Losing Us

Losing Us
Berantakan



Menjadi calon ibu ternyata sama sekali tidak mudah. Selain karena ini adalah kali pertamanya, Anara juga sadar betul bahwa dia tidak memiliki siapa pun di sisinya. Tidak ada suami siaga yang akan dengan senang hati berlarian ke sana kemari demi memenuhi kebutuhan ngidamnya. Tidak ada sesama perempuan yang lebih berpengalaman untuk ditanyai ini itu, semenjak ia memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya dari Bunda. Tidak ada teman untuk bercerita, dia benar-benar sendirian.


Tawaran untuk bercerai yang dia berikan kepada Arsenio masih berlaku hingga sekarang. Terhitung sudah dua minggu, dan lelaki itu masih enggan memberikan jawaban. Seperti sengaja ingin mengulur waktu, Arsenio terus saja berkata nanti. Padahal mudah saja yang Anara minta. Arsenio hanya perlu berkata iya.


Di luar, gumpalan awan berwarna kelabu tampak berarak dari satu sisi ke sisi yang lain. Teriknya matahari yang siang tadi terasa begitu membakar hingga ke kulit, kini benar-benar lenyap tak bersisa. Sang surya hilang, tenggelam ditelan kegelapan.


Anara menurunkan kedua kakinya dari ranjang, menapak pelan-pelan pada lantai kamar yang dingin--sedingin hatinya yang kesepian. Lalu, ia berjalan ke arah balkon. Angin seketika berembus kencang, menerbangkan helaian rambutnya yang dibiarkan terurai bebas ketika pintu balkon ia geser pelan-pelan. Aroma basah seketika menyapa indra penciuman, pertanda hujan sebentar lagi akan jatuh setelah sekian lama hanya diam.


Menarik napas dalam-dalam, Anara memejamkan matanya. Kedua lengannya bergerak perlahan, memeluk dirinya sendiri karena dia sadar, tidak ada yang ia miliki selain tubuh itu sendiri. Ayah dan ibunya yang sudah lama mati tidak akan kembali, tak peduli seberapa keras ia berteriak dan berharap bahwa semua bencana ini hanyalah sebuah mimpi.


Dalam pejamnya mata itu, Anara berusaha untuk menghadirkan kembali hal-hal indah yang ia lalui sebelum semua bencana ini terjadi. Masa-masa SMA, ketika ia menjalani kehidupan sebagai remaja bahagia bersama sahabat terkasihnya yang sekarang entah ada di mana. Masa awal-awal kuliah, ketika ia akhirnya mau tak mau berusaha mencari teman sejak Aksara tak lagi ada di sisinya. Juga masa-masa sebelum Tuhan merenggut kedua orang tuanya secara bersamaan.


Anara bukan putri raja, tetapi di masa lalu, hidupnya sangat bahagia.


Tok tok tok


Ketukan yang berlabuh di pintu kamarnya membuat Anara kembali membuka mata. Kepalanya menoleh, sambil menerka kira-kira apa yang Arsenio butuhkan hingga harus mengetuk pintu kamarnya seperti sekarang.


Suara ketukan terdengar lagi, dan kali ini, pintu cokelat tua itu terdorong pelan, membuat sosok laki-laki jangkung yang berdiri di baliknya muncul dengan air muka yang tidak bisa diterjemahkan.


"Ada apa?" tanya Anara pelan. Sengaja tidak memberi celah untuk Arsenio mengatakan omong kosong yang tidak perlu karena dia benar-benar sudah kelelahan. "Kamu butuh apa, Arsenio?"


"Ada Bunda."


Oh... Anara mengangguk singkat. Kemudian, tanpa bicara lebih banyak, perempuan itu beranjak dari tempatnya berdiri. Eksistensi Arsenio di sisi pintu tak banyak dia hiraukan. Dengan tenang, ia berjalan keluar dari kamar. Pelan-pelan menuruni satu demi satu anak tangga hingga netranya menangkap keberadaan Bunda di ruang tengah.


"Halo, Bun." Sapanya. Ia tersenyum, sepenuhnya menimbun luka di hatinya dalam-dalam, tak ingin siapa pun melihatnya muncul ke permukaan.


"Halo, Sayang. Apa kabar kamu? Udah lama Bunda nggak berkunjung." Bunda beringsut, lantas memeluk tubuh menantunya sebentar sebelum digiring duduk di sofa ruang tengah.


"An baik, Bun." Bohongnya. Mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa mengungkapkan kondisinya dengan jujur. "Bunda sendiri gimana? Sehat? Perusahaan lagi nggak ada masalah, kan?"


Bunda mengulas senyum, netra teduhnya menatap Anara begitu lekat. "Bunda sehat, perusahaan juga aman-aman aja. Cuma memang akhir-akhir ini Bunda lagi sering pergi ke luar kota buat urus beberapa hal."


Anara mengangguk singkat. Ada hening sesaat, hingga sosok Arsenio muncul dan mulai bergabung ke dalam obrolan mereka.


"Nginep?" tanya lelaki itu.


"Nggak. Malam nanti Bunda ada makan malam sama kolega." Jawab Bunda.


"Sen," panggil Bunda lagi saat Arsenio mulai sibuk dengan ponselnya.


Arsenio mengangkat kepala, "Kenapa, Bun?"


Lama Bunda tidak menyahut. Detik demi detik berlalu, hanya untuk membawa Bunda pada sebuah gelengan kepala. Meninggalkan kalimat yang ingin ia sampaikan begitu saja. "Bukan apa-apa." Ujarnya.


Ingin rasanya Arsenio mendesak, tetapi saat ia kembali melirik ke arah Anara dan menemukan perempuan itu juga sedang menatap ke arahnya dengan sorot mata penuh kesakitan, ia mendadak salah tingkah.


Arsenio berdeham cukup keras, kalang kabut memasukkan ponsel ke dalam saku celana lalu bangkit dari sofa. "Ya udah kalau emang bukan apa-apa. Kebetulan Arsen masih banyak kerjaan, jadi nggak apa-apa kan kalau Arsen tinggal ke atas?" tanyanya, yang langsung mendapat anggukan dari Bunda.


Tanpa menunggu lebih lama, Arsenio kabur. Mengambil langkah seribu untuk melarikan diri dari rasa bersalah yang terus membayangi.


...****************...


"Kayaknya kamu beneran udah jatuh cinta, deh, sama perempuan itu."


Tuduhan yang Olin layangkan kembali membuat Arsenio mendesah cukup keras. Kepalanya pusing sekali sekarang. Rasanya seperti sedang ada bom waktu yang sedang dipasang di dalam kepalanya, dan sebentar lagi akan meledak. Hanya perlu menghitung mundur, menanti bom itu memporak-porandakan segala hal yang ia simpan di sana.


"Mulut kamu bilang enggak, tapi sikap kamu bilang yang sebaliknya. Beberapa kali kamu batalin rencana kita cuma supaya kamu bisa pulang lebih cepet. Itu demi apa? Demi bisa berduaan sama perempuan itu, kan?"


"Olin, please...." Arsenio memelas, tetapi sepertinya Olin pun sudah kehilangan kesabaran.


Dari seberang telepon, perempuan itu mendengus sangat keras. Lalu ocehan demi ocehan lain menyembur dari bibirnya dengan kecepatan setara laju kereta. Hampir tidak ada jeda, Olin benar-benar mengeluarkan semua yang ada di dalam kepalanya.


Sementara di tempatnya duduk, tak ada yang bisa Arsenio lakukan selain diam mendengarkan, sambil sesekali mengurut pangkal hidungnya demi meredakan pening yang kian menyiksa.


Hubungannya dengan Olin nyaris sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi, dan penyebabnya selalu orang yang sama; Anara. Namun anehnya, Arsenio tidak lagi menyalahkan Anara. Ia tidak lagi merutuki kehadiran perempuan itu di dalam hidupnya, muncul di tengah-tengah hubungannya dengan Olin yang sedang baik-baik saja. Sebaliknya, Arsenio malah sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Memaki dirinya jutaan kali karena sampai sejauh ini, dia telah gagal menjadi seorang laki-laki. Dia gagal menentukan, dengan siapa sebenarnya dia ingin bertahan. Karena entah sejak kapan, tiba-tiba saja melepaskan Olin ataupun Anara bukanlah sebuah pilihan. Ia tidak ingin melepaskan salah satunya.


"Kamu nggak pernah punya pilihan buat ninggalin aku, Gal. Jadi, kamu jangan berani-berani berpikiran seperti itu. Karena kalau kamu sampai berniat meninggalkan aku, itu artinya kamu harus siap buat lihat aku mati."


Kemudian, itu menjadi kalimat ultimatum terakhir yang Olin katakan sebelum sambungan telepon diputus. Untuk kesekian kalinya, perempuan itu meninggalkan dirinya di tengah-tengah jembatan dengan tali tipis yang rentan. Salah memijak, habis sudah riwayatnya.


"Arggg! Bajingan!" Arsenio melempar ponselnya ke atas meja kerja, lalu mengusak rambutnya dengan kasar. Jambakan demi jambakan juga dia lakukan, membuat beberapa helai rambutnya rontok tak terhindarkan.


Ia frustrasi. Lalu mulai bertanya-tanya, dari mana semua ini bermula? Di persimpangan mana dia sempat salah jalan, sampai kini hidupnya menjadi berantakan?


Bersambung....