Losing Us

Losing Us
We're Not Live in Disney Land



Jam besar di istana berdentang begitu nyaring, membuat Cinderella refleks melepaskan genggaman sang Pangeran dan menoleh untuk mengecek di angka mana jarum jam berhenti.


Pukul 12 tepat. Sesuai janji, Cinderella harus mengembalikan hadiah-hadiah semu yang diberikan oleh Ibu Peri. Sebentar lagi, gaun mewahnya akan berubah menjadi baju lusuh penuh jahitan. Pun dengan kereta kuda yang menunggunya di depan istana, akan berubah menjadi labu oranye dan tikus-tikus kecil menggelikan.


Sebelum semua itu terjadi, Cinderella melarikan diri. Tergopoh-gopoh meninggalkan ballroom diiringi teriakan sang Pangeran yang tidak rela membiarkannya pergi.


Cinderella berlarian menuruni tangga. Berkejaran dengan waktu agar rupa lusuhnya tak tertangkap mata sang Pangeran yang tampak telah jatuh cinta pada sosok cantiknya malam ini.


Nahas, Cinderella tersandung di anak tangga terakhir. Menyebabkan tubuhnya limbung dan ia jatuh tersungkur di halaman istana yang dingin.


“Tunggu!” sang Pangeran masih terus memanggil dan berusaha mengejar.


Cinderella panik. Cepat-cepat dia bangun, mengangkat ujung gaunnya cukup tinggi agar memudahkannya untuk berlari. Tetapi nasib buruk masih terus menghampiri hingga membuatnya terpaksa merelakan sebelah sepatu kacanya tertinggal karena terlepas ketika ia berusaha melarikan diri.


Hanya dengan sebelah sepatu, Cinderella lanjut berlari. Menembus kegelapan malam yang kontras dengan gemerlap megah di dalam istana.


Tak berapa lama setelah tubuhnya masuk ke dalam hutan, penampilannya berubah. Sihir yang Ibu Peri bubuhkan kepadanya telah menghilang. Kembalilah ia menjadi Si Upik Abu yang menyedihkan.


Keesokan paginya, sang Pangeran memulai sebuah misi pencarian. Dengan berbekal sebelah sepatu kaca yang ditinggalkan oleh gadis cantik di pesta dansa semalam, Pangeran berkeliling kota untuk menemukan pemiliknya.


Rumah demi rumah, pintu demi pintu Pangeran datangi bersama dengan ajudan pribadi. Sampai kemudian dia tiba di sebuah rumah yang memiliki tiga orang gadis di dalamnya. Dua di antaranya bersikeras mengaku sebagai pemilik sepatu. Berupaya keras memasukkan sepatu itu ke kaki mereka meski ujung-ujungnya tetap tidak muat. Sedangkan satu gadis lagi tampak hanya mengamati dengan kepala nyaris tertunduk.


“Hei, kamu, cobalah.” Pinta sang Pangeran pada gadis berpenampilan lusuh itu.


Sepatu kaca dibawa sendiri olehnya, dipasangkan ke kaki sang gadis dan mengejutkannya, sepatu itu pas di kakinya.


“Ketemu!” seru Pangeran dengan penuh sukacita.


Setelah pencarian panjang dan melelahkan, ia akhirnya bertemu dengan gadis cantik yang berhasil memikat hatinya hanya dalam waktu satu malam.


“Siapa namamu?” tanya Pangeran dengan lembut.


“Cinderella,” sang gadis menjawab.


Pangeran tersenyum, manis sekali. “Baiklah, Cinderella, ikutlah denganku ke istana. Kita akan menikah dan hidup bahagia selamanya. Bersedia?” tanyanya.


Cinderella terlihat menoleh ke arah ibu dan dua saudari tirinya sebelum akhirnya menganggukkan kepala.


Sang Pangeran kelewat senang, dan hari itu juga ia betulan memboyong Cinderella ke istana. Menggelar pesta pernikahan megah yang diberkahi sukacita.


Mereka tinggalkan segala luka dan kisah sedih di belakang, memutuskan untuk hidup bahagia selamanya.


Tamat.


Itu adalah sepenggal kisah Cinderella, salah satu Disney’s Princess yang kisahnya paling tidak bisa Olin terima dengan logika.


Sedari usianya masih 6 atau 7 tahun, Olin tidak terlalu menyukai dongeng tentang putri dan pangeran. Happily ever after yang Disney coba suguhkan tidak cocok dengan seleranya. Terlalu mainstream dan terkesan dipaksakan.


Oleh sebab itu, Olin tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang putri agar bisa bertemu dengan pangeran tampan. Tidak seperti teman-teman seusianya yang berlomba-lomba agar bisa menjadi yang paling ‘putri’ di antara yang lainnya.


Seiring dengan bertambahnya usia, juga pada banyaknya peristiwa yang ia lewati, Olin semakin yakin bahwa happily ever after versi Disney memang tidak pernah ada di dunia nyata.


Buktinya saja, dia bisa kehilangan ‘pangeran’ yang sudah mencintainya selama bertahun-tahun hanya karena muncul ‘putri’ lain dalam waktu satu malam. Pada akhirnya dia tetap ditinggalkan, meski sudah banyak cinta dan pengorbanan yang dia curahkan untuk sang ‘pangeran’.


“Jadi, Arsenio beneran memutuskan buat berhenti berhubungan sama lo?” seorang laki-laki di belakang meja bar bertanya seraya menyodorkan gelas berisi tequila.


Olin menarik diri dari lamunan soal Cinderella, sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada laki-laki berambut ungu yang mengajaknya berbicara.


“Yeah,” jawabnya seraya meraih gelas tequilla. “Cuma karena perempuan itu hamil anaknya.”


“Really?” Zein, laki-laki itu tampak tak percaya. “Bukannya dari dulu Arsenio nggak pernah kepikiran buat jadi orang tua? Kalian sepakat buat child free dan hidup cuma berdua aja sampai tua, kan?”


“Right?” Olin tertawa sumbang usai menyesap tequilanya sedikit. “Dia juga udah janji buat nggak ninggalin gue apa pun alasannya. Tapi sekarang dia beneran ngelepasin gue gara-gara bayi yang belum tentu bakal lahir ke dunia.”


“Terus, gimana selanjutnya? Lo bakal terima keputusan Arsenio gitu aja?” tanya Zein lagi. Malam masih terlalu muda, jadi musik belum dinyalakan dan kelab masih cukup sepi sehingga mereka bisa berbincang santai dengan lebih leluasa.


“Nope,” Olin menggeleng kecil lalu menandaskan tequilanya. “Kalau gue nggak bisa bahagia sama Arsenio, maka dia juga nggak boleh bahagia sama yang lain.”


Zein tidak berkomentar apa-apa. Terlalu sulit untuknya berada di pihak netral karena sejujurnya ia ingin sekali meninju wajah Arsenio sampai babak belur tak berbentuk.


Melihat Olin dicampakkan begitu saja membuat Zein murka. Tapi lebih daripada itu, dia benar-benar berharap Arsenio akan mendapatkan karmanya.


“Just call me if you need a help,” ucapnya kemudian, setelah sudah cukup lama terdiam.


Olin menyunggingkan senyum, “Termasuk bikin mati anak orang?” tanyanya.


Zein tidak menjawab karena dia tahu Olin hanya main-main. Si Gila adalah nama depan Olin semasa kuliah dulu, namun Zein yakin perempuan itu tidak benar-benar akan merelakan tangannya kotor dengan darah manusia lain.


“Lo nggak bersedia?” Olin bertanya dengan sebelah alis yang terangkat cukup tinggi. “Really?”


“Mendingan lo mabuk, daripada ngomong yang aneh-aneh dalam keadaan sadar.” Sela Zein seraya meraih gelas kosong milik Olin dan segera mengisinya dengan cairan alkohol yang baru.


Mendengar itu, Olin terkekeh. Sumbangnya sampai membuat Zein bergidik ngeri. Membuatnya bisa merasakan betapa parah sakit hati yang perempuan itu derita.


“Tadi siang gue ke rumah Arsenio, ketemu sama istrinya.” Tutur Olin. Jemari lentiknya bergerak di bibir gelas, menyusuri tiap jengkalnya dengan tatapan menerawang. “Perempuan itu kelihatan happy menjalani kehidupan yang dia curi dari gue, and that made me even angrier.” Ia mengela napas setelahnya.


Detik setelahnya, tatapan perempuan itu terlabuh kembali pada Zein yang masih setia mendengarkan. “Kenapa orang-orang yang merebut kebahagiaan orang lain justru hidupnya kelihatan bahagia dan tenang-tenang aja?” tanyanya.


“They’re not.” Jawab Zain begitu lugas. “Nggak ada orang yang hidupnya bahagia setelah merebut apa yang bukan haknya.” Pungkas lelaki itu. Memilih berhenti sebelum ia betulan melihat Olin menangis—lagi—malam ini.


Sebab andai itu terjadi, tidak ada jaminan bahwa Zein tidak akan benar-benar memenggal kepala Arsenio dengan tangannya sendiri.


...****************...


Nuansa beige menyapa indra penglihatan Olin ketika ia pertama kali membuka mata. Disusul wangi lilin aroma terapi yang membantunya rileks untuk mengingat apa yang telah ia lewati semalam sampai dirinya terbangun di kamar apartemen milik Zein, alih-alih di kamar apartemennya sendiri.


Ingatan terakhirnya berhenti pada momen di mana dia menangis lagi. Mempertanyakan kenapa hidup berjalan sebegini jahatnya pada ia yang hanya bisa bertahan untuk diri sendiri. Hampir tidak ada ingatan soal apa yang Zein lakukan malam tadi untuk menenangkan dirinya. Pun dengan ingatan ketika lelaki itu membawanya pulang.


“Udah bangun?” sosok Zein yang dia pikir muncul dari balik pintu kamar. Membawa nampan berisi mangkuk dan segelas air.


Uap panas tampak mengepul dari permukaan mangkuk, disusul aroma gurih yang seketika membuat perut Olin bergejolak. Cacing-cacing sialan di dalam sana pasti sedang berlarian hingga menabrak dinding lambung, meminta makan setelah semalam hanya dibanjiri dengan cairan alkohol tanpa henti.


“I Made you chicken soup,” terang Zein seraya meletakkan nampan bawaannya ke atas nakas. “Nggak bisa redain pengar, tapi at least bisa bantu perut lo baikan.”


“Thanks,” ucap Olin.


Zein mengangguk. Hening tercipta cukup lama setelahnya. Dengan Zein yang memilih duduk di kursi dekat nakas sambil memandang ke luar jendela, sementara Olin sibuk mengitarkan pandangan untuk menjelajah kamar tidur Zein lebih banyak.


Perhatian Olin kemudian tercuri pada sebuah pigura yang terpajang dekat set televisi. Pigura yang membingkai sebuah foto berisi tiga orang anak manusia yang saling merangkul seraya tersenyum lebar ke arah kamera. Dua laki-laki dan satu perempuan. Tiga serangkai yang dulunya adalah teman.


“Lo masih simpan foto itu?” tanya Olin beberapa saat setelah pandangannya kembali terlabuh pada sosok Zein.


Ditemukannya lelaki itu menoleh ke arah pigura yang ia maksud, lalu samar-samar mengangguk.


“Momen rare, harus gue simpan selamanya.” Jawab lelaki itu.


Olin menemukan dadanya terasa nyeri saat melihat senyum samar terbit di wajah Zein. Dengan pandangan yang menerawang, lelaki itu sepertinya sedang mengingat kembali bagaimana mereka bertiga berkawan baik selama masa awal kuliah. Sebelum akhirnya dia dan Arsenio memutuskan untuk berpacaran dan membuat pertemanan mereka menjadi sedikit berjarak.


Kalau diingat-ingat lagi, keadaannya memang lebih baik waktu itu. Olin tidak sepenuhnya menumpukan hidup pada Arsenio, sebab masih ada Zein untuk dijadikan tempat ‘pulang’.


“I know it’s must be hard for you, mengingat apa yang udah terjadi antara lo sama Arsenio dan gimana keadaan kalian sekarang. Tapi gue masih selalu berharap kita bisa kumpul kayak dulu lagi, as a friend.”


“Lo tahu itu udah nggak mungkin.” Sela Olin.


Zein mengangguk seraya tertawa sumbang. “He hurst you so bad, I know. It’s hard for me too, buat nggak nyumpahin Arsenio yang jelek-jelek.” Jeda tercipta selagi Zein mengambil waktu untuk mengambil napas.


Kemudian, beberapa detik setelahnya, lelaki itu kembali menoleh ke arah Olin. “Apa yang udah terjadi nggak bisa diubah, jadi gue cuma bisa berharap kalau lo akan segera sembuh dan bisa ketemu sama bahagia lo. I wish you the best of all this world could give, Olin.” Ungkapnya.


“But this world never wants me to be happy. Cuz I'm not the princess from Disney." Sahut Olin.


Detik selanjutnya, perempuan itu meraih mangkuk sup dari atas nakas. Menyuapkan sendok demi sendok ke dalam mulut demi menghindari munculnya lebih banyak obrolan keluar dari bibir Zein.


Untuk saat ini, dia tidak ingin merasakan kerelaan apa pun atas apa yang sudah terjadi. Ia ingin menikmati kemarahannya, sampai tuntas dan akhirnya benar-benar berhenti.


Bersambung....