Losing Us

Losing Us
Arsenio (Gila) Galandra



Padatnya lalu lintas di jam pulang kerja membuat Anara enggan untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya, dia meminta Arsenio menepikan mobil, dan di sinilah dia sekarang. Duduk manis di kursi penumpang, sambil menikmati sate ayam bumbu kacang dengan topping potongan cabai dan bawang merah.


Di sampingnya, Arsenio ikut menikmati sate ayam miliknya sendiri. Beberapa kali memberikan komentar terkait rasa gurih dari bumbu kacang yang menyentuh lidah, lalu lanjut makan dengan khidmat.


Untuk menemani kegiatan makan mereka, Arsenio memutar musik dari ponselnya. Alunan lagu-lagu romantis dari berbagai negara terputar silih berganti. Seakan lelaki itu hendak mengutarakan perasaannya kepada Anara melalui bermacam-macam bahasa.


“Oh iya,” setelah menandaskan sate terakhir, Anara menegakkan punggungnya. Hal yang pertama dia lakukan bukanlah menenggak air minum yang sudah disiapkan, melainkan merogoh tas tangan miliknya lantas mengeluarkan selembar foto yang tak sengaja terbawa. “Aku tadi nemu foto ini di meja kerja kamu, terus nggak sengaja kebawa.” Terangnya.


Arsenio meletakkan tusuk sate kosong ke dalam kantong plastik, kemudian meraih foto yang Anara ulurkan. Hanya untuk dibuat terpaku cukup lama memandangi sosok cantik di dalam foto tersebut.


Tanpa sadar, Arsenio tersenyum. Cantiknya Anara di dalam foto itu seperti memiliki daya magisnya sendiri. Membuat dirinya betah berlama-lama memandang, dengan perasaan yang berangsur-angsur menghangat.


Arsenio masih ingat dengan jelas alasan mengapa dia memutuskan untuk memotret Anara malam itu. Sebab malam itu, Anara terlihat begitu cantik di matanya. Sorot mata perempuan itu begitu teduh, senyum tipisnya yang dipersembahkan kepada mendiang kedua orang tuanya tampak begitu tulus dan hangat, sementara suaranya yang mengalun merdu serupa mantra yang membuat Arsenio tak kuasa menolak dorongan untuk mengabadikan momen itu menggunakan ponselnya.


Tak cukup hanya disimpan di dalam memori ponsel, Arsenio juga mencetak hasil jepretannya malam itu. Menyimpannya di meja kerja untuk bisa dia pandangi sewaktu-waktu, kalau kepalanya sedang pusing dan dia butuh penghiburan. And it works. Suasana hati Arsenio bisa langsung membaik hanya dengan memandang foto itu selama beberapa saat.


“Cantik, ya?” tanyanya. Oh, bukan, itu bukan pertanyaan. Lebih mengarah pada pernyataan yang tak perlu susah payah dibantah.


“Bintangnya?” Anara balik bertanya dengan begitu usilnya. Berhasil membuat senyum Arsenio reda dan lelaki itu berakhir merengut.


“Kamu.” Cetusnya.


Anara terkekeh, lalu menyerahkan botol air minum yang sudah sempat dia tenggak sebelumnya. “Kata Papa, aku emang cantik, sih.”


“Ya emang cantik!” seru Arsenio agak sewot. Bahkan caranya mengambil botol dari tangan Anara pun terkesan penuh emosi.


“Ya udah sih, kok ngamuk?”


“Kamu nyebelin.” Gerutu Arsenio. Air di dalam botol dia tenggak sampai habis, seakan dia adalah musafir yang baru bertemu dengan sumber mata air setelah berminggu-minggu tersesat di padang pasir.


“Makasih, ya.” Dan ucapan terima kasih itu berhasil membuat Arsenio berhenti dari segala kegiatannya. Hanya untuk menoleh kepada Anara dengan gerak super-lambat. “For everything you did, dan untuk hal-hal lain yang sedang kamu usahakan sekarang.”


“But, I’m doing nothing....”


“You did, Arsenio. And I thank you for every single thing you did for me. Makasih, ya, Papi.”


Entah sejak kapan, panggilan ‘Papi’ adalah musuh besar bagi Arsenio. Dia tidak pernah bisa menyembunyikan semburat merah di pipi saat Anara memanggil demikian. Satu kata itu bahkan lebih dahsyat daripada pernyataan cinta yang pernah dia dengar dari siapa pun juga selama hidupnya. Dan itu mengesankan.


“Kamu akhir-akhir ini emang hobi bikin aku salah tingkah, ya?” gumamnya, dengan suara pelan yang hampir-hampir tenggelam di bawah alunan lagu yang masih berputar.


Kekehan pelan terdengar sebagai jawaban. Anara meloloskan tawa itu dengan begitu bebas, setelah sekian lama.


Maka, tak ada lagi yang bisa Arsenio lakukan selain diam memandangi wajah istrinya. Mengamati bagaimana senyum perempuan itu semakin lebar di sela-sela bibirnya yang bergerak mengocehkan banyak hal.


Lagu-lagu cinta masih berputar, silih-berganti seakan tidak memiliki akhir. Membawa Arsenio menuju satu gerbang yang akhirnya terbuka lebar. Gerbang untuk benar-benar jatuh pada sosok Anara, tanpa memikirkan sebuah jalan keluar.


Waktu menunjuk pukul 9 ketika mereka akhirnya sampai di rumah. Setelah menikmati sate ayam, mereka juga sempat melipir sebentar ke alun-alun kota, menyaksikan pertunjukan kembang api yang entah dibuat entah dalam rangka memperingati hari apa.


Rumah dalam keadaan gelap, tentu saja. Hanya lampu teras saja yang sudah menyala karena memang bohlam yang dipasang di sana adalah tipe smart, yang akan otomatis menyala ketika sinar matahari tak lagi nampak.


Arsenio menggandeng Anara, menuntun istrinya meniti langkah dengan hati-hati demi menghindari adegan tabrak menabrak yang tidak oke. Dan setelah semua lampu berhasil dia nyalakan, barulah dia biarkan tangan perempuan itu lepas dari genggamannya yang terlampau erat.


“Udah malam, kayaknya kamu nggak usah mandi deh.” Katanya, setelah mereka tiba di lantai dua.


“Nggak, aku tetap mau mandi.” Yang perempuan kekeuh.


“Dingin, Anara.”


“Kita punya fasilitas yang namanya water heater, Arsenio. Buat apa dipasang mahal-mahal kalau masih harus pusing perkara air dingin?”


Arsenio berdecak, “Setelah mandi tetap bakal dingin, even kamu mandinya pakai air hangat. Udah deh, nurut aja, nggak usah mandi. Nggak mandi semalam nggak akan bikin kamu meriang.” Omelnya panjang lebar.


Namun, alih-alih menurut, Anara malah melenggang pergi, masuk ke dalam kamar mereka seolah omelan Arsenio tidak pernah eksis sama sekali.


“Heh, jangan ngeyel kamu kalau dikasih tahu sama suami!” seru Arsenio, lantas berlarian menyusul Anara sebelum perempuan itu betulan masuk ke kamar mandi.


Tiba di kamar, dia menemukan Anara sudah menyiapkan baju ganti. Dan sebelum kaki perempuan itu terayun, Arsenio lebih dulu menahannya.


“Aku mau mandi, Arsenio.” Pinta Anara. Ada penekanan di setiap kata yang terucap, bukti bahwa perempuan itu sudah mulai kesal.


“Ya udah, tapi mandinya sama aku.” Celetuk Arsenio.


Mata Anara membola, nyaris melompat keluar jika otot-otot di sana tidak kuat menahannya. “Jangan aneh-aneh!” desis perempuan itu.


“Nggak aneh.” Kepala Arsenio menggeleng pelan. “Suami istri mandi bareng itu normal.”


“Nggak mau!” Anara menyentak tangan Arsenio, hendak kabur secepat yang dia bisa meski agaknya mustahil dengan kondisi perutnya yang buncit.


“Harus mau.” Dan seharusnya, Anara sadar diri bahwa kekuatannya tidak seberapa besar dibandingkan dengan milik Arsenio.


Jadi, ketika tubuhnya tahu-tahu diangkat oleh Arsenio dan dibawa ke dalam kamar mandi, yang bisa Anara lakukan hanyalah berteriak heboh sambil memukul-mukul dada lelaki itu.


“Nggak mau!!!”


“Arsenio!!!”


“Yaaaaa!!!”


Bersambung....