
Tingkah absurd Arsenio belum berakhir. Walaupun sebelumnya Anara sudah begitu gamblang mengatakan keraguannya untuk membuka hati secara penuh, Arsenio agaknya masih enggan peduli. Lelaki itu terlihat masih ‘bernafsu’ untuk bisa diterima sebagai seorang suami.
Sebelum ini, Anara memang pernah berpikir bagaimana jadinya jika mereka bertemu sebagai orang asing, menjadi dekat secara alami sebelum memutuskan untuk menikah. Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, Anara mengerti kenapa Tuhan merancang jalan hidup mereka demikian.
Jika mereka bertemu sebagai orang asing tanpa adanya perjodohan, Anara yakin mereka tidak akan pernah menjadi dekat. Belum apa-apa, Anara yakin dia sudah akan menyerah duluan. Karena demi apa pun, tingkah absurd Arsenio ini sudah masuk ke tahap yang tidak bisa dihadapi dengan akal sehat.
“Kamu mau sampai kapan berdiri di situ?” Anara yang tadinya sudah dalam posisi rebah, kini terpaksa mendudukkan dirinya lagi.
Sudah hampir satu jam sepertinya Arsenio berdiri di ambang pintu kamar mereka. Dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada dan tatapan yang tak lepas dari dirinya. Membuatnya tidak bisa segera tidur padahal sudah ngantuk berat.
“Sampai kamu berhenti mikir kalau aku bersikap baik cuma karena Noel.”
Anara berdecak malas. Kenapa Arsenio kekeuh sekali dalam usahanya kali ini? Apa kira-kira yang sebenarnya laki-laki itu inginkan?
“Nggak mau? Ya udah, aku bakalan terus berdiri di sini.” Arsenio mengancam. Wajah cemberutnya berubah menjadi super serius. Sesuatu yang malah semakin membuat Anara ingin sekali memasukkannya ke dalam botol dan menguncinya di sana. Selamanya.
“An,”
“Iya.” Anara menyahut malas. Terpaksa. Daripada dia tidak bisa tidur sampai pagi, kan? “Sini, buruan.” Seraya menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.
“Iya apa?” tanya Arsenio.
Bola mata Anara berputar jengah, embusan napasnya begitu berat dan kasar. “Iya, kamu baik bukan cuma karena Noel. Puas? Buruan sini.”
Seketika itu juga, senyum Arsenio merekah. Bergegaslah ia pergi meninggalkan posisi mematung, menutup pintu dengan semangat lalu melompat naik ke atas kasur—menubruk tubuh Anara seperti singa yang sedang menerkam buruannya.
“Aku nggak bisa napas!” protes Anara seraya menggeplak lengan Arsenio yang mendekap erat tubuhnya.
Sang adam cekikikan, hanya melonggarkan dekapannya sedikit tanpa berniat melepaskan. “Promise I won’t hurt you anymore.” Ucapnya.
“Ya, ya.” Anara menanggapi dengan malas.
Sontak, Arsenio menatap tajam ke arahnya. “Aku serius.” Tegas lelaki itu.
Malas drama karena malam sudah kian larut, Anara menarik lengan Arsenio agar kembali memeluknya. “Iya, aku percaya.”
“Aku mau jadi suami yang baik,”
“Iya, aku tahu.”
“An,”
“Tidur, Arsenio. Jangan bikin aku bergadang. Ini nggak bagus buat kesehatan Noel.”
Arsenio menurut. Di dalam pelukan Anara, dia mulai memejamkan mata. Aroma tubuh Anara yang khas serupa lilin aromaterapi untuknya. Membantunya tenang lebih cepat.
“Good night, An.”
“Good nigt, Papi.”
Papi. Arsenio mengulum senyum. Kemudian dengan sesuka hati, dia memeluk Anara kian erat. Memonopoli tubuh sang istri hingga tidak ada celah untuk siapa pun membawanya pergi.
Persis hari ini, Arsenio sudah bertekad untuk mencoba mencintai Anara, sekali lagi.
...****************...
Ketika ia membuka mata, Arsenio sudah tidak mendapati Anara di kamar mereka. Ruang di sampingnya telah kosong, sementara pada ruang kosong lain dekat kaki, ia menemukan setelan kerja sudah disiapkan dengan rapi.
Arsenio meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, menguap beberapa kali sebelum akhirnya bangkit dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Waktu baru menunjuk pukul enam, jadi dia tidak perlu terburu-buru membersihkan diri dan bersiap.
Sampai di kamar mandi, Arsenio melamun sebentar di atas closet. Definisi sebenarnya dari melamun karena dia benar-benar tidak memikirkan apa pun di kepala. Kosong saja, seperti sebuah kotak penyimpanan yang baru saja disetel ulang.
Berjalanlah ia ke lemari pakaian. Menarik satu underwear warna abu-abu dan langsung dia kenakan. Setelah itu, barulah dia mengambil setelan kerja yang telah Anara siapkan dan segera mengenakannya.
Beres bersiap, Arsenio menyambar tas kerja dan kunci mobil serta dompet, lantas bergegas turun untuk mencari keberadaan Anara.
Masih dari ujung tangga lantai dua saja, rungunya sudah bisa menangkap suara desis yang berasal dari minyak panas di atas penggorengan. Dan dengan begitu saja, senyumnya terbit cukup lebar setelah dia tahu bahwa pelakunya adalah Anara. Walaupun sebetulnya, dia agak heran sebab tugas memasak sudah dia serahkan kepada asisten rumah tangga yang bekerja dari pagi hingga menjelang malam.
“An,” panggilnya, menginterupsi kegiatan Anara yang tengah menumis sesuatu di wajan.
“Oh, morning.” Sapa sang perempuan. Tanpa menoleh, sebab dia harus fokus dengan masakan di hadapan.
Arsenio berjalan mendekat ke arah kompor setelah meletakkan tas kerja di atas meja makan. Aroma gurih yang berasal dari bawang putih tumis dengan cepat menginvasi indra penciuman. Mengundang cacing-cacing di dalam perut untuk menari-nari, memberikan kode minta diberi makan.
“Tumben kamu yang masak? Mbak Narsih belum datang?” tanyanya sesampainya ia di belakang tubuh Anara.
“Mbak Narsih nggak ke sini hari ini, lagi nggak enak badan katanya.” Jawab Anara. Sedangkan tangannya masih begitu lihat mengaduk sawi hijau yang sudah mulai layu di atas wajan.
“Yah, sakit apa?”
“Pusing sama mual-mual katanya.”
“Hamil?” celetuk Arsenio.
Anara mendelik, “Mbak Narsih janda, mau hamil sama siapa?” ucapnya sambil mematikan kompor. Tumis sawi bawang putih sudah siap. Tinggal dia pindahkan ke piring dan diberi taburan bawang goreng. Lalu ditambah telur dadar sosis keju, dan selesai. Menu sarapan mereka hari ini sesimpel itu saja.
“Nggak tahu,” seraya mengendikkan bahu. “Siapa tahu aja dia diam-diam punya pacar.”
“Hush!” tegur Anara. Kadang-kadang, mulut Arsenio ini lemesnya memang melebihi perempuan. Entah menurun dari siapa. Karena kalau dilihat-lihat, Bunda sepertinya bukan tipikal yang doyan gosip.
“Iya, iya, maaf.”
Anara hanya menggeleng pelan, lalu kembali sibuk dengan kegiatannya menyiapkan sarapan. Perut buncit memang membuat langkahnya menjadi lebih lambat, beruntung Arsenio cukup pengertian dengan membantunya mengambil piring dan meletakkan lauk-pauk ke atas meja makan.
Dalam waktu singkat, sarapan mereka sudah siap.
“Berarti hari ini kamu sendirian dong di rumah?” tanya Arsenio, baru ingat kalau absennya Mbak Narsih berarti tidak akan ada yang menjaga Anara seperti biasa.
“Ya iya, mau gimana lagi.” Jawab Anara seraya menuangkan air putih ke gelas milik suaminya.
“Wah, nggak bisa begitu. Kamu ikut aku aja deh ke kantor.” Usul Arsenio, lagi-lagi membuatnya dihadiahi tatapan tajam oleh Anara.
“Bisa nggak, kalau kasih ide tuh yang masuk akal dikit?”
“Nggak masuk akalnya di bagian mana coba?”
“Kamu ke kantor buat kerja, bukan buat ngasuh orang hamil.” Meski bibirnya sewot, tangan Anara tetap bergerak menyendokkan nasi dan lauk-pauk ke piring Arsenio. “Udah lah, nggak apa-apa aku di rumah sendiri.”
“Nggak ada.” Tegas Arsenio. “Ikut aku ke kantor, atau aku bolos lagi hari ini.”
“Astaga....”
“Ikut aku ke kantor, please?” tadi sok galak, sekarang malah menampakkan puppy eyes yang gemas. Hah... Anara curiga kalau jangan-jangan Arsenio ini juga mengidap kepribadian ganda.
“An...”
“Iya, iya, terserah kamu deh.” Anara mengalah. Masih terlalu pagi. Energinya tidak boleh dikuras hanya karena hal sepele seperti ini.
Bersambung....