
Anara tidak bisa mengalihkan pandangan dari Arsenio yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulut dengan gerakan sewot. Sekarang ini, lelaki itu sudah rapi, sudah mengenakan setelan kemeja dan celana bahan—siap pergi ke kantor.
Kembali berputar di kepala Anara soal percakapan dengan Bunda tadi malam. Perihal penampakan foto masa kecilnya di dalam album kenang-kenangan masa kecil Arsenio. Bunda bilang, foto itu diambil ketika beliau dan Arsenio sedang datang berkunjung ke kota di mana Anara dan orang tuanya tinggal. Itu adalah kali pertama mereka—Anara dan Arsenio—bertemu secara langsung, dan Bunda bilang Anara langsung menempel pada Arsenio seperti mereka memang sudah ditakdirkan untuk menjadi teman yang solid.
Anara jelas menolak mentah-mentah penjelasan itu di dalam benak. Sebab sekeras apa pun mencoba, tidak ada sama sekali memori tentang kejadian waktu itu yang tertinggal di kepalanya. Dia bahkan mengira kalau pertemuan pertamanya dengan Arsenio dan Bunda ya di hari pemakaman orang tuanya dilaksanakan, tidak ada hari-hari sebelum itu.
Namun, Bunda kembali meyakinkan dirinya dengan menunjukkan beberapa foto lain yang diambil di hari yang sama—dengan angle yang berbeda. Setelah bukti-bukti valid itu disodorkan kepadanya, Anara tidak bisa lagi mengelak.
“Mamamu bilang kamu pernah jatuh sewaktu umur 8 atau 9 tahun. Karena adegan jatuh itu, kepala kamu terluka dan sebagian memori dari masa kecil kamu kemungkinan terhapus karena luka yang kamu derita itu, An. Makanya Bunda enggak heran kalau kamu enggak ingat sama Bunda dan Arsenio dari sewaktu pertama kali kita ketemu di pemakaman.”
Bunda menjelaskan seperti itu ketika melihat Anara yang masih diam kebingungan.
Oke. Kalau soal cedera di kepala yang membuat lupa pada sebagian memori masa kecil, Anara akui itu memang benar adanya. Mama juga sudah mengatakan hal itu kepadanya ketika dia beranjak remaja dan mulai bertanya-tanya mengapa tidak banyak kenangan dari masa di mana usia balita hingga menginjak 7 tahun.
Yang menjadi masalah sekarang adalah... apakah benar, anak yang katanya langsung dia tempeli di hari pertama mereka bertemu itu adalah Arsenio Galandra, si laki-laki galak menyebalkan yang sekarang duduk di hadapannya ini? Dan kalau memang benar, apakah Arsenio juga tidak mengingat sedikit pun tentang pertemuan singkat mereka di masa lalu?
“Arsenio.” Dengan menyingkirkan semua rasa takut yang dia miliki, Anara memanggil lelaki itu.
Arsenio hanya berdeham. Nasi di piringnya sudah habis, air di dalam gelas pun telah dia tandaskan, namun dia masih enggan menoleh.
“Waktu kecil, kamu pernah jatuh sampai bikin kepala kamu luka parah atau enggak?” karena barangkali, Arsenio juga mengalami hal serupa.
“Pertanyaan aneh macam apa lagi itu?” sengak, seperti biasa. Padahal hanya tinggal menjawab iya atau tidak. Sesimpel itu.
“Jawab aja, sih.”
“Enggak.” Ketusnya. “Kenapa? Ada masalah? Lo jangan bikin gue kesel ya, ini masih pagi.”
Dih. Anara refleks mencibir di dalam hati. Jangankan bertanya, dia hanya berdiam diri pun juga sudah bisa membuat Arsenio merasa kesal. Itu artinya apa? Iya, benar, memang dasarnya Arsenio saja yang emosian.
“Semalam, sebelum aku sama Bunda tidur, kami lihat-lihat lagi album foto masa kecil kamu.” Meski kesal, Anara tetap melanjutkan. Dia hanya ingin tahu, Arsenio ini benar-benar tidak mengingatnya, atau hanya berpura-pura tidak ingat agar dia tidak mengganggu lelaki itu?
Sesuai dugaan, Arsenio terlihat kebingungan. “Ya terus, apa masalahnya?”
“Ada foto aku di sana.” Ungkapnya.
“Oh.” Sahut Arsenio. Singkat, padat, menyebalkan. Raut wajahnya yang tampak acuh tak acuh membuat keinginan Anara untuk menendang perutnya tumbuh semakin besar.
“Kamu ingat, kita pernah ambil foto berdua pas masih kecil?” tanya Anara, berusaha keras menahan diri agar tidak termakan emosi.
“Penting banget gue harus ingat?”
Yah, memang salah mengajak bicara manusia menyebalkan ini. Menyerah. Anara tidak kuat lagi. Terserahlah. Apa pun itu, entah ingat atau tidak, atau bahkan jika foto itu adalah hasil rekayasa, Anada tidak lagi peduli.
Demi menjaga kewarasan yang tidak boleh rusak di pagi hari yang cerah ini, Anara pun segera mengangkut piring kotor menuju wastafel untuk dicuci. Dia tinggalkan milik Arsenio. Tidak peduli meski lelaki itu berteriak minta piringnya juga dibereskan.
“Bunda kenapa ide banget joging sendirian, sih? Jadinya kan aku harus berduaan aja sama anaknya yang nyebelin.” Gerutu Anara, seolah-olah itu adalah kali pertama dirinya ditinggalkan bersama manusia menyebalkan bernama lengkap Arsenio Galandra itu.
“Penting banget gue harus ingat?” usai Arsenio menjawab begitu, Anara tidak lagi bersuara. Gadis itu langsung mengangkut piring bekas makannya dengan sewot, membawanya menuju wastafel.
“Punya gue sekalian, lah! Wey! Anara!” teriakan Arsenio itu juga tiak digubris sama sekali olehnya. Malahan, dia mendengar suara gerutuan samar ketika gadis itu sampai di wastafel.
Selama beberapa saat, Arsenio masih terus memperhatikan bagaimana Anara dengan sewot menggosokkan spons cuci piring yang penuh busa sabun ke atas piring kotor. Berkali-kali gadis itu melakukan gerakan yang sama, seolah noda yang ada di atas piring itu membandel sekali sehingga dia harus mengulangi gosokannya.
Sampai kemudian, Anara selesai berkecimpung dengan kegiatan membosankan itu dan kembali berjalan menuju meja makan. Wajahnya cemberut, lalu dengan tak kalah sewotnya, dia juga meraih ponsel yang sebelumnya dia tinggalkan begitu saja.
“Jangan lupa tutup lagi gerbangnya, aku mau ke kamar.” Pamitnya, lalu pergi tanpa menunggu Arsenio menjawab.
Punggung kecil itu dia amati hingga perlahan-lahan menjauh, lalu sepenuhnya hilang ditelan belokan tangga. Kemudian, setelah sosoknya tak lagi nampak di depan mata, Arsenio menghela napas rendah.
Perihal foto mereka berdua yang Anara tanyakan sebelumnya, Arsenio sebetulnya ingat. Tentu, dia tidak akan lupa pada bocah kecil menggemaskan yang tidak ada takut-takutnya ketika mereka baru pertama kali bertemu belasan tahun silam. Tidak seperti anak-anak kebanyakan yang malu-malu kucing saat bertemu teman baru, Anara malah lebih dulu menghampirinya dan mengajak berkenalan. Lalu dalam sekejap saja, gadis kecil itu terus menempel padanya—persis seperti lintah yang enggan lepas ketika sudah mulai mengisap darah.
Kenangan masa kecil mereka masih tersimpan dengan baik di dalam kepala Arsenio meskipun pertemuan mereka hanya berlangsung selama tiga hari. Tapi di dalam kepala, yang Arsenio ingat adalah Anara kecil yang menggemaskan, bukan si cerewet menyebalkan yang harus datang ke dalam hidupnya dan membuat dirinya harus mengurungkan niat untuk menikahi kekasih tercinta.
Tak peduli seberapa imutnya dia di masa lalu, Anara yang sekarang tetaplah berbeda. Itu sebabnya Arsenio tidak pernah berniat untuk beramah-tamah kepadanya sejak mereka bertemu lagi beberapa bulan yang lalu.
Sampai sekarang pun, Arsenio masih tidak berniat untuk menjadi dekat dengannya. Pertemanan yang dia tawarkan kepada gadis itu tidak lebih dari sekadar upaya agar Anara tahu bahwa hubungan mereka memang hanya sebatas itu—baik dulu ketika mereka masih anak-anak, atau sampai kapan pun juga.
“An mana, Sen?”
Suara Bunda membuat Arsenio menoleh. Wanita itu penuh keringat, namun anehnya dia justru mencium aroma segar menguar dari tubuhnya ketika Bunda berjalan mendekat.
“Udah naik ke kamar.” Jawab Arsenio apa adanya. Kemudian, dia meraih tas kerja, bersiap untuk berangkat lebih awal sebelum jalanan menjadi semakin macet tak terkendali.
“Kamu mau jalan sekarang?”
Arsenio mengangguk, “Keburu macet. Oh, ya, hari Senin kantor biasanya hectic banget, jadi tolong Bunda jangan telepon atau chat Arsen nyuruh pulang cepat kalau enggak urgent.”
Mendengar itu, Bunda malah mendengus. “Tapi kalau Olin yang ganggu, pasti boleh, kan?”
“Bun,” tegurnya, sebelum omongan Bunda merembet ke mana-mana.
“Ya, ya, Bunda tahu kamu masih cinta mati sama dia. Tapi tolong, jangan lama-lama, kasihan Anara.” Dan sama seperti yang Anara lakukan, Bunda juga meninggalkan Arsenio tanpa berniat memberinya kesempatan untuk menyuarakan isi kepala.
Ini adalah alasan mengapa Arsenio berpikir Anara tidak seharusnya datang lagi ke dalam hidupnya sebagai seseorang yang lebih dari sekadar teman. Karena sejak dia datang dan mengacaukan susunan rencana masa depan yang Arsenio buat, semuanya jadi sulit untuk ditata ulang.
“Kasihan Anara.” Arsenio mengulangi ucapan Bunda dengan gaya meledek khas dirinya. “Kenapa selalu Anara yang kasihan? Kenapa enggak pernah ada yang kasihan sama kisah cinta gue dan Olin yang harus kandas cuma karena Anara tiba-tiba jadi yatim-piatu?”
Dan kenapa tidak ada yang kasihan kepada Arsenio, yang harus sekuat tenaga mempertahankan Olin dan mengemban tanggung jawab atas Anara? Padahal dia ini masih hanya manusia biasa, bukan Gatot Kaca si otot kawat tulang besi yang bisa menerobos segala rintangan dan melumpuhkan musuh dengan kekuatan supernya.
“Karena hidup ini memang bajingan.” Arsenio menyimpulkan sendiri, lalu bergegas mengayunkan langkah sebelum pikirannya semakin semrawut sejak masih pagi-pagi sekali.
Bersambung