Losing Us

Losing Us
Not Normal



Kala membuka mata, Anara menemukan langit sudah berubah warna. Dan ketika mengecek ponsel, jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Bisa dibilang, ini adalah tidur siang dengan durasi terpanjang sejak Anara tinggal di rumah ini. Sedikit melegakan, karena itu menjadi semacam pertanda bahwa apa pun yang terjadi, sudah tidak akan bisa membuat dia goyah.


Di ponsel yang sebelumnya hanya dia gunakan untuk melihat jam itu, Anara menemukan adanya balasan yang datang dari Arsenio. Tepatnya, balasan itu datang sekitar 20 menit setelah pesan darinya terkirim. Berhubung sudah lewat berjam-jam, Anara akhirnya tidak memberikan balasan lain. Lagi pula, itu hanya sebuah kata no prob yang sepertinya diketikkan dengan mau tidak mau.


Melirik ke arah botol air minum, Anara menemukan isinya tinggal seperempat. Jadi, usai memastikan kantuk yang diderita sepenuhnya sirna, Anara meraih botol itu lalu membawanya turun untuk diisi ulang.


Kucuran air dari keran dispenser menimbulkan efek menenangkan yang malah membuat angan Anara kembali melayang. Pada sikap Arsenio yang melunak, dia masih menaruh banyak sekali tanda tanya. Apakah makan siang yang Arsenio belikan untuknya adalah bentuk permintaan maaf yang lelaki itu lakukan secara sadar, untuk menggantikan permintaan maaf lisan yang dikatakan ketika sedang mabuk berat di malam sebelumnya?


“Stop.” Anara menghentikan laju pikirannya sendiri sebelum berjalan terlalu jauh. Tidak ada gunanya, pikir gadis itu. Menerka-nerka hanya akan membawa dirinya berujung pada lebih banyak ketidakpastian yang menyiksa.


Botol sudah penuh, Anara membawanya kembali ke dalam dekapan. Ketika hendak naik ke atas tangga, langkahnya terhenti sebab Arsenio muncul dari ujung tangga yang lain. Aroma parfum menyambangi indra penciuman Anara dengan begitu ramahnya ketika Arsenio tampak mengibaskan jaket kulit berwarna hitam sebelum lelaki itu kenakan untuk membalut kaus pas padan berwarna putih polos. Jaket kulit itu tampak serasi dengan celana jeans sobek-sobek berwarna hitam dan sepatu sneaker warna putih. Ah, jam tangan berwarna silver yang melingkar di pergelangan tangan kirinya juga membuat tampilannya semakin kece.


“Oh,” begitu katanya. Entah merujuk pada apa.


Anara diam saja, tidak menanggapi sampai Arsenio tiba di ujung tangga dan berdiri tiga langkah di depannya.


“Gue mau ke Olin.” Pamitnya tiba-tiba. Jelas membuat Anara keheranan, karena biasanya Arsenio tidak pernah secara sukarela mengatakan ke mana dia akan pergi. Oh, dia juga tidak pernah seramah itu untuk membawa nama Olin pada percakapan dengan Anara. Ibarat kata, nama Olin terlalu suci, dan Arsenio tidak ingin Anara yang menganggap dirinya hina ini menyebut nama kekasihnya itu dengan sembarangan.


“Umh... Oke.” Akhirnya, itu saja yang bisa Anara katakan. Memangnya, dia harus berkata apa lagi? Harus bertanya apa yang akan Arsenio lakukan bersama Olin, atau kapan lelaki itu akan pulang? Tentu tidak. Anara masih ingin hidup yang lama, jadi sebisa mungkin dia akan menghindari untuk mencari gara-gara.


Anara kira, sudah selesai sampai di situ saja. Melihat dari gerakannya yang terburu dalam menuruni tangga, dia pikir Arsenio sedang dalam keadaan mendesak untuk menemui kekasihnya. Namun nyatanya, lelaki itu malah masih sempat-sempatnya menyodorkan sebungkus permen rasa mint kepadanya, di mana permen itu didapatkan dari dalam saku celana.


“Buat lo.”


Ragu-ragu, Anara menerima permen itu. “Makasih.” Kata Anara kikuk.


Arsenio tidak menjawab, malah mengatakan sesuatu yang lain. “Gue balik sebelum jam makan malam. Kalau bisa, bikin sesuatu yang bisa kita makan. Tapi kalau enggak sempat, ya enggak apa-apa, delivery aja kayak tadi siang.”


Makan siang. Permen. Dan sekarang, meminta Anara untuk menyiapkan makan malam. Sebenarnya, apa yang salah dari kepala Arsenio? Apakah alkohol yang dia minum semalam membuat beberapa syarat di otaknya menjadi putus sehingga tidak bisa bersikap seperti biasanya? Atau, lelaki itu tidak sengaja membenturkan kepalanya hingga membuat beberapa bagian di otaknya cedera?


“Mau aku masak apa?” kendati masih kebingungan, Anara tetap bertanya. Jangan sampai dia salah memasak menu dan berakhir kena semprot lagi seperti tempo hari.


“Terserah. Gue enggak punya alergi apa pun, jadi mau lo masak daging ular sekalipun, gue enggak masalah.”


Penuturannya yang tidak masuk akal membuat Anara mendelik. Siapa juga yang mau sok ide memasak daging ular? Yang ada, belum sempat memasak, Anara sudah lebih dulu mati terkena bisa.


“Kebanyakan mikir, nanti otak lo gosong.” Celetuknya, sekali lagi membuat Anara mendengus sebal.


“Kamu yang bikin aku selalu berpikir keras.” Protes Anara, namun Arsenio malah mengedik acuh.


“Gue jalan. Kalau butuh apa-apa—“


“Telepon kamu?” tanya Anara. Niatnya hanya untuk menyindir, karena Arsenio tidak mungkin akan benar-benar meminta dirinya untuk melakukannya.


Namun, ketika Arsenio justru mengangguk dan sedikit tersenyum, Anara rasa memang telah terjadi sesuatu pada kepala lelaki itu.


“See you.” Kemudian, Arsenio melenggang pergi.


Sementara Anara, gadis itu hanya bisa terpaku menatapi kepergian Arsenio yang meninggalkan banyak tanda tanya. Anehnya lagi, Anara seperti melihat bunga-bunga bermekaran dari jejak kaki yang lelaki itu tinggalkan. Seperti sebuah representasi bahwa hatinya sedang dalam kondisi baik, dan bunga-bunga itu adalah perwujudan dari sekumpulan energi positif.


“Embuh, lah. Sakarepmu.” (Enggak tahu, lah. Terserah) lalu Anara menaiki tangga sambil menggerutu.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Sebelum ini, tidak ada satu hal pun di dunia yang bisa mengalihkan fokus Arsenio dari seorang Flora Calantha Orlin. Sebab selama bertahun-tahun lamanya, gadis itu telah menjadi pusat dunianya. Badai sehebat apa pun tidak akan bisa membuat Arsenio keluar dari jalur rotasi, sebab Olin menggenggam dirinya begitu erat.


Akan tetapi, foto-foto yang disuguhkan oleh Anara melalui akun Instagram pribadinya telah berhasil menghipnotis Arsenio. Hampir satu jam dia terjebak di sana, memandangi foto yang padahal juga sudah sempat dia lihat sebelumnya. Anara dan apa yang dia tunjukkan melalui foto-foto itu seperti dua hal yang teramat berbeda. Jika bukan karena Arsenio menemukan ada foto gadis itu terselip di sana, dia tidak akan menyangka jika akun Instagram itu adalah milik Anara.


Anara cerewet, dia menyebalkan. Itu yang Arsenio yakini dan percaya selama ini.


“Kamu dari tadi ngeliatin apa, sih, Gal? Kayaknya asyik bener?” suara Olin itu membuat Arsenio refleks menutup laman Instagram yang sedang dia buka. Bersama dengan senyum canggung, dia menyambut Olin yang baru kembali dari kamar mandi.


“Bukan apa-apa.” Arsenio berkilah. Untuk mengalihkan perhatian, dia segera menyimpan ponsel ke dalam saku celana, lalu menarik lengan Olin hingga tubuhnya jatuh ke atas pangkuan. “Hmm... wangi.” Bisik Arsenio. Seraya mengendus ceruk lehernya yang terbuka.


Di atas pangkuan, Olin menggeliat. Gerakannya yang serabutan membuat sesuatu terusik, dan Arsenio harus segera memindahkan tubuhnya ke atas sofa sebelum dia yang ada di bawah sana semakin belingsatan.


“Kebiasaan.” Arsenio menyentil dahi Olin, membuat sang gadis memekik.


Olin yang sedang merajuk adalah sebuah pemandangan yang lucu. Tak tahan menahan gemas, Arsenio menyambar bibirnya yang cemberut itu, mengecupnya berkali-kali hingga mereka berakhir menyelami tautan yang semakin lama semakin dalam dan intens.


“Engh...” Olin menarik kepalanya mundur, menepuk dada Arsenio pelan sebagai isyarat bahwa dia memerlukan waktu untuk meraup oksigen.


Arsenio pun menurut. Tautan mereka terlepas dan dia terkekeh puas melihat kekasihnya yang kepayahan mengambil napas.


“Kayak gini sok-sokan mau nantangin aku buat main? Yang ada kamu udah tepar duluan sebelum mulai ronde pertama.” Goda Arsenio.


Olin makin cemberut. Setelah napasnya cukup stabil, dia melompat naik ke atas pangkuan Arsenio. Jemarinya bergerilya mengusap dada yang terbalut kaus pas badan. Tatapannya tampak memprovokasi, seperti hendak melayangkan protes kepada Arsenio untuk menarik kembali statement yang sebelumnya lelaki itu layangkan.


“Try me.” Bisiknya, persis di depan bibir Arsenio. Dia sengaja menggoda dengan mengembuskan napas di wajah Arsenio, namun tidak kunjung meraup bibir kekasihnya.


“Enggak mau, nanti kamu nangis.” Arsenio tidak mau kalah. Jika Olin enggan menyentuh bibirnya dan hanya ingin bermain-main, maka akan Arsenio tunjukkan seberapa kuat dia bisa bertahan.


“Aku? Nangis? Yang ada, kamu yang bakalan aku bikin nangis.” Ujar Olin seraya tersenyum miring.


Arsenio sudah tahu ke mana Olin akan pergi. Maka sebelum terjadi, dia segera mencekal tangan nakal yang sudah sampai di pahanya itu. “Ini curang. Kamu enggak boleh menyentuh di sana, itu area terlarang.” Bisik Arsenio tepat di telinga Olin.


Obrolan-obrolan seperti ini sudah sering sekali terjadi di antara mereka. Namun, tetap saja, Arsenio tidak bisa membiarkan mereka berjalan lebih jauh. Hanya sekadar saling menggoda, lalu dia akan memutusnya di tengah sebelum mereka sama-sama menjadi gila.


Hari ini pun, Arsenio melakukannya. Usai menyambar bibir Olin sekali lagi, dia menarik diri. Bergegas bangkit dari sofa, lalu merapikan penampilannya yang sudah dibuat tidak keruan oleh tangan Olin yang nakal. Helaian rambutnya berantakan, pun dengan kausnya yang menjadi kusut tak sedap dipandang.


“Mau ke mana, sih?” tanya Olin sambil bersedekap.


“Pulang.” Jawab Arsenio.


“Baru jam 6.”


“Aku udah janji buat pulang sebelum makan malam.”


Olin mendesah pendek. “Kenapa juga harus janji, sih? Apa pentingnya coba bikin janji kayak gitu sama Anara?” tanyanya tidak suka.


“Loh, aku enggak bilang kalau janjinya sama Anara?” Arsenio mendusta. Sudah tahu Olin tidak akan suka, dia sudah menyiapkan alasan yang lebih bisa gadia itu terima. “Aku janjinya sama Bunda, Lin. Bunda mau datang.”


Berhasil. Olin seketika tidak berkutik setelah Arsenio bilang Bunda akan berkunjung.


Jahat? Tidak juga. Arsenio justru sedang melindungi Olin agar tidak overthinking. Kalau dia jujur bahwa janji itu memang dibuat dengan Anara, Olin pasti akan menghabiskan malamnya untuk berpikir yang tidak-tidak. Mengerahkan kemampuan kepalanya untuk menganalisis sikap Arsenio, untuk kemudian dia sambung-sambungkan sendiri dengan berbagai kemungkinan yang dia punya.


Arsenio tidak mau itu terjadi. Lagi pula, ada yang ingin dia bicarakan dengan Anara. Itu sebabnya dia berjanji untuk pulang lebih awal agar bisa makan malam bersama. Ini bukan berarti dia lebih mementingkan Anara dibanding Olin. Tidak sama sekali.


“Besok aku ke sini lagi.” Janjinya.


“Seharian?” tanyanya.


“Kalau Bunda enggak menginap, iya.”


Sekali lagi, Olin mendesah. “Jangan bolehin bundamu sering-sering menginap, dong.”


“Terus aku harus pakai alasan apa biar Bunda enggak menginap?” tanya Arsenio seraya menaik turunkan alis untuk menggoda.


“Ya.....”


“Hmmm? Apa?”


“Ya apa, kek! Kamu pikirin sendiri dong alasannya! Kenapa harus aku juga, sih, yang mikir?!” sewotnya. Alih-alih menakutkan, Olin malah kelihatan semakin lucu di mata Arsenio.


“Aduuuhhhhh.... Gemes banget sih pacar aku.” Kedua belah pipi tirusnya Arsenio cubit dengan gemas, membuat sang empunya merengek kesakitan.


Tawa Arsenio meledak, sementara Olin mulai melayangkan pukulan-pukulan maut ke lengan dan dadanya sebagai upaya membela harga dirinya yang ditertawakan sampai puas.


Kalau bukan karena harus melakukan sesuatu dengan Anara, sudah pasti Arsenio akan lebih memilih untuk berada di sini selama mungkin....


Bersambung