
Anara terbangun dari tidurnya karena ponselnya meraung-raung sejak tadi. Biasanya, dia akan mengaktifkan mode silent di malam hari. Namun karena Arsenio belum pulang dan dia tidak yakin apakah lelaki itu membawa kunci cadangan, maka Anara sengaja mengaktifkan mode dering agar dia tahu jika Arsenio menelepon.
Dan benar saja, lelaki itu betulan meneleponnya di jam setengah satu dini hari.
“Halo, Arsenio.” Sapanya dengan suara serak dan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
“Gue di depan, tolong bukain pintu.”
“Iya, tunggu.”
Bip. Ponsel Anara geletakkan begitu saja di atas kasur, lalu dia dengan mata yang masih setengah merem berjalan keluar dari kamar.
Satu lampu dekat tangga dia nyalakan, demi memudahkan dirinya melihat jalanan yang akan dia lewati. Kemudian, dia berusaha mengayunkan langkah lebih lebar agar tidak membuat Arsenio terlalu lama menunggu di luar rumah. Cuaca akhir-akhir ini sedang dingin, kasihan jika suaminya itu terlalu lama terkena angin malam.
Handle diraih, pintu pun dibuka lebar-lebar agar Arsenio bisa segera masuk. Anara tidak berharap dia akan mendapatkan tatapan ramah atau apa pun itu dari Arsenio, namun dia juga tidak pernah berekspektasi kalau suaminya akan pulang ke rumah, pada larut malam sambil membawa kekasihnya yang dalam keadaan high. Beruntung dia menolak keinginan Bunda untuk menemani di sini. Kalau dia terima, apa yang akan terjadi? Bagaimana reaksi Bunda kalau tahu putra kesayangannya berlaku begini?
"Thanks,"
Anara hanya menanggapi dengan anggukan kepala, lalu dia menutup pintu dan menguncinya kembali. "Aku langsung balik ke kamar, ya. Kalau butuh bantuan, ketuk aja pintu kamar aku." Ucapnya setelah membalikkan badan menatap Arsenio.
Arsenio juga hanya mengangguk, jadi tanpa banyak bicara lagi, Anara berjalan mendahului. Lebih baik dia segera kembali ke kamar dan pergi tidur, sebelum pikiran-pikiran acaknya membuat perasaannya kembali tidak keruan.
Sementara Anara sudah beranjak, Arsenio malah masih berdiri di depan pintu dengan Olin yang makin tidak sadarkan diri di dalam gendongannya. Lelaki itu terpaku, memandangi punggung Anara yang perlahan-lahan menjauh sebelum akhirnya menghilang di balik kelokan.
Sejenak, Arsenio merenungi kembali apa yang sudah terjadi di antara mereka selama ini. Keputusan sepihaknya untuk menyentuh Anara malam itu, hingga kepercayaan dirinya yang begitu tinggi menganggap bahwa dia mampu menjadi suami yang baik untuk Anara. Ketika Anara mengatakan untuk menganggap tidak ada yang terjadi pada mereka malam itu, Arsenio merasa marah. Namun kini, setelah dia pikirkan kembali, wajar bila Anara mengambil keputusan itu. Karena nyatanya, dia memang masih tidak bisa mengambil tanggung jawab sebagai seorang suami. Dia masih selalu lebih peduli pada Olin, dan selamanya mungkin akan tetap begitu.
"Aight, let's pretend that nothing happened." Gumamnya, lalu dia mengayunkan langkah sudah payah membawa tubuh Olin yang kian terasa berat.
Bersambung