Losing Us

Losing Us
Try Again



“Si bayi kapan lahir?”


“Lima bulan lagi.”


“Lama.”


“Sabar.”


“Nggak sabar.”


Tak!


Anara meletakkan cangkir teh yang sudah berada di depan mulut, hanya untuk menatap Arsenio dengan sangsi. Tidak ada angin tidak ada hujan, lelaki itu tahu-tahu menanyakan perihal kelahiran sang bayi. Seolah hari itu memang sudah dinanti-nanti dengan sepenuh hati.


“Kenapa?” tanya Anara heran. Maksudnya, kenapa Arsenio ingin bayi mereka cepat-cepat keluar?


Ya memang, sejak pulang dari rumah sakit tiga hari yang lalu, Arsenio menjadi lebih protektif terhadap kehamilannya. Tapi kalau sampai menjadi begitu exited menanti kelahiran buah hati mereka, sepertinya agak tidak wajar juga.


Alih-alih langsung menjawab, Arsenio malah beringsut. Sekonyong-konyong merebahkan kepala di pangkuan Anara sementara wajahnya berhadapan langsung dengan perut buncit perempuan itu.


“Udah nggak sabar mau ketemu dia,” cicitnya. Telapak tangannya juga sudah bergerak membentuk pola acak di perut buncit Anara yang samar-samar terlihat ada pergerakan. “Aku mau ngecek, dia beneran mirip sama kamu atau enggak.”


“Terus, kalau dia beneran mirip sama aku emangnya kenapa? Kamu enggak terima?”


Arsenio menggeleng. Sudut bibirnya terangkat sedikit dan gerakan mengusap di perut Anara dia hentikan. “Kalau mukanya mirip kamu, aku harap sifatnya juga sama. Aku enggak mau dia punya sifat pengecut kayak papinya.”


Kalimat itu justru membuat Anara termangu. Karena kalau boleh jujur, dia malah tidak ingin putri mereka kelak mewarisi sifat lemah yang dia miliki. Anara justru ingin anak itu tumbuh menjadi sosok yang tangguh, agar bisa membela diri jika kelak ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi pada kehidupannya.


“Mau mirip sama siapa pun, aku cuma berharap dia bisa hidup dengan baik.” Timpal Anara. Sebagai orang tua, apa lagi yang bisa dia berikan selain doa-doa baik untuk anaknya?


“She will. Aku akan upayakan segalanya buat bikin dia hidup dengan baik dan layak. Cukup kita aja yang punya banyak struggle, anak kita jangan.” Ucap Arsenio sungguh-sungguh.


Sedangkan bagi Anara, tekad Arsenio itu hanya bisa ia aminkan di dalam hati. Sebab sampai saat ini pun, dia masih enggan untuk banyak berharap. Bayang-bayang Olin juga masih terus menghantui. Entah apakah Arsenio betulan sudah bisa melepaskan gadis itu sepenuhnya atau belum. Dia hanya bisa mendoakan yang terbaik. Untuknya, untuk calon anak mereka, untuk Arsenio, bahkan juga untuk Olin.


“Aku pasti bisa kan jadi ayah yang baik buat Noel?” tanya Arsenio seraya menatap lekat wajah Anara. Meminta dukungan agar keyakinannya semakin kuat.


“Iya,” meski masih tidak bisa menjamin apa-apa, Anara tetap mengiyakannya. “Kamu pasti bisa jadi ayah yang baik buat dia.” Semoga.


Arsenio masih tak mengatakan apa-apa dan malah semakin lekat mamaku tatap. Netra kelamnya seakan sedang berkelana menjelajahi milik Anara. Menyambangi setiap tempat yang tersembunyi di sana untuk tahu hal apa saja yang telah disimpan rapat oleh sang empunya.


Dalam pengembaraannya itu, Arsenio sampai pada masa di mana mereka masih kanak-kanak. Bayangan tentang sosok gadis kecil cerewet yang mengekor ke mana pun dia pergi seketika menjadi topik paling hangat yang otaknya minati.


Senyumnya, binar matanya, deretan gigi kecilnya yang lucu, juga suara cemprengnya yang menggema tiada henti di sepanjang hari. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arsenio menemukan Anara kecil begitu menarik di matanya.


Katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar, kan? Jadi kali ini, boleh kan Arsenio hendak belajar untuk memahami Anara lebih banyak daripada hari-hari kemarin?


“An,”


“Kenapa lagi?”


“Kalau aku mau coba sekali lagi, boleh?”


Anara mengernyit, tanda tidak mengerti. “Coba apa?”


“Kenalan sama kamu, sebagai bocah laki-laki yang kamu temuin pas kamu masih bocah dulu.”


Dan memulai semuanya dengan alur cerita yang berbeda. Mengubah sudut pandang tentang perjodohan menjadi sebuah pertemuan yang lebih bisa dirayakan. Jika bisa begitu, mungkin keadaan mereka bisa lebih baik, kan?


Bersambung....