
Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Anara secara rutin memeriksakan kandungan. Dan untuk menunjang hal tersebut, dia menarik beberapa persen uang dari dalam tabungan untuk membeli mobil. Tidak mungkin menggantungkan hidupnya kepada Arsenio, jadi dia juga berusaha mencari pekerjaan yang bisa dia kerjakan dari rumah. Uang tabungan yang berasal dari warisan peninggalan kedua orang tuanya sebenarnya masih cukup untuk membiayai hidupnya dan calon anaknya sampai beberapa tahun ke depan, tetapi sebagaimana hidup berjalan tanpa bisa diprediksi, ia tetap berusaha menyiapkan rencana cadangan.
Minggu lalu, ketika Bunda berkunjung sebentar sebelum pergi makan malam bersama kolega, Anara sekali lagi mengajak Arsenio berbicara soal perpisahan mereka. Namun, jawaban lelaki itu masih tetap sama; nanti.
Entah apa yang sebenarnya sedang ditunggu oleh lelaki itu. Padahal hasil akhirnya sudah terlihat begitu jelas bagi Anara. Mereka akan berpisah, karena Arsenio jelas tidak akan pernah bisa meninggalkan Olin.
“Ini resep vitamin yang baru, tolong dikonsumsi secara rutin supaya adik bayinya tetap sehat di dalam perut ya, Bu.”
Anara menatap dokter kandungan perempuan berusia akhir 30-an itu sebentar, lalu tersenyum seraya mengambil secarik kertas yang sebelumnya telah diserahkan kepadanya.
“Terima kasih, Dok.” Ucapnya ramah.
Sang dokter turut tersenyum, begitu lembut.
“Sama-sama, Bu. Istirahat yang cukup dan sebisa mungkin hindari hal-hal yang membuat stres, ya. Karena apa pun yang Ibu rasakan, adik bayi juga bisa merasakannya.” Tuturnya.
Anara mengangguk, meski di dalam hati mulai meringis. Karena, bagaimana bisa dia baik-baik saja dan tidak merasakan stres jika kondisi rumah tangganya sedang diambang perpisahan?
“Kalau begitu, saya permisi Dok, mari.” Anara memasukkan kertas resep ke dalam tas tangan, lalu bangkit dari kursi. Ia lantas berlalu dari hadapan sang dokter setelah berjabat tangan sebentar.
Di sepanjang jalan menyusuri koridor rumah sakit, Anara kembali melamun. Isi kepalanya penuh dengan alasan demi alasan yang akan dia kemukakan kepada Bunda, jika hari perpisahannya dengan Arsenio tiba nanti.
Bunda terlampau baik terhadap dirinya, tentu Anara tidak bisa asal memberikan alasan karena takut akan menyakiti hati perempuan itu. Ia juga tidak bisa melimpahkan kesalahan sepenuhnya kepada Arsenio, karena pada kenyataannya, dia juga yang bersalah karena sudah hadir ke dalam hidup lelaki itu.
Ketika Anara masih melamun dan tidak fokus pada ayunan langkahnya, seseorang tiba-tiba saja menabrak bahunya dengan cukup keras. Membuat tubuh kurusnya limbung dan nyaris jatuh jika sebuah tangan tidak menahan lengannya lebih dulu.
“Oh, maaf,” Anara berusaha melepaskan tangan seseorang itu dari lengannya, sambil sekuat tenaga menyeimbangkan tubuhnya yang oleng.
“Mbak enggak apa-apa?” tanya seseorang itu, yang dari suaranya ternyata adalah seorang laki-laki.
Anara menaikkan pandangan setelah berhasil berdiri tegak. Lalu, tatapannya terpaku cukup lama pada sosok laki-laki berambut hitam dengan manik berwarna cokelat gelap yang menenangkan. Otaknya membeku sesaat, berhenti dari proses berpikir karena serangan kejut yang datang setelah netra mereka bertemu pandang.
“An?” lalu, ketika lelaki di hadapannya kembali bersuara, Anara merasakan sel-sel di tubuhnya mulai berangsur bekerja seperti semula. Otaknya yang beku mencair, mulai bisa mencerna situasi yang terjadi.
“Asa?” Anara balik bertanya dengan ragu-ragu. Manik cokelat itu jelas milik teman baiknya semasa SMA dulu. Asa yang keberadaannya dia cari-cari selama beberapa waktu terakhir. Namun, Anara masih tidak yakin dengan apa yang dia lihat sekarang ini. “Ini beneran kamu?”
Laki-laki berjaket denim itu tersenyum, lalu mengangguk dengan begitu bersemangat. “Iya, An. Ini aku, Asa.” Ucapnya.
“Asa....” Anara bergumam lirih, lalu entah mendapatkan keberanian dari mana, ia langsung menghambur ke dalam pelukan Aksara. Rasa rindu yang dia simpan di salah satu ruang di hatinya tiba-tiba saja berhamburan keluar, tak lagi bisa dia tahan.
Meskipun terlihat terkejut atas tindakan Anara yang tiba-tiba, Aksara tetap menyambut pelukan itu dengan sama eratnya. Kedua lengan besarnya melingkari tubuh kecil Anara hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Tubuh yang sudah lama tidak dia lihat secara langsung itu benar-benar dia dekap begitu erat, begitu hangat.
“Aku kangen kamu, Sa.” Anara hanya bisa melirih di dalam hati, karena bibirnya kini terlalu kelu. Kebahagiaan yang terlalu membuncah karena rindunya akhirnya terbayar membuatnya hanya bisa membisu, memilih untuk menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke dada teman baiknya itu.
Di lorong rumah sakit yang penuh lalu-lalang, dua anak manusia itu berpelukan sangat erat, melupakan apa pun yang sedang terjadi di sekitar, termasuk eksistensi Arsenio yang berdiri di sisi koridor yang lain. Tubuhnya menegang, kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, rahangnya mengeras. Dalam kepala bertanya; siapa laki-laki yang berani memeluk istrinya seperti itu?
...****************...
Cincin kawin yang melingkar di jari manis Anara berhasil membuat Aksara terpaku cukup lama. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa teman baiknya semasa SMA dan baru dia temui lagi setelah sekian tahun berpisah ternyata sudah menikah, di usianya yang masih begitu muda. Tidak hanya sudah menikah, Anara ternyata juga sedang hamil. Perempuan itu rupanya berkeliaran di rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.
“How’s life, An?” tanyanya, setelah cukup lama mereka hanya saling diam dan beradu pandang.
“I don’t know how to describe it, Asa.” Anara menjawab dengan segaris senyum yang samar. Bukan sebuah senyum yang mewakilkan sebuah kebahagiaan, tentu saja. “Banyak hal terjadi, dan adakalanya aku merasa semuanya berjalan terlalu cepat sampai aku enggak tahu apa yang sebenarnya sedang aku alami.”
“Hidup memang selalu begitu, kan?” Aksara ikut-ikutan mengalihkan pandangan.
Hidupnya pun tidak berjalan terlalu mulus sejak kepindahannya ke kota ini selulusnya ia dari SMA. Kedua orang tuanya berpisah secara tidak baik-baik dan berakhir pada kisruhnya persoalan hak asuh anak. Ia memang sudah dewasa ketika semuanya terjadi, namun karena belum mandiri secara finansial, dia tetap harus memilih dengan siapa ia hendak menggantungkan hidup setelah perpisahan itu terjadi.
Pada akhirnya, Aksara memilih ikut sang ayah. Jabatannya sebagai CEO di sebuah perusahaan telekomunikasi jelas lebih bisa menjamin masa depannya, meski pekerjaan sang ibu sebagai seorang desainer juga bukan sesuatu yang remeh.
Di tengah badai yang menerpa dan rasanya membuat Aksara ingin berhenti melangkah, ia selalu ingat bahwa ada seseorang bernama Aishalma Anara, sahabat baik yang ingin dia temui lagi suatu hari nanti dalam keadaan yang lebih baik.
Anara adalah alasan mengapa Aksara masih bertahan sampai sekarang, tetapi saat mereka kembali bertemu, ia malah menemukan perempuan itu dalam keadaan yang tidak baik.
Rasanya seperti usahanya sedikit sia-sia. Karena ia hanya bertahan untuk dirinya sendiri, tanpa berusaha mencari tahu apakah sahabatnya ini juga menjalani kehidupan yang baik atau justru sebaliknya.
“Udah berapa bulan usianya?” tanya Aksara berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia menatap perut Anara yang sudah terlihat sedikit buncit.
“Hampir tiga.” Ucap yang perempuan.
Aksara menganggukkan kepala, kemudian menaikkan pandangan hingga tatapannya kembali bertemu dengan netra Anara.
“Alasan hidup kamu enggak baik-baik aja sekarang bukan karena ayahnya, kan?”
Pertanyaan itu membuat Anara tersenyum kecut. “Sayangnya, iya.” Jawabnya jujur. Karena toh, dia tidak akan pernah bisa berbohong kepada Aksara.
“Is he cheating on you?”
Anara menggeleng, “Justru aku yang jadi orang ketiga di antara dia sama pacarnya.” Akunya, begitu nyeri saat mengingat kembali alasan kenapa dia harus menerima nasib sebagai orang ketiga.
Harusnya, dia lebih keras untuk menolak. Segala bujuk rayu Bunda waktu itu harusnya bisa dia abaikan, sehingga segala bencana ini tidak harus terjadi pada hidupnya.
Oh, bukan hanya hidupnya. Ia juga telah berkontribusi dalam kehancuran hidup Arsenio dan Olin.
“Kamu nggak mungkin jadi selingkuhan, An. You’re not the type of person yang bisa ambil kebahagiaan orang lain.”
“But I did,” Anara menatap Aksara dengan sendu. “Aku udah ambil kebahagiaan dia sama pacarnya, Sa. I’m not that innocent. Aku ... aku....” rasanya tak sanggup untuk melanjutkan. Rasa sesak kembali datang, bergerumul memenuhi dadanya.
“Pasti ada alasan kenapa kamu bisa ada di posisi seperti sekarang, kan? I know you didn’t mean that.”
Dan kepercayaan Aksara kepadanya justru membuat Anara semakin ingin menangis. Sebab pada kenyataannya, dia memang tidak sepolos itu. Dia tetap bisa menolak, tetapi memilih untuk pasrah. Dia tetap bisa menyusun seribu satu rencana untuk menghindar, tetapi dia tetap nekat menerima perjodohan ini sekalipun ia tahu hati Arsenio
sudah ada yang memiliki.
“I mean that, Asa. I mean that.” Anara melirih, dengan tatapan yang jatuh ke atas pangkuan. Bahunya bergetar, sekuat tenaga menahan lelehan air mata yang mendesak untuk keluar.
Melihat itu, Aksara tak bisa melakukan banyak hal. Ia hanya menggerakkan tangannya di punggung Anara, memberikan usapan-usapan pelan sebagai perwakilan kalimat “tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja”.
Sedangkan tanpa mereka sadari, ada telinga lain yang sedari tadi mendengarkan percakapan yang terjadi.
Arsenio masih ada di sana, menyembunyikan diri di balik tembok sambil menekan dadanya sendiri. Rasanya sesak, ketika ia mendengar Anara justru menyalahkan dirinya sendiri atas takdir hidup yang tidak pernah mereka kehendaki.
“Sorry, An. Sorry.” Lagi-lagi, permintaan maaf yang tidak pernah berani dia ucapkan secara langsung kepada perempuan yang hatinya telah ia sakiti berkali-kali.
Bersambung...