
Saat pertama kali membuka mata, yang Anara temukan adalah langit-langit sebuah ruangan berwarna putih dengan lampu panjang yang sinarnya begitu menyilaukan. Bau obat-obatan menguar di mana-mana. Menyebar ke segala sisi sehingga dalam waktu singkat Anara bisa langsung menebak bahwa dia sedang berada di rumah sakit.
Butuh beberapa lama bagi Anara untuk mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya sehingga berakhir di sini. Lalu saat ingatannya kembali, Anara langsung mendudukkan diri dan meraba perutnya dengan panik. Takut terjadi apa-apa pada Mochi.
Tetapi untungnya, perutnya masih kelihatan buncit. Samar-samar ia juga bisa merasakan gerakan dari dalam sana yang menandakan bahwa Mochi—sepertinya—memang baik-baik saja.
Anara menghela napas lega. Kemudian masih sambil mengusap-usap perutnya, ia mengedarkan pandangan.
Alih-alih UGD, Anara ternyata terbangun di sebuah kamar rawat VIP (terlihat dari fasilitas yang tersedia). Namun, tidak ada siapa pun di sana. Anara ditinggalkan sendirian. Yang kemudian membuatnya bertanya-tanya siapa yang sudah datang menyelamatkan nyawanya dan Mochi?
Jawaban dari pertanyaan Anara itu datang beberapa saat setelahnya. Ketika pintu kamar rawat dibuka dan muncullah sosok laki-laki berkemeja putih yang lengannya digulung asal hingga ke batas siku. Rambutnya acak-acakan, wajahnya tampak lesu dan sorot mata lelaki itu langsung terlihat berubah ketika tatapan mereka bertemu.
“An,” ucap lelaki itu sambil berjalan terburu menghampiri brankar tempat Anara duduk.
“Gimana keadaan kamu? Apa yang sakit? Kepala kamu pusing? Napas kamu sesak? Jantung kamu gimana, detaknya normal atau enggak? Terus perut kamu gimana, keram atau enggak?” lelaki itu, Arsenio, memberondong Anara dengan berbagai macam pertanyaan yang malah membuat Anara pusing sendiri untuk menjawabnya.
Oh, tetapi bukan itu yang kemudian membuat Anara terdiam cukup lama. Melainkan karena dia sadar ada yang telah berubah dari cara Arsenio memanggilnya selama ini.
Anara menatap suaminya itu dengan penuh keheranan, bertanya-tanya ke mana kira-kira hilangnya ‘lo’ dan ‘gue’ yang biasanya lelaki itu gunakan?
“An?” sentuhan lembut mendarat di keningnya. Punggung tangan Arsenio yang terasa dingin membuat Anara refleks memundurkan kepala. Mengundang kerutan samar muncul di kening lelaki itu.
“Kamu udah oke atau belum? Aku perlu panggil dokter enggak?” tanya lelaki itu lagi.
Karena Arsenio begitu cerewet dan ia tidak punya waktu untuk mempermasalahkan soal ‘aku’ ‘kamu’, Anara pun hanya bisa menarik lengan Arsenio kemudian meminta lelaki itu untuk duduk di kursi yang tersedia di sebelah brankar.
Syukurnya lelaki itu menurut dan tidak banyak tanya. Namun, tangannya tiba-tiba saja bergerak cepat menggenggam milik Anara sehingga membuatnya kembali terkena ‘serangan jantung’ kecil.
“Udah oke atau belum?” Arsenio masih menagih jawaban.
Anara mengangguk, sedangkan tatapannya masih jatuh pada tangannya yang berada dalam genggaman Arsenio.
“Yakin udah enggak apa-apa?” Anara menaikkan kembali pandangannya, lalu menganggukkan kepala.
Terdengar helaan napas lega dari Arsenio. Disusul usapan pelan yang mendarat di punggung tangan Anara.
“Kamu bikin aku khawatir setengah mati,” aku lelaki itu.
Sampai sini, Anara semakin dibuat spechless. Ini seperti dia sedang dihadapkan pada orang lain, bukan Arsenio yang dia kenal selama ini. Rasanya aneh. Anara tidak terbiasa.
“Maaf,” cicitnya, lalu pelan-pelan dia menarik tangannya lantas membawanya ke atas pangkuan, saling bertaut.
“No, aku yang minta maaf.” Cetus Arsenio. “Maaf karena udah ninggalin kamu sendirian tanpa pengawasan. Harusnya aku mengerti kalau wanita hamil itu harus selalu ditemani, supaya meminimalisir terjadinya hal-hal yang nggak diinginkan kayak gini.” Sambungnya. Kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya.
Anara tidak menjawab karena terlalu bingung harus bereaksi seperti apa. Jadi, dia hanya diam, membiarkan Arsenio kembali berbicara.
“An,” panggilnya.
Masih hanya dehaman yang Anara berikan sebagai jawaban.
“Kamu ... habis ketemu sama siapa?”
Deg...
Seketika, Anara merasa seluruh tubuhnya menegang. Ia bisa saja menceritakan semuanya soal Olin dari awal sampai akhir, tetapi nalurinya sebagai sesama perempuan mengatakan bahwa ia sebaiknya tutup mulut saja agar masalah ini tidak semakin runyam.
“Olin, ya?” tebak Arsenio tepat sasaran setelah Anara tidak kunjung menjawab. “Olin datang ke rumah kita?”
“Iya,” jawab Anara. Tak punya pilihan.
Arsenio mendesah pelan, “Dia jahatin kamu ya, makanya kamu bisa jadi kayak gini?” tanyanya.
Masih dengan pemikiran bahwa ia harus merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi agar tidak menimbulkan keributan, Anara menggeleng pelan.
“Aku begini bukan karena Olin, kok. Mungkin cuma kecapean aja.” Ujarnya beralasan.
“Tapi dokter bilang kamu begini karena syok,” sela Arsenio. “Jujur aja sama aku, Olin udah ngapain kamu?”
“Nggak ada, Arsenio. Aku begini bukan karena Olin, please percaya aja sama aku.” Tegas Anara. Entah kemampuannya berpura-pura akan mempan atau tidak untuk mengelabui Arsenio agar berhenti mendesaknya bercerita.
Mungkin karena lelah, atau bisa jadi tidak tega melihat kondisinya yang masih lemah, Anara menemukan Arsenio mengalah. Lelaki itu tampak mengangguk setelah menghela napas rendah.
“Yang penting kamu sama anak kita enggak kenapa-kenapa.” Ucap lelaki itu. Kedengaran sungguh-sungguh. Sebanyak apa pun Anara berusaha mencari di mana letak kepura-puraan, ia tidak menemukannya.
“Iya,” jawab Anara super pelan. Lalu ia menunduk cukup dalam. Merenung akan banyak hal.
Entahlah, perlakuan Arsenio memang berubah menjadi lebih baik, tetapi Anara justru merasa tidak tenang. Ada yang mengganjal di hatinya, terlalu sulit untuk dia keluarkan sebab ia sendiri tidak tahu itu apa.
...****************...
Sudah paling benar jangan mengabari emak-emak soal kabar kurang enak, karena responsnya benar-benar heboh tidak keruan.
Bahkan ketika Arsenio sudah lebih dulu menjelaskan bahwa Anara baik-baik saja dan hanya perlu bed rest satu atau dua hari demi memulihkan kondisi, Bunda tetap datang ke rumah sakit membawa segala kehebohan khas emak-emak Asia.
“Pulang dari rumah sakit, An tinggal di rumah Bunda aja.” Cetus wanita dalam balutan dress semi formal warna cokelat tua itu.
Arsenio mendengus tidak setuju. “Tetap tinggal di rumah.” Tentangnya.
“Kamu sibuk kerja,” sela Bunda tak mau kalah. “Biar di rumah Bunda aja, Bunda yang jagain.”
“Bunda juga sibuk kerja, kalau Bunda lupa.” Arsenio masih ngeyel.
“Tapi kan nggak sesibuk kamu!” seru Bunda. Mulai pakai otot yang mana membuat Arsenio semakin gencar memberikan perlawanan.
“Pokoknya tetap di rumah kami!”
“Rumah Bunda!”
“Rumah kami, Bunda!”
“Di rumah Bunda, titik.”
“Nggak bisa. Tetap di rumah kami. Titik. Nggak pakai koma, nggak pakai tawar-menawar!”
Adu mulut masih berlanjut. Tidak ada di antara ibu dan anak itu yang mau mengalah sama sekali. Dua-duanya sama-sama keras kepala. Sama-sama ingin dituruti karena menurut mereka pendapat merekalah yang paling baik.
Sementara Anara, yang sedang diributkan di mana ia harus tinggal setelah ini, hanya bisa pasrah menyaksikan perdebatan mertua dan suaminya dari atas brankar. Sebutir anggur merah dia masukkan ke dalam mulut, sebagai peneman dalam menikmati adegan perebutan yang sudah lebih heboh daripada perebutan harta warisan.
Peperangan terpaksa terjeda ketika kamar rawat terbuka dari luar. Seorang suster datang membawa nampan berisi makan malam dan suplemen yang harus dikonsumsi oleh Anara secara rutin.
“Terima kasih,” ucap Anara pada suster tersebut.
Sang suster hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu pamit undur diri meninggalkan ruang rawat yang sebentar lagi akan kembali penuh dengan keributan.
“Pokoknya di rumah Bunda!”
“Nggak bisa! Kalau mau, Bunda aja yang pindah ke rumah kami!”
“Rumah kalian kecil, enakan di rumah Bunda!”
“Kecil-kecil gitu lebih nyaman buat Anara!”
Nah, kan. Sudahlah, apa yang mau diharapkan kalau dua-duanya masih enggan mengalah? Bukankah lebih baik Anara segera menyantap makan malamnya, meminum suplemen lalu pergi tidur agar kondisinya cepat pulih?
Membiarkan Bunda dan Arsenio tetap ngotot pada pendirian masing-masing, Anara meraih mangkuk makanannya. Satu sendok dia oper ke dalam mulut. Dia kunyah pelan-pelan agar tidak ada makanan yang nyasar ke saluran pernapasan.
Tetapi, ibarat kata hidup yang penuh dengan kejutan, Anara masih juga mendapati sebutir nasi meringsek masuk ke saluran pernapasan meskipun dia sudah berusaha berhati-hati.
Anara terbatuk-batuk. Hidung dan tenggorokannya terasa perih serta tidak nyaman karena sebutir nasi kurang kerjaan.
Kabar baiknya, suara batuk itu malah berhasil membuat perdebatan yang semula ribut sekali seketika berhenti. Bunda dan Arsenio serempak menoleh ke arahnya. Mematung selama beberapa detik sebelum akhirnya sama-sama berlari mendekat untuk menyodorkan gelas berisi air.
Arsenio menjadi seseorang yang berhasil meraih gelas lebih dulu dan membantu Anara minum. Kakinya yang panjang adalah sebuah keberuntungan karena dia bisa melangkah lebih lebar daripada Bunda. Di titik itu, dia merasa menang.
Oh, ayolah, mereka bahkan tidak sedang dalam arena pertandingan!
“Sorry, kayaknya kamu keselek gara-gara denger aku sama Bunda debat ya?” tanya lelaki itu setelah batuk-batuk Anara mereda.
“Emang akunya aja yang ceroboh,” kilah Anara. Tak ingin membuat Bunda yang sudah menatap sendu ke arahnya semakin merasa bersalah.
Setelah adegan keselek, ternyata makan malam itu sudah tidak terlihat menarik di mata Anara. Akhirnya, dia meletakkan kembali mangkuknya ke atas nakas, lalu meneguk air putih lebih banyak.
“Kenapa nggak jadi dimakan? Nggak enak ya? Kamu mau aku cariin makanan di luar? Mau apa, hmm? Bilang aja, biar aku cariin sekarang.” Tawar Arsenio. Mendadak, lelaki itu terlihat seperti suami siaga yang benar-benar idaman semua wanita.
Anara sedang tidak menginginkan jenis makanan tertentu, dan dia juga bukan tipikal orang yang aji mumpung. Jadi, dengan jujur dan polosnya ia menggelengkan kepala.
“Serius nggak kepengen apa-apa? Si Mochi lagi nggak mau makan apa gitu?”
“Enggak ada, Arsenio. Mending kamu istirahat aja sana, kasihan kelihatannya capek banget gitu. Lagian besok kamu harus kerja, nggak oke kalau istirahatnya kurang.” Suruh Anara. Bunda hanya ikut-ikutan saja menganggukkan kepala.
“Kata siapa besok aku kerja? Orang aku ajuin cuti.” Celetukan Arsenio.
“Cuti terus?” tanya Anara. Ada nada tidak suka. Sebab Arsenio memang sudah sering cuti dan itu bukanlah contoh yang baik untuk karyawan lainnya.
“Istri aku lagi sakit, mana bisa aku tinggal kerja?”
Ah, lagi-lagi Anara tersengat listrik hanya karena ucapan Arsenio. Kenapa, sih, lelaki itu berubahnya harus sedrastis ini? Bikin merinding saja!
Berbeda dengan Anara yang terheran-heran dan masih berusaha beradaptasi dengan perubahan sikap Arsenio, Bunda malah sedari tadi terus mengulum senyum. Tidak bohong, ia senang sekali karena akhirnya Arsenio bisa menempatkan diri sebagaimana mestinya seorang suami dan ayah. Ia senang putra semata wayangnya bisa mengambil tindakan tegas untuk melepaskan kekasihnya dan memulai hidup baru seutuhnya dengan keluarga kecilnya.
Ada banyak semoga yang Bunda langitkan setiap harinya, dan salah satunya selalu sama; semoga Anara dan Arsenio bisa hidup dengan bahagia, sampai tua.
Bersambung....