Losing Us

Losing Us
Membaik?



Semuanya kacau. Sejak dirinya sering menemukan Anara menangis sendirian pada tengah malam, lalu berubah menjadi gadis ceria seperti hari-hari sebelumnya ketika matahari terbit, Arsenio menjadi rancu dengan perasaannya sendiri. Dengan cepat, nama Anara berhasil menginvasi sebagian besar wilayah di otaknya, membuat dirinya kerap tidak fokus dalam melakukan beberapa hal.


Kabar buruknya, hal itu juga sampai membuat dirinya dan Olin menjadi lebih sering bertengkar. Kualitas hubungan mereka berangsur memburuk hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Dan jelas, Olin tidak punya tersangka lain untuk dia limpahi kesalahan selain Anara. Sebab dari awal, Anara memang sudah menjadi forever enemy bagi Olin.


Pada pertengkaran yang sebelumnya, Arsenio masih bisa membujuk Olin. Mengatakan bahwa Anara sama sekali tidak ada hubungannya dengan keretakan hubungan mereka, dan bahwa dia hanya sedikit lelah dengan pekerjaan di kantor sehingga konsentrasinya juga jadi menurun drastis. Namun, semuanya berubah ketika Arsenio tidak sengaja menyebutkan nama Anara ketika seharusnya yang dia sebut adalah nama Olin.


Itu terjadi malam tadi. Ketika mereka sedang menikmati makan malam di mana Olin, untuk pertama kalinya bersedia menyentuh peralatan masak demi menghidangkan seporsi spaghetti bolognese untuk dirinya. Ketika seharusnya Arsenio memuji kekasihnya atas masakan yang dihasilkan, dia malah tidak sengaja menyebut nama Anara.


Olin marah, itu sudah jelas. Piring berisi spaghetti bolognese buatannya melayang ke udara sebelum akhirnya jatuh dan pecah menjadi berkeping-keping. Dengan suara teriakan yang melengking dan pukulan-pukulan brutal yang dia daratkan ke dada Arsenio, Olin mengusir lelaki itu dari apartemennya. Terus mengatakan bahwa Arsenio jahat, bahwa lelaki itu telah berkhianat.


Bagian paling buruk dari peristiwa itu adalah fakta bahwa Arsenio tidak bisa memberikan pembelaan apa-apa. Ketika dia seharusnya bisa membujuk Olin dan mulai mengarang cerita tentang alasan mengapa dia sampai salah menyebut nama Anara, Arsenio malah pasrah saja ketika tubuhnya didorong dengan kekuatan penuh oleh Olin hingga terjerembab ke lantai, dalam waktu singkat menjadi tontonan tetangga unit Olin yang melongokkan kepala keluar karena keributan yang mereka timbulkan malam-malam.


Tidak ada lagi istilah malu atau apa pun itu. Arsenio hanya bisa bangkit dengan mengandalkan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, lalu berjalan meninggalkan unit apartemen Olin dengan kepala yang ribut bukan main.


Berkilo-kilo meter Arsenio berkendara, tanpa arah dan tujuan yang jelas karena pikirannya mulai melayang entah ke mana. Sampai akhirnya, mobil yang dia kendarai tidak sengaja melintas di depan sebuah pub kelas bawah yang menawarkan minuman-minuman murahan. Dengan pikiran yang jauh dari kata jernih, Arsenio membelokkan mobil ke sana.


Lampu pub yang remang-remang menyakitkan mata menyambut Arsenio ala kadarnya. Aroma dari bir-bir oplosan yang bercampur dengan bau apak asap rokok langsung berteman akrab dengan indra penciuman bahkan ketika kakinya baru menapak di pintu depan.


Seorang pria bertubuh kekar dengan tato naga di lengan menyambut dengan tatapan tidak ramah. Tangannya yang berotot sedang sibuk menuangkan bir-bir beraroma menyengat ke gelas-gelas milik pelanggan yang rata-rata sudah berusia 30-an ke atas. Para pria kesepian yang tidak memiliki dana cukup banyak untuk bisa pergi ke kelab mahal dan mencicipi alkohol kelas atas.


Di pub itu, Arsenio kemudian menghabiskan berjam-jam menenggak miras oplosan yang rasanya sama sekali tidak enak. Seorang pria paruh baya datang menghampiri, menawarkan lintingan yang dia bilang adalah rokok secara cuma-cuma seraya menyunggingkan senyum mencurigakan. Tentu, dia tidak termakan akal bulus begitu saja. Arsenio tahu lintingan itu bukan berisi tembakau, melainkan ganja, yang jika dia mengisapnya sekali, dia akan terus meminta berulang-ulang kali.


Gelas demi gelas Arsenio tenggak, rasa sakit di kepalanya masih tidak berkurang. Malahan, dia merasa semakin menipis kesadaran, semakin jelas pula nama dan bayangan wajah Anara muncul di kepala.


Arsenio akhirnya memutuskan untuk pergi dari pub itu setelah meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribu. Nekat menyetir mobil dalam keadaan high karena enggan meninggalkan mobil di tempat terkutuk itu. Jika ada pilihan yang lebih baik, dia jelas akan memilihnya.


Dan, ya, semuanya terjadi begitu saja.


Ketika menemukan Anara duduk sendirian, Arsenio sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengabaikan keberadaannya. Sebab jika dia berhenti dan gadis itu sempat bertanya, maka pertahanan yang dia bangun bisa jadi runtuh seketika.


Arsenio berhasil masuk kamar tanpa terlibat percakapan apa pun, namun sialnya, Anara malah mengetuk pintu kamarnya dan membuatnya kehilangan kendali.


Saat Anara berada di hadapannya malam tadi, menatap dengan sorot mata menyedihkan yang tidak dibuat-buat sama sekali, satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Arsenio adalah bagaimana caranya untuk membuat gadis itu tidak lagi merasa sendiri. Untuk membuat Anara percaya bahwa air mata yang dia kuras sendirian setiap malam itu boleh dia bagikan kepada orang lain, dan kebetulan orang lain yang paling memungkinkan itu adalah Arsenio.


Maka, Arsenio yang sudah setengah gila pun bergerak lebih liar. Dia meminta Anara menyerahkan ‘sesuatu’ yang berharga. Karena hanya itu satu-satunya cara yang dia pikir bisa membuat Anara merasa percaya bahwa dia boleh mulai bersandar kepada Arsenio.


Tapi sekarang, ketika kesadarannya sudah kembali, Arsenio menjadi sangsi apakah keputusannya malam tadi sudah tepat atau belum.


“Can you ... move your body? I need a space.” Dari dalam pelukannya, Anara bersuara.


“Enggak.” Jawab Arsenio. Space yang Anara minta sama sekali tidak penting sekarang. “Gue mau kayak gini dulu.”


“Sampai lo berhenti mikir kalau gue lakuin ‘itu’ cuma karena lagi mabuk.”


Karena sudah hampir satu jam lamanya, Anara terus merengek minta dilepaskan. Gadis itu pikir Arsenio tidur dengannya hanya karena sedang mabuk. Well, tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak benar. Semabuk apa pun Arsenio, dia tidak akan sampai tidur dengan siapa pun, bahkan jika itu adalah Olin sekalipun. Ini murni keinginan Arsenio, bukan sekadar kesalahan yang terjadi karena mabuk semata.


“Tapi—“


“Tapi apa?” setelah mengungkung tubuh polosnya di dalam pelukan, Arsenio merenggangkan jarak mereka sedikit. Hanya sampai dia bisa menatap mata Anara yang tampak lebih sayu ketimbang hari-hari sebelum ini.


“Kamu emang lagi mabuk.”


“Gue cuma minum sedikit, enggak sampai benar-benar mabuk. Buktinya, gue enggak salah mengenali lo sebagai Olin, kan?”


“Tetap aja, ini enggak benar.”


“Enggak benar dari segi mana?”


“Pernikahan kita—“


“Sah di mata hukum dan agama.” Arsenio menyela lagi. Tidak ingin Anara punya lebih banyak kesempatan untuk bicara karena itu hanya akan membuat perasaannya kembali tidak enak. “Enggak ada larangan buat suami istri tidur bareng.”


Untuk beberapa lama, Anara membisu dengan mata yang menatap lurus ke arah Arsenio. Hingga kemudian dia mengembuskan napas pelan dan menarik diri lebih jauh.


“Kamu bilang pernikahan ini enggak berarti apa-apa.” Lirihnya. Tatapannya kini jatuh pada tempat selain mata Arsenio. “Kamu bilang... kamu enggak akan bisa lepasin Olin karena dia adalah segalanya buat kamu.”


Seketika, gantian Arsenio yang terdiam. Jika bicara soal Olin, maka jawabannya masih tetap sama. Dia masih tidak bisa melepaskan Olin, entah apa pun alasannya. Bahkan meskipun dia sudah mulai memiliki rasa tanggung jawab terhadap Anara, Arsenio tetap menempatkan Olin di posisi pertama. Hanya hubungannya dan Anara saja yang ingin dia ubah, sementara hubungannya dengan Olin akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.


“An,”


“Aku akan anggap yang semalam itu cuma kesalahan.” Potongnya. Setelah itu, Anara meraup selimut tebal yang membalut tubuh polos mereka, memakainya untuk menutupi tubuhnya sendiri dan langsung berbalik sebelum dia melihat tubuh polos Arsenio di atas ranjang. “Aku enggak mau merusak apa pun, termasuk hubungan kamu sama Olin. Jadi, let’s pretend kalau semalam enggak terjadi apa-apa di antara kita.”


Setelah mengatakan sesuatu yang malah membuat kepala Arsenio terasa ingin pecah, Anara memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai lalu ngibrit ke kamar mandi.


Debaman yang dihasilkan dari pintu kamar mandi yang ditutup membuat Arsenio menghela napas begitu panjang. Rupanya, dia memang terlalu terburu-buru. Bukannya mendapatkan kepercayaan Anara, dia mungkin malah akan membuat hubungan mereka menjadi lebih buruk.


“Arsenio bego.” Arsenio memukul kepalanya sendiri. Meski dia tahu, itu tidak akan mengubah apa pun.


Bersambung