Losing Us

Losing Us
Unappreciated



Sekuat apa pun Anara dalam menahan diri untuk tidak keluar dari kamar dan menampakkan diri di hadapan Olin, ia tetaplah manusia biasa yang membutuhkan asupan makanan agar tidak pingsan. Maka, dengan berat hati, Anara pun turun ke dapur dengan niatan menyiapkan makan siang—untuk dirinya sendiri.


Suara gemercik air hujan yang turun menjadi backsound yang menemani ayunan langkah Anara yang ogah-ogahan. Meski tidak turun terlalu deras, namun gumpalan awan berwarna kelabu yang bertakhta sejak pagi itu seakan menjadi pertanda bahwa hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat.


Damai. Hanya itu yang bisa Anara gambarkan untuk mewakili suasana hatinya yang sekarang. Setidaknya, sampai ia menjejakkan kaki di ujung tangga dan matanya mulai bisa menemukan eksistensi Olin yang sedang merebahkan diri di atas sofa.


Sekilas, tidak ada yang salah. Perempuan itu merebahkan dirinya di atas sofa panjang berwarna merah marun dengan satu tangan yang menopang kepala. Pandangannya tertuju ke depan, pada layar televisi besar yang sedang menyiarkan drama—yang Anara sendiri tidak tahu apa judulnya. Namun, jika dilihat lebih baik, ada satu pemandangan yang sangat mengganggu—dan berakhir membuat Anara mengelus dada dengan begitu nelangsanya.


Kulit kuaci berserakan memenuhi lantai, padahal ada satu tong sampah kecil yang sudah sengaja Anara letakkan di dekat kaki meja untuk memudahkan siapa saja yang sedang menonton sambil nyemil agar tidak perlu susah-susah pergi ke dapur hanya untuk membuang sampah. Namun, keberadaan tong sampah itu seperti tidak terlihat di mata Olin sehingga perempuan itu lebih memilih untuk menebar kulit kuaci sembarangan.


Anara memang bukan tipikal yang gila sekali dengan kebersihan, namun melihat sampah yang berserakan seperti itu jelas membuatnya terganggu. Masalahnya, Arsenio tidak meng-hire asisten rumah tangga sehingga kekacauan seperti apa pun yang terjadi di rumah ini, Anaralah yang harus membereskannya.


Apa? Menyuruh Olin membersihkan sampah-sampah itu? Tidak, terima kasih. Anara tidak akan mencoba meski kalian bilang kemungkinan berhasilnya lebih dari 10 persen. Karena apa? Karena ia tidak ingin berakhir menjadi sasaran kemarahan Arsenio untuk hal sepele seperti itu. Sudah cukup ia diomeli oleh lelaki itu untuk hal lain.


Akhirnya, dengan membawa beban seberat gunung Fuji yang diagung-agungkan, Anara melanjutkan langkah menuju dapur. Biar sampah-sampah itu dia bersihkan nanti, setelah mengisi perut agar memiliki tambahan energi.


Sampai di dapur, Anara diam sebentar di depan pantri. Sejak dari dalam kamar, ia masih belum memiliki ide soal hendak makan apa siang ini. Selain karena memang awalnya tidak berniat untuk turun, Anara juga sebenarnya cukup malas untuk berkutat dengan berbagai alat masak yang sudah dia cuci dengan susah payah pagi tadi.


Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya Anara bisa memutuskan untuk memasak Indomie kuah rasa soto ayam kesukaannya. Kebetulan juga kan, di luar sedang turun hujan. Memakan mi pada cuaca seperti ini adalah pilihan paling oke menurut Anara.


Ide sudah didapat, bahan yang hendak dia gunakan untuk memasak juga sudah tersedia di kulkas. Maka Anara segera mengeksekusi ide tersebut agar tidak membuang waktu terlalu banyak.


Karena pada dasarnya selera makan Anara tidak terlalu rumit, satu porsi Indomie kuah rasa soto ayam dengan toping dua buah telur setengah matang telah berhasil dia hidangkan dalam waktu kurang dari lima menit. Aroma kuah yang menguar begitu kuat membuat air liurnya berkumpul di dalam rongga mulut. Merangsang rasa lapar di dalam perut sehingga mulai timbul gejolak-gejolak manja dari lambungnya yang kecil.


“Mari makan!” seru Anara seraya mengangkat sendok sejajar dada.


Anara sudah membaca doa. Beberapa lembar mi juga sudah dia lilitkan ke sendok garpu dan siap untuk disuapkan ke dalam mulut. Namun dia urung melakukannya karena tiba-tiba saja Olin datang, tanpa permisi menarik kursi dan duduk persis di sebelahnya.


Terpaksa, Anara mengatupkan kembali mulut. Sendok yang sudah berada di depan mulut juga dia turunkan, lalu dengan sopan santun yang dia bawa lekat di dalam diri, Anara menawarkan kepada Olin apakah perempuan itu mau juga dibuatkan Indomie.


“Gue mau makan yang udah jadi.” Pintanya, tanpa rasa bersalah sama sekali. Olin bahkan tidak menunggu sampai Anara menyerahkan mangkuk mi kepadanya. Tangannya yang kurus langsung saja beraksi, menarik mangkuk milik Anara dan langsung mengklaimnya sebagai milik sendiri.


Sekali lagi, Anara hanya bisa mengalah. Lagi pula, tidak berkelas sekali kalau dia harus bertengkar dengan Olin hanya karena semangkuk mi. Akhirnya, Anara memilih bangkit, bergegas membuat mi yang baru karena cacing-cacing di dalam perutnya sudah berdemo minta diberi nutrisi.


Sambil menunggu air di dalam panci mendidih, Anara memperhatikan Olin yang menikmati mi buatannya tanpa banyak berkomentar. Lalu di titik itu, dia semakin mengerti bahwa mereka sepenuhnya berbeda.


Enggak, Anara. Kamu enggak boleh merendahkan diri sendiri. Anara menepuk pipinya pelan. Sebagai pengingat agar dia tidak semakin melanjutkan adegan membandingkan tersebut. Bukankah lebih baik dia fokus menyiapkan makanan agar cacing-cacing di dalam perutnya tidak semakin bergerak brutal?


Setelah berkutat dengan uap kompor yang panas, Anara berhasil membuat satu porsi lagi Indomie. Tanpa menunggu lama, dia segera membawa mangkuk yang baru ke meja makan. Meski sudah tidak sebesar tadi, namun antusiasnya untuk menyantap mi buatannya ini masih cukup banyak.


“Mari makan.” Anara berucap pelan sebelum memasukkan mi yang masih panas ke dalam mulut.


Anara kira, dia sudah cukup sial karena makanannya direbut ketika sedang lapar-laparnya. Namun ternyata, itu masih tidak seberapa. Karena baru sesuap dia makan, Olin tahu-tahu meletakkan sendoknya, lalu mengisi gelas dengan air dan meneguknya sampai tandas.


“Kenapa?” tanya Anara. Melihat sendok yang sudah diletakkan di posisi tengkurap, dia tahu Olin tidak akan menyentuh mi yang masih tersisa banyak itu lagi.


“Gue udah selesai. Mi buatan lo nggak enak.” Ucapnya.


Sabar. Tahan. Tidak boleh emosi. Kata ibunya, emosi bisa mendatangkan lebih banyak masalah, jadi Anara harus menahan diri sekuat-kuatnya. Walaupun sebenarnya, dia ingin sekali meraih mangkuk mi lalu menumpahkan isinya ke kepala Olin yang entah apa isinya.


“Kalau emang nggak suka, kenapa tadi minta, Olin?” tanya Anara. Masih berusaha menggunakan nada yang lemah lembut seperti putri kerajaan.


Namun jawaban Olin lagi-lagi membuat kesabarannya diuji.


“Gue kira masakan lo enak, ternyata enggak.” Lalu dengan santainya, dia pergi meninggalkan Anara dan mangkuk Indomie yang terlihat nelangsa.


Dada Anara bergemuruh. Bisikan-bisikan buruk muncul dari kedua sisi telinganya. Mereka mengatakan sesuatu yang persis sama. Meminta Anara untuk berlari menghampiri Olin lalu menyiramkan kuah Indomie ke kepala gadis itu agar rambut cokelatnya yang terurai indah tidak lagi menguarkan bau sampo mahal yang membuat Anara insecure setiap saat.


Enggak boleh, An. Kamu harus sabar. Dan sekali lagi, Anara berusaha menenangkan diri sendiri.


Anara bukan tipikal orang yang bisa meledak-ledak ketika marah. Sebaliknya, saat sesuatu berjalan tidak sesuai rencana dan malah berakhir menyakiti, dia akan menguraikan air mata. Sama seperti siang ini, ketika Olin dengan teganya meninggalkan makanan yang sudah dia buat dengan susah payah dan bersikap seolah-olah apa yang dia lakukan bukanlah sesuatu yang besar.


“Di luar sana banyak orang yang enggak bisa makan, Olin. Tapi kamu malah biarin makanan ini berakhir sia-sia.” Gumam Anara sembari menyuapkan mi ke dalam mulut. Sedangkan satu tangannya yang lain sibuk mengusap air mata yang terjun bebas tanpa penghalang apa pun.


Ya Tuhan... kalau segini saja Anara sudah menangis, bagaimana hari-hari lain yang akan dia lewati nantinya?


Bersambung