Losing Us

Losing Us
Arsenio (Menyebalkan) Galandra



Menjadi teman? Anara kira, itu hanya akan terjadi di dalam angan saja. Namun nyatanya, Tuhan memang selalu punya cara untuk menghadirkan kejutan-kejutan di dalam hidup yang penuh ketidakpastian ini. Hanya karena Arsenio tidak sengaja menemukan akun Instagram miliknya, di mana dia banyak mengunggah foto-foto random yang diambil menggunakan kamera ponsel seadanya, lelaki itu berakhir menawarkan sebuah pertemanan yang mewah untuk Anara yang hampir mati kesepian.


Berbincang hingga larut malam, mereka bertukar banyak informasi. Yang tentu saja, tidak satu pun darinya yang melenceng dari soal fotografi. Awalnya Anara juga tidak menyangka kalau ternyata Arsenio yang dingin, kaku, cuek dan menyebalkan itu memiliki ketertarikan yang sama dengan dirinya. Karena kalau Anara tahu lebih awal, dia mungkin akan menawarkan pertemanan itu lebih dulu kepadanya.


“Next month gue mau ambil jatah cuti.” Masih sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, Arsenio berjalan keluar dari dalam kamar mandi.


“So?” tanya Anara. Tidak seperti Arsenio yang rajin sekali mandi di jam 7 pagi di hari Minggu, dia lebih memilih untuk bermalas-malasan di atas kasur lantai yang dia tiduri semalaman.


“Gue biasa gunain waktu cuti buat solo trip, dan bulan depan rencananya gue mau ke Jogja.”


Mendengar Arsenio yang berbelit-belit, Anara menjadi kesal sendiri. Kenapa tidak langsung pada intinya saja? Toh informasi soal cuti dan solo trip atau apalah itu sama sekali tidak penting untuknya, jadi kenapa Arsenio harus bersusah payah menjelaskannya?


“Gini,” Anara menyela sebelum Arsenio berbicara lagi. Akhirnya, mau tak mau, agar komunikasi berjalan lebih baik, Anara menarik diri dari posisi rebahan, duduk bersila menghadap Arsenio yang malah berdiri di depan meja riasnya. “Otak aku ini kapasitasnya dikit. As you know, aku lemot—cenderung tolol malah. So, bisa enggak, kamu kalau mau ngomong apa pun tuh langsung ke intinya aja?”


Tampak Arsenio malah menggigit bibir bawahnya. Sorot matanya yang menatap ragu mewakili kalimat yang tertahan di tenggorokan, membuat Anara semakin penasaran. Dia ini sebenarnya mau bicara apa?


“So....” gumamnya, nyaris tidak kedengaran.


“Ngomong aja, Arsenio.” Bujuk Anara meyakinkan.


Ada jeda yang cukup lama, dan Arsenio menggunakannya untuk lagi-lagi menatap Anara dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti. Saat ini, Arsenio terlihat seperti anak remaja baru puber yang hendak meminta izin untuk pergi dengan lawan jenis, untuk pertama kalinya melewati jam malam.


“Apa?”


“Lo ... mau ikut, enggak?”


Tunggu. Biarkan Anara mencoba memutar apa yang Arsenio katakan sekali lagi. Arsenio.... Bertanya apakah dia ingin ikut dengannya atau tidak? Heh, kenapa harus repot-repot bertanya? Bukankah sudah jelas bahwa jawabannya adalah....


“Enggak.”


Entah kenapa, tapi jawaban yang Anara berikan tanpa berpikir lama itu membuat Arsenio terlihat kecewa. Suara lenguhan juga terdengar samar di telinga Anara. “Kenapa?” cicitnya.


“Apanya yang kenapa? Udah jelas kita enggak bisa pergi berdua.”


“Ya kenapa enggak bisa?”


“Olin.” Mendengar nama kekasihnya disebut, Arsenio semakin merengut. “Aku enggak mau jadi sasaran kebencian dia. Dan, kenapa kamu enggak ajakin dia aja, sih? Lumayan kan, bisa staycation berdua?”


“Gue kan udah bilang, Olin enggak pernah peduli sama hobi fotografi yang gue geluti. Gue ke Jogja buat hunting foto, makanya gue nawarin lo mau ikut atau enggak.” Tuturnya seraya memberengut. Hilang sudah image dingin, cuek, galak dan menyebalkan yang selama ini terpatri di kepala Anara. Yang ada, Arsenio kini malah tampak macam kucing gemas yang merajuk minta diajak main.


“Still, no.” Jawaban Anara masih sama. Pergi liburan ke Jogja adalah ide bagus. Hitung-hitung bisa menghirup udara segar untuk mengusir energi negatif yang dominan ada pada dirinya akhir-akhir ini. Tapi, sekali lagi, kalau taruhannya adalah untuk dibenci dan dijadikan samsak hidup oleh Olin, Anara lebih baik membusuk di rumah ini dan tidak pergi ke mana-mana. Sekalipun dia harus berakhir gila.


“Kalau gue bisa jamin Olin enggak akan tahu?”


Anara tetap menggeleng. “Tetap enggak. Lagian, emang kamu tega bohongin Olin? Enggak, kan? Secara kamu udah cinta mati gitu sama dia. Dipancing dikit juga kamu pasti bakal ngomong jujur.”


“Ah, enggak asik lo.” Arsenio melemparkan handuk basah bekas mengeringkan rambut ke atas ranjang, kemudian berjalan menuju nakas dan menyambar ponsel miliknya. Lalu, dalam sekejap saja, dia sudah tenggelam dalam dunianya sendiri.


Tak lama berselang, suara ketukan terdengar. Karena Anara tahu tidak akan ada pelaku lain selain Bunda, dia pun bergegas membereskan kasur lantai yang dia duduki, menjejalkannya ke dalam lemari pakaian milik Arsenio dan barulah berlari membukakan pintu.


Sama seperti putranya yang sudah rapi dan wangi, Bunda juga sudah mengganti pakaian tidurnya menggunakan dress bermotif flora berwarna hitam. Rambut pendeknya diikat setengah, senyumnya merekah.


“Morning, Baby.” Sapanya.


“Morning, Bun.” Anara menyapa balik. Diam-diam, dia merasa minder karena penampilannya masih seperti gembel. Mungkin juga masih ada sisa iler di sudut bibirnya.


“Turun yuk, Bunda udah masak buat sarapan.”


Oke. Ini jam 7 pagi, hari Minggu. Kenapa selain rajin mandi, ibu dan anak ini juga rajin sekali berkutat di dapur?


“Kok malah Bunda yang repot masak, sih. Harusnya An tahu Bun yang masakin buat Bunda.” Anara merasa tidak enak. Bukan hendak cari muka, tapi kesannya seperti dia ini menantu durhaka dengan membiarkan mertuanya yang sedang menginap untuk menyiapkan sarapan.


Namun, seperti perkataan bahwa malaikat itu tidak selalu datang dalam wujud dengan sayap, Bunda malah tersenyum tipis dan menggamit lengan Anara. “Sesekali mah enggak apa-apa. Enggak setiap hari juga kan Bunda bisa masakin buat kalian?” katanya.


Belum usai rasa tidak enak Anara kepada Bunda, si menyebalkan Arsenio tahu-tahu menyelonong keluar, menepikan tubuhnya dengan cara paling absurd sedunia.


“Morning, Sayang. Tumben udah mandi, mau ke mana?”


“Enggak ke mana-mana. Ya, Bunda tahu, lah, kenapa harus mandi pagi-pagi. Soalnya semalam kan kami habis....” tak melanjutkan ucapannya, Arsenio malah melirik Anara dengan tatapan aneh.


“Habis ngapain?” Bunda memancing, samar-samar mengulum senyum.


“Habis itu.” Ambigu sekali. Arsenio yang menjawab, tapi malah Anara yang merasa malu.


Karena tidak ingin Bunda berpikiran macam-macam dan obrolan absurd ini berlanjut, Anara segera mengantisipasinya dengan menarik lengan Bunda menjauh. Dia giring mertuanya itu meninggalkan Arsenio yang barangkali sedang tertawa puas di belakang tubuh mereka karena sudah sukses mengerjai dirinya pagi-pagi.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Ternyata, Arsenio jauh lebih menyebalkan daripada yang Anara kira. Sudahlah bicara ngawur, sekarang lelaki itu malah sok pencitraan di depan Bunda dengan terus-menerus meladeninya layaknya suami istri sungguhan. Mulai dari menyendokkan nasi, membubuhkan lauk-pauk, sampai menuangkan air minum dan memastikan gelasnya berada dalam jarak jangkau yang pas. Pokoknya, cari muka sekali dia pagi ini.


“An bilang, kemarin kamu habis dari counter buat benerin jam?” Bunda membuka pembicaraan, dan Anara agak menyesal membiarkan beliau melakukan itu. Alasannya jelas, karena alibi yang dia sampaikan kepada Bunda kemarin sama sekali tidak benar. Bagaimana jika si Arsenio yang menyebalkan ini enggan bekerja sama, dan malah membuat Anara ketahuan bohong?


Sebelum Arsenio membuka mulut, Anara menjejak kakinya pelan, memberi kode agar lelaki itu mau bekerja sama.


“Iya, itu yang Audemars Piguet ada problem dikit, jadi Arsen ke counter buat konsultasi.”


Anara menghela napas lega. Untung Arsenio bersedia untuk bekerja sama. Kalau tidak, entah di mana dia harus menaruh muka di depan Bunda.


“Terus gimana akhirnya?”


“Aman kok, masih oke.”


“Ya syukur deh kalau gitu. Lagian kamu beli jam mahal bener, sih, Sen. Itu kalau rusak apa enggak sakit kepala kamu? Orang mah beli aja yang harga 200 ribu.”


“Wakil direktur nih, Bun, suka meeting sama klien luar negeri. Masa iya disuruh pakai jam tangan 200 ribu?”


“Value kamu enggak dari barang yang kamu pakai, tapi dari isi kepala.”


“Buat first impression.” Arsenio masih kekeuh, tidak mau mengalah atas pendiriannya.


Anara yang tidak tahu apa-apa hanya mendengarkan saja obrolan antara ibu dan anak itu. Perihal merek jam yang Arsenio sebutkan sebelumnya juga dia tidak tahu seberapa mahalnya sampai Bunda yang notabene pemilik perusahaan periklanan yang cukup besar bisa berkata seperti itu. Yang Anara pikir, kalau bagi Bunda saja itu sudah cukup mahal, maka sudah pasti dia tidak akan mampu membelinya.


Menarik diri, Anara menyantap makanannya dalam diam. Obrolan-obrolan random masih terus silih berganti, sampai makanan di piring Anara akhirnya habis.


Ketika Anara hendak menyeruput air minum, Arsenio tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang membuatnya tersedak sampai terbatuk-batuk.


Dia bilang, “Bulan depan Arsen mau ambil cuti, ya, Bun. Mau ke Jogja, sama Anara.”


“Pelan-pelan, dong.” Dan seperti tidak tahu bahwa dia adalah penyebab utama mengapa Anara bisa sampai tersedak, Arsenio menepuk-nepuk pelan punggungnya, lalu membantu Anara memegangi gelas agar dia bisa minum dengan benar.


Pertama-tama, Anara biarkan Arsenio melakukan itu karena dia perlu lebih dulu meredakan perih di tenggorokan. Dan setelah reda, Anara diam-diam mengerakkan tangan menuju paha Arsenio yang terekspos dari celana pendek yang dia kenakan. Satu cubitan kecil dia daratkan, cukup untuk membuat lelaki itu meringis kesakitan.


“An udah bilang enggak mau.” Tutur Anara selagi Arsenio berusaha meredakan rasa sakit di pahanya.


“Kenapa?” tanya Bunda.


“Malas, Bun. An enggak suka pergi-pergi perjalanan jauh.” Anara beralasan. Ya tidak mungkin juga dia bilang kalau penyebabnya adalah khawatir Olin akan mengamuk, kan?


Layaknya ibu-ibu baik hati yang tidak suka memaksakan kehendak, Bunda pun tidak memaksa Anara untuk tetap ikut dengan ide Arsenio.


Pada akhirnya, agenda cuti yang Arsenio rancang tetap di approve oleh Bunda, namun dengan siapa dia akan pergi, Bunda tidak mau ambil pusing.


Sementara Arsenio, dia menatap Anara penuh dendam setelahnya. Bibirnya berkomat-kamit tanpa suara, seperti sedang berkata; gue enggak mau tahu, lo harus ikut. Degan intonasi menyebalkan khas dirinya.


Oh, Anara tidak peduli. Untuk memutuskan hubungan tidak mengenakkan itu, dia pun bergegas membawa piring-piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Tak dia hiraukan larangan Bunda yang meminta dirinya untuk tidak berkutat dengan sabun dan spons cuci piring. Anara tetap melakukan kegiatan itu dengan senang hati. Setidaknya, itu lebih menyenangkan ketimbang harus dealing dengan Arsenio yang sedang kerasukan reog.


Bersambung