di tempatnya duduk hanya bisa kembali menunduk. Melepaskan Olin adalah hal yang mustahil, namun melepaskan Anara juga tidak semudah itu karena... dia tahu ada sebagian dari dirinya yang sedang tumbuh di dalam perut perempuan itu.
Bersambung