
“Karena gue nggak bisa menjanjikan buat selalu ada di sisi Anara, gue harap dia punya setidaknya satu orang yang bisa dia andalkan meskipun gue nggak ada di sana.”
“You know, lah, hidup ini penuh lika-liku dan misteri yang tiap harinya bikin kita mikir bakal ada kejadian apa lagi hari ini?”
“Gue cuma tiba-tiba kepikiran aja, gimana kalau umur gue ternyata nggak panjang dan harus mati duluan? Siapa yang bakal taking care of Anara, sedangkan yang gue tahu, dia udah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Apalagi, sekarang dia punya anak yang juga harus dia lindungi.”
“Kalau lo suka sama dia, at least gue bisa bernapas lega. Karena kalau beneran gue mati duluan nantinya, gue bisa percayain Anara sama lo. Lo pasti bakal usahain yang terbaik buat dia dan anaknya nanti.”
Omongan ngawur Arsenio masih terus terngiang di telinga Aksara bahkan sampai lelaki itu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Anara.
Sore tadi, tak banyak reaksi yang Aksara berikan. Ia hanya sekali berkata kepada Arsenio untuk berhenti mengatakan omong kosong dan fokus saja mengurusi Anara dan calon anak mereka.
Obrolan aneh itu juga terpaksa berhenti dan Arsenio tidak bisa mengajukan sanggahan lagi karena Anara telah kembali dari kegiatan menelepon. Membawa serta nampan berisi air minum dan camilan yang lantas menemani mereka bertiga mengobrol sampai beberapa jam kemudian.
Pukul 8 lewat 15, Aksara mengingat dengan jelas ia pamit undur diri jam segitu. Dan sekali lagi, sebelum dia masuk ke dalam mobil, Arsenio kembali mengatakan satu baris kalimat yang membuatnya semakin bertanya-tanya soal apa yang sebenarnya sedang lelaki itu khawatirkan.
“Gue serius. Kalau seumpama terjadi apa-apa sama gue, tolong jagain Anara.”
Sama seperti yang sebelumnya di ruang tamu, Aksara juga tidak menggubris permintaan itu. Bukan karena dia tidak bersedia, tetapi karena dia masih tidak mengerti mengapa permintaan itu datang secara tiba-tiba. Padahal kali terakhir saat ia datang berkunjung, Arsenio masih menampakkan sikap antipati pada dirinya.
Anara bahkan sampai menyebut mereka sebagai Tom and Jerry dengan kearifan lokal saking seringnya mereka bertengkar. Jelas aneh kalau Arsenio tiba-tiba mengajukan permintaan yang lebih terdengar seperti—surat wasiat.
“What’s exactly on your mind, dude?” tanya Aksara. Tentu saja, tidak ada siapa pun yang bisa menjawabnya.
Sampai mobilnya memasuki kawanan perumahan elit tempat dia tinggal pun, Aksara masih belum bisa menebak apa yang sesungguhnya terjadi dengan Arsenio.
Malam itu, dia membawa kegusarannya sampai ke dalam rumah. Sampai ia membaringkan tubuh ke atas ranjang. Bahkan sampai ketika ia mulai memejamkan mata karena lelah.
...****************...
Dua hari yang lalu, Arsenio bermimpi. Ia terjebak di sebuah lorong sempit dan gelap. Kakinya melangkah tertatih-tatih demi menemukan jalan keluar. Namun, usahanya sia-sia karena lorong itu seperti tak berujung.
Semuanya sunyi senyap. Tak ada yang bisa Arsenio dengar di sana, termasuk suara deru napas dan detak jantungnya sendiri. Dia seperti sudah bukan lagi manusia. Hanya seonggok raga tak bernyawa yang terjebak di sebuah tempat di antah-berantah.
Dalam keputusasaan, Arsenio mencoba berteriak. Tetapi tidak peduli seberapa keras ia mencoba, suaranya tetap tidak keluar juga. Seolah dia sedang terjebak di sebuah dimensi hampa udara. Pasrah menunggu malaikat maut betulan menjemput lalu membawanya ke neraka.
Arsenio ketakutan. Dia meringkuk sendiri di dalam lorong gelap itu. Memeluk dirinya dengan tubuh yang menggigil ketakutan.
Sebelumnya, mati tidak pernah menjadi momok menakutkan bagi Arsenio. Daripada kematiannya sendiri, ia lebih takut pada kematian orang-orang di sekitarnya. Pada dasarnya dia takut ditinggalkan. Dunia terlalu kejam untuk bisa dia tinggali tanpa orang-orang yang dia sayang.
Tetapi, pagi harinya ketika dia terbangun dalam kondisi tubuh yang basah kuyup, Arsenio tiba-tiba saja merasa takut mati. Tahu kenapa? Karena tiba-tiba saja, dia teringat pada Anara.
Persis sebelum ia terbangun dan mimpinya usai, Arsenio melihat bayang-bayang Anara di pelupuk mata. Perempuan itu menangis sambil memeluk bayi di dalam gendongannya, di dekat sebuah pusara dengan epitaf tanpa nama.
Sejak datangnya mimpi itu, Arsenio memeras otaknya lebih keras. Sibuk memikirkan siapa gerangan yang bisa dia andalkan untuk menjaga Anara jika ajalnya benar-benar datang menjemput dalam waktu dekat?
Lalu nama Aksara melintas di kepalanya jauh lebih banyak daripada nama-nama lain, bahkan mengalahkan nama Bunda.
Maka sore tadi, dia berusaha menyampaikan permintaan itu kepada Aksara. Tetapi kemudian, respons yang lelaki itu berikan malah membuatnya semakin gelisah.
Apakah benar-benar tidak ada seorang pun yang bisa dia andalkan setelah kematiannya nanti?
“Kamu dari tadi bengong tuh sebenernya mikirin apa?”
Kepala Arsenio menoleh ke kiri. Di sampingnya, Anara sudah duduk di atas kasur, siap menyelundupkan diri ke dalam selimut.
“Tahu nggak, kalau kebanyakan bengong bisa mengundang setan buat masuk ke dalam tubuh kamu?” tanya perempuan itu lagi semenjak tidak ada sahutan dari Arsenio.
“Mitos.” Cetus Arsenio. Kemudian, ia mematikan lampu utama menggunakan bantuan remote control, mengganti pencahayaan kamar dengan lampu tidur kekuningan.
“Mitos atau bukan, nggak ada salahnya buat jaga-jaga.” Oceh Anara lagi.
Daripada menggubris omongan Anara dan mereka akan kembali berdebat tidak penting, Arsenio lebih memilih untuk mendekat lalu sedikit merunduk. Segera dilabuhkannya kecupan di perut buncit Anara, juga usapan sayang sebagai ungkapan ‘selamat malam’ untuk bayinya.
“Besok ke rumah sakit jam berapa?” tanyanya usai menegakkan badan. Ditatapnya netra Anara yang tampak bersinar di bawah penerangan yang temaram.
“Jam 11. Kalau kamu sibuk, aku bisa jalan sendiri kok kayak biasanya.”
Arsenio langsung menggeleng. “Sama gue. Ini anak kita, gue juga harus berkontribusi selama kehamilan lo.”
Tidak ada sahutan. Anara hanya sudah lelah memprotes perihal sikap Arsenio yang berubah menjadi lebih care dan manis. Meski sejujurnya masih sulit untuk percaya bahwa rumah tangga mereka akan mulai berjalan normal seperti milik orang-orang pada umumnya. Karena biar bagaimanapun, mereka mengawalinya dengan cara yang tidak baik.
“Mulai sekarang, kalau butuh apa-apa, please langsung kasih tahu gue. Bantuin gue buat memenuhi kewajiban sebagai suami dan ayah.” Pinta Arsenio dengan nada serius.
Dan memang, dia serius. Selagi masih ada waktu, dia ingin ada untuk memberikan banyak hal kepada Anara. Mumpung jatah umurnya masih ada dan kematian belum betulan datang menyapa.
Arsenio hanya tidak ingin menyesal nantinya. Tidak menepati janji untuk menjaga Olin sampai akhir sudah cukup membuat batinnya tersiksa. Kalau harus ingkar janji lagi soal Anara, sudah pasti dia tidak akan sanggup.
Sama seperti sebelumnya, Anara juga tidak memberikan jawaban. Perempuan itu lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya. Mengambil posisi miring memunggungi Arsenio.
“Good night, Arsenio.” Ucapnya, lalu hening kembali berkuasa seiring dengan matanya yang terpejam.
Bersambung....