Losing Us

Losing Us
Photograph



Arsenio terbangun dalam keadaan paling menyedihkan sepanjang beberapa bulan terakhir. Kepalanya pusing, tenggorokannya terasa kering, dan perutnya terasa seperti sedang diaduk-aduk hingga menimbulkan mual yang tak tertahankan.


Dari celah gorden yang terbuka, Arsenio bisa melihat matahari sudah bersinar cukup tinggi. Kehangatannya seperti sedang memeluk tubuh lemasnya yang terbaring di atas kasur tanpa balutan selimut selama semalaman. Sementara di atas nakas, dia menemukan sebuah nampan berisi segelas air putih dan semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap.


“Akh!” Arsenio meringis tatkala merasakan kepalanya seperti baru saja dihantam menggunakan palu godam ketika berusaha untuk bangun. Pening menjalar ke mana-mana, membuat dunia di sekitar terasa seperti berputar.


Demi meredam rasa sakit itu, Arsenio kembali berdiam diri dalam posisi berbaring. Pandangannya terlempar pada langit-langit kamar yang bersih. Sementara ingatannya berputar pada masa berjam-jam sebelum ini, di mana dia mengambil keputusan yang bodoh untuk menenggak sebotol red wine sendirian di area dapur yang sepi.


Dari ingatan yang muncul secara samar, Arsenio hanya mendapatkan beberapa bagian yang bisa dia yakini benar. Di antaranya adalah kehadiran Anara ketika kesadarannya sudah mulai berkurang.


Arsenio ingat meminta gadis itu untuk duduk dan menawarkan minum bersama, namun Anara menolak dan hanya menemani dirinya minum tanpa bicara apa-apa. Arsenio juga ingat, Anara sempat pamit undur diri sebelum botol red wine kosong dan dia meminta gadis itu untuk menunggu sebentar lagi.


Selebihnya, Arsenio tidak ingat lagi. Dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya Anara bisa membawa tubuhnya yang jauh lebih besar ketimbang tubuh gadis itu sendiri sampai ke kamar, hingga dia bisa berbaring di atas ranjang.


“Aku enggak jahatin Olin. Aku enggak serendahan itu, Arsenio.”


Samar-samar, suara Anara terdengar lirih di telinganya. Tak lama setelah itu, bayangan wajah gadis itu yang sendu tampak nyata di pelupuk mata. Kepala Arsenio masih pusing, kesadarannya juga belum sepenuhnya pulih, sehingga dia tidak bisa memastikan apakah ingatan yang barusan hadir itu adalah benar atau hanya sekadar halusinasi semata.


Arsenio ingin mengingat semua yang terjadi semalam, namun tenggorokannya yang semakin terasa kerontang membuatnya mau tak mau bergerak bangkit dari posisi rebah meski dengan usaha ekstra agar kepalanya tidak kembali terasa pusing.


Setelah bersusah payah mendudukkan diri, Arsenio pun meraih gelas dan menenggak air di dalamnya dengan rakus. Tetes demi tetes air mengalir melewati tenggorokan, perlahan mengikis dahaga yang datang dalam kekuatan yang tidak kira-kira.


Usai menandaskan gelas, Arsenio mengembalikan benda itu ke atas nampan. Dia lalu terpaku sejenak pada mangkuk berisi bubur. Terlihat menggoda, namun karena perutnya masih bergejolak tidak enak, Arsenio tidak yakin bisa memakannya sekarang. Untuk itu, dia mengabaikan keberadaan bubur itu, dan lebih memilih untuk turun dari atas kasur dengan gerakan pelan.


Persis seperti orang buta yang baru pertama kali melihat dunia, Arsenio berjalan dengan tertatih-tatih. Bergerilya di tembok demi mendapatkan kekuatan tambahan untuk sekadar sampai ke kamar mandi. Dan sesampainya ia di sana, Arsenio terduduk lemas di atas closet dengan napas yang tidak keruan payahnya.


Selama bermenit-menit setelahnya, Arsenio masih tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk melamun seperti seseorang yang kehilangan setengah jiwanya. Hingga pada akhirnya, ketika kesadarannya mulai terkumpul sedikit demi sedikit, Arsenio bangkit lalu berjalan ke wastafel. Keran saya nyalakan. Air yang mengalir dia biarkan terbuang sia-sia selagi dirinya mengambil sikat gigi dan mengoleskan pasta gigi secukupnya ke atas bulu-bulu lembut yang sudah mulai mekar—pertanda bahwa sikat gigi itu sudah waktunya diganti.


“Kamu benar, Arsenio. Aku mungkin udah berlaku jahat sama orang lain, makanya Tuhan hukum aku dengan ambil kedua orang tua aku sekaligus. Tapi, demi Tuhan, aku enggak pernah punya niatan buat jahatin Olin.”


Lagi-lagi, suara Anara berdengung di sela kegiatan Arsenio menggosok gigi. Dia berusaha keras mengabaikannya, karena toh masih tidak yakin bahwa itu adalah ingatan yang asli. Bisa saja dia mendatangkan ingatan palsu mengingat alasannya minum semalam memang karena rasa bersalah kepada Anara atas perkataan tidak pantas yang dia lontarkan tempo hari.


Beres menggosok gigi, Arsenio mencuci muka. Wajah kucelnya dia basuh menggunakan air dingin yang ditangkup menggunakan kedua tangan. Berkali-kali dia melakukannya sampai dia rasa sisa mabuk sudah sepenuhnya tersapu habis.


“Better.” Ucap Arsenio seraya menatap lurus ke arah cermin di depan wastafel. Di sana, pantulan dirinya terlihat sudah lebih baik ketimbang sebelumnya. Jauh lebih segar dan waras.


Hawa dingin yang timbul setelah pertemuan kulit dengan air membuat Arsenio enggan berlama-lama di kamar mandi. Tanpa terlebih dahulu mengelap mukanya menggunakan handuk, Arsenio bergegas keluar.


Alih-alih kembali ke ranjang, Arsenio mengayunkan langkah menuju pintu. Handle dia raih, kemudian diputar perlahan lalu dia melesat keluar dari kamar dengan tujuan ke dapur. Air yang Anara sediakan masih belum cukup untuk membuat Arsenio puas. Dia masih ingin minum.


Gerakan kaki Arsenio terhenti di area pembatas ketika dirinya menemukan Anara sedang terlihat sibuk di area dekat lemari penyimpanan. Gadis itu tampak memasukkan beberapa hal ke dalam goodie bag berwarna putih dengan sablon boneka beruang berwarna cokelat. Dan dari banyaknya barang-barang yang Anara masukkan ke sana, Arsenio sadar bahwa itu adalah amunisi untuk seseorang yang sedang berniat mengasingkan diri.


Melihat Anara melakukan segalanya secara terburu-buru membuat Arsenio kembali merasa bersalah. Anara pasti seperti itu karena takut Arsenio akan terbangun sebelum dia selesai, dan dia terpaksa berinteraksi dengan Arsenio di saat dia begitu enggan melakukannya.


Sadar diri, Arsenio enggan menginterupsi. Beberapa saat sebelum Anara selesai dengan kegiatannya, dia sengaja menarik diri. Dia berjalan menuju pintu belakang, menyembunyikan diri sampai Anara berlalu dengan amunisi untuk menghindari dirinya selama seharian.


Tidak perlu mendengar jawabannya secara langsung dari bibir Anara, karena semuanya sudah jelas. Sesabar apa pun dia, Anara tetaplah manusia. Wajar sekali jika dia merasa sakit hati dan kemudian menjadi enggan bertemu dengan Arsenio setelah apa yang terjadi. Apalagi, Arsenio sama sekali tidak punya itikad baik untuk meminta maaf kepada dirinya. Arsenio tidak akan menyalahkan Anara. Karena kalau dia ada di posisi Anara, Arsenio mungkin akan melakukan hal yang lebih.


“Pecundang.” Arsenio tersenyum kecut kepada diri sendiri. Untuk melindungi Olin, dia telah mengubah dirinya sendiri menjadi manusia yang asing dengan kata maaf. Menyedihkan.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Bubur yang Anara siapkan tadi pagi berhasil Arsenio tandaskan setelah kondisi perutnya menjadi lebih baik. Itu terjadi sekitar 4 jam yang lalu, dan sekarang, perutnya sudah kembali keroncongan.


“Iya, sabar.” Gumam Arsenio seraya mengusap perut yang barusan berbunyi lagi.


Kemudian, dia menyambar ponsel dari atas kasur, menggunakannya untuk membuka aplikasi pemesanan makanan online yang biasa dia gunakan. Berbagai menu terpampang di sana, tampil begitu cantik dan menggugah selera dengan pesona yang berbeda. Dari makanan rumahan sampai menu cepat saji, semuanya tersedia. Membuat Arsenio agak kebingungan untuk menentukan pilihan karena semuanya tampak menarik dan lezat. Sampai akhirnya, setelah menghabiskan waktu untuk berpikir, dia pun memutuskan untuk memesan menu dari salah satu restoran cepat saji.


“Nasi ayam, burger, kentang, coke, es krim, apple pie.” Arsenio memasukkan item yang dia sebutkan tadi ke dalam keranjang, masing-masing dua porsi. Setelah merasa tidak ada yang perlu ditambah, dia langsung melakukan pemesanan dan membayar, kemudian menunggu pesanannya diproses sambil duduk santai di tepian ranjang.


Untuk mengusir kebosanan, Arsenio menjelajah ke dalam akun Instagram pribadinya. Yang ini adalah akun khusus yang dia gunakan untuk hobi fotografi yang diam-diam dia geluti. Ada satu akun lagi yang diperuntukkan kepada khalayak umum, di mana di akun yang satu itu, Arsenio lebih banyak mengunggah kesehariannya—termasuk hubungannya dengan Olin.


Beberapa unggahan dari akun yang Arsenio ikuti dia berikan tanda suka, kemudian dia beralih menjelajah timeline untuk menemukan lebih banyak hal menarik di luar sana.


Karena sudah ada fitur filter yang memudahkan untuk menyaring konten-konten apa yang menarik, maka isi di dalam timeline Arsenio pun tidak jauh dari hal-hal berbau fotografi. Mulai dari foto pemandangan alam, bangunan-bangunan bersejarah, orang-orang, sampai pada foto-foto sederhana yang diambil dalam kehidupan sehari-hari.


Dari sekian banyak unggahan foto yang muncul di timeline—yang kebanyakan berasal dari luar negeri—perhatian Arsenio dengan mudahnya tercuri hanya karena sebuah unggahan yang menampakkan potret langit senja, di tengah riuhnya kemacetan kota. Itu sebuah foto yang biasa, tapi karena sudut diambilnya foto itu terbilang cukup ahli jika dibandingkan dengan orang-orang amatir, dia pun tertarik untuk mengeklik profil si pengunggah.


Foto itu diunggah oleh akun dengan username @__an. Dan keputusan Arsenio untuk menjelajah ke sana ternyata membawa dirinya pada ketenangan hati yang sulit sekali untuk dijabarkan.


Selain foto senja yang pertama kali dia lihat, Arsenio juga menemukan lebih banyak foto cantik lainnya di akun itu. Laut, gunung, gedung-gedung tinggi perkantoran, pohon Flamboyan dengan bunga-bunga kemerahan yang mulai bermekaran, langit dengan berbagai warna, sampai potret berjubelnya orang-orang di peron menunggu kereta tiba. Tidak ada klasifikasi khusus, tapi dari semua gambar yang diambil, Arsenio yakin bisa mengenalinya jika suatu saat nanti dia menemukan orang ini mengunggah foto menggunakan akun yang lain.


Bagaimana mengatakannya? Arsenio merasa... orang ini memiliki daya magis tersendiri dalam membuat potret-potret sederhana itu menjadi terlihat menarik.


“Great.” Pujinya, penuh ketulusan sebelum menekan lambang hati pada foto yang menunjukkan lalu-lalang pengunjung di Kota Tua.


Mulanya, Arsenio sudah ingin berhenti sampai di sana. Rasanya, cukup untuk hari ini. Dia akan mulai mengikuti akun ini agar bisa terus menantikan unggahan-unggahan lain darinya di kemudian hari.


Namun, adanya satu unggahan yang tidak sengaja terlihat olehnya ketika hendak menekan tombol back membuat Arsenio justru terpaku cukup lama.


Sebuah potret seorang perempuan yang berdiri di tempat tinggi, membelakangi rel kereta dengan raut wajah sayu yang membuat Arsenio bisa langsung mengenali dirinya. Itu adalah satu-satunya potret yang menampakkan dirinya, tersembunyi di antara banyaknya unggahan foto yang lainnya.


“Anara....”


Bersambung



Cantik gini kok dijahatin sih 🤧🤧🤧 Emang gemblung si Arsenio.