Losing Us

Losing Us
Kenapa Mereka Tidak Berjodoh?



Demi menyelamatkan mata dari pemandangan tidak mengenakkan, sekaligus menghindar dari kelakuan absurd Olin yang menguras emosi dan tenaga, Anara bergerak cepat menuju dapur untuk mempersiapkan segala kebutuhannya selama seharian. Pagi-pagi sekali dia melakukannya. Sekitar pukul 5 ketika sudah memastikan Olin dan Arsenio masih terlelap di dalam kamar utama.


Anara mempersiapkan banyak hal. Mengisi botol air sampai penuh adalah yang pertama dia lakukan sebab memang itulah yang terpenting. Setelah itu, dia mulai memasukkan satu persatu makanan ke dalam kantong belanja untuk nanti dia bawa masuk ke dalam kamar.


Di lemari penyimpanan ada roti, beberapa camilan dan tiga buah susu kotak rasa cokelat. Semuanya Anara beli dengan uangnya sendiri beberapa hari sebelumnya, jadi dia tidak akan merasa berdosa untuk memakannya.


Sebetulnya, Arsenio memberikannya satu buah kartu debit untuk dibelanjakan, tetapi Anara lebih memilih menggunakan tabungan pribadi untuk memenuhi segala kebutuhan. Demi menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Diungkit-ungkit di kemudian hari, misalnya.


Amunisi sudah lengkap, Anara pun kembali ke kamar. Barang-barang tadi dia simpan di dekat ranjang, karena dia memang berniat tidak akan pergi meninggalkan ranjang empuk itu selama seharian. Tidak peduli meski hujan badai angin ribut datang menerpa, Anara akan tetap bertahan di sana.


“Hari ini enaknya nonton apa, ya?” ujarnya seraya menggulir layar ponsel demi mencari tontonan menarik yang bisa dia gunakan untuk menghabiskan waktu luang.


Ada sebuah platform streaming film dan drama Korea online yang biasa Anara gunakan untuk menonton. Di sana lah dia akan mencari hiburan.


“Nah, ini nih, cocok.” Kata Anara kala menemukan satu judul drama bergenre thriller yang baru rilis sampai enam episode (dari total 16 episode).


Mungkin, memang banyak yang tidak akan menyangka kalau manusia yang kelihatan lemah dan tidak bisa apa-apa seperti Anara ternyata lebih menyukai film dan drama bergenre thriller dan action ketimbang drama-drama romantis. Tapi, yah, memang begitulah adanya. Mungkin karena Anara sudah kenyang melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh kedua orang tuanya, jadi dia sudah tidak tertarik lagi untuk melihat hal-hal tersebut di dalam sebuah drama.


Mengambil posisi nyaman, Anara mulai menonton. Serius sekali menonton satu episode awal. Sesekali ikut geram ketika tokoh utama yang merupakan detektif kehilangan jejak dari sang villain. Padahal ya wajar saja kalau dia lolos. Kan, baru episode awal. Tentu tidak akan seru jika penjahatnya tertangkap di awal.


Sepanjang menonton, Anara sepenuhnya terhanyut dalam cerita. Tidak peduli pada keadaan sekitar. Setidaknya, sampai dia mendengar deru mobil yang menggema cukup keras, serta-merta mengalihkan perhatian.


Kilas balik adegan di mana Olin mengantarkan Arsenio berangkat ke kantor kemarin tiba-tiba membayang jelas di pelupuk mata. Cukup mendatangkan ketidaknyamanan yang membuat Anara sedikit kehilangan minat pada apa yang sedang dia tonton.


“Stop, An. Not your business.” Anara mencoba mengingatkan diri sendiri. Lagi pula, tidak ada untungnya untuk dipikirkan juga.


“Ini lagi seru, mending kamu lanjut.” Dan demi mendapatkan kembali konsentrasi yang sempat hilang, Anara segera menyambar earphone miliknya dari atas nakas. Menyelipkan sepasang benda kecil berwarna putih itu ke telinga lalu lanjut menonton drama.


Suara deru mobil lenyap seketika, tergantikan dengan musik latar yang heboh dan menegangkan. Dengan begitu saja, Anara sudah kembali tenggelam dalam dunianya sendiri.


Anara menonton habis semua episode yang tersedia. Berakhir agak kesal karena untuk menonton lanjutannya, dia harus menunggu sampai hari Sabtu minggu depan. Namun, kekesalan itu tidak berlangsung lama karena dia langsung menemukan tontonan lain yang tidak kalah asyiknya.


Tanpa berlama-lama, Anara segera memutar judul lain yang telah dia pilih. Tapi baru sekitar 20 menit drama itu berputar, ponsel Anara berdering, memunculkan nama Arsenio yang seketika membuatnya berdecak kesal.


Ini sudah pasti soal Olin, karena Arsenio tidak akan dengan sukarela menelepon dirinya untuk menanyakan apakah Anara masih hidup atau tidak.


“Halo,” sapa Anara malas, sesaat setelah menggeser log hijau.


“Waktunya makan siang.”


Anara menurunkan ponsel sebentar untuk memeriksa jam. Pukul 11:45 siang. Lalu, dia kembali mendekatkan ponsel ke telinga. “Ya terus?”


“Masakin something buat Olin, dia lapar.”


“Dia udah gede, emangnya enggak bisa masak sendiri?”


“Enggak bisa.”


“Order online aja, aku malas turun.”


Sekuat tenaga, Anara menahan diri untuk tidak mengumpat. Dosa, kata mamanya. Selain itu, mengumpat hanya akan menjadi kebiasaan buruk yang merugikan.


“Tolong, lah. Dia kan tamu, at least lo harus urusin dia selayaknya Tuan rumah.”


“Dia tamu kamu, bukan tamu aku.” Kekeuh Anara.


“Sama aja. Udah, buruan turun dan tanya Olin mau makan apa. Gue enggak ada waktu buat berdebat sama lo lebih lama.”


“Enggak mau.”


“Enggak ada penolakan. Buruan.”


Sialannya, Arsenio langsung menutup telepon sebelum Anara kembali melayangkan keberatan. Dengan begitu saja, Anara kembali mengalah. Amunisi yang dia siapkan susah payah berakhir sia-sia karena pada akhirnya tetap harus turun menemui Olin juga.


“Sabar, An.” Ucap Anara sembari mengelus dada. Lalu dia bergegas turun. Malas kalau si Arsenio Galandra itu menelepon untuk yang kedua kalinya.


Anara cari-cari, rupanya Olin sedang bersantai di teras belakang. Tanpa beban sekali hidupnya. Duduk di kursi kayu sambil menggulir layar ponsel dan sesekali menyesap jus jeruk yang entah dia dapat dari mana.


“Kamu mau makan siang apa?” tanya Anara dari jarak cukup jauh.


Olin menoleh. Senyum pongah tersungging dengan begitu menyebalkannya, membuat Anara ingin sekali melemparkan sandal rumahan ke wajah cantiknya.


“Cumi asam manis.”


“Enggak ada stok cumi di rumah.” Sahut Anara cepat.


“I Don’t care.” Ucapnya seraya mengedikkan bahu. “Gue maunya cumi asam manis. Mau ada stok cumi atau enggak, itu urusan lo.”


Sepertinya, saat dulu Tuhan menciptakan Olin, Dia lupa untuk memberikan akhlak kepada perempuan itu. Mungkin hanya dilebihkan saja pada kecantikan fisik, sedangkan kecantikan hatinya nyaris tidak ada sama sekali. Sumpah, Olin ini menyebalkan sekali!


Berhubung Anara malas berdebat, dia pun tidak memperpanjang adu mulut. Dengan langkah yang sedikit mengentak-entak, dia kembali ke dalam rumah.


Anara naik ke kamar, mengambil kartu debit pemberian Arsenio (karena ini akan digunakan untuk membeli kebutuhan kekasihnya) dan ponsel, lalu turun lagi sembari memesan taksi online.


Letak supermarket di mana Anara bisa membeli cumi-cumi segar sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya berjarak sekitar 15 menit naik mobil. Tapi, demi Tuhan, matahari sedang bersinar terik sekali sehingga rasanya kulit Anara nyaris terbakar ketika dia menunggu taksi pesanannya datang menjemput.


“Sumpah, ya, Arsenio sama Olin itu cocok. Mereka kayaknya benar-benar jodoh, deh. Soalnya sama-sama ngeselin dan suka bertindak sesuka hati.” Anara menggerutu. Aneh juga sebenarnya. Kenapa Tuhan tidak mempermulus saja jalan mereka untuk bersama, mengingat mereka sudah sangat serasi dari segala sisi?


“Ah, forgive me, God. Saya cuma heran aja, kok mereka enggak berjodoh.” Tak lama setelah permintaan maaf itu terlontar, taksi yang Anara pesan pun datang.


Dengan hati yang lebih legowo, dia pun masuk ke dalam taksi. Baiklah. Anara akan menganggap apa yang dia lakukan ini adalah bentuk kerja sukarela yang barang kali bisa menambah stok pahala.


“You can do it, An. You’re a good girl.” Bisik saya, lalu saya mulai mengatur napas untuk mengempaskan sisa-sisa kekesalan yang menempel di dinding hati.


Bersambung