
Menikah seharusnya tidak serumit ini jika orangnya adalah Flora Calantha Orlin, perempuan yang dia cinta dan telah dia idam-idamkan untuk menjadi pendamping sampai mereka tua. Menikah seharusnya menyenangkan, suka-duka dilewati bersama dengan tangan yang saling menggenggam. Tetapi karena ini adalah Anara, Arsenio tidak pernah menemukan hal lain selain kepala yang setiap hari selalu terasa hendak pecah. Ada saja masalah yang datang, dan dia kerap kali berakhir di ujung jalan dengan dua cabang yang berlawanan.
Olin atau Anara. Dulu tidak sulit untuk memutuskan bahwa Olin adalah yang pertama, dan harus selalu begitu. Tetapi sekarang, Arsenio pun tidak mengerti, mengapa ia menemukan banyak sekali kesulitan—yang pada akhirnya malah membuat Olin tersisih.
Berkali-kali selama kurun waktu satu bulan belakangan, Arsenio menyadari dia telah banyak menyisihkan Olin demi Anara. Alasannya selalu karena Bunda, namun dia sendiri tidak yakin apakah alasan itu valid atau dia sebenarnya hanya mengada-ada.
Mungkin memang benar apa yang Olin katakan. Dia telah berubah, sedikit demi sedikit, tanpa dia pun tahu penyebabnya.
“Aku mau langsung ke kamar, ya.”
“Terserah.” Lelah, hanya itu yang akhirnya Arsenio berikan sebagai jawaban.
Kehampaan memeluknya begitu erat kala menginjakkan kaki di rumah, dan menyadari bahwa Olin telah menepati ucapannya untuk angkat kaki jika dia nekat menyusul Anara.
“Kenapa harus bawa aku pulang kalau cuma untuk nerima sikap cuek kamu lagi?”
Arsenio menoleh cepat. Matanya yang memerah menatap Anara dengan kobaran api amarah yang entah datangnya dari mana. Dia tahu perempuan itu tidak bersalah, dia sendiri yang nekat menyusul meski tahu risikonya adalah dia akan menghadapi perang besar dengan Olin. Namun sekali lagi, dia merasa butuh pelampiasan. Dia butuh wadah untuk menumpahkan amarah yang dia sendiri pun tidak tahu mengapa bisa berkobar begitu dahsyat di dadanya, membuatnya nyaris terbakar habis hanya dalam hitungan detik.
“Karena Bunda.” Ucap Arsenio dengan suara rendah. Kedua tangannya terkepal di samping tubuh, rahangnya mengeras tanpa bisa ditahan. “Enggak usah nanyain pertanyaan yang lo sendiri udah tahu jawabannya. Itu bikin gue muak.”
Anara yang tidak mengerti mengapa sikap Arsenio bisa berubah secepat itu, plus moodnya sendiri yang juga naik-turun tidak keruan selama beberapa hari terakhir pun hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan diri dari perkataan-perkataan yang bisa menimbulkan keributan. Sekali lagi, dia harus sadar diri. Dia harus mengerti bahwa posisinya tidak bisa bergerak ke tempat yang lebih baik. Bahwa semuanya akan tetap berjalan seperti ini; pernikahannya, hubungannya dengan Arsenio, semuanya.
Tanpa mengatakan apa pun, Anara memilih pergi. Tas jinjing miliknya dia dekap erat-erat. Itu adalah upaya pengalihan. Dia butuh sesuatu untuk diremas demi meredam sesak yang kembali datang menyiksa. Bertepatan dengan langkahnya yang menyentuh anak tangga pertama, air matanya tahu-tahu meluncur tanpa permisi. Dia menangis lagi, untuk alasan yang dia pun tidak mengerti.
Sedangkan di ruang tengah, Arsenio berdiri kaku seperti patung tak bernyawa. Pikirannya kembali terpecah menjadi dua. Antara pergi menemui Olin sekarang juga, atau sedikit mengulur waktu memikirkan alasan apa yang harus dia gunakan agar Olin tidak murka.
“Sialan. Kenapa pernikahan ini bahkan harus ada sejak awal?” maka seharusnya, itu dia tanyakan kepada dirinya sendiri. Jika dia tidak cukup yakin bisa menjaga hatinya tetap teguh sampai akhir, kenapa dia harus menerima perjodohan ini hanya karena tidak ingin membuat Bunda menangis?
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Perut yang keroncongan tetap tidak bisa membuat Anara bangun dari posisi rebahan. Matahari masih bersinar terik di luar meski waktu telah menunjukkan pukul 3 sore. Selama berjam-jam setelah meninggalkan Arsenio di ruang tengah, ia tidak melakukan banyak hal. Hanya gegoleran di atas kasur sambil scroll sosial media. Sesekali menertawakan meme kocak yang dia temui dalam unggahan seseorang, sesekali tersedu-sedu kala menemukan sebuah unggahan sedih tentang hewan-hewan homeless, sesekali pula ia hanya akan melamun, terpaku pada unggahan terakhir yang dia lihat sebelum jemarinya kembali menscroll layar.
“Orang-orang bisa menikah dan bahagia tuh ketemu pasangannya di mana, ya? Kayaknya juga banyak deh yang menikah karena dijodohin, tapi mereka kelihatan happy dan pernikahannya bisa long lasting.” Celetuknya, random saja tatkala sebuah unggahan berisi berita tentang salah seorang selebritas ternama yang baru saja menggelar pernikahan mewah.
Tak lama berselang, hanya beberapa detik setelah bibirnya kembali terkatup, ia menggeleng pelan. “Untuk apa menyesali apa yang sudah terjadi? Better beli es krim aja enggak, sih? Biar adem?” monolognya.
Es krim kedengaran enak. Rasa vanila, atau cokelat, atau rasa semangka juga boleh. Rasa apa pun, asal bisa mendatangkan sensasi dingin untuk kepalanya yang hampir meledak.
“Oke,” akhirnya, dia bangkit juga setelah sekian lama. Dompet yang terdampar di kasur dia sambar, lalu dia semangat sekali berlarian keluar dari kamar.
Anak-anak tangga tak berdosa yang tadi dia injak dengan langkah mengentak-entak, kini dia tapaki pelan-pelan. Dengan langkah yang teratur, seirama detak jantung.
“Mau ke mana?”
Yah. Desahnya dalam hati tatkala pertanyaan itu terdengar dari arah belakang tubuhnya. Dia menolehkan kepala, di mana Arsenio berdiri di ujung tangga dengan wajah datar yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali.
“Harus banget aku jawab?” tanyanya.
“Minimarket, mau jajan es krim.”
“Di rumah aja.”
Sontak, Anara menggeleng keras. “Aku mau jajan es krim, pakai uang aku sendiri, kamu jangan larang-larang.”
“Di rumah aja.” Arsenio mengulanginya dengan lebih tegas, tepat ketika dia sampai di depan Anara. Hanya ada jarak tipis di antara keduanya sehingga Anara harus ekstra mendongak agar bisa bertatapan dengan Arsenio.
“Enggak mau.” Anara menggeleng lagi. “Cuaca lagi panas, aku pengin makan es krim.”
Arsenio tidak menjawab, tetapi dari tatapan matanya, Anara tahu keputusan lelaki itu masih tidak berubah; dia tidak boleh pergi.
“Aku bolehnya ngapain? Mati?” tanya Anara. Terkesan cari penyakit, namun dia hanya tidak terpikirkan saja pertanyaan yang lain. Sikap Arsenio terlalu abu-abu, terlalu sulit untuk dia bisa tebak agar bisa dia antisipasi. Sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar cosplay macan tutul, sebentar-sebentar menjelma titisan dajjal. Entahlah, sudah tidak tahu lagi bagaimana Anara harus menyikapi.
“If you have the courage, silakan aja.” Arsenio menanggapi dengan santai. Seolah mati bukanlah perkara besar untuknya. Apalagi, kalau Anara yang mati, seseorang yang tidak pernah dia harap untuk datang ke dalam hidupnya.
“Ka—“ Anara tak sempat melanjutkan apa yang hendak dia katakan, sebab perutnya tiba-tiba saja kembali terasa mual. Kali ini, misalnya lebih terasa hebat, seperti diobok-obok oleh bocah kematian yang gemar sekali mencari keributan.
Kalang kabut, Anara berlari menuju kamar mandi dekat dapur. Ponsel dan dompet yang dia genggam erat-erat dilempar begitu saja hingga mendarat cukup keras di atas meja makan yang untungnya dalam keadaan kosong.
Arsenio yang clueless hanya bisa terdiam menyaksikan semuanya. Lantas suara muntahan yang datang dari kamar mandi membuatnya bergidik dan berniat untuk kabur saja daripada harus mencari tahu apa kiranya yang sedang terjadi pada istrinya itu.
“Ah, berengsek.” Umpatan itu dia loloskan karena sisi malaikatnya muncul secara tiba-tiba, membuat ayunan langkahnya yang sudah hendak dibawa putar balik mendadak urung. Berlarian juga dia akhirnya menyusul Anara, setengah panik kala menemukan perempuan itu sudah terduduk lemas di lantai kamar mandi dengan kepala yang tergolek lemah di atas closet yang tertutup.
“Lo kenapa?” tanya Arsenio seraya berjalan mendekat.
Anara tidak menyahut. Matanya pun masih terpejam dan dia sedang berusaha menormalkan kembali napasnya yang ngos-ngosan.
Arsenio tidak tinggal diam. Ia berjongkok, lalu mengulurkan punggung tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Anara dengan menempelkannya di dahi perempuan itu. Tidak demam. Malahan, tubuh Anara terasa dingin.
“An, badan lo dingin banget.” Tuturnya. Anara masih tidak menyahut. Dalam penglihatannya, perempuan itu malah terlihat seperti sedang tertidur.
Tertidur? Tunggu! Jangan bilang....
“An?” Arsenio mengguncang tubuh Anara agak keras, tetapi perempuan itu hanya menyahut dengan suara rintihan pelan yang lolos dari belah bibirnya yang pucat.
“An, lo kenapa? Ah elah, jangan bikin panik!” makin kuat Arsenio mengguncangkan tubuh Anara, lalu dia dibuat semakin panik saat tubuh lemah itu malah ambruk ke pelukannya.
Sudah tidak ada lagi yang namanya berpikir jernih. Arsenio, hanya dengan mengandalkan insting, mengangkat tubuh Anara, membawanya berlarian keluar dari kamar mandi.
“Jangan mati beneran, sialan! Gue cuma bercanda!” serunya di depan wajah Anara yang semakin memucat. Lalu dengan begitu saja, dia telah lupa pada kekesalan yang masih dia simpan di dalam dada. Seperti kesetanan dia berlarian keluar dari rumah, menyetop taksi secara sembarangan tanpa memeriksa apakah dia telah membawa serta dompet di saku celana atau tidak.
Panik memang membuat seseorang menjadi bodoh, tetapi untuk saat ini, bodohnya sudah sampai level di mana Arsenio bahkan tidak sadar bahwa rumahnya telah dia tinggalkan dalam keadaan pintu yang terbuka lebar-lebar.
Bersambung