
Pukul tujuh, ketika Anara turun lagi ke dapur untuk mengisi botol air minum, dia terpaksa melipir ke depan untuk ikut menyambut kedatangan Arsenio. Olin sudah lebih dulu berlarian ke pintu depan, dengan hanya mengenakan kemeja berwarna merah muda milik Arsenio yang hanya menutupi sampai ke bagian pahanya. Membuat kulit mulusnya terpampang ke mana-mana.
Anara menghentikan langkah di area pembatas antara ruang tengah dengan ruang tamu. Menyaksikan Olin dan Arsenio sudah bergelut manja satu sama lain. Kedua lengan Olin mengalung di leher Arsenio, sementara kedua lengan Arsenio yang kokoh melingkar di pinggang Olin yang ramping.
Dari tempatnya berdiri, Anara bisa menyaksikan dengan jelas ketika bibir-bibir mereka kembali saling bertemu. Sesapan demi sesapan mereka buat, hingga menimbulkan suara decap halus yang lama kelamaan menginvasi seluruh indra pendengaran. Mereka seperti memiliki dunianya sendiri, seakan eksistensi Anara sama sekali tidak terlihat meskipun jelas-jelas dia sempat beradu tatap dengan Arsenio ketika tautan mereka terjeda untuk mengambil napas.
Tapi bodohnya, Anara tidak kunjung pergi dari sana. Pemandangan yang intim itu masih terus tersuguh di depannya. Sampai di mana ketika Arsenio tahu-tahu mengangkat tubuh Olin dan gadis itu mengaitkan kedua kakinya di pinggang Arsenio, terlihat begitu nyaman berada di dalam gendongan laki-laki yang notabene adalah suami orang lain. Lalu, tubuh ramping itu Arsenio jatuhkan pelan-pelan ke atas sofa, dan mereka melanjutkan kegiatan menyenangkan mereka tanpa peduli apakah Anara masih menjadi penonton atau tidak.
Anara ini tidak suci-suci amat. Meskipun memang belum pernah berhubungan sejauh itu dengan laki-laki, dia tetap tahu bahwa apa yang mereka lakukan sekarang tidak akan berhenti begitu saja. Pasti ada hal-hal lain yang lebih panas yang akan mereka lakukan selanjutnya, dan Anara tidak memiliki otak yang sekotor itu untuk tetap berdiri menyaksikan semuanya.
Jadi, setelah menarik napas berkali-kali, Anara pun beranjak. Botol air minum dia dekap erat-erat. Sebab Anara merasa hanya itulah yang dia miliki sekarang ini.
Sampai di kamar, Anara mengunci pintu rapat-rapat. Botol air minum dia simpan di atas nakas seperti biasanya, lalu dia meraih ponsel dan naik ke atas ranjang. Masih cukup sore untuk pergi tidur, jadi daripada bingung harus melakukan apa, Anara iseng saja membuka akun Instagram miliknya yang sudah hampir 2 bulan tidak dia tengok sama sekali.
Karena Anara bukan termasuk ke dalam jajaran manusia yang populer, tidak banyak notifikasi yang ada ketika dia berhasil membuka akun Instagram miliknya tersebut. Total hanya ada 6 notifikasi, itu pun 4 di antaranya adalah notifikasi untuk saran pertemanan, sedangkan 2 yang lain adalah notifikasi suka untuk unggahan yang terakhir yang Anara buat.
Itu adalah sebuah foto senja yang Anara potret ketika dia dalam perjalanan pulang setelah menyambangi toko buku favoritnya. Sebuah senja di mana langit menyuguhkan perpaduan warna-warna hangat yang menenangkan. Kemacetan di depannya adalah sebuah pemandangan yang biasa. Setiap hari, di kota tempat dia tinggal dulu, kemacetan seperti itu sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Namun berkat suguhan langit senja yang cantik, macet sore itu tidak terlalu berarti banyak.
Omong-omong soal senja, Anara tidak secara khusus memiliki ketertarikan terhadapnya. Dia tidak mengaguminya sampai sedemikian rupa, namun juga tidak menyimpan benci terhadap salah satu karya Tuhan yang memesona itu. Anara berada di tengah-tengah. Ada kalanya ketika dia menganggap kehadirannya cukup membantu untuk menyingkirkan gundah, dan ada kalanya juga ketika Anara tidak punya waktu untuk sekadar memeriksa perpaduan warna apa yang tersuguh di atasnya hari itu.
Namun, ada satu orang yang Anara kenal begitu menggilai senja. Sama seperti dirinya yang tidak pernah bisa melepaskan diri dari godaan aroma laut dan suara debur ombak yang merdu.
Dia adalah teman semasa SMA yang pernah Anara ceritakan sebelumnya. Namanya Pradipta Aksara. Iya, laki-laki. Usianya satu tahun lebih tua, dan dia merupakan satu-satunya teman yang selalu ada di sisi Anara ketika rasanya dunia sedang tidak bersikap baik kepadanya. Anara memanggilnya Asa, dan lelaki itu tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut meski kepada orang lain, dia selalu ingin namanya disebut dengan lengkap—Aksara.
Setelah kelulusan, Anara kehilangan jejaknya. Nomor telepon yang dia simpan atas nama Aksara sudah tidak bisa dihubungi, dan Anara tidak bisa menemukan lelaki di mana-mana karena memang manusia yang minim relasi.
Selama bertahun-tahun kemudian, Anara berusaha mengikhlaskan perpisahan mereka. Dia hanya berpikir, perkataan soal “Hidup ini perihal datang dan pergi serta menerima dan kehilangan” adalah sesuatu yang benar adanya. Bahwa dia tidak bisa memaksakan siapa pun untuk tetap berada di sisinya meski seingin apa pun untuk melakukannya.
Namun akhir-akhir ini, ketika keadaan mulai terasa cukup berat untuk dia hadapi seorang diri, Anara jadi kembali mengingat Asa lebih banyak ketimbang hari-hari sebelumnya.
“Kenapa kamu segitunya suka sama senja, sih, Sa? Padahal kan, warnanya gitu-gitu aja. Kalau enggak oranye, kuning keemasan, ya paling merah muda. Itu juga kalau enggak lagi mendung. Udah gitu, dia datang cuma sebentar pula, abis itu pergi kayak eksistensinya enggak pernah ada.”
“Karena senja enggak pernah ngasih bocoran, An. Dia enggak pernah spoiler hari ini mau ngasih lihat warna apa ke kita. Kayak yang kamu bilang, warnanya kebanyakan cuma itu-itu aja, kan. Kalau enggak kuning keemasan, oranye, atau jingga. Tapi, An, sebenarnya, dia punya jauh lebih banyak warna, dan butuh perhatian khusus kalau kamu mau lihat warna-warna yang rare itu.”
“Iya. Kamu belum pernah, kan, ngelihat senja datang dengan warna violet yang hangat? Kamu mungkin juga belum pernah nemuin waktu langit kelihatan cantik banget dengan perpaduan warna biru, putih, oranye, merah muda, dan keemasan yang anehnya mereka bisa berpadu apik dan nggak berebut untuk kelihatan paling mencolok. Kalau soal durasi ... aku ngerasa, justru karena dia datang cuma sebentar, aku jadi bisa menghargai setiap momen pas dia datang. Karena aku tahu, An, senja yang bakal aku temuin besok udah pasti enggak akan sama kayak yang aku temuin hari ini.”
“Jadi, itu juga sebabnya kamu punya banyak banget foto senja di hape kamu? Sampai pas memorinya penuh, kamu bukannya hapus tapi malah beli kartu memori tambahan?”
“Iya. Soalnya setiap momen itu berharga, An, dan aku enggak mau ada yang terlewat.”
Senja waktu itu, mereka sedang duduk berdua di atap gedung sekolah ketika anak-anak yang lain sudah membubarkan diri. Hari itu adalah hari kelulusan, dan mereka memutuskan untuk tinggal lebih lama agar bisa mengobrol lebih banyak. Saat itu, yang mereka pikirkan hanyalah; menjadi mahasiswa akan sangat sibuk, jadi mereka mungkin akan jarang sekali bisa bertemu. Namun, berhari-hari kemudian, Anara sadar bahwa mereka bukan sekadar jarang bertemu, tetapi dia sudah tidak bisa lagi menghubungi Asa—sama sekali.
“Kalau suatu hari nanti ada momen di mana kamu lagi kangen banget sama aku, tapi enggak bisa ketemu, kamu bakal lakuin apa sebagai pengobat rindu?”
“Telepon kamu.”
“Terus, apa lagi?”
“Udah, telepon aja. Kan, enggak bisa ketemu.”
“Kalau seandainya nelepon aku pun enggak bisa, gimana?”
“Apaan, sih. Emang kamu mau ke mana? Kenapa aku sampai enggak bisa nelepon kamu?”
“Kan cuma seandainya.”
Sore itu juga, Anara tidak menganggap perkataan Asa itu serius. Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin sore itu sebenarnya Ada sudah hendak berpamitan dengan cara yang benar kepada dirinya. Namun, karena Anara terlalu tolol dan tidak bisa membaca tanda-tanda yang Asa tunjukkan, lelaki itu pun urung melakukannya.
“Tapi seharusnya, kamu enggak menghilang gitu aja, Asa. Masih banyak cara buat pamit, supaya aku enggak kebingungan kenapa kamu tiba-tiba hilang.” Monolog Anara.
Sama seperti bertahun-tahun lalu ketika Anara pertama kali menghadapi beratnya kehilangan jejak seorang Pradipta Aksara, malam ini pun dia menikmati kerinduan itu sendirian.
Sambil berharap, semoga saja masih ada kesempatan untuk dirinya bisa bertemu kembali dengan lelaki itu. Entah kapan pun itu akan terjadi, Anara akan menunggu hari itu tiba dengan sabar.
Bersambung