Losing Us

Losing Us
Cross The Line



Tiga minggu kemudian....


Arsenio bilang, prosentase kemungkinan dirinya dan Anara untuk saling jatuh cinta sangat kecil, hanya 0,01 persen. Kelihatan sulit? Sangat mustahil?


Tapi bagi orang-orang yang percaya, prosentase 0,01 persen itu sudah cukup untuk membuat mereka yakin bahwa kemungkinan itu tetap ada. Harapan mereka dipupuk dari kemungkinan-kemungkinan kecil yang terkandung dalam angka 0,01 yang Arsenio sebutkan. Laki-laki itu mungkin tidak sadar bahwa prosentase sekecil apa pun tetaplah sebuah kemungkinan, dan bisa menjadi kenyataan tanpa ia duga-duga ataupun perhitungkan.


Di satu malam yang dingin di pertengahan bulan Desember, Anara menyaksikan Arsenio menyusup masuk ke dalam rumah setelah menghabiskan waktu bersama kekasih yang ia puja-puja setengah mati.


Malam ini, sama seperti malam pertengahan bulan Desember itu, Arsenio kembali menyusup masuk ke dalam rumah. Anara sudah tidak kaget saat lelaki itu melewati dirinya yang sedang duduk di sofa ruang tengah dan berjalan begitu saja menaiki tangga. Anara tidak keberatan. Sebab Arsenio memang selalu begitu.


Namun, ada satu hal yang mengusik Anara, membuat kepalanya yang semula berisik menjadi semakin riuh kala punggung tegap itu tak lagi terlihat di depan mata. Tubuh Arsenio memang sudah menghilang di telan pintu kamar yang tertutup, tapi Anara masih ingat betul raut wajah yang dia temui pertama kali ketika lelaki itu memasuki rumah berpuluh detik yang lalu.


Arsenio terlihat sedih. Matanya sayu dan bibirnya tampak jatuh. Tidak ada binar cerah dari sepasang mata elang beriris kelam tersebut, pun senyum semringah yang biasa ia torehkan setiap kali habis menemui kekasihnya.


Anara jadi penasaran, apa telah terjadi hal yang buruk selama mereka menghabiskan waktu bersama? Dia tahu Arsenio telah mengatakan kepadanya berulang kali bahwa apa pun yang terjadi dengan hidupnya—termasuk hubungannya dengan Olin—bukanlah urusannya. Anara tidak berhak untuk tahu, apalagi sampai ikut campur.


Tapi, biar bagaimanapun juga, Arsenio adalah suaminya. Sah di mata hukum dan agama. Sekalipun lelaki itu terus bersikeras bahwa hubungan mereka tidak pernah lebih dari sekadar 'teman' yang tinggal di satu atap.


Lantas bisakah Anara hanya berdiam diri menyaksikan laki-laki yang telah mengikat janji suci kepadanya itu bermuram durja? Tentu saja tidak.


Maka Anara, dengan keras kepala, bangkit dari sofa. Menaiki anak tangga satu persatu sambil terus menerka-nerka apa sekiranya yang membuat Arsenio pulang dengan raut wajah demikian.


Anara tahu, saat dia berdiri di depan pintu kamar Arsenio sekarang ini kemudian memutuskan untuk mengetuk beberapa kali, kemungkinan untuk dibukakan oleh sang empunya sangat kecil. Tapi sekali lagi biar Anara katakan, sekecil apa pun, itu tetap merupakan sebuah kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Jadi Anara benar-benar mengetuk pintu di hadapannya. Satu kali. Tidak mendapat respons. Dua kali. Masih sama saja. Ketukan ketiga dan keempat pun tak menghasilkan apa-apa. Dan Anara telah memutuskan untuk berhenti setelah ketukan kelima, jika memang di ketukan itu tetap tidak ada respons dari manusia di dalam sana.


Ketukan kelima Anara labuhkan. Tiga detik kemudian, tepat ketika dia mundur satu langkah sebelum memutar tubuh untuk pergi, pintu di hadapan terbuka.


Arsenio muncul dengan keadaan paling kacau yang pernah Anara lihat sebelumnya. Matanya memerah. Ekor mata Anara tak sengaja menangkap luka lebam di buku-buku tangannya yang sama sekali tidak berusaha disembunyikan. Anara meringis melihat bagaimana kacaunya Arsenio sekarang. Semakin bertanya-tanya peristiwa apa yang telah membuat laki-laki galak itu tampak begitu lemah sekarang.


“Apa.” Suaranya terdengar dingin, sama seperti biasa. Tapi tatapan matanya tampak begitu rapuh hingga rasanya Anara ingin meraih tubuh tinggi itu ke dalam pelukan. Menepuk-nepuk punggung tegapnya yang kini jatuh terkulai dan mengatakan tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Tapi Anara sadar keinginan itu hanya bisa dia realisasikan di dalam kepala. Tahu kenapa? Karena seperti hari-hari sebelumnya, Arsenio hanya akan berteriak kepadanya untuk tidak menyentuh di mana pun.


“Kamu kenapa?” akhirnya hanya itu yang bisa Anara tanyakan. Di antara banyaknya pertanyaan yang mengerubungi kepala, dia hanya bisa menanyakan yang satu itu.


Anara sudah menebak Arsenio akan berkata 'bukan urusan lo' dengan nada suaranya yang tegas dan mengintimidasi. Tapi tahu apa yang laki-laki itu katakan sebagai gantinya?


Ia berkata, “Gue sedih. Di sini, rasanya sakit.” Sembari memegangi dadanya sendiri.


Anara jelas tidak bisa melihat luka yang sedang Arsenio rasakan sekarang. Tapi dari sorot matanya yang semakin redup, Anara seakan bisa ikut merasakan betapa perih yang mendera lelaki itu saat ini.


“Kenapa? Apa yang bikin kamu sedih?” tanya Anara lagi. Tidak apa jika setelah ini Arsenio akan membentak dengan suara lantang memekakkan telinga. Setidaknya dia sudah berusaha untuk peduli. Bagi Anara, itu sudah cukup.


Namun sekali lagi apa yang Anara bayangkan di dalam kepala tidak terjadi. Alih-alih berteriak seperti hari-hari sebelumnya, Arsenio malah meraih pergelangan tangannya, menuntun masuk ke dalam kamar yang pernah dia tinggali beberapa hari ketika Bunda menginap tiga minggu yang lalu.


Pintu di belakang tertutup, dan ketika Anara berbalik untuk memeriksa Arsenio yang berdiri di belakang, tubuhnya seketika membeku. Anara merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Lembut dan hangat.


Butuh setidaknya delapan detik penuh sampai Anara bisa mencerna situasinya. Arsenio sedang menciumnya. Seorang Arsenio Galandra yang selalu berbicara dengan nada tinggi kepadanya itu kini mencium bibirnya dengan damai. Ia memejamkan mata, tapi bibirnya yang bertemu degan milik Anara masih tidak bergerak barang sedikit.


Tangan-tangan besarnya bersemayam damai di kedua bahu Anara. Hanya memegangnya lembut tanpa ada tekanan lebih yang ingin dia berikan kepada gadis itu. Seolah jika ia menekan sedikit saja, maka Anara akan hancur. Seolah Anara adalah barang pecah belah yang harus ia jaga agar tidak jatuh berceceran.


Entah sudah detik ke berapa saat Arsenio menjauhkan wajahnya sedikit, hanya sampai di jarak di mana Anara bisa melihat pahatan sempurna di wajahnya. Lampu kamar yang kemuning seakan membuat wajah sempurna itu tampak semakin elok. Mata-mata mereka bertemu, saling berkejaran dalam sebuah labirin rumit yang sulit sekali dicari jalan keluarnya.


Lalu Anara menyadari satu hal. Ada aroma alkohol yang menguar dari belah bibir laki-laki di hadapannya ini. Entah mengapa dia tidak menyadarinya sejak tadi. Mungkin karena dirinya asyik menghirup aroma parfum yang hanya bisa dia endus dari pakaian kotor milik Arsenio yang berdiam di dalam keranjang sebelum dia masukkan ke mesin cuci. Atau barangkali, Anara terlalu fokus pada tatapan pilu laki-laki itu.


Anara jelas kebingungan. Arsenio sudah memberitahu bahwa dia merasa kesulitan dengan perjodohan ini. Anara pun telah mengangguk setuju karena dia pun merasakan hal yang sama. Sebab perjodohan ini membuatnya menjadi orang jahat. Sebab perjodohan ini membuatnya menjadi orang ketiga.


Anara sadar telah memberi Arsenio banyak kesulitan. Tapi kalau sampai membuat laki-laki itu merasa sedih, rasanya dia tidak punya kekuatan untuk itu. Maksudnya, ketimbang sedih, bukankah seharusnya Arsenio merasa marah? Atau Arsenio memang sebenarnya sedang marah, hanya ia salah mengeja kata karena kadar alkohol yang ia minum terlalu tinggi dan terlanjur membuatnya kebingungan dengan ucapannya sendiri?


“Di sini sakit, Anara. Lo bikin gue ngerasain sakit yang belum pernah gue rasain sebelumnya.” Arsenio membawa tangan Anara ke dadanya, membalutnya dengan tangan besar miliknya sehingga tangan kecil Anara sepenuhnya tenggelam.


Anara tercekat. Tenggorokannya mendadak terasa kering, seolah dia sudah berhari-hari tidak mendapat asupan air. Napasnya tertahan selama beberapa detik seiring dengan ngilu yang merambat naik. Dia masih tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini tertuju. Kenapa dia membuat Arsenio sedih?


“Arsenio, aku enggak ngerti kamu ngomong apa.” Kata Anara. Tangannya di dada Arsenio berusaha dilepaskan, tapi lelaki itu malah menggenggamnya erat seolah takut kehilangan.


Ada perasaan asing yang bercampur aduk di hati Anara saat ini, membuat kepalanya yang masih riuh semakin terasa penuh.


Anara butuh penjelasan, tetapi yang Arsenio lakukan selanjutnya justru membuat dirinya semakin kebingungan. Alih-alih menjawab, Arsenio malah kembali menyambar bibirnya. Saat Anara merasakan bibir tebal itu bergerak pelan, dia tidak tahu mengapa dia malah memejamkan mata.


Sebelah tangan Arsenio menyentuh tengkuk Anara. Membuat bulu-bulu halus yang ada di sana berdiri serempak dan Anara merasa geli luar biasa. Tidak ada yang pernah menyentuh area itu sebelumnya dan tangan besar Arsenio adalah yang pertama. Satu tangannya lagi masih setia menggenggam tangan Anara di dadanya, seolah ingin gadis itu merasakan degup jantungnya yang dia tidak tahu mengapa temponya semakin bertambah cepat.


Anara kehilangan hitungan terhadap waktu yang mereka lewati dalam setiap ******* dan decap yang tercipta. Ini kali pertama dirinya berciuman, tapi anehnya dia sama sekali tidak kesulitan. Seolah bibir-bibir mereka memang diciptakan untuk saling bertemu dan mencumbu. Apalagi Arsenio memperlakukan dirinya begitu lembut. Tidak ada tuntutan dari setiap gerak lambat yang ia ambil. Seolah mereka ingin ini berjalan dalam waktu yang lama sehingga harus melakukannya pelan-pelan.


Anara membuka mata ketika merasakan punggungnya berbenturan dengan sebuah benda yang empuk. Kasur. Entah bagaimana, dia sudah berbaring di kasur. Dengan tubuh besar Arsenio di atasnya. Arsenio tidak menindihnya. Bersusah payah menahan diri dengan satu lengannya yang ada di sebelah kiri tubuh Anara sedangkan tangannya yang lain bergerak lambat membenahi surai sang gadis yang berantakan menutupi mata. Ada puja yang terselip dari tatapan matanya. Sebuah tatapan yang sulit sekali untuk Anara terjemahkan meski ia sudah cukup keras berusaha.


“I want you. Can I?” Ia bertanya dengan suara rendah dan terdengar sedikit serak. Aroma alkohol kembali tercium oleh Anara, tapi anehnya dia tidak keberatan.


Anara tidak menjawab pertanyaan itu karena sejujurnya dia tidak mengerti maksudnya. Arsenio menginginkan dirinya. Dalam definisi apa? Arsenio menginginkan dirinya. Maksudnya bagaimana?


“Can I?” Arsenio kembali bertanya.


Anara tidak tahu apa yang ada di kepalanya saat dia mengangguk pelan. Yang jelas, dua detik setelah itu, dia menemukan Arsenio tersenyum tipis. Detik setelahnya, dia kehilangan kemampuan untuk memproses suatu kejadian.


Entah mana yang lebih dulu terjadi. Arsenio kembali menyentuh bibirnya, atau tangan besar lelaki itu yang menyelusup masuk ke dalam baju tidur yang dia kenakan. Kepala Anara terasa berat, jadi dia tidak berkeinginan untuk memikirkan apa pun. Terlebih saat tangan hangat Arsenio menyentuh bagian tubuhnya yang sebelumnya hanya dia sendiri yang bisa menyentuh dan melihatnya, Anara merasa seperti melayang di udara.


Kepala Anara yang semula terasa berat seketika menjadi ringan. Saking ringannya, dia merasa tidak bisa memikirkan apa pun juga. Kosong. Yang terdengar bermenit-menit setelahnya hanyalah deru napas dan suara decapan yang bersahut-sahutan.


Sampai akhirnya, Arsenio berhenti sejenak. Ia menatap Anara yang berada di bawahnya, seolah mengajak bicara melalui manik kelam yang selama ini diam-diam gadis itu idamkan. Satu tangannya bergerak mengusap pipi Anara yang sepertinya sudah memerah.


Kemudian ia berkata, “Lo tahu ke mana arahnya kegiatan kita ini. Jadi, gue kasih lo kesempatan untuk dorong gue sekarang juga.” Kali ini tangannya turun ke leher Anara. Jari panjangnya bergerak pelan mengusap kulit lehernya yang sensitif, membuat tubuh Anara bergetar pelan karena rasa geli yang tak tertahankan. “Karena kalau udah mulai, gue nggak akan bisa berhenti.” Lanjutnya.


Anara diberi kesempatan untuk mendorongnya menjauh. Seharusnya dia lakukan. Otaknya juga memerintahkan demikian. Tapi entah mengapa tubuh Anara justru melakukan sebaliknya. Seolah sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan otak yang selama ini memberi perintah. Kedua lengan Anara terulur, meraih leher laki-laki di atasnya itu untuk dia bawa kembali dalam sebuah ciuman hangat.


Mata Anara sudah terpejam dan dia sepenuhnya kehilangan kewarasan saat sesuatu yang asing masuk ke dalam dirinya. Sakit, tapi Arsenio membuatnya melupakan rasa sakit itu dengan mengecup bibirnya berulang-ulang kali. Tangannya bergerak mengusap rambut yang berantakan hingga Anara lupa pada rasa sakit yang sebelumnya dia rasakan.


Anara tidak tahu waktu sudah berlalu berapa lama. Mereka sepenuhnya larut dalam kegiatan yang membuat sekujur tubuh basah oleh keringat. Saat sadar, Anara sudah menemukan dirinya berbaring di sebelah Arsenio. Laki-laki itu memeluknya begitu erat. Tidak ada kain yang menghalangi pertemuan kulit mereka sehingga Anara bisa merasakan hangat dari tubuh Arsenio. Mata Arsenio terpejam, namun Anara tidak yakin kalau lelaki itu benar-benar tidur.


“You’re not alone now.” Bisiknya setelah mendaratkan sebuah kecup di pelipis Anara.


You’re not alone. Seharusnya Anara senang Arsenio mengatakan itu. Tapi entah kenapa dia malah merasa ini semua salah.


Seharusnya, saat Arsenio memberinya kesempatan untuk lari, Anara menggunakannya dengan baik. Dia sudah merusak garis batas yang laki-laki itu buat sejak awal. Dan setelah kesadarannya kembali besok pagi, Arsenio mungkin akan memaki dirinya sebanyak ratusan kali.


Bersambung