Losing Us

Losing Us
Do You Like Her?



Kalau yang dimaksud Arsenio tempo hari tentang menjadi suami dan ayah yang baik adalah soal bagaimana lelaki itu mulai sering menempel kepada dirinya, Anara pikir alangkah lebih baiknya jika Arsenio tidak melakukannya. Karena kalau boleh jujur, dia merasa risi karena lelaki itu terus mengekor ke mana pun ia pergi.


Belum lagi kebiasaan aneh mengusap perutnya sebanyak enam kali yang kerap lelaki itu lakukan selama beberapa hari terakhir. Aduh, rasanya Anara ingin kabur saja ke luar galaksi supaya suaminya tidak punya kesempatan untuk merecoki hidupnya lagi.


“Kamu tahu nggak, kalau tingkah kamu yang kayak gini malah bikin aku merinding?” tanyanya. Seperti dugaannya, Arsenio menggeleng sambil memperlihatkan tampang polos tai kucing alias ANARA TAHU ITU HANYA KAMUFLASE!


Geplakan maut Anara daratkan ke punggung tangan Arsenio ketika lelaki itu hendak menyentuh perut buncitnya lagi.


Lelaki itu meringis, matanya melirik sinis sementara bibirnya lagi-lagi berkomat-kamit tanpa suara. “Pelit.” Gerutunya, lalu ngeloyor begitu saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Tidak pernah sekalipun Anara berpikir momen ini akan kejadian di dalam hidupnya. Arsenio yang lengket dengan jabang bayi di dalam perutnya adalah pemandangan baru yang sepertinya tidak akan pernah bisa membuatnya terbiasa. Terlalu absurd, dia tidak tahan untuk tidak mendesah malas tiap kali lelaki itu mulai bertingkah demikian.


“Bagus sih bagus buat membangun ikatan batin antara ayah dan anak, tapi kalau harus gelendotan setiap saat yang ada malah akunya yang gila!” gerutu Anara dengan suara yang mungkin masih bisa didengar oleh Arsenio dari ruang tengah sana.


Bodo amat. Akhir-akhir ini, Anara mulai terbiasa untuk bersikap tidak peduli. Bahkan kalau lelaki itu kembali lagi sambil melayangkan protes, ia hanya akan menanggapinya sambil lalu. Ilmu itu dia dapatkan secara tidak sengaja dari Aksara. Dalam beberapa kali pertemuan, lelaki itu menunjukkan sikap acuh pada Arsenio yang ternyata cukup ampuh untuk membuat lelaki labil itu terdiam.


Ah, omong-omong soal Aksara, hari ini temannya itu telah berjanji untuk datang berkunjung. Katanya ada yang perlu diberikan untuk Mochi, entah apa lagi kali ini. Terakhir kali berkunjung empat hari lalu, Aksara membawakan dua stroller merek mahal sesuatu yang berlebihan karena bayi di dalam perut Anara bahkan baru akan lahir 5 bulan dari sekarang.


Baru selesai dipikirkan, suara deru mobil terdengar memasuki pekarangan. Mungkin karena sudah terlalu sering mendengarnya, Anara bisa langsung tahu kalau itu adalah suara mobil Aksara.


Tak berselang lama setelah deru mobil berhenti, bel di pintu depan ditekan beberapa kali. Anara segera berjalan menghampiri. Pas sekali posisinya sedang berada di ruang tamu sehingga tidak perlu khawatir akan keduluan Arsenio seperti yang terakhir kali.


Masalahnya, membiarkan Arsenio menyambut kedatangan Aksara bukanlah adalah ide buruk. Bukannya segera disuruh masuk lalu dijamu selayaknya tamu pada umumnya, Arsenio malah akan mengajak Aksara berdebat terlebih dahulu. Apa yang didebatkan pun sama sekali tidak bermutu. Seakan-akan Arsenio hanya sedang mencari-cari alasan untuk menahan Aksara masuk ke dalam rumah mereka.


Anara membuka pintu dengan sudah menampilkan senyum di bibir. Menyambut Aksara yang datang dengan membawa satu paper bag berukuran besar warna hitam. Terdapat logo perusahaan pakaiannya merek mahal di bagian luar paper bag, membuat Anara langsung berdecak sebal.


“Apa lagi kali ini?” tanyanya dengan mata yang memicing tidak suka.


“Baju hamil buat kamu,” jawab Aksara santai. Lelaki itu juga sempat-sempatnya terkekeh. Tak peduli pada tatapan tidak suka yang Anara berikan.


“Kamu terlalu menghambur-hamburkan uang.” Hardik Anara. Sebagai seseorang yang hidup dengan ekonomi biasa saja, ia tidak pernah bisa terbiasa dengan gaya hidup boros seperti ini. A big no!


Aksara hanya tersenyum menanggapi omelan Anara yang malah kedengaran menggemaskan di telinganya. “Mumpung masih ada kesempatan.”


“Banyak banget alesannya.” Cibir Anara. Namun ia tetap mempersilakan Aksara masuk beserta dengan bawaannya.


“Besok jadwal check up rutin, kan?” tanya lelaki itu setelah meletakkan paper bag di atas meja ruang tamu.


“Iya,” Anara menjawab singkat. Sebenarnya, dia hampir lupa kalau besok sudah waktunya pergi ke rumah sakit lagi. Kelakuan absurd Arsenio membuatnya sedikit linglung belakangan ini.


“Dianter siapa?”


“Gue,” serobot Arsenio. Lelaki absurd (Anara akan memanggilnya begitu mulai sekarang) itu tahu-tahu menerobos tubuh kurus Anara, mengambil posisi duduk persis di sebelah Aksara.


“Bagus deh, emang udah kewajiban kamu sebagai suami buat anterin istrinya cek kandungan.” Komentar Aksara dengan lagak acuh tak acuh. Lagi-lagi, itu berhasil membuat Arsenio kehilangan kata-kata.


Anara yang melihat Arsenio kembali dibuat tak berkutik hanya bisa menahan senyumnya. Tidak tega juga kalau harus terang-terangan menertawakan kekonyolan Arsenio di depan Aksara. Takutnya Arsenio jadi kena mental, kan nggak lucu juga.


Sedang menikmati terjalinnya benang-benang permusuhan tak kasat mata antara dua laki-laki dewasa di hadapannya, ponsel di genggaman Anara bergetar. Nama Bunda muncul di layar sehingga Anara tidak punya opsi lain selain segera menerima panggilan tersebut. Kecuali dia ingin mertuanya itu bereaksi histeris.


“Aku ke belakang dulu buat terima telepon, ya. Sekalian nanti aku bawain minuman sama camilan buat kamu.” Izinnya kepada Aksara yang langsung diangguki oleh lelaki itu. Sedangkan kepada Arsenio, ia tidak mengatakan apa-apa dan langsung ngeloyor menuju dapur setelah menggeser log hijau.


Tubuh Anara menghilang ditelan belokan tepat setelah perempuan itu menyapa Bunda dengan riang. Hal itu dimanfaatkan oleh Arsenio untuk langsung menarik Aksara ke dalam obrolan serius.


“Kenapa?” tanya Aksara malas. Tanpa menunggu Anara bercerita kepadanya soal betapa absurd Arsenio, ia sudah lebih dulu bisa membacanya. Random things bisa tiba-tiba lelaki itu lakukan. Dari yang normal-normal saja sampai yang tidak masuk akal.


“I have a question for you. Please answer me honestly.” Ucap Arsenio. Makin-makin membuat Aksara menaruh curiga.


“For your information, saya habis dari perjalanan jauh. Jadi kalau pertanyaan kamu isinya cuma omong kosong atau hal-hal aneh lainnya, mending kamu stop sebelum saya bener-bener ngajak kamu duel di ring tinju.”


Mendengar itu, Arsenio mendelik. “Ini pertanyaan serius, Aksara. Jawaban kamu bisa menentukan hidup dan matinya seseorang.” Ujarnya lagi.


Sambil memutar bola mata malas dan mengembuskan napas pelan, Aksara mempersilakan Arsenio untuk mengatakan pertanyaannya. Baiklah, biar dia dengarkan dulu pertanyaan penting seperti apa yang lelaki itu miliki. Kalau nanti ternyata yang dia dengar betulan hanya omong kosong, Aksara sudah bersiap untuk menggebuk kepala Arsenio dengan kepalan tinju.


“Lo suka nggak sama Anara?”


Dang!


Serupa kilat yang menyambar di tengah suasana gelap dan pengap. Bukan hanya dibuat terkejut, Aksara juga mendadak mengalami kebutaan sesaat setelah mendengar pertanyaan milik Arsenio.


Perjalanan jauh mungkin membuat Aksara kelelahan sehingga lebih mudah berhalusinasi. Jadi, dia menampar pipinya sendiri sebanyak dua kali untuk memeriksa apakah kesadarannya masih tersisa cukup banyak. Dan sialnya, ia bisa merasakan pipinya panas dan perih.


“Gimana? Bisa ulang sekali lagi?” pinta Aksara.


“Gue tanya, lo suka apa enggak sama Anara?” ulang Arsenio dengan lempengnya. Entah sudah hilang akal sehatnya atau memang sejak awal ia tidak punya, tetapi di telinga Aksara, pertanyaan itu kedengaran seperti dikatakan oleh orang gila yang baru saja masuk rumah sakit jiwa.


Karena... bagaimana mungkin seorang suami dengan gamblang bertanya kepada lelaki lain perihal perasaannya terhadap sang istri?


Oke, Aksara sudah mendengar sedikit cerita tentang rumah tangga mereka yang tidak baik-baik saja. Akan tetapi, itu tetap tidak bisa membuat Aksara mengerti kenapa Arsenio harus menanyakan hal semacam itu kepada dirinya.


“Kamu gila, ya?”


“I am.” Lagi-lagi, Arsenio menjawab dengan entengnya. Membuat Aksara semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki itu.


“Anara kayaknya salah besar deh udah nikah sama kamu.”


“Yang itu juga bener.” Arsenio mengangguk menyetujui. “Makanya, gue nanya sama lo dan lo harus jawab dengan jujur, lo suka nggak sama Anara?”


Speechless. Aksara merasa seperti bayi baru lahir yang tidak memiliki satu pun stok kosakata di dalam kepala untuk menjawab pertanyaan Arsenio. Ini terasa tidak benar. Apa pun jawaban yang dia berikan, Aksara punya firasat hasil akhirnya tidak akan baik.


“Aksara, can you answer my question now? Kita nggak punya banyak waktu. Anara bisa jadi udah selesai telepon dan bakal balik ke sini dalam beberapa menit.”


“Kamu serius nanyain hal itu ke saya? Really?”


Arsenio mengangguk, “Jawab aja.”


“Kenapa?” Aksara balik bertanya karena logikanya masih tidak menangkap cara berpikir Arsenio. “Kenapa kamu kepikiran buat nanya begitu ke laki-laki lain, Arsenio?”


“You’ll know the answer when you answer my question.” Tutur Arsenio. Semakin membuat Aksara bingung. “Lo suka atau enggak sama Anara?”


Bersambung....


Ampun deh, kenapa sih Bang???


Makin hari makin nggak jelas aja tingkah lakumu