
“Kamu beneran enggak bisa ke sini?”
Dengan berat hati, Arsenio menjawab, “Enggak bisa, Lin. Bunda mau ke sini hari ini, jadi aku enggak bisa ke mana-mana.”
Lenguhan kecewa terdengar dari seberang, namun Arsenio tidak bisa berbuat apa-apa. Ini juga bukan kehendak dirinya. Jika diberi pilihan, ia jelas akan dengan senang hati menghabiskan waktu bersama Olin di apartemennya daripada harus berdiam diri di rumah yang sama dengan Anara. Interaksi yang terjadi di antara mereka sejak semalam tidak berarti apa-apa untuk Arsenio, karena sejujurnya, ia melakukan itu semua hanya demi Bunda. Agar wanita yang telah melahirkannya itu tidak kecewa.
Ketika Bunda berkunjung seminggu yang lalu, dengan matanya yang sayu wanita itu meminta tolong kepada Arsenio untuk setidaknya jangan bersikap buruk terhadap Anara. Sebab katanya, hanya mereka—Arsenio dan Bunda—yang perempuan itu miliki sekarang, dan sudah sepatutnya mereka menjaga Anara dengan sebagaimana mestinya.
Arsenio tidak tega untuk menolak permintaan Bunda, terlebih ketika wanita itu bahkan mengatakan, “Enggak apa-apa kalau kamu masih enggak bisa ninggalin Olin, Bunda ngerti. Tapi paling tidak, tolong jangan sakiti Anara.” Yang membuat hati Arsenio seperti baru saja dibelah dua.
Iya, Bunda mengetahui semuanya. Hubungan Arsenio dengan Olin yang sudah berlangsung lama itu bukannya mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi dari Bunda maupun kedua orang tua Olin. Mereka terang-terangan menunjukkan hubungan, meski dari pihak Olin jelas menentang keras karena Arsenio dianggap tidak sepadan untuk menikahi putri mereka yang sempurna.
Bunda sendiri tidak pernah melarang, namun wanita itu selalu mengingatkan kepada putranya bahwa menjadi diterima di keluarga pasangan adalah sesuatu yang penting. Maka selama bertahun-tahun bersama, Bunda hanya selalu mengingatkan kepada Arsenio tentang kemungkinan-kemungkinan apa yang akan dia hadapi jika tetap nekat menikahi Olin suatu hari nanti.
“Bunda kamu bakal seharian di sana? Kalau nanti malam gimana? Tetap enggak bisa?” agaknya, Olin masih menaruh harap.
Arsenio pun begitu, sebenarnya. Ia juga berharap Bunda tidak jadi datang sehingga dirinya bisa pergi menemui Olin untuk mendekapnya lebih erat, sebagai ganti karena minggu kemarin Arsenio harus pergi secara terburu-buru karena Anara menelepon.
“Beneran enggak bisa, Gal?” tagih Olin lagi.
Untuk kesekian kalinya, Arsenio menghela napas rendah. Olin bukan tipikal yang bisa diberi janji palsu, maka yang bisa Arsenio katakan selanjutnya hanyalah, “Lihat nanti, ya. Kalau ada kesempatan, aku langsung ke kamu.”
“Kalau ada kesempatan.” Olin terdengar menggumam, lalu tak lama setelahnya, ada tawa sumbang yang menyusul. “Dulu, kita nggak perlu nunggu ada kesempatan kalau cuma buat sekadar ketemu.”
“Lin,”
“Aku tahu.” Olin menyela. “Aku cuma sedih karena sekarang udah enggak bisa sebebas itu ngabisin waktu sama kamu. Wajar, kan?”
Maaf. Namun Arsenio tidak mengatakannya. Karena ia sudah berjanji, kata maaf itu tidak akan datang lagi.
“Aku ke kamu.” Final Arsenio kemudian. Kata Bunda, tidak apa-apa jika ia masih belum bisa meninggalkan Olin, kan? Jadi, bukankah seharusnya, ia masih boleh pergi ke sana, asalkan tidak berbuat hal buruk kepada Anara? “Aku ke sana.” Ulang Arsenio, lalu telepon ia matikan dan bergegas keluar dari dalam kamar.
Arsenio agak merasa heran ketika langkah kakinya sudah sampai ke ruang tamu, namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Anara. Apakah perempuan itu sedang berdiam diri di dalam kamarnya? Oh, bukan karena ia peduli. Arsenio hanya ingin memastikan Anara tidak sedang membuat kekacauan di rumah ini.
“Arsenio?”
Begitu ia berbalik, Arsenio menemukan Anara berjalan dari arah ruang tengah. Dan ketika perempuan itu sudah berada di dalam jarak yang dekat, Arsenio baru menyadari bahwa sebagian besar pakaian yang Anara kenakan dalam keadaan basah. Bukan cuma pakaian, tetapi juga rambut dan wajahnya.
“Lo habis ngapain?” tanya Arsenio, mulai curiga. Menurut pengamatannya, Anara ini ceroboh, bukan tidak mungkin kalau gadis itu sedang membuat masalah sekarang. “Kenapa basah kuyup?”
Bukannya cepat menjawab, Anara malah cengengesan sembari memperhatikan penampilannya sendiri. “Tadi aku habis nyiram bunga di halaman belakang.” Ucapnya kemudian, seraya menunjuk ke arah halaman belakang.
Arsenio tahu ini bodoh, tetapi ia betulan mengikuti arah jari telunjuk gadis itu. Meski tidak lama setelahnya, ia kembali menatap Anara dengan sorot mata tajam.
“Mana ada orang nyiram bunga tapi malah basah kuyup?”
“Ada. Nih, aku buktinya.” Seraya menunjuk dirinya sendiri. Cengiran lebar yang Anara suguhkan berhasil membuat Arsenio geram. Rasa-rasanya, ingin ia raup muka kecil gadis itu agar berhenti menunjukkan raut wajah bodoh seperti itu.
“Aneh.” Cibir Arsenio. Ia hendak berbalik dan berusaha untuk tidak peduli, ketika kemudian ingat bahwa Bunda bisa saja sedang dalam perjalanan ke sini. Jelas, Arsenio tidak ingin Bunda mendapati Anara dalam keadaan kacau seperti ini. Atau ia mungkin akan langsung menjadi sasaran empuk untuk dituduh.
Maka, Arsenio mengurungkan niat untuk berlalu begitu saja.
“Ganti baju sana, nanti masuk angin.” Ucap lelaki itu ketus. Arsenio harap, otak Anara yang hanya sebesar biji ketumbar itu tidak akan salah mengartikan ucapannya sebagai sebuah bentuk perhatian.
Tapi karena masih tidak yakin, Arsenio kemudian melanjutkan, “Jangan ge’er. Gue cuma nggak mau diomelin Bunda.”
“Tahu.” Si Anara menyahut. Bibir tipisnya cemberut. Mungkin dia pikir itu lucu, tapi bagi Arsenio tidak sama sekali.
“Kalau udah tahu, ngapain masih di sini? Sana naik, ganti baju. Gue mau pergi dulu. Awas, jangan ngadu yang aneh-aneh ke Bunda.” Ancam Arsenio seraya mengeluarkan jari telunjuk ke depan wajah kecil Anara.
Bukannya takut, gadis mungil itu malah berdecak sambil memutar bola mata malas. “Tenang aja, aku enggak akan serendah itu buat ngadu domba ibu sama anak.” Kemudian, gadis itu ngeloyor dengan santainya.
Sikap Arsenio yang terlalu lunak kepada Anara selama beberapa hari terakhir sepertinya sudah membuat gadis itu jadi besar kepala. Karena Arsenio masih ingat jelas, dulu ketika pertama kali datang ke sini, Anara bahkan tidak berani beradu tatap dengannya dalam waktu yang cukup lama.
Ah, apa yang dia pikirkan? Kenapa dia peduli? Asalkan sikap Anara itu tidak mengganggu hubungannya dengan Olin, kenapa tidak ia abaikan saja? Tidak penting.
“Ah, terserah.” Ucap Arsenio seraya mengibaskan tangan ke udara. Lalu karena tidak ingin membuang waktu lebih lama, ia melanjutkan langkah. Olin sedang menunggu, jadi ia harus bergegas.
Bersambung